INICIAR SESIÓNWhen Elara accepts an invitation to spend the Winter Solstice at her best friend Lyra’s enchanted family manor, she expects laughter, magic, and warmth. What she doesn’t expect is Kaelen—the Alpha, Lyra’s father, and the man she should never desire. The manor is alive with shifting staircases, whispering portraits, and celebrations that sparkle like crystal. But beneath the joy lies danger: Elara’s heart beats faster whenever Kaelen is near, betraying her promises of loyalty. Forbidden attraction. A house of secrets. A holiday that could change everything. Will Elara resist temptation, or will the manor claim more than just her soul?
Ver másSejak Mussolini Entertainment, agensi tempatnya bekerja dihancurkan, Erika lebih banyak mengurung diri di apartemen mewah milik Hvitserk Drazen, pria yang pernah berjanji akan menjaganya.
Namun tiga bulan telah berlalu, mungkin lebih, Erika tak menghitungnya lagi dan Hvitserk tak pernah datang menemuinya. Tak ada pamit, tak ada kata perpisahan, terlebih lagi tak bisa dihubungi atau pun menghubunginya.
Erika hanya ingat kalimat terakhir yang diucapkan Hvitserk di malam mereka pulang terburu-buru dari pesta agensi, meninggalkannya di apartemen milik pria itu, “Kau aman di sini, aku akan kembali.”
Kalimat yang kini tak lagi Erika percaya sehingga ia bertekad memulai hidupnya dari awal lagi.
Tanpa Hvitserk!
Hari ini, Erika memutuskan mendatangi butik mewah milik Camille Desoutter, desainer idolanya yang pernah mengundangnya menjadi model. Kartu nama yang diberikan oleh Camille saat itu disimpan oleh Hvitserk, pun ponsel lama yang menyimpan nomor telpon sang designer telah dihancurkan oleh lelakinya tersebut.
"Aku harus bekerja. Menemukan Salbia dan mengirimkan uang untuk Ayah." gumam Erika mengangguk meyakinkan dirinya sendiri begitu keluar dari unit apartemen, lalu menghentikan taksi pergi menuju butik Camille Desoutter.
Salbia adalah satu-satunya sahabat Erika dari desa Bova. Tetapi sahabatnya itu menghilang dan tak seorang pun mengetahuinya atau cerita tentangnya di tutup rapat. Karena terakhir kali kabar dari Salbia ke Erika adalah saat ia masih bekerja di Agency Mussolini sebagai model.
Baru saja langkah kaki Erika memasuki area depan butik milik Camille Desoutter, tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dan ia pun refleks berteriak, langkah kaki pun terhuyung.
"Aowww ...!"
"Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" suara Magdalena terdengar manis namun penuh ejekan.
Magdalena memandang Erika, tajam, dipenuhi kebencian, “Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?” tanyanya sinis.
Cengkeraman jemari Magdalena pada rambut Erika semakin kuat, sementara Erika berusaha melepaskan diri namun kalah tenaga.
Magdalena adalah model senior di agensi Mussolini yang selalu iri pada Erika. Sedangkan Rudolf, mantan manajer Erika, yang selalu tunduk dan patuh pada Magdalena untuk merundungnya.
Rudolf, pria bertubuh tambun dan gemulai di sebelah Magdalena, tertawa mengejek memandang Erika, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah.
"Jika waktu itu pria Salvatore berhasil melindungimu, tapi tidak kali ini!" Magdalena berkata sinis, "Salvatore sudah muak dengan model pembohong sepertimu, bukan? Buktinya kau di sini, berpenampilan lusuh seperti benda usang yang dibuang!" pungkasnya sambil memperhatikan penampilan Erika.
Erika hanya mengenakan celana jeans dan baju kaos tidak ketat membungkus tubuhnya agar tidak terlalu menggoda siapa pun. Rambutnya juga sengaja ia gerai alami dan tas sandang rajut yang sebenarnya hadiah dari Hvitserk untuknya. Tas rajut yang tentu saja tak ada duanya di dunia dan harganya tidak main-main mahalnya.
