Se connecterSara Terrence, a beautiful and young girl , following her traumatic childhood experiences and come to the point of her life , where she gets caught up in a love triangle as she experiences turns of event between Dave her defender and Lily her comforter. What holds it for the trio, as the battle for the love of Sara Terrence unfolds??Who will Sara choose and who will lose Sara?
Voir plus"Mas izin pergi ya, Dek. Jaga anak kita. Mas janji, Mas akan segera pulang. Ini juga demi kebahagiaan kita. Biar kamu nggak selamanya melarat."
Sejak dua hari lalu aku sudah menahan diri untuk tidak menangisi kepergian Mas Abri untuk merantau. Tapi nyatanya aku tidak kuat melepas suamiku. Aku benar-benar sulit merelakan lelaki itu walau katanya ini demi kami. "Cepatlah pulang, Mas. Jangan lama-lama di rantau sana. Aku sama Aila benar-benar butuh kamu. Nggak perlu harus banyak uang, Mas. Secukupnya saja. Yang penting kamu pulang dengan selamat," ucapku ditengah-tengah dekap Mas Abri. Kurasakan puncak kepalaku dikecupnya hangat. Dia menarik diri upaya menatapku dengan penuh keyakinan. "Mas janji, Mas bakalan pulang bawa kebahagiaan buat kalian. Kalau nanti kerjaan Mas lancar, Mas bakalan buatin rumah buat kamu sama Aila. Mas juga nggak akan biarin kamu kerja lagi. Itu janji, Mas. Mas cuma berharap, kamu terus doain Mas. Juga, jaga pernikahan kita. Jaga anak kita. Hanya itu permintaan Mas buat kamu, Airin." *** Tiga tahun kemudian "Tatap aja terus! Nanti juga si Abri bakalan keluar dari hp itu. Itukan yang kamu harapin, Airin?" Suara teguran Ibu membuatku terperanjat dari lamunan panjang. Aku lantas meletakkan ponsel yang disindir Ibu tadi yang terus kutatap layarnya. "Nggak kok, Buk. Cuma mau lihat ada pesanan apa nggak. Nggak niat apa-apa," kilahku. Padahal tebakan Ibuku tadi benar. Saking gilanya aku, aku malah berharap mas Abri keluar dari ponsel dan memelukku. "Halah! Alesan kamu," cebik Ibu. Dia sudah mulai mengaduk adonan kue. "Sudah berapa kali sih Ibuk bilang Airin? Jangan lagi harapin laki-laki kurang ajar itu! Yakin sama Ibuk! Bila perlu, potong telinga Ibuk ini kalau sampai si Abri itu nggak nikah lagi di tanah rantau sana!" omelnya, yang selalu saja menjadi makanan sehari-hariku. Aku meneguk ludah, agak sedih sebenarnya. Tapi mau menangis pun seperti sudah tidak mungkin lagi. Karena sedikit banyaknya aku sudah mulai tersugesti dengan tudingan Ibu tentang Mas Abri. Tiga tahun lalu dia pamit merantau, tapi sampai sekarang tiada kabar lagi. Apa memang benar ya, kalau suamiku itu sudah menikah lagi? Kalau memang itulah faktanya, jujur saja aku tidak ridho! Aku tidak ikhlas. Anggaplah saja aku wanita jahat yang tidak mencerminkan wanita Soleha yang menerima baik segala takdir yang ada. Karena pada dasarnya, aku masih mencintai suamiku dan tidak rela dia dimiliki oleh orang lain, apalagi harus secara diam-diam dibelakangku. "Tuh, kan! Kamu lama-lama dibiarin bisa gila kayaknya, Airin," tegur ibu lagi. Aku terkesiap kembali, entah untuk kesekian kalinya. "Cepat angkat itu kuenya! Mau kamu gosongin lagi? Kalau udah hidup kayak gini, lebih baik banyak-banyak tahu diri aja. Jangan malah makin nyusahin!" Gegas aku menuruti perintah ibu untuk mengangkat kue dari panggangan. Memang terdengar sangat menyakitkan setiap perkataannya, tapi apa boleh buat? Fakta mengatakan kalau aku tinggal dirumah ibu dan bergantung padanya. Makanya setiap dia mengomel, aku tak bisa berkutik. Aku belum sanggup membiayai hidupku juga putriku. Dari pada jadi gembel diluar sana, lebih baik terima saja cacian Ibu walau sakit rasanya. Dalam keheningan, tiba-tiba Amy datang ke dapur. Dia menenteng dua plastik berisikan buah-buahan serta banyak makanan ringan. "Tada!" ujarnya sambil menunjukkan tentengannya pada ibu. "Ini jajan buat Ibu. Dari Raka. Tadi dia barusan antar Amy, tapi karena dia sibuk jadi nggak sempat