LOGINAku pikir, setelah keluar dari pekerjaanku, semua gangguan itu akan berhenti. Tapi aku salah besar. Sosok yang selama ini hanya mengintai dari sudut-sudut gelap kantor dan rumah majikanku, ternyata mengikutiku ke mana pun aku pergi. Setiap langkah, setiap hembusan napas, selalu ada sesuatu yang mengawasi. Suara langkah kaki di belakangku, bayangan di cermin yang bukan milikku, semua semakin nyata. Kini, aku terjebak dalam mimpi buruk tanpa akhir, dan aku tidak tahu apakah aku akan bisa lari dari teror ini.
View More"Sial, kenapa aku tidak pernah mampu menyimpan tenaga dalam di dantian milikku ... " Abinawa menggerutu keras sembari mengepalkan tangannya.
"Kenapa cuma aku yang tidak bisa menyimpan tenaga dalam ... Dewa Langit, ini benar-benar tidak adil." Abinawa terus menggerutu.
Abinawa adalah pemuda biasa yang hidup di Sekte Api dan Angin. Dia seorang sebatang kara dan hidup seorang diri, tanpa bakat spesial di dalam tubuhnya. Sehingga membuat dia menjadi terasingkan dan terkucilkan.
Berbeda dari kebanyakan pemuda seusia dengan dirinya yang sudah memiliki tenaga dalam di tubuhnya dan menjadi seorang jenius bela diri. Abinawa sampai saat ini masih belum mampu menyimpan sedikitpun tenaga dalam di dalam tubuhnya, seolah ada yang menghalangi dan menolak tenaga dalam itu tersimpan di dalam tubuhnya.
"Jika terus seperti ini, maka selamanya aku akan menjadi bahan cemoohan ... " Abinawa mengambil posisi duduk di bawah pohon kayu yang rimbun.
Dia memilih untuk beristirahat sebentar dan memulihkan tenaganya yang sudah terserap habis, akibat latihan sejak pagi hingga tengah hari.
Namun, baru beberapa menit saja dia beristirahat. Beberapa anak seusia dengannya tampak mendatangi dirinya.
"Pecundang!!! Percuma saja kau berlatih, kau tidak akan mampu untuk menjadi seorang pendekar ... " Ejek Arga yang merupakan jenius bela diri Sekte Api dan Angin.
Arga sendiri adalah cucu dari Tetua Utama dari Sekte Api dan Angin, sekaligus orang terkuat nomor tiga di sekte. Hal itulah yang membuat Arga semena-mena terhadap anak-anak seusianya.
Arga bukan hanya mengejek dan menghina, akan tetapi tidak jarang dia memberikan cacian fisik terhadap Abinawa. Dia bahkan tidak segan memerintah anak buahnya untuk menghajar Abinawa hingga babak belur.
"Lepa, Gena, hajar bocah ini sampai babak belur ... " Arga kembali memerintahkan anak buahnya untuk kembali memberikan pelajaran kepada Abinawa.
Abinawa tentu dengan cepat menyadari jika dia akan kembali menerima pembulian yang melibatkan fisiknya.
"Baik bos." Lepa dan Gena menjawab dengan serempak.
Abinawa sendiri langsung mengambil langkah mundur, berusaha untuk melarikan diri dari Arga cs. Namun, niatnya itu dengan cepat di ketahui oleh Lepa dan Gena.
Alhasil dua orang itu tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mereka dengan segera bergerak cepat ke arah Abinawa.
"Kau pikir kami akan membiarkanmu untuk melarikan diri?"
"Haha, jangan bodoh ... Selangkah pun kami tidak akan membiarkan kau untuk lari."
Lepa dan Gena segera saja bergerak cepat menghajar Abinawa. Tendangan dan pukulan tepat mengenai bagian tubuh Abinawa dengan telak. Sehingga meninggalkan memar di sekujur tubuhnya.
Abinawa tidak memiliki ilmu kanuragan dan bela diri yang baik, itu tidak bisa menangkis dan menghindari serangan itu.
"Akhh ... "
Abinawa meringis kesakitan, Dia merasakan tubuhnya begitu nyeri dan sakit luar biasa. Bahkan saat ini untuk berdiri saja dia tidak memiliki tenaga lagi.
"Itu pelajaran untukmu pecundang, di rimba persilatan hanya yang kuat yang berkuasa dan kau yang lemah akan tertindas." Arga berbicara dengan sombong dan diikuti gelak tawa dua rekan dibelakangnya.