"Lepaskan aku ..." Erika berusaha melepaskan jari jemari tangan Magdalena yang membuat kulit kepalanya perih dan sakit.
"Melepaskanmu?" Magdanela mengutip dan tertawa terbahak-bahak, tanpa diduga menghempaskan Erika yang berdiri kepayahan tak seimbang ke atas tanah.
"Ao!" Erika terpekik, tubuhnya terhempas sangat keras ke tanah bebatuan berpasir.
Tubuh Erika semakin gemetar ketika sepatu hak tinggi Magdalena menekan punggung tangannya lebih dalam. Nyeri merambat hingga ke syaraf tulang-tulang kecilnya.
Erika mengerang pelan, napasnya patah-patah. Ia tak berani mengangkat wajah, beberapa orang datang berkumpul seakan tertarik pada keributan yang diciptakan oleh Magdalena dan Rudolf.
"Lihat, sekarang kau berpura-pura lemah dan kesakitan! Tapi sebelumnya kau sangat berani mengganggu kekasihku, tertawa puas seolah dunia milikmu, huh!" Magdalena berkata lantang, memfitnah Erika agar menarik perhatian orang-orang yang mengelilingi mereka.
Beberapa mengeluarkan ponsel, ada yang berpaling pura-pura tak melihat tapi sebenarnya menyimak kejadian. Di Amalfi, gosip beredar lebih cepat dari angin laut. Dan hari ini, gosip menemukan Erika.
"A-aku tidak per-pernah mengganggu kekasihmu ...!" Erika membantah terbata-bata, memuntahkan cairan darah bercampur tanah dan pasir dari dalam mulutnya.
Magdalena berjongkok ke depan wajah Erika, menepuk pipi gadis itu seolah iba, lalu melirik ke arah Rudolf yang akhirnya menganggukkan kepala.
"Dia adalah model di Mussolini Entertainment. Tapi sejak agency Mussolini tutup, ia kehilangan pekerjaan. Namun siapa sangka, wajah cantiknya dia gunakan untuk menggoda kekasih dari sahabatku ini." ucap Rudolf ditanggapi reaksi Magdalena pura-pura mengusap sudut matanya seolah ada airmata kesedihan di sana.
"Kau ...berbohong!" geram Erika berusaha bangkit berdiri.
Tapi, baru saja Erika hendak berdiri, Magdalena memberikan tamparan keras ke pipi dan mendorong tubuhnya hingga terbang dan terjatuh beberapa langkah ke belakang.
Di saat bersamaan, Felix Salvatore, sahabat sekaligus majikan Hvitserk sudah tiga bulan melakukan pencarian terhadap Erika. Segala cara telah dilakukan oleh Felix demi menemukan Erika, tetapi semuanya nihil.
Felix berpikir, kehadiran Erika mungkin bisa menyelamatkan nyawa Hvitserk yang terbaring koma di rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, karena menyelamatkan dirinya dari tembakan anak buah Alfred Mussolini tiga bulan lalu.
Hari ini, Freyaa, keponakan kesayangan Felix mengajak jalan-jalan keluar, tanpa sengaja mereka mendengar suara pekikan kesakitan dari tengah kerumunan orang yang berkumpul di depan butik mewah, disusul tawa wanita dan gelengan kepala orang yang melihatnya berbisik-bisik samar.
Felix gegas meraih pinggang Freyaa untuk menggendong keponakannya itu, lalu berjalan dengan langkah besar menerobos kerumunan.
"Berhenti!" Felix berteriak lantang.
Netra Felix langsung tertumbuk pada tubuh wanita yang terbaring tertelungkup di atas tanah, wajahnya tak terlihat, rambutnya berantakan dan pakaiannya robek dimana-mana, sepertinya tertarik oleh kuku tajam. Bertolak belakang dengan wanita yang berdiri di sebelah sang wanita yang jatuh, terlihat tumit runcing sepatunya menginjak punggung tangan wanita yang tertelungkup di tanah.
