LOGINRania adalah gadis yatim yang cantik, dimana dia hidup bersama ibu dan adiknya. Dan dia menikah dengan seorang laki-laki kaya sesuai permintaan dari ibu dari laki-laki tersebut yang bernama Putra. Pernikahan yang dijalani hanya sebatas materai bukan dengan cinta karena Putra dengan terpaksa menikahi Rania demi warisan.
View More“Saya … ingin mengajukan pinjaman, Pak.”
Naura berdiri beberapa langkah dari meja, meremas jemarinya yang basah oleh keringat. Suaranya sedikit bergetar. Ucapan Naura membuat Reval menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi sibuk menandatangani berkas-berkas. Tatapannya langsung tertuju pada Naura, tatapan yang sulit diartikan. CEO duda itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya tak berubah. “Berapa yang kamu butuhkan?” “Dua miliar, Pak.” Ruangan itu mendadak hening, seolah waktu berhenti. Naura menggigit bibir, menunggu reaksi yang tidak kunjung datang. Reval akhirnya tertawa kecil, suara yang tidak membawa kehangatan. “Kamu sadar betapa besar angka itu, kan?” “Saya sadar, Pak. Tapi saya tidak punya pilihan lain,” jawab Naura, nadanya memohon. Reval mengangguk pelan, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke arah jendela besar di belakang meja, melihat pemandangan kota yang sibuk. “Kamu tahu, Naura, perusahaan tidak seperti lembaga amal. Kami tidak memberikan uang begitu saja tanpa ada keuntungan di baliknya.” Naura meneguk ludah. “Saya bersedia melakukan apapun, Pak. Saya akan bekerja lebih keras. Saya bisa mengganti uangnya dengan pemotongan gaji. Apa pun.” Reval kembali duduk ke kursinya. Ia menatap Naura dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Apa pun?” Senyum tipis muncul di wajah Reval, senyum yang membuat perut Naura terasa dingin. “Kalau begitu,” katanya sambil memainkan pulpen di jarinya, “kita bicarakan syaratnya.” “A-apa syaratnya, Pak?” Naura terpekur setelah bosnya itu mengatakan hal tersebut. “Kamu yakin mau meminjam uang sebesar itu?” tanyanya perlahan, nyaris seperti bisikan. Naura mengangguk, meski hatinya penuh keraguan. “Ibu mertua saya tidak punya banyak waktu, Pak. Operasi harus dilakukan secepatnya. Kalau tidak …” suaranya terhenti, tercekik oleh emosi yang menumpuk. Reval memiringkan kepala sedikit, menatapnya dengan minat baru. “Baiklah. Dua miliar bukan jumlah kecil, Naura. Perusahaan tidak akan memberikannya begitu saja tanpa jaminan.” “Saya … saya tidak punya apa-apa untuk dijaminkan, Pak,” ujar Naura, hampir panik. “Tapi saya akan melunasinya, apa pun caranya. Saya bisa—” “Ssst,” Reval mengangkat tangannya, menghentikan kata-katanya. “Aku tidak bicara soal uang atau properti.” Naura terdiam. Matanya mengerjap, mencoba mencerna maksudnya. “Kamu mau tahu apa jaminannya?” tanya Reval sambil menyandarkan tubuh ke kursi, tatapannya menelisik. Naura menggigit bibir, perasaannya berkecamuk antara penasaran dan takut. “Apa, Pak?” Reval tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Naura meremang. “Aku ingin kamu menemani aku malam ini.” Jantung Naura seakan berhenti. “Me-menemani?” ulangnya dengan suara hampir tak terdengar. “Ya. Di Velvet Crown Hotel. Kita habiskan malam bersama. Itu saja,” jawab Reval santai, seolah sedang menawarkan makan siang biasa. Kata-kata itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya seperti pukulan keras di kepala Naura. Ia membeku di tempatnya, tubuhnya tak mampu bergerak. “Saya sudah menikah, Pak,” katanya dengan nada yang bergetar. Reval tersenyum lagi, kali ini lebih sinis. “Aku tahu. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan pernikahanmu. Ini hanya kesepakatan bisnis. Kamu dapat uangnya, aku dapat apa yang aku mau. Semua merasa diuntungkan, bukan?” Naura merasakan keringat dingin membasahi tengkuknya. Bayangan suaminya dan ibu mertuanya melintas di pikirannya. Apa yang harus ia lakukan? Menolak berarti mengabaikan keluarganya yang membutuhkan. Tapi menerima … itu artinya mengkhianati semua prinsip yang selama ini ia pegang. “K-kenapa harus itu syaratnya, Pak?” tanyanya lirih, mencoba mencari alasan untuk menunda jawaban. Reval tertawa kecil, matanya berkilat penuh misteri. “Karena kamu menarik, Naura. Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku mau.” Keheningan memenuhi ruangan, menyisakan ketegangan yang hampir tak tertahankan. Naura ingin berteriak, ingin keluar dari ruangan ini, tapi kakinya terasa terpaku di lantai. “Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Reval akhirnya. Ia kembali ke mejanya dan meraih dokumen dari dalam laci. “Ini kontraknya. Aku tunggu malam ini.”Keesokan harinya, setelah sarapan Rania pun pamit pada ibunya untuk berangkat kerja di rumah ibu RT. "Ibu, Rania berangkat kerja ya. Doakan Rania agar semangat kerja hari ini," ucapnya dengan senyum. "Iya nak, ibu akan selalu mendoakan kamu," jawab ibunya. "Assalamualaikum ibu," salam Rania sambil mencium tangan ibunya dengan takzim. "Wa'alaikumsalam nak, hati-hati di jalan," ucap ibunya. "Iya ibu," jawab Rania. Rania pun keluar dari rumahnya dengan hati yang senang dan semangat. Tiba-tiba adiknya memanggilnya. "Kak, tungguin," teriak adiknya. "Ada apa Tania?" Tanya Tania. "Kakak semangat kerja ya. Dan mulai hari ini kakak juga tidak usah antar adik ke sekolah," jawab adiknya dengan senyum di bibir mungilnya. "Iya adikku sayang," ucap Rania mencubit pipi adiknya. Rania pun melanjutkan jalannya ke rumah ibu RT. Dan tak lama kemudian Rania tiba di rumah ibu RT, dia langsung mengetuk pintu dan mengu
Saat Rania lagi serius mengambil botol bekas di tempat sampah, tiba-tiba Putra membunyikan klakson mobilnya dengan keras yang membuat Rania kaget. "Ting ting" bunyi klakson mobil. "Hei minggir jangan mehalangi jalan orang," ucap Putri pacar dari Putra. Rania hanya melihat lalu berusaha untuk minggir ke pinggir jalan. "Maaf," jawab Rania. Putra pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya dan melihat pemulung itu karena dia seperti mengenalnya. Sedangkan Putri langsung masuk ke dalam rumah Putra. "Tunggu, kamu kayak saya kenal," ucap Putra heran. Rania pun melihat ke arah Putra, dan betapa kagetnya Rania mengetahui kalau yang panggil dia adalah cowok yang mau memasukkannya ke dalam penjara. Rania langsung pura-pura tidak mengenalnya dan tetap berjalan dengan cepat sedangkan Putra terus saja memanggilnya. "Hei tunggu, kamu mau kemana," panggil Putra. Rania tetap berjalan terus dan tidak menghiraukan pa
Setelah masak Rania langsung menyajikannya di atas meja. Dan tak lama kemudian Tania sudah pulang sekolah lalu mengucapkan salam. "Assalamualaikum," salam Tania. Rania yang masih di dapur mendengar salam adiknya dari luar. Dia pun langsung ke depan menyambut adiknya yang sudah pulang sekolah. "Wa'alaikumsalam adik kesayangan kakak," jawab Rania dengan senyum ke adiknya. "Iya kak," ucap Rania yang menyalim tangan kakaknya. "Ya sudah kamu ganti baju dan cuci kaki dan tangan baru kita makan siang bersama ya!" Perintah Rania. "Ok kak," jawab Rania yang langsung mengganti bajunya. Mereka pun makan bersama dengan lahap. Dan setelah makan Rania pun membersihkan sisa makannya lalu mengantarnya dan beristirahat dekat ibunya. Saat Rania beristirahat, ibunya bertanya padanya. "Rania ibu mau nanya sesuatu sama kamu nak," ucap ibunya. "Ibu mau nanya apa sama Rania?" Tanya Rania. "Ibu cuman mau bilang, kalau b
Setelah makan, Rania pun pamit pada ibunya untuk pergi ke rumah ibu RT melamar kerja sekalian mengantarkan adiknya ke sekolah walau Tania sudah kelas dua SD tapi Rania setiap hari selalu mengantar adiknya ke sekolah. "Ibu, Rania dan adik pamit ya mau ke luar rumah. Doakan Rania diterima kerja di rumah ibu RT serta doakan juga adik biar hari ini sekolahnya lancar," ucap Rania yang mencium tangan ibunya diikutin dengan adiknya. "Iya nak, ibu selalu berdoa buat kamu berdua anak ibu," jawab ibu sambil mengelus rambut anak-anaknya. "Assalamualaikum," salam Rania dan Tania bersamaan. "Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan ya nak," jawab ibunya. "Iya ibu," ucap Rania. Rania dan Tania pun keluar dari rumah dimana terlebih dahulu Rania mengantar adiknya ke sekolah lalu ke rumah ibu RT. Sepanjang jalan ke rumah ibu RT dimana Rania terus berdoa pada Allah agar dia diterima kerja di rumah ibu RT jadi buruh cuci agar ibunya senang.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews