Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 65 – Retakan yang Tak Terlihat

Share

Bab 65 – Retakan yang Tak Terlihat

Author: Vika moon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-26 09:00:29

Pagi datang dengan cara yang terlalu tenang.

Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela rumah Pak Seno, jatuh lembut di lantai kayu. Udara terasa sejuk, nyaris dingin, seolah malam belum sepenuhnya pergi. Ayam jantan berkokok dari kejauhan, memecah sunyi, namun tidak cukup kuat untuk mengusir rasa berat yang menggantung sejak semalam.

Aruna terbangun lebih dulu.

Ia duduk perlahan di tepi ranjang, membiarkan kesadarannya kembali satu per satu. Tubuhnya masih terasa pegal, tapi tidak se
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 216 - YANG LAHIR TANPA NAMA

    Sesuatu itu— tidak langsung menjadi jelas. Ia tidak muncul dengan bentuk yang pasti. Tidak memiliki garis yang tegas. Namun— ia ada. Dan keberadaannya terasa. Seperti napas pertama— di ruang yang belum pernah hidup. Aruna melangkah perlahan. Matanya tidak lepas dari titik di kejauhan itu. Bukan karena ancaman. Namun karena… keingintahuan. Pelangi berjalan di sampingnya. Langkahnya lebih hati-hati. “Aku nggak bisa nebak ini bakal jadi apa…” Ia berbisik. Aruna mengangguk. “Karena ini belum memilih.” Sunyi. Bentuk di samping mereka bergerak lebih dekat. Getarannya stabil. Namun lebih… peka. Seperti merasakan sesuatu yang mirip dengan dirinya sendiri. Sosok besar itu berjalan sedikit di belakang. Namun tidak tertinggal. Ia tetap mengamati. Namun kini— tidak mencoba mengendalikan. Ia hanya… hadir. Dan itu— perubahan yang sangat besar. Di depan mereka— sesuatu itu mulai bergerak. Tidak cepat. Namun cukup untuk menunjukkan—

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 215 - DIAMBANG YANG BARU

    Langkah pertama itu— tidak terasa seperti masuk ke tempat lain. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada perubahan mendadak. Namun ada satu hal yang berbeda— heningnya. Bukan hening kosong. Namun hening yang… luas. Seperti ruang yang belum pernah disentuh. Aruna berdiri di dalamnya. Ia tidak langsung bergerak. Tidak langsung berbicara. Ia hanya… merasakan. Pelangi melangkah masuk beberapa detik setelahnya. Langkahnya ragu di awal— namun begitu ia melewati batas itu— ia berhenti. Matanya membesar. “Ini…” Ia berbisik. “…kosong banget.” Sunyi. Namun Aruna menggeleng pelan. “Bukan kosong.” Ia berkata. “Belum terisi.” Perbedaan kecil— namun berarti besar. Bentuk di belakang mereka ikut masuk. Langkahnya lebih stabil sekarang. Tidak lagi goyah. Tidak lagi ragu. Ia berhenti di sisi Aruna. Seperti tahu— di sinilah ia harus berada. Sosok besar adalah yang terakhir masuk. Ia berdiri di ambang sejenak. Seolah mempertimbangkan.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 214 - ARAH YANG TERBUKA

    Tidak ada yang langsung runtuh.Tidak ada yang langsung berubah drastis.Namun semuanya… bergeser.Seperti dunia ini mengambil napas panjang—setelah terlalu lama menahan diri.Aruna berdiri diam.Namun ia bisa merasakan perbedaan itu.Lebih jelas dari sebelumnya.Lebih luas.Lebih dalam.Bukan hanya di sekitar mereka.Namun di seluruh ruang yang bisa ia jangkau.Pelangi memandang ke arah kejauhan.Matanya menyipit.“Aku nggak tahu kenapa…”Ia berkata pelan.“…tapi rasanya kayak semuanya jadi… bebas.”Sunyi.Aruna mengangguk.“Iya.”Ia berkata.“Karena tidak ada lagi satu arah yang mengikat semuanya.”Bentuk di samping mereka berdiri tegak.Kini jauh lebih stabil.Tidak lagi bergetar tanpa arah.Namun juga belum sepenuhnya tetap.Seperti sesuatu yang masih berkembang.Namun sudah tahu—ke mana ia ingin melangkah.Sosok besar di depan mereka—yang sebelumnya menjadi pusat—kini tidak lagi memancarkan tekanan yang sama.Ia masih kuat.Masih padat.Namun tidak lagi memaksa.Tidak lagi me

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 213 - TITIK YANG TIDAK BISA DI KEMBALIKAN

