Accueil / Fantasi / Tabib Desa, Pemikat Para Pria / Bab 6 || Panggilan Tharvoria

Partager

Bab 6 || Panggilan Tharvoria

last update Date de publication: 2026-02-20 22:45:37

Langit telah lama tenggelam dalam kegelapan. Matahari mundur tanpa jejak, menyisakan hamparan malam yang sunyi. Bintang-bintang berpendar lembut di kubah langit, berkelip seperti bisikan rahasia yang enggan dipahami.

Istana Velmoria perlahan terlelap.

Lorong-lorong megah membisu, pelita dinding meredup tenang, dan sebagian besar penghuni istana telah hanyut dalam mimpi mereka.

Namun tidak dengan Shalla.

Gadis itu masih terjaga.

Duduk sendiri di ruangannya yang remang, ditemani secangkir kopi yang uapnya menari tipis di udara. Aroma pahitnya memenuhi ruangan, tajam namun menenangkan, seolah menjadi satu-satunya pengusir lelah di malam yang panjang itu.

Malam ini, Shalla tak berniat memejamkan mata.

Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

Sesuatu yang tak dapat diabaikan.

Perlahan, ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang meracik ramuan. Cairan keperakan di dalam botol kaca berpendar samar, memantulkan cahaya lilin di hadapannya.

Pikirannya kembali pada percakapan itu.

Suara Putra Mahkota Zevarian.

Masih jelas terngiang.

"Aku tak tahu, Shalla… mimpi itu terasa aneh."

"Akhir-akhir ini, aku selalu melihat seorang wanita."

"Dan itu… menjijikkan."

"Aku bahkan merasa seolah… bercumbu dengannya."

Shalla menghela napas pelan.

Namun keganjilan itu tak berhenti di sana.

Karena beberapa waktu sebelumnya…

Pangeran Caelvion mengucapkan hal yang nyaris serupa.

"Wanita itu kembali muncul, Shalla! Aku tak mengenalnya, dan mimpi itu terasa nyata, seolah aku memiliki hubungan dengannya. Karena itu, aku tak bisa tidur nyenyak."

Keheningan ruangan mendadak terasa lebih berat.

Jari-jari Shalla menegang di atas meja kayu.

Dua mimpi.

Dua orang berbeda.

Satu pola yang sama.

Tatapan Shalla perlahan menajam.

"Kutukan…" gumam Shalla lirih.

Ingatan tentang kutukan bayangan Virelia kembali memenuhi benaknya. Polanya terasa ganjil, seolah ada sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.

Namun menghadirkan kegelisahan yang sama.

"Jika kutukan itu memang diarahkan pada Pangeran Caelvion…"

Ia terdiam sejenak.

Alisnya berkerut. "Lalu mengapa Putra Mahkota mengalami gejala yang serupa…?"

Pikirannya bergerak cepat, menimbang kemungkinan demi kemungkinan. Kutukan bukanlah sekadar energi liar. Ia memiliki kehendak. Ia memilih. Ia mencari celah.

Dan itu berarti…

Napas Shalla melambat.

"Targetnya sejak awal bukan hanya satu orang."

"Dan…" bisiknya pelan.

"Siapa wanita itu…?"

Ketika Shalla meneguk kopi yang mulai mendingin, gerakannya mendadak terhenti.

Matanya membelalak.

Di tengah keheningan istana yang seharusnya terlelap, terdengar alunan harpsichord—nada-nada halus namun ganjil, mengalun panjang menembus lorong malam.

Shalla menoleh perlahan.

Alisnya berkerut.

"Siapa gerangan yang memainkan musik pada jam sedalam ini…?" batinnya terucap.

Jantungnya berdenyut tak nyaman.

Nada itu… terlalu sunyi seolah tidak dimainkan untuk didengar manusia.

"Ah… ada yang tidak beres."

Tanpa berpikir panjang, Shalla bangkit. Gaun tidurnya berayun mengikuti langkah cepatnya yang berubah menjadi lari kecil menyusuri lorong istana yang remang.

Cahaya obor menari di dinding batu.

Suara harpsichord semakin jelas.

Semakin dekat.

Ia berhenti di depan ruang seni.

Pintu besar itu tertutup, namun melodi masih merembes keluar seperti bisikan.

