Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

Share

BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 10:16:21

Getaran yang sebelumnya terasa rapuh kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil. Tidak lagi hanya sekadar sambungan tipis, melainkan seperti jembatan yang perlahan terbentuk di antara dua sisi yang selama ini terpisah.

Pelangi masih berada di titik itu. Ia bisa merasakan keduanya dengan jelas. Di satu sisi perempuan yang selama ini menunggu, di sisi lain sosok yang perlahan mulai mengingat.

Dan di tengah itu semua, ia menjadi penghubung.

“Aku masih di sini… kalian berdua juga…” bisikn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 252 - JANJI YANG HAMPIR SELESAI

    Jarak itu kini tinggal seujung rasa. Tidak lagi terbentang luas seperti sebelumnya, tidak lagi dipenuhi kabut yang membingungkan. Kini hanya tersisa ruang tipis yang memisahkan dua sosok yang perlahan kembali saling mengenali.Pelangi berdiri diam, namun hatinya terasa penuh. Ia bisa merasakan semuanya dengan sangat jelas. Getaran emosi dari dua sisi itu tidak lagi bertabrakan, melainkan mulai selaras dalam satu aliran yang sama.“Aku ngerasa… ini bener bener udah dekat banget…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Ini titik yang paling menentukan.”Sosok besar berdiri di sisi mereka.“Konvergensi hampir selesai,” katanya.Pelangi menoleh.“Kamu kalau ngomong itu bikin deg degan tau.”Sosok besar tidak menjawab, namun tidak juga membantah.Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu kini berdiri saling berhadapan. Tidak lagi samar seperti sebelumnya. Bentuk mereka mulai lebih jelas, meskipun masih diliputi cahaya yang lembut.Sosok itu menatap perempuan itu dengan mata yang penuh k

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

    Getaran yang sebelumnya terasa rapuh kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil. Tidak lagi hanya sekadar sambungan tipis, melainkan seperti jembatan yang perlahan terbentuk di antara dua sisi yang selama ini terpisah.Pelangi masih berada di titik itu. Ia bisa merasakan keduanya dengan jelas. Di satu sisi perempuan yang selama ini menunggu, di sisi lain sosok yang perlahan mulai mengingat.Dan di tengah itu semua, ia menjadi penghubung.“Aku masih di sini… kalian berdua juga…” bisiknya pelan.Aruna berdiri dengan tenang, mengawasi tanpa mengganggu.“Biarkan prosesnya berjalan,” katanya lembut.Sosok besar tetap memperhatikan setiap perubahan.“Stabilitas meningkat. Risiko menurun,” ucapnya.Pelangi tersenyum tipis.“Nah… ini baru kabar baik.”Di hadapannya, sosok itu kini tidak lagi tampak kosong. Matanya bergerak lebih hidup, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan potongan ingatan yang tercecer.“Aku… ingat suara itu…” katanya pelan.Pelangi langsung merespon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 250 - SUARA YANG KEMBALI DIINGAT

    Kontak itu tidak langsung berubah menjadi sesuatu yang jelas. Justru sebaliknya, ia terasa rapuh, seperti benang tipis yang baru saja ditemukan setelah lama hilang. Namun meskipun rapuh, keberadaannya tidak bisa disangkal.Pelangi masih berdiri di batas itu. Kesadarannya berada di dua sisi sekaligus. Di belakangnya, Aruna, sosok besar, dan perempuan penjaga. Di depannya, sosok yang selama ini hilang.Ia menahan napas, takut jika terlalu banyak bergerak, semuanya akan kembali menghilang.“Aku… masih di sini…” bisiknya pelan.Sosok itu tidak langsung menjawab. Namun tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ada gerakan kecil, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.“Aku… mendengar…” suara itu kembali terdengar, sangat pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan.Pelangi menahan air matanya.“Kamu beneran dengar…” katanya.Di belakangnya, Aruna memperhatikan dengan penuh fokus.“Pertahankan koneksinya,” ucapnya lembut.Sosok besar menambahkan.“S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 249 - SAAT DUA DUNIA SALING MENYENTUH

