LOGINSeorang perempuan biasa, bukan dari kalangan ahli agama, namun keluarganya membesarkannya dengan penuh kehangatan dan cinta. Dirinya berasal dari keluarga sederhana yang pergi ke kota untuk bekerja. Karena keuangan yang terbatas Minama seorang perempuan berhijab terpaksa mencari kostan yang sesuai dengan budgetnya, sampai dia menemukan sebuah tempat tinggal kostan berlantai 2 yang menurutnya bagus, fasilitas yang memadai namun harganya sangat jauh di bawah rata-rata. Saat pertama kali penyerahan kunci kamar, dari sanalah semua cerita Mina di mulai..
View More"Esme, you are mine!"
I woke up when the sun had risen and its light illuminated my room. That dream again, that voice again that echoed like a monster. When I was 19 years old, I often had strange dreams.The dream took me to a strange place, quiet, and dark, no one was around me. I seemed to be monitored by sharp eyes lurking behind the trees. If I walked closer, he disappeared somewhere. Who is he, I do not know."Esme, today's breakfast you officially become a student at university," said my mother who came into my room and told me to take a shower immediately.The levels in my life are growing, it's time for me to become an adult with a more advanced mindset than before.After taking a shower, I was picked up by my friend. She has always been my best friend since childhood."You don't have breakfast first?" my mother shouted when I immediately took the bag."No Aunt, we will have breakfast on campus, bye, I kidnapped your beautiful daughter," she said jokingly."Okay, don't forget to return it on time," my mother said, chuckling softly.We both entered the car immediately and she was driving, her name was Thalita. Along the way, we kept talking about how the seniors dealt with us. Thalita was afraid of being bullied because her body was bigger than normal.Arriving at the campus, I walked casually next to her. Everyone looked at us and gave a faint smile when they saw Thalita. I don't like seeing people belittle other people."Let's go that way," I whispered in his ear. Because the road we are going to walk is filled with girls who look beautiful and classy. I'm afraid Thalita mentally can't stand being ridiculed by them.We turned around to find a further, quieter road but from the opposite direction there was a group of handsome men, maybe our seniors.My head was down when we were about to meet each other and suddenly one of the men threw a basketball at me so I had to stare at him.Damn, he's handsome!I raised my head and handed the basketball to him. His eyes were wild, and piercing, pulled the ball roughly and then said, "You must come to my party tonight, if you don't come then you will receive a punishment from me the next day," he said firmly and left.Who does he think he is to threaten me? Thalita was still rooted to the spot. His eyes did not blink when he saw the departure of a group of handsome men."Hey, why are you so fascinated by those who look arrogant," I said to wake her up but she muttered, "Cool, he's my idol from today."I took her hand and we kept walking to see the announcement. I don't know him, how can I go to his party, his house doesn't even know. Handsome is useless, if he is brainless.***"Do you smell something?" I asked Thalita. I felt a strong scent that pricked my nose, uncomfortable like an animal smell. I looked around me, and not a single wild animal was left unattended.We walked to the cafeteria, after finishing one class's first lesson. A large canteen filled with many people. All eyes scanned our arrival from the front door.My eyes met those of the man who threw the ball at me earlier. From a distance, he stared at me unblinkingly. I was surprised by the behavior of a man like that, even though beside him there was a beautiful girl who was hugging him. His hand gripped the girl's shoulder."Please," a waiter handed me a menu book. A little surprised to see the menu price list which is quite expensive. I chose just to order a drink while Thalita ordered a lot of food that could be eaten together.After the food was served on trays and we walked around looking for empty chairs and tables. Everyone who was there noticed me and Thalita. A little soft talk almost whispered in my ear, "Beauty and the beast, must be the beauty is the servant."The golden yellow-haired girl chuckled softly and flashed a faint smile at me when I glanced at her."Oww!"bruh!Thalita fell, her body was face down, and the tray she was holding crashed to the floor. That much food was scattered in all directions. Some of the people who did the act laughed at her.A curly-haired youth might do this. I walked over to him and placed my tray of drinks roughly in front of him."What are you doing with my friend huh, are we bothering you!" I snapped.A friend of mine cheered me while clapping. This man stood and put his hands on his hips in