Shalla mengintip dari celah pintu, menangkap seorang wanita duduk membelakanginya, jemari pucatnya menari di atas tuts harpsichord. Gerakannya lembut… namun ada sesuatu yang terasa salah.

Shalla memberanikan diri.

"Nona…?" panggilnya.

Tak ada sahutan.

Langkahnya memasuki ruangan dengan hati-hati sambil berkata,

"Nona, gerangan apakah gerangan yang membawamu terjaga di malam gulita?"

Nada musik mendadak terhenti.

Sunyi.

Perlahan… wanita itu menoleh.

Napas Shalla tercekat.

Wajah itu pucat tak bernyawa.

Mata merah menyala bagai bara.

Senyum yang terukir… bukan senyum manusia.

Tubuh Shalla refleks mundur setapak. Tangannya mencengkeram dada, denyut jantungnya melonjak, namun ia belum sepenuhnya diliputi takut, lebih kepada keterkejutan yang menusuk.

Shalla menelan ludah.

Dengan suara yang berusaha tetap teguh, ia berujar dalam bahasa istana yang halus namun kuno, "Veyra lun’thae… illun shara ven’reth?" (Wahai jiwa yang terselubung… siapakah dirimu sebenarnya?)

Wanita itu tertawa lirih. Suaranya berat, berlapis gema yang tak wajar.

"Thar’en valeth… kau malah menanyakan keadaanku?" (Betapa lancang… justru kabarkulah yang kau tanyakan?)

Shalla hanya tersenyum tipis. Wajahnya tenang, seolah pemandangan ganjil semacam ini bukan hal baru baginya.

Dengan nada tetap terkendali, ia kembali bertanya,

"Vaerith shara, Nona… thien’kar nalum ven’rae?Kelun’thae Nenny vaerith?" (Apa yang kau kehendaki, Nona… mengapa kau merasuki dayang Nenny?)

Sorot mata wanita itu menyala.

"Illun Virelia." ( Kutu­kan Bayangan Virelia.)

Shalla tersentak.

"Illun itu… kau mengetahui perihalnya?" ( Kutukan itu… kau mengetahui tentangnya?)

Wanita itu berbisik, namun gaung suaranya memenuhi ruangan.

"Veyrath Illun’ta Tharvoria… prelun shara ven’thae." (Pergilah ke Gunung Tharvoria… sebelum Bulan Ketiga memudar.)

Degup jantung Shalla mengeras.

"Lun’vae… lalu apa lagi?" ( Lalu… apa lagi?)

"Selyn’kar dothrae kelum… vaerith nalor shien."

(Untuk menemukan akar kutukan… kau harus menyingkap rahasia lama.) jawab wanita itu.

"Orrath’mae elirun… talaeth kyn vaer.

(Jangan menunda. Waktu semakin sempit… malam akan menjadi saksimu.)

"Syrath’el norval, thien’kar shara velith." (Hanya dengan hati yang berani… kutukan akan terungkap.)

Langkah kaki tergesa terdengar.

"Shalla?!" panggil Lioren, penyihir istana, berdiri di ambang pintu.

Energi di sekitar wanita itu bergetar liar.

"Kelum’tae… ingatlah itu." (Camkanlah… jangan lupakan.)

Shalla maju setapak, napasnya tertahan.

"Vaerith lun’thae! Nalor shien ven’rae?!" (Katakan padaku! Rahasia apa yang kau maksud?!)

Belum sempat jawaban terucap— cahaya sihir menyambar dari arah pintu, membuat tubuh Nenny terhempas hingga jatuh tak sadarkan diri.

Shalla segera berlari menghampiri dayang yang terkulai itu. Napasnya masih tersengal ketika ia menoleh ke belakang.

"Tolong, Tuan!" titahnya tergesa.

Tanpa banyak tanya, Lioren langsung bergerak. Ia berlari mendekat, lalu mengangkat tubuh dayang itu dengan sigap. Shalla mengikuti di sisinya, langkah mereka cepat menembus lorong istana.

Saat keluar dari ruang seni, mereka hampir berpapasan dengan Draven.

Kesatria itu mengernyit bingung. "Ada apa?!"

Tak mendapat jawaban, Draven segera mengikuti.

Sesampainya di ruangan tabib yang dipenuhi peralatan medis, aroma ramuan, serta cahaya lampu minyak yang temaram, Shalla segera bekerja. Tangannya bergerak cekatan, meracik, memeriksa, menenangkan.

