Beranda / Fantasi / Tabib Desa, Pemikat Para Pria / Bab 7 || Permohonan Seorang Pangeran

Share

Bab 7 || Permohonan Seorang Pangeran

last update Tanggal publikasi: 2026-02-22 12:11:38

Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Shalla, Lioren, dan Draven telah berdiri di hadapann singgasana Raja dan Ratu. Fajar bahkan belum sepenuhnya terbit, namun suasana istana telah dipenuhi ketegangan yang sunyi.

Raja Eldric dan Ratu Seraphina saling berpandangan sejenak, seolah menimbang keputusan yang tak ringan.

Akhirnya, Raja Eldric mengangguk perlahan.

"Baiklah. Kalian kami izinkan berangkat menuju Gunung Tharvoria."

Nada suaranya tenang, namun sarat makna.

Ratu Seraphina melanjutkan dengan wajah serius, sorot matanya tajam namun penuh kepedulian.

"Namun ingatlah. Perjalanan itu bukan perkara ringan. Kalian harus berjanji… untuk kembali dengan selamat."

Ia terdiam sesaat, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut, "Keberanian kalian sungguh menggetarkan hati kami."

Shalla melangkah maju. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam, menahan perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya.

"Paduka… mohon ampun atas kekeliruan hamba." Suaranya lirih, namun jelas terdengar di ruangan yang hening.

"Hamba mengira kutukan itu telah terlepas dari Putra Mahkota. Namun ternyata… hamba hanya mampu meredakannya, bukan memutusnya sepenuhnya."

Napasnya tertahan.

"Segala kelalaian ini adalah kesalahan hamba."

Raja Eldric menatap gadis itu lama. Tidak ada amarah dalam wajahnya, hanya ketenangan yang mengandung wibawa.

"Tidak, Tabib Shalla."

Nada suaranya rendah, namun tegas.

"Tiada kesalahan yang patut kau pikul seorang diri. Justru kehadiranmu telah membuka jalan yang sebelumnya tak mampu kami sentuh."

Ratu Seraphina mengangguk setuju.

"Benar. Tanpamu, mungkin kutukan itu masih terselubung dalam gelap."

Sorot matanya melembut.

"Jangan biarkan rasa bersalah membebani langkahmu. Kita semua tengah berjuang… bersama."

Raja Eldric tersenyum tipis, lalu terkekeh pelan.

"Haha… bahkan kamilah yang seharusnya berterima kasih. Tanpamu, kami mungkin masih terbuai dalam ketidaktahuan."

Ia menatap Shalla penuh makna. "Terima kasih, Shalla."

Shalla semakin menunduk hormat.

"Segala bakti hamba adalah untuk Paduka dan kerajaan."

Keduanya saling bertukar senyum.

"Baiklah. Dalam waktu dekat kalian akan diperkenankan berangkat. Perbekalan dan perlengkapan sedang kami persiapkan," ujar Ratu Seraphina dengan nada tenang.

Lioren sedikit mengangkat alisnya. "Paduka… jadi hamba tak perlu membawa apa pun?" tanyanya sopan.

Raja Eldric menjawab tanpa ragu, "Tidak perlu. Kerajaan akan menyiapkan seluruh keperluan kalian."

Ketiganya segera menundukkan kepala.

"Titah Paduka kami junjung tinggi."

Tak lama, mereka pun menepi, menunggu persiapan dalam suasana yang mulai mencair. Bisik percakapan ringan terdengar pelan di antara mereka.

Di saat yang sama, Pangeran Caelvion, yang sejak tadi terdiam, memberi isyarat halus kepada seorang dayang. "Cepatlah.."

Dayang itu melangkah mendekat ke hadapan Raja dan Ratu, lalu membungkuk hormat.

"Paduka, mohon perkenan… Pangeran Caelvion berhasrat memanggil Tabib Shalla. Beliau ingin berbicara sebentar."

Ratu Seraphina menghela napas pelan, sudut bibirnya terangkat samar.

"Anak itu… bahkan untuk hal semacam ini pun masih menyuruh perantara."

Nada suaranya terdengar geli sekaligus penasaran. Raja Eldric hanya tersenyum tipis.

