Inicio / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 103 – Bayangan di Balik Pengakuan

Compartir

Bab 103 – Bayangan di Balik Pengakuan

Autor: Vika moon
last update Fecha de publicación: 2026-02-14 10:23:18

Langit sore menggantung kelabu di atas rumah tua milik Pak Sena dan Bu Sena. Angin berembus pelan, membuat tirai ruang tamu bergerak seperti napas yang tertahan.

Arna berdiri di depan jendela, menatap halaman yang dulu terasa hangat, kini seperti menyimpan rahasia.

Pengakuan Bima sudah mengguncang semuanya.

Tapi Arna tahu itu belum selesai.

Embun duduk di kursi kayu, memeluk lututnya. “Kak… kenapa rasanya tetap berat? Padahal dia sudah mengaku.”

Arna tidak langsung menjawab.

Karena memang ada s
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 267 - ORANG YANG TIDAK BISA DI LUPAKAN

    Setelah nama Liora disebut, suasana di sekitar mereka berubah menjadi jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi kenangan.Pelangi masih duduk dekat Asa. Cahaya lembut dari sosok itu kini bergerak lebih lambat, seperti sedang tenggelam jauh ke dalam ingatan yang selama ini terkunci.“Asa…” panggil Pelangi pelan.Asa bergerak kecil.“…iya…”Pelangi tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Suara Asa memang masih pelan dan belum sepenuhnya stabil, namun sekarang setiap kata terasa jauh lebih hidup.“Kamu masih ingat banyak tentang mereka?”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…sedikit…”Pelangi mengangguk.“Nggak apa apa… pelan pelan aja.”Sosok tinggi itu masih berdiri di kejauhan. Kini auranya tidak lagi terasa mengancam seperti awal kemunculannya, namun tetap ada kesedihan dingin yang menyelimuti dirinya.Aruna menatap sosok itu.“Kau juga mengenal mereka?”Sosok itu tidak langsung menjawab.Namun beberapa detik kemudian ia berk

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 266 - NAMA NAMA YANG MASIH TERTINGGAL

    Setelah kata “hilang” keluar dari Asa, ruang di sekitar mereka kembali dipenuhi kesunyian yang berat. Tidak ada lagi ledakan cahaya ataupun tekanan besar seperti sebelumnya. Namun justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan.Pelangi masih berdiri dekat Asa sambil memegang cahaya lembut itu perlahan. Kini ia mengerti satu hal.Yang paling menghancurkan Asa bukan kekuatannya.Melainkan rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan seseorang.Pelangi menunduk pelan.“Asa…” bisiknya.Asa tidak langsung menjawab.Cahayanya bergerak kecil.Lemah.Seperti seseorang yang terlalu lelah mengingat sesuatu.Sosok tinggi itu masih berdiri di tempatnya. Tidak lagi memberi tekanan seperti sebelumnya, namun auranya tetap terasa dingin.Aruna menatap sosok itu.“Siapa yang hilang?”Sosok tinggi itu diam cukup lama.Lalu berkata pelan.“Orang orang yang dulu memilih tinggal di sisinya.”Pelangi langsung menoleh.“Memangnya dulu Asa nggak sendirian?”Sosok besar langsung mencatat.“Kemungkinan adany

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 265 - MASALALU YANG TAK MAU MATI

    Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di sini,” jawab Pelangi cepat.Ia tidak berani menoleh terlalu lama, takut jika rasa takut Asa semakin besar.Sosok tinggi itu tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tersusun dari bayangan samar yang terus bergerak perlahan, seperti asap gelap yang tidak pernah benar benar membentuk sesuatu.Aruna maju satu langkah.“Kau belum menjawab semuanya,” katanya tenang.Sosok itu menoleh perlahan.“Aku tidak datang untuk menjawab.”Sosok besar langsung mencatat.“Niat komunikasi rendah.”Pelangi mengerutkan kening.“Kalau gitu ngapain datang…”Sosok itu kembali melihat ke arah Asa.“Untuk memastikan kesalahan tidak terulang.”Kalimat itu membuat Asa langsung bergetar lebih kuat.“…ja…ngan…”Pelangi langsung b

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 264 - JEJAK SEGEL YANG MULAI TERBUKA