Abinawa hanya terdiam, tidak ada jawaban dari mulutnya. Dia menyadari dengan betul batas kemampuan yang dimilikinya. Sekalipun dia menjawab perkataan bernada ejekan dari Arga, dapat membayangkan anak buah Arga akan kembali menghajar dirinya hingga babak belur bahkan mungkin menjadi cacat.
"Jika kau ingin membalas, maka kau harus menjadi seseorang yang memiliki kekuatan atau paling minimal mampu menyimpan tenaga dalam dan membuka dantain ...
Akan tetapi, sepertinya kau tidak akan mampu melakukannya pecundang ... Cuih." Arga dengan tidak berprikemanusiaan nya meludahi wajah Abinawa.
Abinawa hanya bisa memendam amarah dan rasa kesalnya di dalam hatinya. Sekali lagi, dia tidak cukup bodoh untuk membantah perkataan dan ejekan dari Arga.
Setelah puas membully dan mencaci Abinawa, Arga cs langsung bergegas meninggalkan Abinawa yang terbaring lemah. Mereka menyadari Jika ada yang melihat tindakan yang mereka lakukan, maka mereka akan dalam masalah.
Abinawa sendiri yang tidak memiliki tenaga lagi, langsung kehilangan kesadarannya.
"Akhh ... "
Abinawa baru mendapatkan kesadarannya kembali setelah hari gelap dan berganti malam. Semua tampak gelap gulita.
"Sepertinya aku kehilangan kesadaran cukup lama ... " Abinawa mencoba untuk berdiri dengan sisa tenaga yang ada dalam tubuhnya.
Setelah itu, dia dengan segera langsung berjalan menuju kediaman pribadi miliknya yang berada terpisah dari penghuni Sekte Api dan Angin yang lainnya.
Dengan bersusah payah, akhirnya Abinawa berhasil tiba di kediaman pribadinya itu. Dia dengan segera mengobati luka memar pada tubuhnya dengan tanaman obat-obatan yang di milikinya.
"Untung saja beberapa hari yang lalu aku menyimpan tanaman obat untuk menyembuhkan luka memar dan nyeri ... " Abinawa bersandar pada dinding rumah kecilnya itu.
Tanpa dia sadar, air matanya menetes dengan sendirinya. Dia benar-benar tidak tahu di mana letak kesalahannya, sehingga menjadi objek bulian dari anak-anak seusia dengannya.
"Aku harus menjadi kuat, agar dapat membalaskan semua penderitaan yang ku alami saat ini ... " Abinawa membatin di dalam hatinya.
***
Pagi menyingsing dengan cepat, membangunkan Satria dari tidurnya dan menghadapi penderitaan kembali.
Abinawa menggerakkan kaki dan tangan kecilnya yang masih terasa sakit dan nyeri, akibat ulah dari Arga cs.
"Sebenarnya siapa diriku? Siapa orang tuaku? Kenapa aku harus hidup seorang diri, di jauhi oleh banyak orang, bahkan di anggap seperti sebuah bencana." .
Banyak hal yang menjadi pertanyaan di benai Abinawa dan tidak ada satupun yang mampu di jawabnya. Semua seakan terlihat sengaja di tutup dan di sembunyikan dari dirinya. Seolah dirinya tidak boleh mengetahui jawaban dari semua pertanyaan itu.
"E huu ... Sudahlah, mungkin aku belum saatnya mengetahui segalanya, suatu hari nanti aku akan menemukan jawaban dari semua pertanyaanku ini." Gumam Abinawa sembari menarik nafas panjang dan melepaskan kembali dengan berlahan, seakan melepaskan semua beban yang ada pada pundaknya.
Setelah mengatur nafasnya, Abinawa melangkahkan kakinya keluar dari rumah atau gubuk kecilnya itu. Dia sudah bertekad dan mengumpulkan semangatnya untuk terus berlatih dengan giat, agar dapat menjadi kuat dan di hargai, serta di hormati. Bukan menjadi seorang pecundang seperti saat ini.
"Aku harus menjadi kuat, bagaimana pun caranya ... "
Abinawa melangkahkan kakinya memasuki hutan rimbun di belakang gubuk kecilnya itu. Tidak terlalu dalam, terdapat sebuah sungai kecil yang menjadi tempat bagi Abinawa merenungkan nasib malangnya. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan dari sungai kecil itu, bahkan mungkin tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Abinawa seorang yang memang gemar berpetualang.
Namun, kali ini dia datang bukan untuk merenungkan nasibnya, melainkan untuk melatih tubuh kecilnya ini.
"Aku yakin, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil ... " Abinawa berteriak dengan keras dan penuh keyakinan. Abinawa bertekad tidak akan pernah berhenti, jika belum berhasil mencapai apa yang dia inginkan.
