تسجيل الدخول18+ WARNING: This story contains extreme explicit content, including non-consensual to consensual themes, breeding, public humiliation, degradation, taboo elements, rough anal, and graphic sexual acts. Not suitable for readers under 18. Proceed with caution - this is dark, filthy erotica with no redemption arc. I was always the extra daughter, unwanted, unseen, and disposable. While my sister Lia was cherished, I was the one they sold to save everything. On her wedding day, I became the bride instead. Veiled and silent, I was forced into Adrian Laurent’s bed, the cold, ruthless billionaire who had fallen for her picture. That night, he didn’t know it was me. Drunk and burning with lust, he pinned me down, ripped my wedding dress open, and fucked me like a man possessed. He buried himself deep inside me with every brutal thrust, groaning Lia’s name against my throat while I came apart beneath him, shattered by unwanted pleasure. The next morning, disgust replaced his hunger. Humiliated and blamed for a crime I didn’t commit, I became his invisible wife, used, ignored, and broken. He only used me to satisfy his cravings for sex, fucking me whenever he sees me in the house, ruthless forcing his dick in to my mouth and dipping it down my throat filling me up with his cum. After fucking me like a sex slave, I would catch him having soft sex with my sister like he was a puppy before her. Until the secret growing in my belly gave me the strength to run. Years later, I returned. Rich. Powerful. Untouchable. But the moment Adrian sees me again, and lays eyes on the children who carry his blood, his obsession ignites. He will never let me go again. And this time, he won’t be gentle
عرض المزيد***
"Kenapa dia di bawa ke sini sih, Bu?! Bikin sakit mata aja."
"Bukan hanya sakit mata, Kak, sakit kepala juga dan ngga lama bakalan sakit hati."
Dina Amalia dan Dira Amalia, kakak beradik itu menatap tidak suka pada gadis ayu bernama Putri yang duduk menunduk di sisi Amalia, Ibunya.
Putri, 18 tahun yang memutuskan bekerja dari pada melanjutkan kuliah. Bukan karena biaya, lebih kepada tidak enak hati terlalu membebani keluarga tirinya.
Walaupun anak tiri, Amalia sangat menyayangi Putri. Pikiran wanita paruh baya itu sangat bijak membuatnya tidak pilih kasih. Namun, kedua anaknya tidak memiliki pemikiran yang sama. Mereka hanya tahu, Putri adalah anak haram dan pembawa sial karena terlahir dari perempuan selingkuhan Bapaknya.
"Din, ibu berat hati membiarkan Putri ngekos. Rumah kamu besar, pasti ada kamar kosong. Dira tinggal di sini, apa salahnya kalau Putri juga," ucap Amalia dengan lembut. Menghadapi dua anak kandungnya yang keras kepala, wanita itu harus bersikap lembut.
"Salah, Bu!" Dina berucap tegas. Ia menatap Putri yang masih menunduk, menatap tajam adik tirinya yang menunduk sembari meremas jemari.
"Salahnya di mana, Nak?" Amalia masih saja terus memelas. "Dira adikmu, Putri juga." Sambungnya.
Dina menghela napas. Sore-sore waktunya santai, malah harus merasakan hampir darah tinggi karena menghadapi kemauan Ibunya.
Tadi, saat ia dan Dira duduk santai di teras sambil menunggu suami tercintanya pulang, taksi berhenti depan pagar rumah. Tersenyum lebar saat melihat Ibunya turun dari kuda besi itu. Jarang sekali wanita tersayang mau datang berkunjung. Biasanya harus ada drama rengekan atau tipuan sakit, tetapi kali ini tanpa diminta. Sayang, senyuman lebar itu harus hilang saat seorang gadis yang ia benci turun juga dan berjalan bersisian dengan Ibunya.
Semakin datar wajah Dina saat Amalia mengutarakan niatnya datang yaitu untuk menitipkan Putri.