Terlihat dayang itu terbaring lemah di atas ranjang.

Hening menyelimuti ruangan.

Draven yang sejak tadi menahan tanya akhirnya angkat suara. "Apa yang terjadi, Nona Shalla? Lio?"

Tatapannya berpindah dari satu ke yang lain, sarat kebingungan.

Lioren melirik Shalla.

Shalla membalas pandangan itu.

Sebuah isyarat sunyi yang hanya mereka pahami. Perlahan, Shalla mengangguk. Lioren pun berdiri.

"Ikuti kami."

Mereka bertiga berjalan meninggalkan ruangan tabib, menuju ruang studi istana, ruangan sunyi yang dipenuhi rak-rak buku tua, meja kayu besar, serta nyala lilin yang berpendar lembut.

Di sana, mereka mengambil tempat di kursi mengitari meja bundar. Cahaya keemasan menari pelan. Suasana terasa berat… sekaligus rahasia.

Draven berdiri tak jauh dari meja bundar, tatapannya tajam menelisik wajah keduanya yang sejak tadi saling melempar isyarat.

"Kalian berdua terlihat aneh sejak tadi," ujarnya akhirnya, memecah keheningan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Lioren terdiam sesaat, seolah menimbang sesuatu. "Hem… sesungguhnya aku tak ingin perkara ini tersebar," ucapnya pelan.

Draven mengernyit.

"Tersebar? Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Sejak tadi kalian berlari membawa Dayang Nenny seperti dikejar sesuatu," ujarnya.

Shalla dan Lioren saling berpandangan singkat.

"Baiklah," lanjut Lioren akhirnya. "Karena kau memang berhak mengetahui."

Ia menoleh ke arah Shalla.

"Engkaulah yang mengalaminya secara langsung. Katakanlah."

Shalla menarik napas dalam, berusaha merangkai kembali peristiwa yang masih terasa ganjil dalam ingatannya.

"Awalnya… aku hanya sedang membuat kopi, Tuan," tutur Shalla pelan. "Malam itu begitu sunyi, sampai akhirnya terdengar alunan harpsichord yang sangat nyaring."

Ia berhenti sejenak, mengingat kembali kejadian ganjil itu. "Karena penasaran, aku berjalan menuju ruang seni. Di sana, Dayang Nenny sedang memainkan harpsichord dengan begitu tenang. Aku memanggilnya… tapi tidak ada jawaban."

Draven tetap diam, memperhatikan setiap kata.

"Ketika aku mendekat…"

Nada suara Shalla berubah, lebih rendah.

"Aku sadar ada yang tidak beres..."

Tatapannya kini beralih pada Draven. "Yang kulihat bukan lagi Dayang Nenny, Tuan..."

Ruangan mendadak terasa hening.

"Ada sosok wanita berwajah pucat… matanya merah, sorotnya tajam, dan auranya sama sekali tidak terasa manusiawi."

Lioren mengangguk pelan.

"Aku menyaksikannya sendiri," ucapnya serius. "Energi di ruangan itu berubah seketika. Sangat kelam… dan tidak wajar."

Shalla menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. "Aku memang terkejut pada awalnya. Tapi setelah ia menyebutkan kutukan itu… rasa takutku justru hilang. Aku malah ingin tahu lebih jauh."

Draven yang sejak tadi terdiam akhirnya mencondongkan tubuhnya. Sorot matanya tajam, penuh rasa ingin tahu. "Dia mengatakan apa, Shalla?"

Shalla menarik napas, namun kegelisahan jelas terdengar dalam suaranya. "Ia menyebut Kutukan Bayangan Virelia… dan memerintahkan kita menuju Gunung Tharvoria."

Nada bicaranya mulai goyah.

"Katanya… sebelum Bulan Ketiga memudar."

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Lioren mengeraskan rahangnya, wajahnya berubah serius. "Itu berarti tenggat waktu."

Ia menatap keduanya.

"Dan waktunya sangat sempit."

Draven berpikir cepat. Alisnya berkerut, lalu perlahan ia mengangguk.

"Tujuh hari…"

Suaranya rendah, namun tegas. "Jika peringatan itu benar, maka apa pun jawabannya… berada di Tharvoria."

Shalla segera menyahut, nyaris tanpa ragu. "Kita harus berangkat."

Namun detik berikutnya, kesadaran menghantam Draven.