Hari itu datang lebih cepat dari yang aku bayangkan. Pagi masih berselimut kabut tipis, hawa dingin khas kampungku menyelinap ke sela-sela jendela kayu. Rumah sederhana peninggalan orang tuaku yang lama tak kuhuni kini terlihat ramai, penuh kerabat dan tetangga yang datang membantu persiapan pernikahanku.Di halaman depan, tenda putih dipasang sederhana. Kursi-kursi plastik tertata rapi berhadapan dengan meja panjang tempat hidangan akan diletakkan. Beberapa bunga krisan putih dipadukan dengan daun pisang sebagai hiasan—cukup untuk membuat suasana terasa hangat dan bersahaja.Aroma masakan dari dapur menyebar ke seluruh penjuru rumah; nasi kuning, opor ayam, dan sambal goreng kentang menjadi menu utama hari ini. Ibu-ibu tetangga tampak sibuk membantu, tertawa kecil sambil sesekali menegur anak-anak yang berlarian riang di halaman.Aku duduk di kamar kecilku yang dulu sering menjadi saksi hari-hari penuh mimpi dan air mata. Di depan cermin yang sedikit retak, aku merapikan diri dengan
Setiap kali aku tiba di kantor, hal yang paling membuat langkahku terasa berat adalah masuk ke ruangan Pak Frank. Meski tugasnya sederhana, hanya sekadar membuka jendela dan memastikan ruangan itu rapi, aku selalu merasa enggan. Ada sesuatu yang membuat ruangan itu berbeda, hawa dingin yang menyeruak meski jendela-jendela kecilnya langsung menghadap jalan raya. Ruangan itu cukup besar, dilengkapi sofa yang cukup nyaman, ada televisi dan beberapa peralatan lainnya. Di dekat pintu terdapat meja Pak Frank dengan kursi putar hitam, dan beberapa dokumen yang tertumpuk rapi di sudutnya. Di sisi lain, ada dua jendela kecil dengan pemandangan jalan raya yang biasanya penuh lalu lintas. Di sampingnya, ada lemari tempat menyimpan barang-barang, mesin kopi dan juga kulkas. Namun, yang paling mencolok adalah jendela kaca sebelah kanan, yang terhubung langsung dengan rooftop. Jendela itu tampak gelap dari luar, aku selalu merasa seperti ada sesuatu yang menatapku dari dalam setiap kali aku
Aku mencoba mengabaikan pesan Isabelle, tapi rasa cemas itu tetap menggantung di pikiranku sepanjang hari. Saat bekerja, aku merasa lebih sensitif terhadap sekelilingku. Setiap suara kecil, bayangan yang melintas di sudut mata, atau bahkan hembusan angin yang terasa tidak wajar membuatku terlonjak. Malam harinya, ketika aku pulang ke kontrakan, aku masih memikirkan kata-kata Isabelle. 'Bau wangi… tertarik dengan Mbak…' Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Aku teringat bagaimana ibuku dulu pernah berkata kalau aku sering dipuji memiliki aroma tubuh yang khas, seperti harum bunga melati. Saat kecil, aku menganggapnya pujian biasa, tapi sekarang aku merasa takut. Apa ini artinya aku memang punya "ciri" yang bisa menarik perhatian makhluk-makhluk tak kasat mata? Di dalam kontrakan, aku mencoba menenangkan diri. Aku mengunci semua pintu dan jendela, memastikan tidak ada celah sedikit pun. Aku berbaring di kasur tipis yang tergeletak di lantai, memaksakan diri untuk tidur. Na
Pagi itu, aku berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk pergi lebih awal. Mungkin karena sudah merasa tak nyaman di kontrakan baru, atau mungkin hanya sekadar ingin mengalihkan pikiran.Aku memegang kunci gerbang utama dan pintu depan, berjalan memasuki kantor yang masih sepi. Hanya aku yang sudah datang, terlalu pagi untuk siapa pun. Aku duduk di sofa, membelakangi cermin besar yang menempel di dinding.Cermin itu hampir mencakup seluruh ruangan, dan aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan keberadaannya, namun aku memilih untuk mengabaikannya.Rasa kantuk datang begitu saja. Aku merasa begitu lelah, entah karena pekerjaan atau masalah yang terus menghantui pikiranku. Dalam sekejap, aku tertidur di sana, tanpa bisa mengontrolnya. Namun, tidurku bukan tidur yang tenang.Seperti yang sudah sering terjadi, aku kembali mengalami ketindihan, bahkan kali ini di kantor. Rasanya seperti ada yang mengge
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.