Accueil / Romansa / Ta'aruf Rahasia Sang CEO / Bab 3: Intimidasi Lantai 5

Partager

Bab 3: Intimidasi Lantai 5

Auteur: MomZa
last update Date de publication: 2026-06-04 12:52:44

Sebagai karyawan baru di divisi administrasi lantai lima, Malikha benar-benar menjaga janjinya. Tidak ada yang tahu jika wanita berhijab sederhana itu adalah istri sah dari CEO tertinggi di gedung ini. Namun, menyamar menjadi orang biasa ternyata mengundang badai yang tidak terduga.

Sejak hari pertama, Clarissa senior di divisinya sudah menatap Malikha dengan pandangan benci. Clarissa yang terbiasa menjadi pusat perhatian merasa tersaingi oleh pesona Malikha yang alami dan pembawaannya yang tenang.

"Anak baru, kerjakan semua laporan ini sebelum jam makan siang! Jangan malas!" perintah Clarissa ketus sambil melempar tumpukan map tebal ke meja Malikha hingga menimbulkan suara debuman keras.

Malikha hanya menghela napas, menahan emosinya. "Baik, Kak. Akan saya selesaikan."

Malikha bekerja tanpa lelah, mengetik semua data ke dalam komputer dengan teliti. Namun, saat Malikha pergi sebentar ke toilet, Clarissa memanfaatkan kesempatan itu. Dengan senyum licik, Clarissa menyelinap ke meja Malikha, membuka file pekerjaan Malikha, lalu menghapus setengah dari data penting yang sudah selesai dikerjakan. Tidak hanya itu, dia sengaja mengacak-acak angka di dalamnya agar terlihat seperti kesalahan fatal.

Satu jam kemudian, ruang divisi administrasi mendadak gempar. Manajer divisi berjalan dengan wajah merah padam, didampingi oleh Clarissa yang memasang wajah pura-pura prihatin.

"Malikha! Apa-apaan hasil kerjamu ini?!" bentak sang Manajer sambil melempar kertas cetak dokumen ke atas meja. "Data penting perusahaan berantakan semua! Gara-gara kecerobohanmu, kita bisa rugi besar!"

Malikha terbelalak menatap layar monitornya. "Tapi Pak, saya bersumpah tadi sudah memeriksa semuanya dan datanya benar. Saya tidak mungkin seledor ini."

"Halah, jangan beralasan!" potong Clarissa dengan suara sengit, memanas-manasi keadaan. "Dari awal saya sudah lihat dia ini tidak becus kerja, Pak. Hanya modal tampang alim saja! Karyawan tidak berguna seperti ini sebaiknya langsung dipecat saja sebelum bikin kekacauan yang lebih besar!"

Bisikan-bisikan sinis mulai terdengar dari karyawan lain. Malikha merasa sudut matanya memanas. Dadanya berdenyut nyeri karena difitnah secara kejam di depan umum. Tekanan di ruangan itu begitu kuat, membuatnya merasa terpojok dan tidak berdaya.

Sore harinya, setelah mendapat teguran keras dan ancaman pemecatan, Malikha berjalan gulai menuju lobi bawah dengan pikiran kacau. Saat dia masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong, sebuah tangan kekar tiba-tiba menahan pintu lift yang hampir tertutup.

Sosok bertubuh tegap merangsek masuk. Jantung Malikha berdegup kencang saat menyadari pria itu adalah Reyhan. Pria itu langsung menekan tombol hold untuk menghentikan lift di antara lantai yang sepi, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Malikha.

Rupanya Hendra sudah melaporkan seluruh kejadian di lantai lima kepada Reyhan. Reyhan tahu istrinya sedang ditindas, namun ego posisinya sebagai CEO menahannya untuk bertindak terang-terangan demi menjaga rahasia mereka. Melihat mata Malikha yang sembab dan memerah, ada rasa amarah yang membakar dada Reyhan, sekaligus rasa bersalah yang teramat dalam.

Reyhan melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka di dalam ruang lift yang sempit. Atmosfer mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan ketegangan emosional.

"Kamu menangis?" tanya Reyhan, suaranya bariton dan terdengar sangat khawatir.

Malikha langsung memalingkan wajahnya, mencoba menghapus sisa air mata di pipinya. "Saya tidak apa-apa, Pak Reyhan..."

"Panggil Mas kalau kita sedang berdua, Malikha," potong Reyhan dengan nada tegas namun lembut.

