MasukChapter 119Unexpected Recovery FP2 dimulai dengan udara yang lebih hangat dan lintasan yang mulai "bersih". Di atas kertas, kondisinya nyaris sama dengan FP1. Namun sejak Marcello duduk di kokpit dan mesin dinyalakan, ia sudah merasakan perbedaannya—bahkan sebelum keluar pit.Getaran mesin lebih halus. Nada suaranya tidak lagi tertahan."Power feels... normal," ucap Marcello pelan lewat radio, seolah belum sepenuhnya percaya.Roy menatap Oliver. Keduanya tidak menjawab langsung seolah menunggu sesuatu, namun tak kunjung mendapatkan jawaban hingga lampu hijau menyala dan mobil Marcello meluncur keluar pit lane.Lap pertama masih konservatif. Marcello tidak memaksa. Ia menguji—rem di tikungan lambat, respons throttle di tikungan menengah, kestabilan bagian belakang saat keluar tikungan panjang. Semua kembali seperti yang ia kenal. Mobil itu kembali menjadi dirinya."Grip belakang stabil, aku bisa push," kata Marcello.Roy menarik napas dalam-dalam. "Copy. Push when ready."Di pit wall
Chapter 118Mobil CacatKamis pagi Marcello dijdwalkan melakukan sesi latihan resmi sebelum balapan, tujuannya supaya pembalap dan tim menyesuaikan sirkuit, strategi, dan mobil. Marcello langsung tahu sejak lap pertama mobilnya berbeda dan itu bukan sekedar perasaan. Respons pedal gas terasa tertahan sepersekian detik, downforce di tikungan cepat tidak sebersih kemarin di Baku, dan bagian belakang mobil sedikit "mengambang" saat keluar tikungan panjang. Ia mengatupkan rahang, memaksa fokus, menyelesaikan satu putaran penuh sebelum suara Roy masuk lewat radio."Lap time-mu turun, tapi bukan karena kamu," suara Roy terdengar ditahan. "Stay calm, Marcello. Kita kumpulkan data."Di pit wall, Oliver berdiri dengan tablet di tangan, alisnya bertaut. Grafik-grafik berwarna bergerak tidak sinkron—alur tenaga mesin, konsumsi bahan bakar, hingga distribusi panas tidak lagi rapi. Ia menggeser layar, menelan napas. Tanpa sponsor, beberapa komponen harus diturunkan spesifikasinya. Bukan rusak—tapi
Chapter 117Memiliki Saingan Malam di rumah orang tua Aneesa berakhir tanpa seremoni, setelah makan malam yang diselingi obrolan-obrolan ringan tentang keluarga mereka, Marcello dan Aneesa meninggalkan rumah itu. Marcello mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. Di sana juga tidak ada penyambutan dan perayaan, juga tidak ada pengakuan resmi dari Marcello dan Aneesa di depan keluarga Marcello. Namun, tangan Aneesa yang terus digenggam oleh Marcello, sikap, dan gesture mereka sudah cukup menegaskan jika keduanya tidak lagi berada dalam hubungan pertemanan seperti dulu sehingga kalimat pengakuan tidak lagi diperlukan. Mereka duduk di ruang keluarga, menikmati camilan yang dibuat sendiri oleh ibu Marcello dan minuman hangat sembari berbagi cerita dengan seekor anak serigala Alaska yang meringkuk dengan manja di pangkuan Aneesa. “Aku ingat saat kau kecil, kau paling suka dengan serigala Jessie. Bahkan kalian tidak terpisahkan, kau mengajak serigala Jessie ti
Chapter 116Meminta Terlalu Banyak Rabu siang waktu Barcelona, tim Haas tiba. Tanpa sambutan dan iring-iringan kamera, hanya wajah-wajah lelah dan jadwal yang menunggu tanpa janji, bagi dunia balap mungkin ini hanya kedatangan rutin. Tetapi, bagi Marcello kota ini menyimpan kebahagiaan yang tak tercatat di jadwal tim dan kedatangannya kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aneesa menunggunya, bukan di paddock melainkan di tempat yang aman yang selama ini hanya sebatas angan-angan.Pukul enam sore setelah mengikuti briefing internal, Marcello meninggalkan hotel tempat tim Haas menginap dan mengemudikan mobil ke rumah ayah Aneesa, di sana Aneesa menunggunya. Tempat di mana pertama kali Marcello melihat Aneesa, saat pesta pernikahan bibinya dan ayah Aneesa.Marcello menghela napas pelan, bibirnya menyunggingkan senyum, pandangannya menyapu seluruh tempat itu. Bangunan rumah itu modern dan tenang, warnanya pucat seolah menyatu dengan cahaya Barcelona, dan berada di atas tebing M
Chapter 115Berbagai Lelah dan Kesedihan Dengan lembut Marcello meraih telapak tangan Aneesa lalu dikecupnya, matanya terpejam beberapa saat, dan berkata, “Kukira dengan bakatku ini aku sudah cukup kuat," Marcello tersenyum hambar, "ternyata bakat saja tidak cukup.”Aneesa meletakkan telapak tangan Marcello di pipinya. “Justru kau terlalu kuat dan menjadi ancaman bagi beberapa orang. Dan seharusnya kau tidak perlu mengalaminya."Marcello tersenyum lembut. “Aku tidak mau mendengar kau menyalahkan dirimu lagi.""Aku tidak menyalah diri, hanya saja kau tidak layak mengalami semua ini karenaku," kata Aneesa dengan muram.Marcello menarik napas pelan. "Semua ini akan segera berakhir. Jangan khawatir.""Kau selalu meyakinkan aku kalau Barron tidak akan melakukannya, tetapi aku yakin sebenarnya kau hanya tidak mau aku mengkhawatirkanmu," ujar Aneesa pelan."Semua ini pasti terjadi, sejak dia bilang menyukaimu," sahut Marcello. Aneesa menatap Marcello beberapa saat. “Dan kau juga bilang pad
Chapter 114Sisi LemahMarcello memegangi jaketnya di tangan kiri dan membuka pintu kamar tempatnya menginap, tirai masih terbuka sama seperti saat ia meninggalkan tempat itu siang tadi. Namun, lampu di kamarnya menyala dan Aneesa berdiri di sana. Tersenyum lebar dan menatapnya dengan mesra. Marcello terbengong sesaat, sedikit melongo seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemudian membuang begitu saja jaket di tangannya dan langkahnya lebar-lebar mendekati Aneesa. Aneesa tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat lalu melompat ke dalam pelukan Marcello, seperti seekor koala memeluk kayu. Kedua lengannya melingkar di leher Marcello dan kakinya melilit pinggang Marcello.“Aku sangat merindukanmu!” kata Aneesa.“Kenapa tidak bilang kalau kau datang?” kata Marcello sembari memegangi bokong Aneesa agar gadis itu tidak merosot dan mencium pipinya berkali-kali. Aneesa merapatkan lengannya dan menyeringai lebar. “Aku ingin memberimu kejutan. Jadi, aku menyusulmu,” ujarnya d







