LOGINMalikha bukanlah wanita yang pasrah begitu saja saat diinjak. Kata-kata penyemangat dari Reyhan di dalam lift kemarin sore menjadi bahan bakar yang membakar keberaniannya. Didorong rasa kesal sekaligus ingin membuktikan dirinya tidak bersalah, Malikha langsung bergerak taktis sejak pagi buta.
Atas perintah rahasia dari Reyhan, Hendra asisten pribadi sang CEO menemui Malikha secara sembunyi-sembunyi di sudut koridor yang sepi.
"Ini yang Ibu Malikha butuhkan," bisik Hendra sambil menyerahkan sebuah berkas cetakan dokumen dan sebuah diska lepas (flashdisk). "Tim keamanan komputer sudah memeriksa sistem atas perintah Pak Reyhan. Ini adalah bukti digital yang mencatat bahwa komputer Anda diakses oleh komputer lain secara ilegal tepat di jam saat Anda ke toilet kemarin. Dan pemilik akun pengakses itu adalah... Clarissa."
Malikha menerima berkas itu dengan tangan bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan emosi yang meluap. "Terima kasih, Pak Hendra. Biar saya yang menyelesaikan ini sendiri di lantai bawah."
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Malikha melangkah mantap ke tengah-tengah ruang divisi administrasi. Di sana, sang Manajer tengah mengobrol bersama Clarissa yang tampak tertawa ketiwi, merasa di atas angin karena yakin Malikha akan segera angkat kaki.
"Permisi, Pak," suara Malikha memecah suasana, lantang dan penuh penekanan. Semua pasang mata di lantai lima langsung tertuju padanya.
Clarissa melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Mau pamit, ya? Baguslah kalau tahu diri."
"Saya tidak akan pergi sebelum kebenaran terungkap," ujar Malikha, menatap tajam langsung ke bola mata Clarissa. Malikha menyerahkan berkas dari Hendra ke meja sang Manajer. "Pak, ini adalah bukti digital dari sistem keamanan kantor. Kemarin, saat saya ke toilet, ada seseorang yang sengaja menyusup ke akun kerja saya lewat jaringan komputer lain, lalu menghapus dan merusak semua data saya secara sengaja."
Sang Manajer mengerutkan kening, segera membaca lembaran kertas tersebut. Wajahnya seketika berubah serius.
"Apa-apaan ini?! Malikha, jangan mengada-ada dan memfitnah orang!" teriak Clarissa, mulai panik. Wajahnya mendadak pias.
"Saya tidak memfitnah. Di lembar kedua, tercatat jelas kode komputer dan nama akun yang melakukan penyusupan itu. Akun itu milik Anda, Kak Clarissa," cecar Malikha. Sisi emosionalnya meledak, matanya berkaca-kaca karena mengingat betapa hancurnya dia kemarin. "Kenapa Kakak tega melakukan ini kepada saya? Apa salah saya sampai Kakak ingin menghancurkan masa depan saya di kantor ini?!"
Manajer divisi mendongak, menatap Clarissa dengan pandangan kilat amarah. "Clarissa! Bukti digital ini tidak bisa bohong! Kamu sengaja merusak fasilitas kantor demi menjatuhkan rekan kerjamu sendiri?!"
"P-Pak... itu tidak benar... saya..." Clarissa tergagap, seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Bisikan-bisikan dari karyawan lain yang kemarin menyudutkan Malikha, kini berbalik menghujat Clarissa. Clarissa benar-benar dipermalukan di depan umum, menanggung malu yang teramat sangat atas kelicikannya sendiri. Sang Manajer langsung membentak Clarissa dan menyeretnya ke ruang HRD untuk diproses pemecatan hari itu juga. Malikha menghela napas lega, air mata kemenangannya luruh perlahan.
Malam harinya, suasana gedung kantor sudah sepi dan gelap. Namun, di ruangan kerja CEO di lantai paling atas, cahaya lampu masih berpendar hangat. Di dalam ruangan mewah yang tertutup rapat itu, sebuah meja kecil sudah ditata dengan dua porsi makanan kotak sederhana yang dibeli Malikha.
Reyhan duduk di sofa, menatap Malikha yang sedang menata makanan dengan senyuman yang tidak bisa dia sembunyikan. Dadanya bergemuruh penuh rasa bangga.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Hendra. Kamu luar biasa tadi siang," ucap Reyhan, suaranya terdengar begitu lembut dan dalam, sangat berbeda dengan suaranya saat memimpin rapat.