"Biarkanlah. Putraku memang selalu penuh pertimbangan."

Kemudian pandangannya beralih kepada Shalla. "Pergilah, Tabib Shalla. Namun setelahnya… ceritakanlah kepada kami apa yang hendak disampaikan olehnya."

Shalla menunduk dalam. "Titah Paduka hamba laksanakan. Mohon izin undur diri."

Ratu Seraphina mengangguk lembut.

"Pergilah."

Shalla mengikuti langkah sang dayang tanpa banyak tanya. Lorong demi lorong istana mereka lewati, hingga akhirnya keduanya berhenti di depan sebuah ruangan yang sunyi.

Pintu kayu berukir itu telah terbuka.

Di sanalah Pangeran Caelvion berdiri.

Begitu menyadari kedatangan mereka, sang pangeran melangkah mendekat. Namun sebelum berbicara, sorot matanya terlebih dahulu menyapu sekitar, seolah memastikan tak ada telinga lain yang menguping.

Tatapannya berhenti pada satu sosok yakni Dayang yang masih berdiri tak jauh dari ambang pintu. Seketika alis Caelvion sedikit berkerut.

"Dayang Mindy… mengapa kau masih di sini?" tanyanya, nada suaranya rendah namun menyiratkan ketidaksabaran halus.

Shalla refleks menoleh.

Dayang Mindy tampak terkejut. Wajahnya langsung memucat sebelum ia membungkuk dalam-dalam.

"Mohon ampun, Pangeran. Hamba segera undur diri."

Tanpa menunggu titah lanjutan, dayang itu pun bergegas keluar. Langkahnya cepat, nyaris tergesa.

Pangeran Caelvion tak langsung berbicara. Ia memperhatikan hingga pintu benar-benar tertutup, memastikan ruangan kini hanya dihuni oleh mereka berdua. Barulah kemudian pandangannya beralih pada Shalla. Sorot mata yang tadi tajam kini meredup, berubah lebih tenang.

"Tabib Shalla…" panggilnya.

Shalla menegakkan tubuhnya, menunduk hormat.

"Baik, Pangeran Caelvion?"

Pangeran Caelvion terdiam sejenak.

Tanpa berkata apa pun, jemarinya terangkat menuju liontin yang sejak tadi tergantung di lehernya. Rantai perak itu berpendar lembut saat dilepaskan, menangkap cahaya pelita ruangan. Ia menatap Shalla lurus.

"Shalla… kenakanlah ini selama perjalananmu ke Tharvoria," ucapnya tenang, namun sarat ketegasan. "Jangan kau lepaskan. Liontin ini mungkin tak mampu melindungimu sepenuhnya… tetapi setidaknya, ia akan menjagamu dari bahaya yang tak kasatmata."

Shalla tersentak. "Apa…?" napasnya tercekat.

Pandangannya jatuh pada liontin yang berkilau di tangan sang pangeran, lalu perlahan terangkat menatap wajah Caelvion. "Hamba tak bisa menerimanya, Yang Mulia!"

Alis Caelvion berkerut tipis. "Mengapa?"

Nada suara Shalla melembut, namun kegugupan jelas terdengar. "Itu milik Pangeran… Hamba tak berhak mengenakan sesuatu yang begitu berharga."

Caelvion menghela napas pelan. Bukan kesal melainkan seolah telah menduga penolakan itu.

"Akulah yang memberikannya, Shalla," ujarnya lebih rendah. "Dan akulah yang menghendakimu memakainya."

Sorot matanya mengeras, penuh kesungguhan. "Tidak ada paksaan di sini. Ini semata keinginanku… demi keselamatanmu. Jalan menuju Tharvoria bukanlah rute yang ramah. Hutan yang kau lewati menyimpan lebih dari sekadar binatang buas."

Shalla terdiam. "Ta–tapi…"

Belum sempat ia melanjutkan, Caelvion melangkah mendekat. Jemarinya meraih tangan Shalla, menggenggamnya lembut namun mantap.

"Shalla," ucapnya lirih.

Nada suaranya kali ini jauh berbeda—nyaris seperti permohonan yang tulus. "Aku mohon... Jangan menolak..."