"Tu-tu-tuaaan ..." sang wanita yang berdiri berkata tergagap begitu melihat kedatangan Felix menggendong Freyaa, berjalan semakin dekat ke arahnya.
Refleks Magdalena mengangkat kaki dari menginjak punggung tangan Erika yang belum puas ia lampiaskan kebenciannya.
Tentu saja, karena Magdalena sangat tahu pria tampan yang sekarang menatap dingin menghunjam ke arahnya tersebut.
Felix menurunkan Freyaa dari gendongan. Kemudian ia berjongkok, hendak menyibak rambut di depan wajah wanita yang berada di atas tanah, sangat ia yakini adalah Erika, kekasih dari sahabatnya.
"Maaf, ini urusan keluarga. Wanita ini adalah ..." Rudolf, pria yang berpenampilan wanita berjalan maju, berkata gemulai sambil menghalangi tangan Felix dari menyibak rambut Erika agar tak mengenali sang wanita di atas tanah yang sudah tak bergerak.
"Mundur!" Freyaa berkata dingin, mendorong tubuh bagian depan Rudolf yang berperut besar sedikit maju, namun sebenarnya gadis kecil itu baru saja menusukkan jarum di sela-sela jemarinya, tepat ke area kantung kemih.
Freyaa memang sudah sangat mahir memainkan jarum akupuntur dan menusuk titik pada tubuh manusia sesuai dengan suasana hatinya.
"Jorok! Sudah besar bukannya buang air pada tempatnya, malah di depan banyak orang seperti ini!" Freyaa berseru kencang sambil tertawa mengejek ke arah Rudolf yang kini bagian bawah tubuhnya telah basah dan berbau pesing.
Semua orang yang mengelilingi menggosok hidung masing-masing, perlahan membubarkan diri.
"Erika ..." panggil Felix pelan ke depan wajah wanita yang tertelungkup di tanah, sudah ia sibakkan rambutnya.
Bibir Erika pecah, wajahnya lebam dan rambut panjangnya terlihat berantakan seakan ada yang tercerabut dari kulit kepalanya.
Felix menempelkan telunjuk ke depan hidung Erika yang masih bernapas.
Tanpa menunggu lama, Felix gegas meraih tubuh Erika untuk ia bopong dan Freyaa juga gesit membantu pamannya itu, mengumpulkan isi tas sandang yang berserakan tak jauh dari Erika tadi tertelungkup.
Felix menoleh ke belakang, memanggil keponakannya, "Freyaa ..."
"Aku datang ..." Freyaa bangkit membawa tas Erika yang kini telah ia kembalikan isinya, berlari mengejar Felix.
"Awasi dua orang itu, biarkan nanti Hvitserk yang memberikan balasan ke mereka!" titah Felix pada Jose, anak buahnya yang juga bersahabat dengan Hvitserk.
Langkah kaki Magdalena terhuyung, bibirnya terkatup rapat begitu Felix mengangkat dan membopong tubuh Erika.
Firasatnya mengatakan, ia telah melakukan kesalahan. Kesalahan besar. Keluarga Salvatore bukan jenis orang yang bisa disinggung seperti angin lalu.
"Eh, Lena ...tunggu aku!" Rudolf berteriak memanggil Magdalena yang sudah buru-buru menjauh pergi.