Malikha tersenyum malu-malu, duduk di sofa seberang Reyhan. Pipinya merona merah di bawah temaram lampu ruangan. "Ini semua juga berkat bantuan bukti digital dari Pak Hendra yang Mas persiapkan."
"Aku hanya memberi jalan, tapi keberanian untuk mengeksekusinya adalah milikmu," balas Reyhan. Pria itu memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil terus menatap lekat-lekat wajah Malikha yang tampak anggun malam itu.
Tatapan intens dari Reyhan membuat Malikha salah tingkah. Dia pura-pura sibuk membuka bungkus sendok. "A-ayo makan, Mas. Nanti makanannya dingin."
Reyhan terkekeh pelan, namun matanya tidak beralih sedikit pun. Melihat bagaimana Malikha yang tadi siang begitu tegas di depan musuhnya, kini berubah menjadi wanita pemalu yang menggemaskan di hadapannya, membuat sesuatu di dalam hati Reyhan berdesir hebat. CEO yang terkenal berhati dingin itu kini benar-benar baper. Ada letupan-letupan asmara yang mulai tidak bisa dia kendalikan. Dia menyadari, pernikahan kontrak ini perlahan-lahan telah menjerat hatinya sepenuhnya pada sosok wanita berhijab di depannya.
"Malikha," panggil Reyhan pelan, membuat Malikha mendongak dan kembali mengunci pandangan mereka. "Terima kasih sudah menjadi istri yang kuat."
Malam itu, di ruang CEO yang sunyi, ruang di antara mereka terasa makin menyempit oleh perasaan-perasaan baru yang mulai tumbuh dan mekar dengan indahnya.
Langkah kaki Reyhan terasa sedikit lebih ringan saat melangkah keluar dari halaman rumah keluarga besar. Pengumuman dimajukannya rapat pemegang saham luar biasa memang seperti vonis mati bagi kariernya, tetapi respons tenang yang ia tunjukkan di hadapan para paman setidaknya berhasil menahan gelombang prasangka buruk yang lebih parah.Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke rumah lama pinggiran kota, Malikha duduk di sampingnya. Ia melirik suaminya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga."Mas Reyhan luar biasa tadi," tutur Malikha lembut, memecah keheningan di antara mereka. "Mas berhasil mengendalikan ego dan tidak terpancing provokasi Om Burhan. Cara Mas menerima pembekuan itu dengan adab yang tinggi justru membungkormu mulut orang-orang yang menuduh Mas tidak objektif."Reyhan tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang sembari menatap jalanan di depannya. "Aku tidak akan bisa melakuka
Pagi hari di halaman samping rumah keluarga Al-Fahri terasa begitu mencekam. Pertemuan keluarga besar yang mendadak digelar oleh Om Burhan tidak bertempat di ruang rapat kantor pusat, melainkan di kediaman senior keluarga. Keputusan ini diambil secara cerdik untuk menciptakan tekanan sosial yang kuat dari sanak saudara, sekaligus menghindari pengawasan publik.Reyhan dan Malikha berjalan berdampingan memasuki ruangan. Tatapan dingin dan bisik-bisik miring dari para paman, bibi, serta sepupu langsung menyambut kehadiran mereka. Malikha menggenggam jemarinya sendiri di depan gamisnya, mencoba menata debaran dada sembari mempertahankan adab dan ketenangannya. Di sampingnya, Reyhan melangkah dengan rahang yang mengeras, berusaha menahan amarah yang bergolak di dalam batin."Terima kasih sudah datang, Reyhan, Malikha," panggil Om Burhan dari ujung meja kayu panjang, tersenyum dengan raut prihatin yang dibuat-buat di hadapan belasa
Surat panggilan sidang pleno darurat yang terpampang di layar gawai membangkitkan badai baru sebelum fajar menyingsing. Tanpa menunggu pagi, Reyhan langsung menggunakan akses akun pimpinan senior miliknya untuk menahan draf keputusan pencopotan permanen tersebut melalui portal resmi yayasan. Namun, harapan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Layar gawai hanya menampilkan pesan merah tebal: Akses Ditolak. Kewenang Hak Asah Anda Telah Dinetralkan oleh Sekretariat Komisaris.Reyhan mendengkus kasar, melempar gawai itu ke atas meja kayu hingga berdentang nyaring. "Sistem portal pimpinan sudah mengunciku keluar, Malikha! Om Burhan mencabut seluruh hak akses eksekutifku sebelum sidang pleno bahkan dimulai besok pagi. Ini bukan lagi ancaman, ini pembantaian wewenang secara sepihak!"Malikha yang berdiri di dekat lemari pendingin segera menghampiri suaminya. Wajahnya tet
