Início / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 214 - ARAH YANG TERBUKA

Compartilhar

BAB 214 - ARAH YANG TERBUKA

Autor: Vika moon
last update Data de publicação: 2026-04-12 10:05:38

Tidak ada yang langsung runtuh.

Tidak ada yang langsung berubah drastis.

Namun semuanya… bergeser.

Seperti dunia ini mengambil napas panjang—

setelah terlalu lama menahan diri.

Aruna berdiri diam.

Namun ia bisa merasakan perbedaan itu.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Lebih luas.

Lebih dalam.

Bukan hanya di sekitar mereka.

Namun di seluruh ruang yang bisa ia jangkau.

Pelangi memandang ke arah kejauhan.

Matanya menyipit.

“Aku nggak tahu kenapa…”

Ia berkata pelan.

“…tapi rasanya kayak semuanya jadi…
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 254 - SISA YANG TIDAK TERLIHAT

    Keheningan yang tertinggal setelah gerbang itu tertutup terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sunyi yang penuh beban atau penantian, melainkan seperti ruang kosong yang baru saja ditinggalkan sesuatu yang penting. Tidak menyakitkan, namun juga tidak sepenuhnya biasa.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah gerbang yang kini kembali menjadi batas yang tenang.“Aneh ya…” katanya pelan.Aruna menoleh.“Apa?”Pelangi menarik napas dalam.“Harusnya aku ngerasa selesai… tapi kok kayak masih ada yang nyisa…”Sosok besar langsung merespon.“Residu proses.”Pelangi menoleh.“Residu?”Sosok besar mengangguk.“Sisa energi atau efek yang belum sepenuhnya hilang.”Pelangi mengangguk pelan.“Iya… mungkin itu…”Aruna memperhatikan dengan lebih serius.“Perasaanmu tidak salah. Setelah proses besar seperti itu, biasanya memang ada jejak yang tertinggal.”Pelangi menatap ke depan lagi.“Jejak… ya…”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu seperti mengajak untuk mendengar sesuatu yang lebih hal

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 254 - DI BALIK GERBANG YANG TERBUKA

    Cahaya itu tidak langsung menyilaukan. Ia justru muncul perlahan, seperti sesuatu yang sangat lama menunggu untuk tidak mengejutkan siapa pun yang melihatnya. Gerbang yang selama ini hanya terlihat sebagai batas kini mulai benar benar terbuka, bukan dengan suara keras atau perubahan tiba tiba, melainkan dengan keheningan yang dalam dan penuh arti.Pelangi berdiri diam, matanya tidak berkedip sedikit pun. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun dari apa yang sedang terjadi.“Ini… beda banget dari yang aku bayangin…” katanya pelan.Aruna berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang.“Karena ini bukan sesuatu yang dipaksa terbuka,” jawabnya.Sosok besar menambahkan.“Pembukaan alami menghasilkan stabilitas tinggi.”Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Iya sih… kerasa lebih… damai.”Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu masih berdiri berhadapan. Tangan mereka masih saling menggenggam, dan tidak ada lagi keraguan di antara mereka. Cahaya yang muncul dari sentuhan itu mengalir m

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 252 - JANJI YANG HAMPIR SELESAI

    Jarak itu kini tinggal seujung rasa. Tidak lagi terbentang luas seperti sebelumnya, tidak lagi dipenuhi kabut yang membingungkan. Kini hanya tersisa ruang tipis yang memisahkan dua sosok yang perlahan kembali saling mengenali.Pelangi berdiri diam, namun hatinya terasa penuh. Ia bisa merasakan semuanya dengan sangat jelas. Getaran emosi dari dua sisi itu tidak lagi bertabrakan, melainkan mulai selaras dalam satu aliran yang sama.“Aku ngerasa… ini bener bener udah dekat banget…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Ini titik yang paling menentukan.”Sosok besar berdiri di sisi mereka.“Konvergensi hampir selesai,” katanya.Pelangi menoleh.“Kamu kalau ngomong itu bikin deg degan tau.”Sosok besar tidak menjawab, namun tidak juga membantah.Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu kini berdiri saling berhadapan. Tidak lagi samar seperti sebelumnya. Bentuk mereka mulai lebih jelas, meskipun masih diliputi cahaya yang lembut.Sosok itu menatap perempuan itu dengan mata yang penuh k