"Putri bukan adikku, Bu. Dina ngga bisa terima orang asing tinggal di rumah ini."
"Bu, biar dia ngekos aja kenapa? Udah besar gini. Cukup kecilnya aja nyusahin, besarnya tau diri kenapa. Bu, apa Ibu ngga mikir, dengan dia tinggal di sini, keluarga bahagia Kak Dina terancam."
"Maksud kamu apa, Dir?" tanya Amalia.
"Ibu jangan pura-pura ngga ngerti. Ibu jelas tau apa maksud Dira. Harusnya kita semua ngaca dari masa lalu. Gimana Ibunya dia merebut Bapak." Dira terus menyudutkan Putri. Tersenyum miring saat melihat dia yang dianggap anak pelakor itu menyeka air matanya.
"Astagfirullah, Dira, kamu ngga boleh berpikir begitu, Nak. Putri ngga mungkin melakukan itu." Amelia menggenggam tangan Putri. Ia menatap sendu Dira yang berbicara keterlaluan. Selalu itu kata-kata yang terucap untuk memojokkan adik tirinya.
"Antisipasi boleh, kan? Walaupun Ibu rawat dia dengan baik, beri pendidikan yang bagus, tetapi Ibu harus ingat, di darahnya itu mengalir darah Ibunya yang seorang pelakor. Bisa saja dia mengikuti jejak--"
"Dira, cukup, Nak!" Amalia merasa anak keduanya itu sudah sangat keterlaluan.
"Bu," panggil Putri. Gadis itu mendongak, menatap Amalia dengan mata merahnya. Ia tersenyum tipis, menggeleng menandakan cukup merendah untuknya. Jangan lagi membelanya. "Putri ngekos aja. Ada Mita, kok," ucapnya dengan air mata yang menetes. Niat dari awal ke kota adalah bekerja dan tinggal bersama Mita, sahabat terbaiknya dari kampung. Mereka berdua sudah saling berjanji, tetapi harus batal karena Amalia tidak mengijinkan, Ibu terbaik itu ingin anaknya hidup dalam pengawasan keluarga. Walaupun tidak sesuai dengan hati Putri, demi membalas budi, ia setuju. Walaupun, ia tahu bahwa hidupnya nantinya akan kembali seperti di neraka-banyak siksaan(batin)- yang pasti ia rasakan.
"Ngga, Put. Ibu ngga rela. Ibu akan tenang kalau ada yang mengawasi kamu." Amalia berucap sembari menyeka air mata Putri.
"Tapi, Bu--"
"Assalamualaikum." Ucapan salam membuat semua menoleh ke arah pintu. Radit Sanjaya, suami Dina datang.
"Waalaikumsalam."
"Sudah pulang, Mas?" tanya Dina sembari berdiri. Kemudian berjalan menghampiri suaminya, mencium tangannya takjim.
"Ya." Pria itu menatap seluruh orang yang berada di ruang tamu. "Loh, ada Ibu." Radit langsung menyalami Amalia dan duduk di sisi Dina. "Kapan datang, Bu?" tanyanya ramah. Walaupun Radit terlihat cuek dan sering bersikap dingin, ia sangat ramah pada orang tuanya dan mertua.
"Baru, Nak Radit. Maaf, ibu ada maksud datang ke sini."
"Apa, Bu?" tanya Radit. Ia melirik ke sisi Amalia, melihat Putri yang menunduk dan koper di sisinya. Ia yakin maksud yang mertuanya bilang itu ada hubungannya dengan gadis itu.
"Maaf sebelumnya, Nak Radit. Kedatangan ibu ke sini ingin menitipkan Putri. Dia ingin mencari kerja. Tadinya mau tinggal di Kosan, tetapi ibu tidak memberi izin. Dia baru di kota ini. Kalau tinggal di sini ibu tenang karena ada yang bisa memantau."
Radit mengangguk paham. Ia tahu Putri. Adik tiri istrinya yang pendiam. Yang selalu tidak ada saat mereka semua kumpul keluarga.