Jantung Shalla berdegup tak menentu. Dengan hati-hati, ia menarik kembali jemarinya, meski tanpa kekerasan. Wajahnya sedikit tertunduk, tak enak hati menolaknya. "Yang Mulia… janganlah berkata demikian kepadaku," bisiknya pelan. "Aku akan memakainya. Namun, jangan memohon seolah aku memiliki hak untuk menolak titahmu."

Seberkas kelegaan melintas di wajah Caelvion.

"Sungguh?"

Tanpa menunggu jawaban lanjutan, ia mengangkat liontin itu perlahan. "Kalau begitu… izinkan aku yang memakaikannya."

Shalla membeku di tempatnya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Caelvion tersenyum samar.

"Berbaliklah."

Namun, Shalla tetap menuruti perintah itu.

Dengan langkah ragu, ia memutar tubuhnya perlahan. Pelita dinding memantulkan cahaya keemasan pada rantai perak yang kini berada di tangan Pangeran Caelvion.

Sang pangeran mendekat.

Tanpa tergesa, ia mengangkat liontin itu, lalu mulai memakaikannya pada leher Shalla. Ujung jemarinya nyaris tak menyentuh kulit gadis itu, namun cukup membuat napas Shalla tertahan.

Shalla membeku.

Degup jantungnya terasa begitu nyaring di telinganya sendiri.

"Astaga… siapa sebenarnya diriku ini…"

"Bagaimana mungkin aku menerima perlindungan sebesar ini dari seorang pangeran…"

Pikiran itu terasa begitu tak nyata hingga Shalla refleks mencubit tangannya sendiri.

"Aw!"

Sakit.

Caelvion yang masih berdiri dekat sontak menghentikan gerakannya. Sorot matanya beralih, sedikit cemas.

"Maafkan aku…"

Shalla buru-buru menggeleng, wajahnya memanas. "Bukan karena Pangeran," ujarnya cepat, berusaha terdengar biasa. "Hanya… ada nyamuk tadi."

Caelvion menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil.

Tak lama kemudian, liontin itu pun terpasang sempurna. Shalla segera berbalik. Kepalanya tertunduk dalam, berulang kali memberi hormat dengan gugup yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan.

"Terima kasih, Pangeran," ucapnya tulus. "Hamba sungguh tak menyangka akan menerima kepercayaan sebesar ini. Liontin ini akan hamba jaga sebaik mungkin."

Ia mengangkat wajahnya perlahan. "Dan… hamba amat bersyukur atas kebaikan hati Yang Mulia."

Caelvion tersenyum samar. "Sama-sama, Shalla."

Nada suaranya lembut, jauh lebih lembut dari biasanya.

Shalla kembali menunduk, kali ini lebih dalam. "Yang Mulia Pangeran Caelvion… izinkan hamba untuk berpamitan diri."

Namun alih-alih menjawab, Caelvion justru melangkah mendekat lagi. Sorot matanya menahan sesuatu yang tak terucap.

"Berikan aku satu pelukan sebelum kau pergi."

Shalla tertegun.

Belum sempat lidahnya merangkai jawaban, kedua lengan Caelvion telah lebih dahulu merengkuh tubuhnya.

Hangat.

Dekapannya kokoh namun anehnya terasa menenangkan.

Shalla menegang.

Ia tak berani membalas, hanya berusaha menarik diri dengan jantung yang berpacu liar. Namun pelukan itu sedikit menguat.

"Hati-hati di perjalanan…" Bisikan Caelvion terdengar rendah di dekat telinganya.

Shalla menelan napas. "Ba–baik… Yang Mulia…"

Matanya melirik gelisah ke sekeliling ruangan yang sunyi. "Su–sudah, Pangeran… hamba takut bila ada yang melihat…" Nada suaranya nyaris seperti desahan gugup.

Caelvion terdiam. Lalu, perlahan, ia melepaskan pelukan itu.

Shalla mundur setapak, wajahnya masih memerah. Senyum kecil terukir canggung di bibirnya.

"Hamba izin pergi, Pangeran."

Caelvion mengangguk. "Pergilah." Namun sorot matanya berkata lebih dari sekadar kata itu.