Reyhan mengulurkan kedua tangannya, meraih pundak Malikha dengan lembut namun posesif, menahan wanita itu agar tidak terus menghindar. Batas suci di antara mereka membuat Reyhan tidak melangkah lebih jauh, tetapi kehangatan tangan Reyhan di pundaknya membuat pertahanan Malikha runtuh. Malikha mendongak, menatap sepasang mata legam Reyhan yang kini memancarkan rasa ingin melindungi yang begitu besar.

"Aku tahu apa yang terjadi di lantai lima. Clarissa memfitnahmu," bisik Reyhan, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Malikha. "Maafkan aku karena tidak bisa langsung memecatnya di depan semua orang tadi. Tapi aku berjanji kepadamu, Malikha... suamimu ini tidak akan tinggal diam melihat istrinya dipermalukan."

Mendengar kata 'suamimu' keluar dari bibir tegas Reyhan, jantung Malikha berdetak liar. Rasa cemas dan sedih yang menggelayuti hatinya perlahan menguap, tergantikan oleh debaran manis yang membuat pipinya merona merah di bawah temaram lampu lift. Sisi rapuh Malikha merasa sangat bersyukur memiliki Reyhan yang berdiri di pihaknya.

"Mas Reyhan jangan bertindak gegabah, nanti rahasia kita terbongkar," lirih Malikha, suaranya bergetar karena kedekatan posisi mereka yang begitu intim.

Reyhan tersenyum tipis, sebuah tatapan hangat yang hanya dipesan khusus untuk Malikha. "Tenang saja. Kita akan menjebaknya dengan cara yang bersih. Sekarang, hapus air matamu. Istri seorang Reyhan Al-Fahri harus kuat, mengerti?"

Malikha mengangguk pelan, seulas senyuman manis akhirnya terbit di bibirnya. Kedekatan rahasia di dalam lift ini tidak hanya menenangkan hati Malikha, tetapi juga membuat benih-benih cinta di antara keduanya tumbuh makin subur dan tak terbendung lagi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 140: Tenang yang Ternyata Palsu

    Langkah kaki Reyhan terasa sedikit lebih ringan saat melangkah keluar dari halaman rumah keluarga besar. Pengumuman dimajukannya rapat pemegang saham luar biasa memang seperti vonis mati bagi kariernya, tetapi respons tenang yang ia tunjukkan di hadapan para paman setidaknya berhasil menahan gelombang prasangka buruk yang lebih parah.Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke rumah lama pinggiran kota, Malikha duduk di sampingnya. Ia melirik suaminya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga."Mas Reyhan luar biasa tadi," tutur Malikha lembut, memecah keheningan di antara mereka. "Mas berhasil mengendalikan ego dan tidak terpancing provokasi Om Burhan. Cara Mas menerima pembekuan itu dengan adab yang tinggi justru membungkormu mulut orang-orang yang menuduh Mas tidak objektif."Reyhan tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang sembari menatap jalanan di depannya. "Aku tidak akan bisa melakuka

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 139: Ditekan dari Arah yang Salah

    Pagi hari di halaman samping rumah keluarga Al-Fahri terasa begitu mencekam. Pertemuan keluarga besar yang mendadak digelar oleh Om Burhan tidak bertempat di ruang rapat kantor pusat, melainkan di kediaman senior keluarga. Keputusan ini diambil secara cerdik untuk menciptakan tekanan sosial yang kuat dari sanak saudara, sekaligus menghindari pengawasan publik.Reyhan dan Malikha berjalan berdampingan memasuki ruangan. Tatapan dingin dan bisik-bisik miring dari para paman, bibi, serta sepupu langsung menyambut kehadiran mereka. Malikha menggenggam jemarinya sendiri di depan gamisnya, mencoba menata debaran dada sembari mempertahankan adab dan ketenangannya. Di sampingnya, Reyhan melangkah dengan rahang yang mengeras, berusaha menahan amarah yang bergolak di dalam batin."Terima kasih sudah datang, Reyhan, Malikha," panggil Om Burhan dari ujung meja kayu panjang, tersenyum dengan raut prihatin yang dibuat-buat di hadapan belasa

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 138: Retak Kecil di Depan Orang

    Surat panggilan sidang pleno darurat yang terpampang di layar gawai membangkitkan badai baru sebelum fajar menyingsing. Tanpa menunggu pagi, Reyhan langsung menggunakan akses akun pimpinan senior miliknya untuk menahan draf keputusan pencopotan permanen tersebut melalui portal resmi yayasan. Namun, harapan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Layar gawai hanya menampilkan pesan merah tebal: Akses Ditolak. Kewenang Hak Asah Anda Telah Dinetralkan oleh Sekretariat Komisaris.Reyhan mendengkus kasar, melempar gawai itu ke atas meja kayu hingga berdentang nyaring. "Sistem portal pimpinan sudah mengunciku keluar, Malikha! Om Burhan mencabut seluruh hak akses eksekutifku sebelum sidang pleno bahkan dimulai besok pagi. Ini bukan lagi ancaman, ini pembantaian wewenang secara sepihak!"Malikha yang berdiri di dekat lemari pendingin segera menghampiri suaminya. Wajahnya tet