mampir," adunya pada Ibu. Dia menyinggung tentang pacarnya bernama Raka Arkana. Tidak akan asing lagi respon Ibu yang tampak antusias dan tentunya penuh kebahagiaan. "Ya Allah, kenapa nggak manggil Ibuk sih? Kan tadi bisa dilihat aja bentar. Kasihan, kan Raka pergi gitu aja. Kayak nggak dianggap gitu jadinya," ucap ibu. "Nggak apa-apalah, Buk. Lagian besok Mas Raka libur dan berencana ngajak Amy jalan-jalan. Tentunya sama Ibu juga," lanjut Amy bercerita. Dalam diam aku hanya mendengarkan kebahagiaan adikku itu. Aku memamg ikut senang, tapi di dalam hatiku tersimpan sedikit kecemburuan. Kenapa Amy rasanya lebih beruntung dariku? "Gini kalau cari pasangan! Yang royal dan tentunya nggak melarat! Kan enak tiap hari dibelanjain, bukannya ditinggal gitu aja," ketus Ibu lagi, kusadari dengan jelas kalau itu sindiran buatku. "Airin tahu, Buk. Namanya juga musibah. Nggak akan ada yang bisa mencegahnya," sahutku, sebenarnya agak malas. Tapi biarkanlah, dari pada cuma diam saja kayak patung. "Eh, Mbak. Ngomong-ngomong tentang cowok, katanya cowok yang kemarin setuju tahu buat kenalan dulu sama, Mbak. Sana gih, hubungin dia. Bilang kalau Mbak juga mau ketemu. Biar kenalan gitu. Siapa tahu jodoh," ungkap Amy yang membuatku seketika menatapnya. "Apaan sih, My. Nggak-nggak! Mbak nggak mau. Mentang-mentang Mbak ditinggal suami, Mbak mau aja gitu kenalan sama duda? Nggak dulu deh," tolakkku mentah-mentah. Lagi pula, lucu sekali mereka. Masa menjodohkan aku dengan laki-laki yang sudah duda punya tiga anak pula. Mau jadi apa aku dibuatnya? Pembantu gratisan? Enak saja! "Kamu ya, Airin! Dibilangin kapan sih sadarnya? Cowok yang mau kenal sama kamu itu kerjanya bagus lho. Berpenghasilan lumayan lagi. Bisa biayain kamu biar nggak terus-terusan jadi beban buat Ibuk!" tukas ibu dengan bibir menipis. Tampak sekali dia geram padaku. "Iya, Bu. Airin ngerti Ibu capek. Tapi nggak nyuruh Airin buat nikah juga. Airin masih punya suami, Bu. Gimana kalau tiba-tiba Mas Abri pulang? Airin nggak akan sanggup terima itu, Bu!" tegasku, tetap saja menolak. "Abri lagi, Abri lagi! Kapan kamu sadarnya sih? Abri itu udah punya yang lain di sana! Lupakan dia. Lanjutkan hidupmu, Airin! Ini sudah tiga tahun. Mau sampai kapan lagi kamu nungguin dia? Sampai kamu tua? Sampai kamu mati?" Aku membuang napas lelah, sebenarnya muak jika sudah berada di percakapan ini. Semakin aku mencoba diam, pasti Ibu semakin menjadi-jadi menceramahiku tentunya dengan kata-kata pedasnya. "Gini aja deh. Dalam dua minggu ini kalau kamu belum juga dapatin kabar dari Abri, kamu bakal Ibuk nikahkan sama orang yang dibilang Amy. Udah cukup kuat Ibuk nahan semua ini, Airin. Gosip-gosip tetangga makin menjadi-jadi. Pusing Ibuk mikirinya." Aku terkesiap seketika. "Tapi, Buk–" "Nggak ada tapi-tapian! Jangan menolak lagi atau Ibuk usir kamu dari rumah ini! Bikin beban aja kamu yang tahunya!"The final bell of the day tore them both out of each others eyes with a start. “Dave,” Lily made her way out quickly. As Dave left he met Sara on the hallway and Sara stopped him and she asked for his plans for tomorrow, Dave thought quickly, and realized that tomorrow was Saturday, and that meant his parents wouldn't even be home and wouldn't care if he was as he was currently on their bad books. As he and Sara slowly made there way down the hall,and with the awkward situation.Sara broke the silence. “David, I’d like it if you would come to my house tomorrow...” Sara left the request hanging there, as Dave looked down into her eyes. He could see that it had taken an incredible amount of courage for her to ask, and seeing the fear of rejection in her eyes, made Dave's answer almost automatic. “I ... I think I’d like that too Sara. I’ve...” he was suddenly interrupted by a fist that came crashing into the side of his head. The blow was heavy, and gave Dave a