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

    Getaran yang sebelumnya terasa rapuh kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil. Tidak lagi hanya sekadar sambungan tipis, melainkan seperti jembatan yang perlahan terbentuk di antara dua sisi yang selama ini terpisah.Pelangi masih berada di titik itu. Ia bisa merasakan keduanya dengan jelas. Di satu sisi perempuan yang selama ini menunggu, di sisi lain sosok yang perlahan mulai mengingat.Dan di tengah itu semua, ia menjadi penghubung.“Aku masih di sini… kalian berdua juga…” bisiknya pelan.Aruna berdiri dengan tenang, mengawasi tanpa mengganggu.“Biarkan prosesnya berjalan,” katanya lembut.Sosok besar tetap memperhatikan setiap perubahan.“Stabilitas meningkat. Risiko menurun,” ucapnya.Pelangi tersenyum tipis.“Nah… ini baru kabar baik.”Di hadapannya, sosok itu kini tidak lagi tampak kosong. Matanya bergerak lebih hidup, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan potongan ingatan yang tercecer.“Aku… ingat suara itu…” katanya pelan.Pelangi langsung merespon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 250 - SUARA YANG KEMBALI DIINGAT

    Kontak itu tidak langsung berubah menjadi sesuatu yang jelas. Justru sebaliknya, ia terasa rapuh, seperti benang tipis yang baru saja ditemukan setelah lama hilang. Namun meskipun rapuh, keberadaannya tidak bisa disangkal.Pelangi masih berdiri di batas itu. Kesadarannya berada di dua sisi sekaligus. Di belakangnya, Aruna, sosok besar, dan perempuan penjaga. Di depannya, sosok yang selama ini hilang.Ia menahan napas, takut jika terlalu banyak bergerak, semuanya akan kembali menghilang.“Aku… masih di sini…” bisiknya pelan.Sosok itu tidak langsung menjawab. Namun tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ada gerakan kecil, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.“Aku… mendengar…” suara itu kembali terdengar, sangat pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan.Pelangi menahan air matanya.“Kamu beneran dengar…” katanya.Di belakangnya, Aruna memperhatikan dengan penuh fokus.“Pertahankan koneksinya,” ucapnya lembut.Sosok besar menambahkan.“S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 249 - SAAT DUA DUNIA SALING MENYENTUH

    Getaran itu semakin jelas. Tidak lagi hanya terasa sebagai jarak yang menyusut, tetapi seperti dua sisi yang mulai saling mengenali keberadaan satu sama lain. Ruang di antara mereka tidak lagi kosong. Ia dipenuhi oleh aliran yang bergerak pelan namun pasti, seperti sesuatu yang selama ini terpisah akhirnya menemukan arah pulang. Pelangi berdiri dengan mata terpejam, napasnya teratur, namun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. “Aku masih ngerasain dia…” katanya pelan. Aruna tetap di sampingnya. “Pertahankan.” Sosok besar berdiri dengan fokus penuh. “Koneksi stabil, namun belum sempurna,” katanya. Pelangi membuka matanya sedikit. “Dia masih jauh… tapi nggak sejauh tadi…” Perempuan itu melangkah lebih dekat, hampir sejajar dengan Pelangi. “Dia… mulai mendengar…” suaranya bergetar halus. Nyanyian dari dua arah itu kini tidak lagi bertabrakan. Mereka mulai selaras, meskipun belum sepenuhnya menyatu. Ada harmoni yang terbentuk, rapuh namun nyata. Pelangi men

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 67 – Malam yang Tidak Ingin Tidur

    Malam turun sepenuhnya di desa itu, membawa sunyi yang terlalu rapi. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, namun kegelapan di sela-selanya terasa lebih pekat dari biasanya. Angin bergerak pelan, seolah berhati-hati agar tidak menarik perhatian Di kamar, Aruna duduk di tepi ranjang. Rambutnya masi

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 66 – Tenang yang Menipu

    Pagi di desa itu datang dengan cara yang nyaris sempurnaKabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan, burung-burung berkicau seperti tak pernah ada ketegangan yang bersembunyi di balik dinding rumah Pak Seno. Matahari menyelinap pelan melalui celah dedaunan, menyinari halaman yang basah oleh

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 65 – Retakan yang Tak Terlihat

    Pagi datang dengan cara yang terlalu tenang.Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela rumah Pak Seno, jatuh lembut di lantai kayu. Udara terasa sejuk, nyaris dingin, seolah malam belum sepenuhnya pergi. Ayam jantan berkokok dari kejauhan, memecah sunyi, namun tidak cukup kuat untuk meng

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 64 – Setelah Pamitan, yang Tersisa

    Perjalanan kembali dari sanggar berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Motor-motor melaju pelan menyusuri jalan desa yang diapit sawah dan pepohonan. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya jatuh miring, menciptakan bayangan panjang di tanah. Tidak ada yang berbicara. Seolah semua masih menyimpa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status