"Jangan mau, Mas. Nanti semua orang yang ada di rumah ini kena sial," ucap Dira yang membuatnya ditatap Radit. Pria itu tidak mengerti dengan arah ucapan adik iparnya. Sial? Memangnya adik tirinya punya kutukan mengerikan, kah?
"Aku juga ngga setuju, Mas. Mau dipantau atau ngga, darah pelakor sudah mengalir dan mendarah daging, jadi ngga bisa dihilangin dengan pantauan ketat sekalipun," ucap Dina sembari menatap Putri tajam.
Putri mengigit bibir bawahnya. Sakit sekali hatinya. Namun, genggaman erat Amalia membuatnya bertahan.
"Bu, Ibu mikir ngga, sih! Dengan dia tinggal di sini, dia memang tidak mengait suami orang diluar sana, tapi mengait pria di dalam rumah ini, yaitu Mas Radit. Ibu mau Kak Dina mengalami nasib seperti Ibu?" pertanyaan Dira menyentil hati semua orang yang berada di ruang tamu itu.
Dina semakin menatap tajam Putri.
Radit pun menatap Putri dalam diam.Amalia menutup mata. Mengenggam semakin erat tangan Putri. Pedih hatinya saat anak yang tidak tau apa-apa harus mendapat hukuman atas kesalahan kedua orang tuanya. Ia tahu ini akan terjadi, tetapi niat agar Putri mendapat pantauan supaya tidak salah bergaul membuatnya egois. Dalam hati, ia terus mengucapkan kata maaf untuk anak tirinya itu. Sedangkan Putri, gadis itu berusaha mengatur napasnya. Dadanya terasa sesak."Bu," panggil Radit.
Amalia membuka mata, menatap sendu menantunya.
"Putri boleh tinggal di sini."
Amalia tersenyum. Namun, mata Dina dan Dira membulat sempurna.
"Mas, kenapa dibolehin?" tanya Dina yang tidak terima.
"Iya, Mas. Nanti kalau mas digaet dengan dia gimana?" Dina ikut berargumen.
Radit menatap Putri yang juga menatapnya. Terlihat tatapan gadis itu seperti tidak percaya. Ya, Putri tidak percaya ia akan diperbolehkan tinggal di sini. Pasalnya dua Kakaknya menolak, tetapi Kakak iparnya malah menerima. Bingung saja.
"Mas, pokonya aku ngga setuju," ucap Dina. "Ibu, segera bawa Putri pergi dari rumahku."
"Dek, ngga boleh seperti itu." Radit menegur Dina yang kasar. "Dira boleh tinggal di sini, Putri juga adekmu, kan, biarkan dia juga tinggal di sini."
"Ngga, Mas. Nantinya pasti akan banyak masalah."
"Din, selagi kita bisa mewujudkan permintaan orang tua, kenapa ngga kita lakuin. Kamu juga jangan pernah menghakimi seseorang seperti itu, ngga baik." Radit memberi pengertian buat istrinya.
"Tapi, Mas--"
"Cukup! Mas kepala keluarga, mas yang mengambil keputusan. Putri tinggal di sini. Dia juga keluarga kita. Dia anak Ibu, adikmu, adik iparku. Biar sedikit, aku punya tanggung jawab atas dia. Putri akan mendapatkan hak sama seperti Dira."
Dina terdiam, ia menatap tajam Putri. Tangannya mengepal. Ingin sekali menjambak rambut gadis itu.
"Makasih, nak Radit. Ibu berhutang budi sama kamu, Nak."
"Bu, jangan seperti itu. Apapun yang membuat Ibu bahagia, selagi itu bisa Radit wujudkan, akan terwujud."
Amalia tersenyum lebar. Ia merangkul Putri yang menunduk lagi. Mendengar ia diterima di rumah ini, bulu kuduknya berdiri. Ia merinding. Apalagi, tatapan tajam dua kakaknya yang mematikan, membuatnya merasa berada di situasi horor.