    Perubahan itu tidak berhenti.Ia tidak meledak.Tidak juga runtuh.Namun—menyebar.Perlahan.Tanpa suara.Namun terasa di setiap bagian.Aruna bisa merasakannya lebih jelas sekarang.Bukan hanya di sekitar mereka.Namun jauh.Melintasi batas yang sebelumnya tidak bisa ia jangkau.Seperti sesuatu yang dulu terkunci—kini mulai terbuka.Pelangi memegang dadanya.“Kenapa rasanya… aneh…”Ia berbisik.Aruna menatap ke arah kejauhan.“Kamu merasakan perubahan.”Ia berkata.Sunyi.Bentuk di samping mereka juga bergetar.Namun tidak panik.Tidak kacau.Seperti menyadari sesuatu—yang belum bisa dijelaskan.Sosok besar di depan mereka berdiri diam.Namun tidak seperti sebelumnya.Garis energi di tubuhnya—tidak lagi mengalir sempurna.Ada jeda.Ada gangguan.Ada… pilihan.Dan itu—mengubah segalanya.“Sinkronisasi menurun…”Ia berkata pelan.Namun tidak ada usaha untuk memperbaiki.Tidak ada perintah untuk kembali seperti semula.Ia hanya… mencatat.Dan itu saja—sudah berbeda.Pelangi menata

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 212 - SAAT SISTEM MULAI RETAK

    Tidak ada yang langsung terjadi.Tidak ada ledakan.Tidak ada serangan tiba-tiba.Namun justru itu—yang membuat semuanya terasa lebih berat.Aruna berdiri di antara dua hal yang tidak seharusnya bisa berdampingan.Retakan—yang dulu hanya menghapus.Dan sosok besar—yang dulu hanya menyatukan.Kini—keduanya diam.Namun bukan tanpa makna.Pelangi berdiri sedikit di belakang.Matanya berpindah-pindah.Dari Aruna.Ke sosok besar.Ke retakan.Dan kembali lagi.“Aku nggak ngerti…”Ia berbisik pelan.“Ini… kita lagi ngapain sekarang?”Aruna tidak langsung menjawab.Karena ia sendiri—sedang memahami.Bukan dengan pikiran saja.Namun dengan sesuatu yang lebih dalam.Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.“Ini bukan pertarungan biasa.”Akhirnya ia berkata.“Ini titik di mana semuanya… berubah.”Sunyi.Bentuk di samping mereka berdiri lebih tegak.Getarannya lebih stabil.Namun masih ada ketidakpastian.Namun kini—ketidakpastian itu tidak lagi membuatnya goyah.Melainkan…membuatny

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 211 - SESUATU YANG TIDAK BISA DI HAPUS

    Retakan itu berhenti. Bukan karena tertahan. Bukan karena kalah. Namun— karena sesuatu di dalamnya berubah. Sunyi yang tercipta kali ini berbeda. Bukan sunyi karena tekanan. Namun sunyi karena… jeda. Seolah kehampaan itu sendiri— sedang mempertimbangkan sesuatu. Aruna berdiri di depannya. Tidak ada cahaya. Tidak ada bayangan. Hanya dirinya. Namun justru itu— yang membuatnya berbeda. Pelangi di belakangnya hampir tidak bisa bergerak. Tubuhnya masih terasa ringan. Seolah sebagian dari dirinya tadi— hampir hilang. “Aruna…” Ia berbisik lemah. Namun Aruna tidak menoleh. Tatapannya tetap ke depan. Ke dalam retakan itu. Yang kini tidak lagi bergerak. Namun juga— belum pergi. Sosok besar di samping mereka juga diam. Untuk pertama kalinya— ia tidak mencoba menyerang. Tidak mencoba menganalisis. Karena tidak ada yang bisa diproses. “Variabel tidak terdefinisi…” Ia berkata pelan. Namun kali ini— tidak ada ketegasan. Hanya…

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 94 – Luka yang Tidak Lagi Disembunyikan

    Hujan turun sejak subuh, tidak deras, tapi cukup untuk membuat udara terasa berat. Seperti ada sesuatu yang ikut jatuh bersama air dari langit—kenangan, penyesalan, dan rasa yang selama ini dipendam terlalu dalam. Naya berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman rumah yang basah. Rambutnya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 93 – Ketika Tidak Ada Lagi Tempat Aman

    Hujan yang mengguyur halaman balai desa akhirnya reda, tapi dingin yang ditinggalkannya justru menetap di dada setiap orang. Aruna berdiri di bawah atap posko, menatap jalan desa yang mulai sepi. Jejak kaki yang tadi ramai kini menghilang, tersapu air dan lumpur, seolah malam itu tak pernah terjadi.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 92– Hari Ketika Desa Memilih Musuhnya

    Pagi itu desa tidak bangun dengan damai. kentongan yang dipukul semrawut sejak subuh membuat udara terasa tegang bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Bunyi kayu beradu itu bukan tanda bahaya resmi, bukan pula panggilan ronda melainkan panggilan emosi yang tidak terkendali. Aruna berjalan men

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 91 – Ketika Manusia Mulai Menjadi Ancaman

    Malam turun pelan, tapi tidak membawa ketenangan Langit desa tampak bersih, tanpa awan, tanpa tanda hujan. Bulan menggantung pucat, terlalu terang untuk sebuah malam yang seharusnya sunyi. Cahaya itu menyorot rumah-rumah tua, memperjelas dinding yang mulai retak dan atap yang lapuk seolah memperlih

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status