LOGINSegalanya berhenti—lalu bergerak bersamaan.Retakan pada inti itu melebar perlahan.Namun setiap celah yang terbuka terasa seperti luka yang merobek dua dunia sekaligus.Dum…Dum…Dum…Detaknya berubah.Lebih berat.Lebih dalam.Bukan lagi seperti jantung—melainkan seperti sesuatu yang sedang bangun dari tidur panjang.Aruna masih berdiri di depannya.Tangannya menyentuh inti itu.Cahaya dan bayangan di tubuhnya berputar pelan.Namun kali ini—ia bisa merasakan tekanan yang berbeda.Lebih besar.Lebih… kuno.Zareth berdiri beberapa langkah di belakangnya.Wajahnya tidak lagi santai.Namun juga tidak panik.Justru—ia terlihat puas.“Kamu merasakannya, bukan?”Suaranya pelan.Namun jelas.Aruna tidak menjawab.Ia terlalu fokus.Dari dalam retakan itu—sesuatu bergerak.Bukan bentuk yang jelas.Namun seperti massa yang hidup.Berdenyut.Dan setiap denyut—mengirimkan gelombang energi ke seluruh ruang.Aruna menggertakkan giginya.“Ini… bukan gerbang biasa…”Zareth tertawa pelan.“Tent
Di dalam jantung hutan—di dalam ruang yang bukan dunia manusia—Aruna berdiri di tengah pusaran cahaya dan kegelapan.Langkahnya semakin cepat.Tatapannya hanya tertuju pada satu titik—inti.Sebuah cahaya gelap kecil yang berdenyut di tengah kehampaan.Dum…Dum…Dum…Setiap detaknya terasa sampai ke tulang.Seperti jantung dari sesuatu yang jauh lebih besar.Zareth berdiri tidak jauh darinya.Matanya mengikuti setiap gerakan Aruna.Namun kali ini—ia tidak lagi terlihat santai.“Akhirnya kamu melihatnya,” katanya pelan.Aruna tidak menjawab.Ia terus maju.Bayangan-bayangan di sekitarnya mulai bergerak.Mereka bukan lagi sekadar kabut.Kini bentuk mereka lebih jelas.Lebih padat.Lebih hidup.Seolah mereka adalah penjaga dari inti itu.Zareth mengangkat tangannya.“Kalau kamu ingin mencapainya…”Suaranya dalam.“…lewati mereka dulu.”Bayangan itu menyerang.Cepat.Tanpa suara.Aruna mengangkat tangannya.Cahaya merah keemasan meledak keluar.BOOOOM!Benturan terjadi.Beberapa bayang
Kabut belum sepenuhnya pergi saat mereka melangkah lebih dalam.Sinar matahari yang menembus sela pepohonan hanya jatuh sebagai garis-garis tipis, tidak cukup untuk menghangatkan udara yang semakin dingin. Tanah di bawah kaki terasa lembap, dan setiap langkah menghasilkan bunyi pelan yang menggema aneh di tengah sunyi.Aruna berjalan paling depan.Langkahnya pelan, namun pasti.Matanya fokus ke arah yang tidak terlihat oleh yang lain.Pelangi di sampingnya sesekali melirik wajah Aruna.“Kamu masih merasakannya?” tanyanya pelan.Aruna mengangguk.“Lebih jelas dari sebelumnya.”Bima menghela napas panjang dari belakang.“Semakin jelas itu biasanya bukan kabar baik…”Embun langsung menimpali,“Memang pernah ada kabar baik sejak kita masuk hutan ini?”Bagas berjalan dengan wajah serius.“Fokus saja.”Hileon tetap diam.Namun langkahnya sedikit lebih cepat.Seolah ia ingin memastikan sesuatu.Makhluk batu raksasa masih mengikuti dari belakang.Langkahnya berat.Namun kini terasa lebih… hat
Pagi belum sepenuhnya datang.Langit masih abu-abu pucat ketika kabut tipis menggantung di antara pepohonan hutan Sumberrejo. Udara dingin menempel di kulit, membawa rasa lembap yang tidak nyaman.Namun yang paling terasa—adalah kesunyian.Bukan kesunyian biasa.Melainkan kesunyian yang seperti… menahan sesuatu.Aruna berdiri di tepi jalur sempit di dalam hutan.Matanya menatap ke depan.Fokus.Di sampingnya, Pelangi memeluk lengannya.“Kita benar-benar harus lanjut sekarang?”Aruna mengangguk pelan.“Semakin lama kita tunggu… semakin kuat jejaknya.”Bima menguap lebar di belakang.“Kenapa semua hal menyeramkan selalu dimulai pagi-pagi begini…”Bagas menatap ke sekitar.“Lebih baik sekarang daripada malam.”Embun langsung mengangguk cepat.“Iya, aku setuju yang itu.”Hileon berjalan paling belakang.Namun matanya terus mengamati.Seolah ia tidak mempercayai ketenangan ini.Makhluk batu raksasa mengikuti dari kejauhan.Langkahnya pelan.Namun setiap pijakan tetap terasa di tanah.Mere
Malam di desa itu tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara. Entah dari angin yang menyusup di sela bambu, daun yang bergesekan, atau sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Namun malam itu— suasana terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih berat. Seolah ada sesuatu yang mengawasi dari kegelapan. Alina berdiri di depan rumahnya. Matanya menatap ke arah hutan kecil di ujung desa. Hutan itu dikenal warga sebagai tempat yang “tidak biasa”. Tidak ada yang berani masuk terlalu dalam. Apalagi saat malam. Namun dari arah sana— terdengar suara. Lirih. Melengking pelan. Seperti nyanyian. Alina menahan napas. Suara itu… bukan suara biasa. Bukan suara manusia. Namun juga terlalu jelas untuk dianggap ilusi. “Dengar itu…?” Suara Bima terdengar dari belakang. Alina menoleh. Bima dan Bagas berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah mereka serius. Embun bahkan sudah menutup telinganya. “Aku nggak mau denger… aku nggak mau denger…” Hileon menat
Hutan Sumberrejo perlahan kembali sunyi.Angin yang sebelumnya berputar liar kini hanya berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun yang jatuh. Cahaya matahari mulai menembus celah-celah pepohonan, seolah mencoba menghapus jejak kegelapan yang tadi memenuhi tempat itu.Namun bagi mereka—ketenangan ini terasa rapuh.Seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.Aruna terbaring lemah di pelukan Pelangi.Tubuhnya terasa dingin.Napasnya tidak teratur.Setiap tarikan napas terdengar berat, seolah ia harus berjuang hanya untuk tetap hidup.“Aruna… dengar aku…”Suara Pelangi bergetar.Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Aruna.“Jangan pergi…”Bima berlutut di samping mereka.Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak menunjukkan candaan.“Dia kenapa…?”Bagas menatap Aruna dengan serius.“Energinya habis.”Embun langsung menutup mulutnya.“Jangan bilang…”Hileon maju selangkah.Matanya tajam, mengamati kondisi Aruna.“Dia belum mati.”Semua langsung menoleh.Hileon melanjutkan,“Dia