As Dave drew closer,the sounds got clearer and he realized that they were that of crying.He got closer and with the door slightly parted, he knew the door was not locked,and silently he let himself in. All he wanted was to find somewhere he could go to avoid the stares for the rest of the day. He knew, after his show in the cafeteria, that he was going to get even more attention than ever. But what he couldn't comprehend was, who also was here trying to get away from all the chaos As he walked in he discovered ,it was an old oversized storage closet, that had been used to house the school’s athletic supplies before the gym had been renovated. It was now used as a catch all for anything the school never used, but refused to throw away. The room was stale, and smelled of old gym mats, and chalk dust, but it was dim, lit only through three small windows near the roof, and it was quiet. The quiet sound of sobbing, and the occasional sniffle, coming from the back of th
By the time the two week suspension was over, the tale of what Dave had done,spread like that of a wild fire,but contending with that news was the gossips of Sara and Lily and what seems to be a love affair,some said it was a love triangle as Dave went out of his way and defended Sara and it could only be out of love. It was all over school that the boy had burnt James Harden to the ground single handedly . But the rumors now said he had backed down half of the football team while doing it. The stories varied widely, some claiming that Dave had used some kind of weapon, which many believed had to be true, since James was now slated to miss the final games of the season. Another story claimed that Dave was secretly a black belt holder, and had used some sort of ancient martial arts secret. Everyone claimed to be on a first name basis with him, and every story was supposedly direct from the source. Whatever the case, Dave wanted nothing to do with it. Walking into th
Lily grew into the promise her late father had shown. By the time she was sixteen years old Lily had reached six foot two inches tall, closer to six foot four if she bothered not slouching, and weighed almost two hundred pounds. She was lean and yet had curves in the right places, her brown hair had filled out and now she kept wore in a up half do bun. Sadly for Lily, it was the soft good looks, inherited from her father Mark Preston, that led him to the last bit of hell the foster system could throw at him. Her foster mother Kendra, a single, rather plain woman in her forties had gotten drunk one night, and knowing how Lily reacted to harsh words, began berating her for being such a failure that her parents didn’t even want her. Lily had been near tears wondering why she was being treated this way, until with a sultry smile she had told her how he could make up for his failings. Taking Lily by the hand she had led her to her bedroom. Pushing her against t
Johnny’s phone blared at his bedside, rousing him from sleep after only a few hours. Having worked nearly forty-eight hours straight, before finally being allowed to sleep, this was not the way he had planned his weekend to start. Cursing to himself, he picked up the phone and growled “What!?”
Over the next two years life became a steady pattern for Sara. Her drunken, abusive, mother kept her still on the balance between hope, and despair, extending her hand in acceptance, and withdrawing it, only to lash out at her both verbally, and physically, in equal enough measures to keep Sara
Sara Terrence was born in December, a cold, freezing, month in London. During one of the worst cold snap in London's history. The winter of 1981 had been brutal, being pregnant during that winter had made her mother Layla cruel , who was already short tempered, and waspish, by nature, nearly un
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.