Shalla bergegas meninggalkan ruangan itu. Langkahnya nyaris berubah menjadi lari kecil, sementara wajahnya memerah tanpa ampun. Jantungnya masih berdegup tak menentu.

"Astaga… apa yang barusan terjadi…? Mengapa Yang Mulia melakukan hal sejauh itu…?"

Ia menggeleng pelan, berusaha menenangkan diri. Namun sebelum sempat pikirannya mereda, sebuah suara memanggil, menghentikan langkahnya.

"Nona Shalla!"

Shalla sontak berbalik. Di ujung lorong, seorang perempuan tua berdiri dengan napas sedikit terengah. "Eh? Ada apa, Nyonya?" tanya Shalla, masih menyimpan sisa kegugupan.

"Putra Mahkota ingin bertemu denganmu," jawab wanita itu, menunjuk ke arah pintu megah tak jauh dari sana.

Shalla tersentak. "Hah? Eh… ya…"

Tanpa banyak tanya, ia segera berlari menuju kamar Putra Mahkota. Gaunnya berayun mengikuti langkah tergesanya.

"Astaga… Putra Mahkota kenapa lagi…?"

Dengan hati yang masih diliputi tanya, Shalla mendorong perlahan pintu besar itu.

Cahaya lembut menyambutnya.

Di dalam, Putra Mahkota Zevarian berdiri menghadap cermin. Pantulan bayangannya tampak muram, namun begitu mendengar langkah Shalla, ia menoleh.

"Shalla…"

Shalla segera menunduk hormat. "Yang Mulia, ada apakah gerangan memanggil hamba?"

Zevarian terdiam sejenak.

"Aku hanya…" Kalimatnya menggantung.

Shalla melangkah sedikit lebih dekat, kebingungan merayapi wajahnya.

Namun justru Zevarian yang bergerak maju.

Langkah Shalla refleks terhenti.

Putra Mahkota kini berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya dalam, dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Terima kasih, Shalla," ucapnya pelan. "Aku tak pernah menyangka… ada seseorang yang rela mempertaruhkan keselamatannya demi memahami kutukanku."

Napasnya terdengar berat. "Gunung Tharvoria bukan tempat yang ramah bagi siapa pun..."

Ia menatap gadis itu lekat. "Kau sungguh yakin akan pergi ke sana?"

Tak ada ragu di wajah Shalla.

"Yakin, Yang Mulia."

"Aku tidak sendiri. Tuan Lioren dan Tuan Draven akan menyertai perjalananku," lanjutnya.

Zevarian mengembuskan napas panjang. "Huh… entahlah. Aku tetap merasa khawatir."

Shalla menatapnya tulus. "Percayalah padaku, Yang Mulia." Nada suaranya tenang, namun penuh keyakinan. "Aku berjanji akan kembali dengan selamat… dan membawa kabar yang baik."

Keheningan menyelimuti ruangan. Untuk sesaat, ia hanya menatapnya. Lalu, perlahan, ia menggenggam jemari Shalla.

Sentuhan itu hangat, namun sarat kegelisahan.

"Aku khawatir, Shalla…" Suara itu hampir terdengar seperti bisikan.

Shalla tak menarik tangannya, melainkan membalas genggaman itu dengan lembut.

"Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku akan baik-baik saja..."

Zevarian menunduk pelan, lalu berbalik menuju ranjang. Ia duduk perlahan, raut wajahnya masih dibayangi kecemasan.

"Aku paham ini harus dilakukan…"

Matanya kembali menatap Shalla. "Namun rasanya… aku justru menjadi beban bagimu."

Shalla tersenyum kecil.

"Tidaklah demikian, Yang Mulia."

Nada suaranya hangat.

"Ini bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita semua.”

Zevarian melangkah mendekat.

Namun tak lama kemudian, Shalla menoleh ke arah jendela, menyadari waktu yang kian mendesak.

"Yang Mulia… waktuku hampir habis."

Nada bicaranya melembut.

"Maafkan hamba. Mereka telah menunggu."

Zevarian terdiam. Lalu tiba-tiba—tangannya terulur, menarik lengan Shalla.

"Kemari…"

Shalla tersentak, tubuhnya menegang.

"Yang Mulia…?"

