Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 22 – Selendang yang Membimbing

Share

Bab 22 – Selendang yang Membimbing

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-01-05 07:50:23

Sore itu, sanggar tari terasa berbeda.

Langit mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga yang menyelinap masuk ke pendopo melalui celah-celah kayu tua. Angin berhembus pelan, membawa aroma dedaunan kering dan bunga yang entah dari mana asalnya. Suasana yang seharusnya tenang justru terasa menekan, seolah udara di sekitar mereka menunggu sesuatu terjadi Pak Wiryo kembali menghampiri merekanDi tangannya tergenggam sebuah selendangnKain itu berwarna hijau tua, dengan motif halus yang nyaris
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 224 - ARAH YANG TUMBUH DARI DALAM

    Langkah Aruna kali ini terasa berbeda. Bukan karena ruang di sekitarnya berubah secara drastis, tetapi karena ia sendiri yang berubah. Ia tidak lagi melangkah dengan tujuan menemukan sesuatu di depan. Ia melangkah karena ia tahu bahwa setiap langkah itu sendiri adalah bagian dari pembentukan arah.Pelangi mengikuti di sampingnya. Wajahnya tidak lagi dipenuhi rasa ragu seperti sebelumnya. Ia masih belum sepenuhnya mengerti semua yang terjadi, tetapi ia tidak lagi merasa perlu untuk mengerti semuanya sekaligus.“Aku dulu selalu mikir kalau harus tahu dulu baru jalan,” katanya pelan.Aruna menoleh sedikit. “Sekarang?”Pelangi tersenyum kecil. “Sekarang aku jalan dulu… baru ngerti belakangan.”Aruna mengangguk. Itu bukan jawaban yang sempurna, tetapi itu cukup. Karena pemahaman tidak selalu datang di awal.Bentuk di depan mereka terus bergerak dengan ritme yang konsisten. Ia tidak lagi berhenti setiap saat seperti sebelumnya. Ada kesinambungan dalam langkahnya. Seperti ia telah menemukan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 223 KETIKA PILIHAN MENJADI ARAH

    Ruang itu perlahan menjadi tenang kembali. Tidak ada lagi tarikan kuat seperti sebelumnya. Tidak ada juga perubahan mendadak yang membuat mereka harus bersiap. Namun justru dalam ketenangan itu, sesuatu terasa lebih dalam dari sebelumnya.Aruna berdiri dengan napas yang lebih stabil. Ia tidak lagi mencoba mencari apa yang akan terjadi berikutnya. Ia hanya merasakan apa yang sudah ada di sekitarnya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ketenangan ini bukan sekadar jeda, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.Pelangi menggerakkan tangannya perlahan. Ia seperti mencoba memastikan bahwa semua yang ia rasakan tadi benar benar terjadi. Wajahnya masih menyimpan sedikit kebingungan, namun kini tidak lagi disertai ketakutan.“Aneh ya,” katanya pelan. “Dulu aku takut sama hal hal yang nggak jelas. Sekarang malah… aku mulai terbiasa.”Aruna tersenyum kecil. Ia tidak langsung menjawab, karena ia tahu perasaan itu tidak bisa dijelaskan dengan kata kata sederhana. Itu harus dirasaka

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 222- YANG DATANG TANPA DIKETAHUI

    Keheningan itu tidak kosong.Ia penuh.Padat.Seolah sesuatu sedang menunggu waktu yang tepat—untuk benar-benar muncul.Aruna berdiri tanpa bergerak.Matanya tidak lepas dari satu titik di depan.Bukan karena ia melihat sesuatu dengan jelas.Namun karena ia merasakan—ada sesuatu di sana.Pelangi di sampingnya menahan napas.“Aku nggak suka perasaan ini…”Ia berbisik.Bukan karena takut—namun karena… tidak tahu.Dan ketidaktahuan itu—terasa lebih dalam dari apa pun yang pernah mereka hadapi.Bentuk di depan mereka tetap berdiri.Namun kini—tidak lagi hanya stabil.Ia… siap.Getarannya tidak gelisah.Tidak juga ragu.Namun waspada.Sosok besar di belakang mereka tidak bergerak.Namun untuk pertama kalinya—ia tidak mencoba memahami dengan cepat.Ia membiarkan.Menunggu.Dan itu—adalah pilihan.Ruang di depan mereka perlahan berubah.Namun bukan seperti sebelumnya.Tidak ada cahaya.Tidak ada garis.Tidak ada bentuk yang langsung muncul.Namun… kedalaman.Seperti ruang itu menjadi

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 221 DIANTARA YANG TIDAK TERSISA