Pintu depan tertutup pelan, meninggalkan keheningan tebal setelah kepulangan Pak Maman. Saksi kunci yang paling mereka harapkan telah mundur karena termakan narasi palsu Om Burhan. Kekalahan itu memukul telak benteng pertahanan mental Reyhan. Di ruang tengah rumah lama, pria itu duduk di lantai berbingkai karpet tipis, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa kayu dengan tatapan kosong.Malikha berjalan dari arah dapur membawakan segelas air putih hangat. Ia menaruh gelas itu di meja kecil, lalu ikut duduk bersila di atas lantai, menjaga jarak beberapa jengkal dari suaminya demi memelihara adab dan kesantunan yang anggun."Mas Reyhan, minum dulu," panggil Malikha dengan nada bicara yang begitu lembut, mencoba mengurai ketegangan yang membeku di wajah sang suami.Reyhan meraih gelas tersebut, jemarinya bergetar pelan. Suara seraknya memecah keheningan. "Aku gagal lagi, Malikha. Satu-satunya saksi ku
Suasana pagi di rumah lama pinggiran kota terasa begitu menenangkan saat mentari menembus celah jendela. Di meja makan kayu, Malikha baru saja menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan. Namun, ketenangan privat itu mendadak terusik ketika Hendra datang membawa lembaran draf cetakan dari grup komunikasi internal yayasan Al-Fahri."Ada apa, Hendra?" tanya Reyhan, menghentikan gerakannya yang hendak menyesap teh.Hendra menunduk ragu, lalu meletakkan lembaran draf tersebut di atas meja. "Mohon maaf, Pak Reyhan, Bu Malikha. Om Burhan dan tim dewan baru saja memublikasikan narasi resmi mengenai alasan pembekuan jabatan Anda. Pesannya dikemas sangat halus, seolah-olah dewan sedang berusaha menyelamatkan reputasi keluarga."Reyhan mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya perlahan memerah, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup. Dalam narasi tersebut, Om Burhan tidak menggunakan kata tuduhan kr
Malam beranjak hangat di rumah lama pinggiran kota. Sebuah lampu gantung menyala temaram di atas meja kayu sederhana, menerangi dua piring nasi goreng telur buatan Malikha. Aroma bumbu tumis yang harum memenuhi ruang makan kecil itu, menggantikan atmosfer kaku yang biasa menyelimuti meja rapat Al-Fahri."Mas Reyhan, dicoba dulu," tutur Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk duduk di hadapan suaminya. Ia tetap menjaga jarak dan adab kesantunan yang anggun, menatap Reyhan dengan binar mata yang Teduh.Reyhan memegang sendoknya, lalu menyuapkan porsi kecil ke dalam mulutnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama menghilang akhirnya terbit di wajah pria itu. "Masakanmu selalu punya cara untuk menenangkan pikiranku, Malikha. Di sini, tanpa gelar CEO dan riuk-piuk kantor pusat, rasa makanannya justru jauh lebih nikmat.""Alhamdulillah jika Mas menyukainya," balas Malikha dengan rona merah tipis
Sebagai karyawan baru di divisi administrasi lantai lima, Malikha benar-benar menjaga janjinya. Tidak ada yang tahu jika wanita berhijab sederhana itu adalah istri sah dari CEO tertinggi di gedung ini. Namun, menyamar menjadi orang biasa ternyata mengundang badai yang tidak terduga.Sejak hari pert
"Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda."Saya sadar sepenuhnya,
Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu K
Ketenangan yang baru saja dirasakan Malikha di lantai lima tidak bertahan lama. Di lantai paling atas gedung pencakar langit ini, sebuah badai yang jauh lebih besar dan merusak sedang dipersiapkan untuk menghancurkan hidupnya dan juga Reyhan.Ibu Karina, salah satu petinggi perusahaan sekaligus mus