    Getaran itu semakin jelas. Tidak lagi hanya terasa sebagai jarak yang menyusut, tetapi seperti dua sisi yang mulai saling mengenali keberadaan satu sama lain. Ruang di antara mereka tidak lagi kosong. Ia dipenuhi oleh aliran yang bergerak pelan namun pasti, seperti sesuatu yang selama ini terpisah akhirnya menemukan arah pulang. Pelangi berdiri dengan mata terpejam, napasnya teratur, namun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. “Aku masih ngerasain dia…” katanya pelan. Aruna tetap di sampingnya. “Pertahankan.” Sosok besar berdiri dengan fokus penuh. “Koneksi stabil, namun belum sempurna,” katanya. Pelangi membuka matanya sedikit. “Dia masih jauh… tapi nggak sejauh tadi…” Perempuan itu melangkah lebih dekat, hampir sejajar dengan Pelangi. “Dia… mulai mendengar…” suaranya bergetar halus. Nyanyian dari dua arah itu kini tidak lagi bertabrakan. Mereka mulai selaras, meskipun belum sepenuhnya menyatu. Ada harmoni yang terbentuk, rapuh namun nyata. Pelangi men

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 248 JARAK YANG MULAI MENYUSUT

    Jejak itu tidak lagi terasa samar seperti sebelumnya. Kini, keberadaannya semakin jelas, seolah setiap langkah yang mereka ambil membuat jarak yang tadinya begitu jauh mulai perlahan menyusut. Ruang di sekitar mereka juga ikut berubah, tidak lagi terasa seperti satu tempat yang diam, melainkan seperti aliran yang terus bergerak mengikuti arah tujuan mereka.Pelangi berdiri dengan napas sedikit lebih cepat. Bukan karena lelah, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut bergetar semakin kuat.“Aku ngerasa… kita makin dekat,” katanya pelan.Aruna mengangguk tanpa ragu.“Iya. Resonansinya semakin kuat.”Sosok besar berdiri di sisi mereka, kali ini tidak lagi hanya mencatat, tetapi juga terlihat lebih fokus dari sebelumnya.“Jarak emosional menurun,” katanya.Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong itu… kayak pakai bahasa ilmiah terus.”Sosok besar berhenti sejenak, lalu berkata lebih sederhana.“Kita… semakin dekat dengannya.”Pelangi mengangguk.“Nah… itu lebih gampa

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 247- JEJAK YANG MASIH TERSISA

    Ruang itu terasa berbeda setelah kesadaran tentang sosok yang hilang mulai muncul. Tidak lagi hanya berputar di antara penjaga dan inti, kini ada arah baru yang terbentuk, seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai memanggil dari kejauhan.Pelangi berdiri dengan mata sedikit menyipit, mencoba merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.“Aku ngerasa… ada arah lain sekarang,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena kita tidak lagi hanya melihat yang ada di sini.”Sosok besar berdiri lebih dekat, posisinya kini hampir sejajar dengan mereka berdua.“Fokus bergeser ke entitas kedua,” katanya.Pelangi menoleh.“Yang tadi… orang itu…”Aruna menatap ke depan.“Iya. Dia bagian dari kunci.”Perempuan itu berdiri tidak jauh dari inti. Tatapannya tidak lagi hanya tertuju pada cahaya itu, melainkan mulai mengikuti arah yang sama dengan mereka.“Jejaknya… masih ada…” katanya pelan.Sunyi.Namun sunyi itu bukan kosong.Ia seperti jalan yang belum dilalui.Pelangi menarik napas panj

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 173 - JEJAK YANG TAK TERLIHAT

    Hutan Sumberrejo kembali terlihat tenang.Namun ketenangan itu terasa… tidak alami.Seperti sesuatu yang dipaksakan.Aruna berdiri perlahan dari tempatnya. Tubuhnya masih terasa berat, namun ia sudah bisa menahan keseimbangan. Pelangi masih berada di sampingnya, siap menahan jika ia kembali jatuh.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 172 - NAFAS YANG TERSISA

    Suara hutan kembali perlahan.Daun-daun yang sempat berhenti kini kembali bergesekan pelan. Angin berhembus lembut, seolah mencoba menghapus sisa ketegangan yang baru saja mengguncang Sumberrejo.Namun bagi mereka—semuanya belum benar-benar selesai.Aruna terbaring lemah di pelukan Pelangi.Wajahn

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 170 - BAYANGAN YANG MENELAN CAHAYA

    Langit di atas hutan Sumberrejo perlahan menggelap.Bukan karena malam yang datang.Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih buruk.Energi gelap yang dilepaskan Zareth menyelimuti langit seperti kabut pekat. Cahaya matahari yang tersisa tertelan sedikit demi sedikit, meninggalkan suasana suram yang

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 169 - BAYANGAN YANG MENELAN CAHAYA

    Udara di hutan Sumberrejo berubah menjadi semakin berat.Makhluk bayangan yang sebelumnya menyerang secara terpisah kini telah menyatu menjadi satu sosok raksasa. Tubuhnya seperti kabut hitam yang padat, berputar perlahan, seolah hidup. Mata merahnya menyala terang, memandang langsung ke arah Aruna

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status