    Setelah percakapan itu, suasana di sekitar mereka tidak benar benar kembali tenang. Memang tidak ada ledakan cahaya ataupun perubahan besar, namun ada sesuatu yang terasa menggantung di udara. Tentang segel. Tentang seseorang atau sesuatu yang pernah mencoba menghapus Asa. Pelangi masih duduk di dekat cahaya itu sambil memikirkan kata kata yang tadi keluar dari Asa. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh. “Kalau Asa disegel…” katanya pelan. Aruna menoleh. “Maka ada alasan mengapa itu dilakukan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Tidak ada tindakan penyegelan tanpa tujuan.” Pelangi menghela napas. “Masalahnya… alasan apa…” Asa bergerak kecil di sampingnya. Cahayanya lebih stabil sekarang, namun sesekali masih bergetar ketika kata kata tertentu disebut. Pelangi langsung menyadarinya. “Kamu takut kalau ngomongin itu ya…” Asa diam beberapa saat. Lalu terdengar pelan. “…dingin…” Pelangi mengerutkan kening. “Dingin?” Aruna berpikir sejenak. “Mungkin

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 263 - SAAT ASA MULAI MENGINGAT

    Cahaya di sekitar Asa kini jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Denyutnya masih ada, namun tidak lagi liar ataupun terlalu kuat. Ia bergerak mengikuti ritme yang tenang, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan keseimbangannya sendiri.Pelangi masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan Asa tanpa melepas senyum kecil dari wajahnya.“Aku masih belum biasa dengar kamu ngomong…” katanya pelan.Asa bergerak perlahan mendekat.Kini sosoknya lebih jelas dibanding sebelumnya. Meski masih tersusun dari cahaya dan kabut halus, bentuk itu mulai menunjukkan garis yang lebih utuh.“…Pe…la…ngi…”Pelangi tertawa kecil.“Iya iya… aku di sini…”Aruna berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan setiap perubahan dengan tenang.“Perkembangannya semakin cepat,” katanya.Sosok besar langsung menambahkan.“Sinkronisasi identitas meningkat.”Pelangi mengangguk kecil.“Iya… rasanya dia kayak nyerap banyak hal sekaligus…”Asa diam beberapa saat.Seperti sedang memikirkan sesuatu.Lalu perlahan berkata.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 262 - SUARA YANG AKHIRNYA TERDENGAR

    Cahaya itu belum sepenuhnya mereda. Ia masih berdenyut pelan di sekitar Asa, seperti jantung yang baru saja bangun setelah tertidur sangat lama. Ruang di sekeliling mereka ikut berubah. Tidak lagi terasa kosong atau sunyi biasa, melainkan seperti dipenuhi gema yang sangat halus.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap perubahan itu tanpa berkedip.“Aku masih nggak percaya…” bisiknya.Aruna berdiri di sampingnya dengan tenang.“Karena yang terjadi memang bukan hal kecil.”Sosok besar menambahkan.“Transformasi berhasil melewati tahap awal.”Pelangi tersenyum kecil.“Berarti… Asa sekarang beda ya…”Cahaya di depan mereka bergerak perlahan.Tidak liar.Tidak juga tidak stabil.Justru terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.Dan di tengah cahaya itu…bentuk Asa mulai terlihat lebih jelas.Masih belum sempurna.Namun kini tidak lagi hanya seperti kabut tanpa arti.Ada garis samar yang membentuk sosok.Pelangi menatap dengan kagum.“Kamu… mulai punya bentuk…”Asa bergerak pelan.Dan un

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 13 – Pagi yang Datang Terlambat

    Malam itu akhirnya mereda Setelah beberapa saat terdiam, Aruna dan Embun kembali berbaring. Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Embun memejamkan mata dengan tubuh menegang, sementara Aruna memandangi langit-langit kamar, menunggu hingga detak jantungnya kembali normal. Ketika akhirnya terle

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 12 – Jendela yang Tidak Pernah Diam

    Embun berdiri di dapur dengan gelas di tangannyavAir di dalamnya sudah tenang, namun jari-jarinya belum. Getaran halus merambat dari telapak ke pergelangan, memaksa ia menggenggam gelas lebih erat agar tidak jatuh. Cahaya bulan masuk dari kisi-kisi jendela, membentuk garis pucat di lantai tanah ya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 11 – Nyanyian dalam Gelap

    Malam benar-benar jatuh di Desa Sendang Pitu. Rumah Pak Seno telah terlelap. Lampu-lampu dipadamkan, menyisakan cahaya bulan yang menyusup melalui celah jendela kayu. Suara jangkrik bersahut-sahutan, teratur, seperti lullaby alam yang meninabobokan siapa pun yang mendengarnya Satu per satu, merek

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 10 – Jarak yang Salah

    Malam turun perlahan saat mereka meninggalkan sanggar tari. Jalan desa tampak lebih sempit dibanding sore tadi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup, memantulkan bayangan panjang di tanah Angin berdesir, membawa aroma daun basah Bulan berjalan sedikit di belakang Hileon. Sejak keluar dari sanggar

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status