Zevarian bangkit dari tempat duduknya. Gerakannya perlahan, namun tatapannya tak pernah lepas dari Shalla. Ada sesuatu dalam sorot mata itu—gelisah, ragu, namun juga dorongan yang sulit ditahan.

"Yang Mulia…?" Shalla berujar pelan, kebingungan.

Namun sebelum sempat ia memahami, Zevarian telah melangkah mendekat.

Terlalu dekat.

Napas mereka nyaris bersentuhan.

Shalla membelalak, refleks mundur setapak.

"A-apa—"

Kalimatnya terhenti.

Zevarian, seolah digerakkan oleh sesuatu yang melampaui nalar, mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh tengkuk Shalla dengan gemetar.

Bibir mereka bertemu.

Waktu seakan berhenti.

Shalla tertegun, tubuhnya menegang dalam keterkejutan. Tangannya terangkat, hendak menolak, namun Zevarian menahan dengan lembut, seolah takut kehilangan keberanian yang baru saja ia kumpulkan.

Ciuman itu bukan kasar.

Namun sarat emosi yang tak terucap.

Shalla berusaha melepaskan diri.

"Yang Mulia—"

Namun suara itu tenggelam.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang berdenyut. Dan entah mengapa…

Perlawanan Shalla perlahan melemah.

Matanya terpejam.

Kesadarannya seperti ditarik arus yang hangat dan membingungkan. Sebuah rasa yang tak sempat ia pahami.

Zevarian, yang diliputi dorongan perasaan, menarik tubuh Shalla semakin dekat. Jemarinya mencengkeram pinggang gadis itu, menuntunnya hingga tubuh Shalla terbaring di atas ranjang megah.

Tautan mereka terlepas.

Napas keduanya memburu.

Shalla tersadar lebih dulu.

Matanya membelalak. Ia berusaha bangkit. "Yang Mulia, ini ti—"

Namun Zevarian kembali mendekat, seolah tak ingin kehilangan momen yang telah membuat jantungnya berdegup liar.

"Shalla…" Nada suaranya berat.

Terlalu dekat.

Terlalu berbahaya bagi kewarasan Shalla.

Dan tepat saat itu...

"SHALLA!"

Suara tegas menggema dari luar. Suara dari seorang ratu menggema di luar sana.

Shalla tersentak hebat.

Dengan tenaga yang tersisa, ia mendorong tubuh Zevarian. Tautan itu benar-benar terputus. Ruangan mendadak terasa sunyi… sekaligus menyesakkan.

Wajah Shalla memerah, campuran antara malu, terkejut, dan kegelisahan yang tak terdefinisi.

"Yang Mulia…" suaranya bergetar. "Jangan… jangan lakukan hal semacam itu…"

Zevarian membeku.

Kesadarannya seperti kembali seketika.

Rona merah menjalar di wajahnya.

"Em… maafkan aku…" ucapnya lirih, nyaris tak berani menatap Shalla.

Shalla menggeleng pelan, masih diliputi keguncangan.

"Ya sudah… aku izin pergi, Yang Mulia…"

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, langkahnya tergesa meninggalkan ruangan.

Putra Mahkota itu menunduk, jemarinya mengepal.

"Menolakku… namun tak sepenuhnya menjauh."

________

Terima kasih untuk kalian yang telah melangkah sejauh ini bersama Shalla ❣️

Tak pernah ia bayangkan sebelumnya…

di tengah takdir yang terus berubah, Shalla justru menerima sebuah perlindungan dari Pangeran Caelvion. ✨

Sebuah perhatian yang tampak sederhana, namun menyimpan makna yang tak mudah ditebak.

Lalu… apakah sikap kedua kakak beradik itu semata-mata demi keselamatan Shalla? Ataukah ada perasaan dan rahasia lain yang tersembunyi di baliknya?

Semua jawabannya menanti di bab berikutnya. 💫

Jika kalian menemukan kekeliruan atau typo, jangan ragu untuk memberitahu ya 🤍

Untuk kabar update dan kelanjutan cerita:

📍 I* @Wystlumi

Sampai jumpa di bab selanjutnya…

#TabibDesaPemikatParaPria 💖

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    23

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Terbuk

    shjskepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status