Dina berdiri, menatap tajam pada Amalia. "Bu, kalau sampai terjadi apa-apa dengan keluargaku karena Putri, Ibu yang harus bertanggung jawab!" Setelah mengucapkan kalimat penuh penekanan itu, Dina dengan tidak sopan berjalan pergi ke kamarnya.
****
I spent the morning trying to make myself useful. Anything to feel less like a shadow in this house. One of the younger maids was struggling with heavy flower vases in the main hall, so I stepped in to help carry one. Her eyes widened in surprise, but she gave me a small, grateful smile.We were halfway across the hall when Adrian’s voice cut through the air.“Serena.”I froze. The vase nearly slipped from my hands. He stood at the top of the stairs, suit jacket off, sleeves rolled up like he’d been working. His eyes flicked from me to the maid and back.“Put that down,” he said flatly. “Now.”The maid scurried away without a word. I set the vase on the nearest table. “I was only helping,” I said.Adrian came down the stairs slowly. “Helping? Do you want them to see you as someone on equal terms with them? And then I'll share a bed with you?” He grabbed my arm and pulled me toward his study before I could say anything. The door shut behind us with a solid click. I yanked my arm free
I avoided everyone for the rest of the day. It wasn’t hard.Nobody came looking for me anyway.The mansion was too large, too cold, filled with people who work as maids. Every hallway felt unfamiliar. Every room reminded me that this wasn’t my home.I spent most of the afternoon sitting near the window in my room, staring outside while rain tapped softly against the glass.At some point, there was a knock at the door. I looked up slowly. “Come in.”One of the maids stepped inside carefully. She looked nervous around me, like she wasn’t sure how to behave.“Mrs. Laurent,” she said politely, “Madam Laurent asked me to bring this.”She placed several shopping bags on the bed.I frowned slightly. “What is it?”“Clothes.”I stared at the bags in confusion after she left. For a second, I thought maybe Adrian’s mother was trying to be kind. That thought disappeared quickly when I opened them.Every outfit inside was plain. Long sleeves, high necklines and dull colors.Nothing soft or elegant
I stayed slumped against the wall for a long time, his release still sliding down my thighs. The house was quiet now. Too quiet. Later that night, I couldn’t sleep. I wandered the halls, trying to find water, when I heard voices from the guest wing, low, intimate. I froze outside the slightly ajar door. Lia’s voice. Soft. Trembling. “I never stopped thinking about you,” she whispered. His reply was quieter, rough with something I couldn’t name. “They took you from me.” I peered through the crack. They were on the bed. Lia’s dress was already off her shoulders. His hand was between her thighs, moving slowly. She moaned softly, arching into his touch as he kissed her neck, the same neck he had marked on me earlier with anger, now touched with something dangerously close to hunger. “I should have been yours tonight,” Lia breathed, her fingers in his hair. He made a low sound and pushed her back onto the sheets, settling between her legs. His shirt was open. He leaned dow
Where is Lia?” He asked again. His voice cut through the room like something sharp. I didn’t answer. Not because I didn’t want to, but because I didn’t know where to start.He swung his legs off the bed and stood up, running a hand through his hair. The calm from last night was gone. What stood in front of me now was clear, alert and angry.“I asked you a question,” he said.“I’m… not Lia,” I stammered.“I can see that.” The words came out cold. He stepped closer, his eyes scanning my face like he was trying to find something familiar and failing. “Then why are you here?” he demanded. “Why are you in my house and on my bed?”My throat tightened. “Because they sent me,” I said.“Who?”“My family.”His jaw clenched. “Don’t play games with me. I was supposed to marry Lia.”“I know.”“Then explain this.”I swallowed. “They said she was too fragile. They said I should take her place.”A short, humorless laugh left him. “So you agreed?” “No.” I answered. It made him pause. “I didn’t have a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.