Shalla terpaku mendengar titah prajurit itu. Jantungnya berdebar tak menentu, kegugupan menjalari relung dadanya. Namun tanpa keberanian untuk membantah, ia melangkah ragu mendekati kuda yang berdiri gagah di hadapannya. Gerakannya canggung, jemarinya gemetar saat mencoba menapak sanggurdi. Menyadari kesulitannya, Thava segera mengulurkan tangan. "Peganglah, Nona." Shalla menatap telapak tangan itu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. Jemarinya menggenggam kuat, seolah itulah satu-satunya penopang keberaniannya. Dengan bantuan Thava, ia naik perlahan, hingga akhirnya duduk sempurna di atas pelana. Napasnya masih terasa tercekat, tubuhnya tegang oleh rasa gugup yang belum mereda. Tak lama, Thava menyusul naik ke belakangnya. Zirah peraknya beradu lirih, sementara kuda itu mengibaskan surainya, seakan turut merasakan ketergesaan. Relung dadanya bergemuruh, tubuhnya kaku merasakan kehadiran pria itu di belakangnya, seolah-olah sedang diantar seorang pangeran. Astaga… semu
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-18 อ่านเพิ่มเติม