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 137: Canggung yang Menghangatkan

    Pintu depan tertutup pelan, meninggalkan keheningan tebal setelah kepulangan Pak Maman. Saksi kunci yang paling mereka harapkan telah mundur karena termakan narasi palsu Om Burhan. Kekalahan itu memukul telak benteng pertahanan mental Reyhan. Di ruang tengah rumah lama, pria itu duduk di lantai berbingkai karpet tipis, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa kayu dengan tatapan kosong.Malikha berjalan dari arah dapur membawakan segelas air putih hangat. Ia menaruh gelas itu di meja kecil, lalu ikut duduk bersila di atas lantai, menjaga jarak beberapa jengkal dari suaminya demi memelihara adab dan kesantunan yang anggun."Mas Reyhan, minum dulu," panggil Malikha dengan nada bicara yang begitu lembut, mencoba mengurai ketegangan yang membeku di wajah sang suami.Reyhan meraih gelas tersebut, jemarinya bergetar pelan. Suara seraknya memecah keheningan. "Aku gagal lagi, Malikha. Satu-satunya saksi ku

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 136: Senyum yang Menyimpan Racun

    Suasana pagi di rumah lama pinggiran kota terasa begitu menenangkan saat mentari menembus celah jendela. Di meja makan kayu, Malikha baru saja menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan. Namun, ketenangan privat itu mendadak terusik ketika Hendra datang membawa lembaran draf cetakan dari grup komunikasi internal yayasan Al-Fahri."Ada apa, Hendra?" tanya Reyhan, menghentikan gerakannya yang hendak menyesap teh.Hendra menunduk ragu, lalu meletakkan lembaran draf tersebut di atas meja. "Mohon maaf, Pak Reyhan, Bu Malikha. Om Burhan dan tim dewan baru saja memublikasikan narasi resmi mengenai alasan pembekuan jabatan Anda. Pesannya dikemas sangat halus, seolah-olah dewan sedang berusaha menyelamatkan reputasi keluarga."Reyhan mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya perlahan memerah, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup. Dalam narasi tersebut, Om Burhan tidak menggunakan kata tuduhan kr

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   BAB 135: Menang Kecil yang Manis

    Malam beranjak hangat di rumah lama pinggiran kota. Sebuah lampu gantung menyala temaram di atas meja kayu sederhana, menerangi dua piring nasi goreng telur buatan Malikha. Aroma bumbu tumis yang harum memenuhi ruang makan kecil itu, menggantikan atmosfer kaku yang biasa menyelimuti meja rapat Al-Fahri."Mas Reyhan, dicoba dulu," tutur Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk duduk di hadapan suaminya. Ia tetap menjaga jarak dan adab kesantunan yang anggun, menatap Reyhan dengan binar mata yang Teduh.Reyhan memegang sendoknya, lalu menyuapkan porsi kecil ke dalam mulutnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama menghilang akhirnya terbit di wajah pria itu. "Masakanmu selalu punya cara untuk menenangkan pikiranku, Malikha. Di sini, tanpa gelar CEO dan riuk-piuk kantor pusat, rasa makanannya justru jauh lebih nikmat.""Alhamdulillah jika Mas menyukainya," balas Malikha dengan rona merah tipis

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   Bab 7: Demi Melindungimu

    "Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda."Saya sadar sepenuhnya,

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   Bab 6: Jebakan Sempurna dan Pengorbanan Suami

    Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu K

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   Bab 5: Badai dari Lantai Atas

    Ketenangan yang baru saja dirasakan Malikha di lantai lima tidak bertahan lama. Di lantai paling atas gedung pencakar langit ini, sebuah badai yang jauh lebih besar dan merusak sedang dipersiapkan untuk menghancurkan hidupnya dan juga Reyhan.Ibu Karina, salah satu petinggi perusahaan sekaligus mus

  • Ta'aruf Rahasia Sang CEO   Bab 4: Pembalasan Manis dan Jebakan Digital

    Malikha bukanlah wanita yang pasrah begitu saja saat diinjak. Kata-kata penyemangat dari Reyhan di dalam lift kemarin sore menjadi bahan bakar yang membakar keberaniannya. Didorong rasa kesal sekaligus ingin membuktikan dirinya tidak bersalah, Malikha langsung bergerak taktis sejak pagi buta.Atas

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status