front of me. "You don't bother me beautiful, but your friend's weight is an eyesore to me," he said innocently. My hand reflexively took a bottle of cold red soda water and I splashed it right in his face."Bastard! How dare you do this to me, you know who I am!""I don't care who you are, you bastard! If you want respect, you should respect us!""Sassy you new kid, who do you think you are!"His hand was raised and wanted to hit me. The atmosphere of the canteen, which was previously full of cheers, suddenly became silent because it turned out that a foundation administrator had visited to see the atmosphere of the canteen"Hey guys, what's going on over there?"My first day at university, became an unforgettable day in history because for the first time, I made a fuss.Langit di ufuk timur perlahan mulai berubah warna, dari gelap pekat menjadi ungu keemasan. Udara pagi terasa dingin menusuk, namun semangat rombongan mulai bangkit kembali saat mereka memulai perjalanan ke puncak tepat pukul 05.00.Pak Rahman memimpin rombongan di barisan depan, diikuti oleh Zuen, Iren, Mina, dan Tara yang berjalan berdekatan di tengah, sementara Pika memilih untuk berada di barisan paling belakang. Sebagai salah satu yang paling berpengalaman dalam mendaki, Pika merasa tanggung jawabnya adalah memastikan tidak ada yang tertinggal atau mengalami masalah di perjalanan.Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin tidak tenang perasaan Pika. Bukan hanya karena medan yang semakin berat, tapi karena Tara.Pika melirik ke arah Tara yang berjalan di depan dirinya. Gerakannya terlihat lambat dan kaku, berbeda dari biasanya. Wajahnya tetap pucat, dan tatapannya kosong. Pika merasa ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak tahu apa itu."Tara… kenapa kamu jadi seperti ini?" gumamn
Setelah memastikan semua orang sepakat, Pika keluar dari tenda untuk menyampaikan keputusan kepada Pak Rahman.Di dalam tenda, suasana kembali hening. Tara berbaring kembali tanpa mengatakan apa-apa, sementara Mina merapikan tasnya untuk memastikan semuanya siap saat mereka harus pergi.Zuen duduk bersandar di dinding tenda, menatap ke arah pintu dengan pandangan kosong. "Aku harap keputusan ini yang terbaik," gumamnya.Iren yang duduk di sebelahnya menghela napas panjang. "Aku juga. Semoga Tara benar-benar kuat. Aku nggak mau ada yang jatuh sakit atau… sesuatu yang lebih buruk."Mina menoleh ke arah mereka berdua, wajahnya menunjukkan kepercayaan diri yang tulus. "Nggak ada yang buruk akan terjadi. Kita harus percaya, kan? Kalau kita bareng-bareng, semuanya pasti baik-baik aja."Kata-kata Mina membuat suasana sedikit lebih ringan. Zuen dan Iren tersenyum kecil, meskipun rasa gelisah masih mengintai di hati mereka.Di sudut tenda, Tara membuka matanya sedikit, mengamati Mina dalam diam
Dini hari suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Jam di tangan Pak Rahman menunjukkan pukul 02:00 saat ia berjalan menuju tenda Pika. Suara langkah kakinya terdengar samar di atas tanah yang lembap. Lampu senter kecil yang dibawanya menerangi jalan, menciptakan bayangan panjang yang tampak semakin menakutkan di antara pohon-pohon tinggi.Pak Rahman berhenti di depan tenda Pika dan mengetuk bagian atasnya perlahan."Pika, kamu bangun?" tanyanya dengan suara pelan namun tegas.Terdengar suara resleting tenda dibuka. Pika muncul dengan wajah setengah mengantuk, rambutnya berantakan dan tubuhnya terbungkus jaket tebal."Pak Rahman? Ada apa?" tanya Pika, suaranya serak."Saya mau tanya, apa kalian berencana melihat matahari terbit di puncak? Kalau iya, kita harus mulai perjalanan sekarang," jawab Pak Rahman sambil menunjuk ke arah jam di pergelangan tangannya.Pika menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan pikirannya yang masih kusut. Ia menoleh ke dalam tenda, tempat Nadin dan Ratn
Iren dan Zuen saling bertukar pandang, wajah mereka dipenuhi rasa takut. Langkah kaki itu masih terdengar, semakin jelas, seperti bergerak lebih dekat ke tenda mereka."Zuen, kamu denger itu lagi?" bisik Iren sambil mendekat ke Zuen.Zuen mengangguk, matanya tidak lepas dari pintu tenda. "Iya. Aku nggak tahu siapa atau apa itu, tapi ini nggak wajar."Mina menghela napas panjang, mencoba untuk tetap tenang. "Mungkin ini cuma pikiran kalian aja. Aku nggak denger apa-apa, beneran."Namun, suara langkah kaki itu mendadak berhenti. Keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih mencekam daripada suara apa pun.Zuen dan Iren semakin tegang, tetapi Mina tetap tidak mendengar apa-apa. Dia memandang teman-temannya dengan rasa bingung sekaligus penasaran."Kalian berdua serius banget. Kalau ada suara itu, kenapa aku nggak denger?" tanya Mina.Zuen mengangkat bahu, suaranya pelan. "Aku juga nggak tahu. Tapi ini nyata, Min. Aku yakin."Mina kembali menoleh ke Tara, yang masih duduk diam dengan wajah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.