    Nyanyian itu mereda. Bukan hilang. Namun menyatu. Seperti menjadi bagian dari udara— yang kini terasa lebih hangat. Lebih hidup. Aruna berdiri diam sejenak. Merasakan sisa getaran itu. Tidak lagi kuat. Namun tetap ada. Seperti gema— yang tidak ingin benar-benar pergi. Pelangi menarik napas panjang. Perlahan. “Aku… ngerasa lebih ringan…” Ia berbisik. Aruna mengangguk. “Iya.” Ia berkata pelan. “Karena kamu tidak lagi menahan.” Sunyi. Bentuk di samping mereka berdiri tegak. Lebih jelas dari sebelumnya. Tidak lagi samar. Tidak lagi goyah. Ia kini benar-benar… ada. Dan itu terasa. Sosok besar itu juga tidak bergerak. Namun perubahannya— paling terlihat. Ia tidak lagi hanya mengamati. Namun mulai… mengalami. Dan itu— sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Integrasi internal meningkat…” Ia berkata. Namun kali ini— tidak terdengar seperti laporan. Melainkan… kesadaran. Aruna menatapnya sekilas. “Kamu tidak

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 220 - LAGU YANG MENGIKAT WAKTU

    Nyanyian itu tidak benar-benar berhenti.Ia hanya… berubah.Menjadi lebih pelan.Lebih dalam.Seperti mengalir di bawah kesadaran—tanpa perlu didengar secara langsung.Aruna berdiri diam.Namun pikirannya bergerak.Bukan untuk menganalisis.Namun untuk memahami.Pelangi di sampingnya masih terpaku.Matanya mengikuti setiap gerakan sosok itu.“Aku masih merinding…”Ia berbisik.Sosok sinden itu tidak menjawab.Ia berjalan perlahan.Tidak menyentuh apa pun.Namun setiap langkahnya—membuat jejak-jejak yang menyala tadi berubah.Lebih teratur.Lebih… tersusun.Seperti potongan-potongan yang akhirnya menemukan tempatnya.Bentuk di depan Aruna ikut bergerak.Namun tidak mendahului.Ia mengikuti.Namun bukan karena tidak tahu arah.Melainkan karena… menghormati.Sosok besar itu tetap di belakang.Namun tidak jauh.Matanya terus mengamati.Namun kini—tidak mencari celah.Tidak mencari pola untuk dikendalikan.Ia hanya… belajar.“Sinkronisasi baru terbentuk…”Ia berkata pelan.Aruna menoleh

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 219 - SUARA YANG TIDAK PERNAH HILANG

    Langkah mereka melambat.Bukan karena lelah.Namun karena sesuatu—memanggil.Bukan dengan suara yang jelas.Bukan dengan kata.Namun dengan getaran halus—yang terasa sampai ke dalam.Aruna berhenti.Matanya menyipit.“Ada sesuatu…”Ia berbisik.Pelangi langsung waspada.“Apa lagi sekarang…”Namun kali ini—tidak ada tekanan.Tidak ada ancaman.Hanya… panggilan.Bentuk di samping mereka langsung bereaksi.Getarannya berubah.Lebih kuat.Lebih… terarah.Seperti mengenali sesuatu.Sosok besar itu juga berhenti.Ia tidak bergerak.Namun jelas—ia merasakan hal yang sama.“Sinyal tidak teridentifikasi…”Ia berkata.Sunyi.Namun Aruna menggeleng pelan.“Bukan sinyal.”Ia berkata.“Ini… suara.”Pelangi mengernyit.“Suara? Tapi aku nggak denger apa-apa…”Aruna menutup matanya sejenak.Membiarkan dirinya benar-benar fokus.Dan di dalam—ia mendengarnya.Pelan.Jauh.Namun jelas.Seperti nyanyian.Namun bukan lagu biasa.Lebih dalam.Lebih… tua.“Ini…”Ia membuka mata perlahan.“…dia.”Sunyi.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 110 – Kota dan Langkah Pertama

    kota besar itu terasa berbeda dari desa yang Aruna tinggalkan. Gedung-gedung tinggi menjulang di sekitarnya, jalanan ramai dipenuhi kendaraan yang berseliweran, dan lampu-lampu neon menerangi malam lebih terang dari matahari pagi di desanya.Aruna berdiri di tengah stasiun bus, menatap arus manusia

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 109 – Jalan yang Harus Dipilih

    Pagi itu terasa terlalu cerah.Langit bersih tanpa awan, matahari bersinar lembut, dan desa tampak seperti lukisan yang damai. Namun di dalam hati Aruna, ada sesuatu yang bergetar. Bukan ketakutan. Bukan firasat buruk. Melainkan keputusan. Ia berdiri di bawah pohon yang mereka tanam beberapa bula

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 108 – Rahasia yang Terkubur di Bawah Akar

    Musim berganti perlahan.Hujan tak lagi turun sesering dulu. Udara desa terasa lebih hangat, lebih ringan. Pohon yang ditanam Aruna dan keluarganya mulai tumbuh lebih tinggi, daunnya semakin rimbun. Sekilas, kehidupan tampak kembali normal.Namun pagi itu, sesuatu berubah.Aruna terbangun bukan kar

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 107 – Ketika Luka Belajar Bernapas

    Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.Tidak ada firasat buruk. Tidak ada suara tembang di kejauhan. Tidak ada kabut tebal yang menggantung rendah seperti malam-malam sebelumnya.Namun Aruna terbangun dengan dada yang terasa berat.Ia duduk perlahan di ranjangnya, membiarkan cahaya matahari meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status