Years had passed since the long, agonizing winter of their lives had finally broken. The grand manor no longer stood as a bleak fortress of shadows and systemic hunger; it had become a magnificent, living beacon of the new order, its ancient stone walls permanently warmed by the sweet laughter of young children and the steady, prosperous rhythm of a northern territory at peace. The First Pact’s ancient, bloody influence had been completely softened into a quiet, respected memory, its wild hunger thoroughly tamed by the deliberate choices of those who absolutely refused to let it define them or control their futures. The old, aggressive blueprints of dominance and submission had completely lost their grip on the land, buried forever beneath a clean, unyielding foundation of mutual respect and co-sovereignty. In the high hanging valley of the Shield Outpost, Elara stood proud on the wide wooden balcony, the crisp mountain air carrying the sweet, vibrant scent of blooming alpine wild
The deep mountain winter did not relent, but its bite had lost all power to terrify. Across the vast, snow-shrouded expanse of the northern territories, the howling blizzards and jagged walls of blue ice had transformed from a hostile prison into a magnificent, unassailable fortress wall. The old blueprint of the world—one built on the brutal, unchecked tyranny of dominant Alphas, the suffocating dictates of a corrupt Assembly, and the systematic silencing of the vulnerable—had been utterly incinerated. Out of its ash, a pristine, unblemished landscape had emerged, carved into the very stone of the peaks by the power of free choice. In the high, hanging valley of the Shield Outpost, the morning sun rose like a brilliant sheet of spun silver, flooding the bedroom of the timber cabin with an incandescent warmth. The great cedar logs in the hearth had burned down to a deep, permanent bed of crimson embers, casting a lazy, flickering amber glow across the thick silver-fox pelts coveri
While the High Shield Outpost provided a rugged, isolated sanctuary for Elara and Rowan, the royal retreat of the Silver Peaks offered a different kind of refuge for Lyra and King Aldric. Located on a sheer cliffside overlooking the roaring, frozen cataracts of the Western Marches—the very territory Aldric had legally severed from his crown and granted to his queen—the Citadel of Frost was a masterpiece of ancient architecture. Its high, vaulted ceilings were made of polished white stone, and its expansive glass galleries looked out over a vast, breathtaking wilderness of ice and sky. Here, three days' ride from the political machinery of the capital, the new sovereigns of the coalition had come to claim their own dawn. In the master solar of the citadel, a massive hearth forged from dark iron crackled merrily, throwing a fierce, crimson warmth across the sprawling furs and heavy velvet tapestries that lined the room. The sharp, metallic scent of the mountain air mingled with th
The isolation of the High Shield Outpost was absolute. Located three days' ride north of the main manor, the sanctuary was a fortress cut from the very bone of the mountain, nestled in a hidden hanging valley where the pine trees grew thick and heavy with frozen frost. It was a place designed not for courtly gatherings or military strategies, but for deep, unyielding survival against the elements. Here, the political noise of the new alliance faded into the howling mountain wind, leaving nothing behind but the pristine expanse of the white horizon. Inside the private cabin attached to the upper tier of the outpost, the winter chill was completely banished. A massive stone hearth occupied an entire wall, its deep hearth bed filled with roaring logs of sweet cedar and seasoned oak that threw a rich, golden-amber glow across the room. The floors were covered in thick, layered pelts of silver-fox and mountain bear, and the air carried the clean, grounding scent of woodsmoke, dried lav
The courtyard blazed with the warm glow of the Festival of Eternal Flames. Tall iron braziers roared with enchanted fire that shifted from gold to crimson to icy blue, casting flickering light across the gathered guests. Dancers in flowing scarlet robes twirled around the central pyre, their move
The manor rang with Lyra’s bright, infectious laughter the next morning, a sound so pure and sunlight-warm it almost chased away the dark, filthy shadows clinging to Elara’s heart. Lyra was everywhere—darting through corridors like a living spark, bursting into rooms with playful shrieks, teasi
The manor rang with laughter the next morning, a sound so bright it seemed to chase away the shadows clinging to Elara’s heart. Lyra was everywhere—darting through corridors, bursting into rooms, her joy spilling like sunlight. She teased the portraits until they scolded her, danced with enchanted
The manor pulsed with raw, electric anticipation on the night of the Solstice masquerade. Lanterns floated through the corridors like captured stars, casting golden halos on the stone walls. The air hummed with layered enchantments—music, laughter, and the sweet, heavy scent of spiced wine and suga






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.