Ia mendesah pelan. "Gunung Tharvoria…"

Tatapannya mengeras. "Itu bukan tempat yang didatangi dengan gegabah."

Shalla menatapnya balik, tak kalah serius.

"Aku tahu."

Nada suaranya kini lebih tenang, meski beban terasa berat.

"Karena itu kita tak bisa menunda. Tujuh hari bukanlah waktu yang panjang."

Ia menegaskan, "Kita harus menyampaikan hal ini kepada Raja dan Ratu."

Lioren memecah keheningan, meski nada suaranya terdengar berat. "Semakin cepat kita bertindak, semakin baik. Jika tidak…"

Ia terdiam sejenak, seolah menimbang kata-katanya. "Keadaan Putra Mahkota bisa memburuk..."

"Sudah!!" Shalla memotong cepat, nada suaranya tegas namun menyimpan kegelisahan.

"Jangan ucapkan kemungkinan terburuk seolah itu kepastian."

Ruangan kembali sunyi sesaat.

Shalla menarik napas, berusaha menenangkan pikirannya sendiri. "Kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan sekarang!"

Tatapannya beralih pada keduanya.

"Kita tentukan siapa yang akan berangkat."

Tanpa ragu, Draven menjawab, "Aku ikut."

Lioren menyusul, suaranya mantap. "Aku juga."

Shalla mengangguk pelan, seakan keputusan itu memang telah ia duga. "Kalau begitu… kita bertiga."

Ia menatap mereka bergantian.

"Gunung Tharvoria bukan tempat untuk rombongan. Terlalu berbahaya, dan terlalu mudah menarik perhatian."

Senyum tipis muncul di wajah Lioren. "Keputusan yang berani." Ia menyandarkan punggungnya. "Dan sangat khas dirimu, Shalla!"

Shalla hanya tersenyum kecil, namun sorot matanya meredup.

"Ini bukan soal keberanian." Nada suaranya melembut. "Bagaimanapun juga, Putra Mahkota harus diselamatkan."

Ia menunduk sejenak. "Selama ini aku mengira kutukan itu telah sirna…"

Jarinya mengepal pelan di atas meja. "Padahal aku hanya meredakannya. Bukan benar-benar melepaskannya..."

Keheningan menyelimuti mereka.

"Aku merasa bersalah..."

Suara Shalla hampir seperti bisikan.

Draven, yang sejak tadi memperhatikannya, perlahan mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh punggung tangan Shalla dengan lembut namun pasti. "Jangan pikul semua beban sendirian..."

Nada suaranya rendah, namun penuh keyakinan. "Kutukan ini bukan tanggung jawabmu seorang."

Tatapannya mengeras.

"Kita akan menghadapi ini bersama. Menemukan pelakunya… dan mengakhirinya."

Di seberang meja, Lioren mengamati dalam diam. Ada kilatan tak senang yang sempat melintas di matanya, meski suaranya tetap terdengar tenang.

"Tentu saja."

Ia berkata pelan. "Kau tidak sendiri, Shalla."

Shalla mengangkat wajahnya, lalu tersenyum kecil.

"Aku tahu."

Namun kali ini, senyumnya terasa lebih ringan.

____________

Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah berjalan sejauh ini bersama Shalla ❣️

Shalla, Draven, dan Lioren… mendapatkan petunjuk, dan mereka akan pergi ke Gunung Tharvoria ⚡⚡

Namun, akankah Raja dan Ratu mengizinkan perjalanan nekat itu?

Dan… rahasia apa yang sebenarnya menanti mereka di sana?

Segala jawabannya akan terungkap di bab berikutnya. 💫

Jika menemukan kekeliruan atau typo, jangan ragu untuk memberitahu ya 🤍

Untuk kabar update dan kelanjutan cerita:

📍 I* @Wystlumi

Sampai jumpa di bab selanjutnya…

#TabibDesaPemikatParaPria 💖

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 23 || Pelarian Sang Pengutuk

    Draven merasa dirinya hanyalah orang luar dalam perkara ini, seseorang yang seharusnya tidak mengetahui rahasia sebesar itu. Ia perlahan bangkit dari duduknya, diikuti oleh Lioren di sampingnya. "Paduka… mohon maaf telah memotong pembicaraan," ucapnya hati-hati, menundukkan kepala. "Izinkan hamba pergi untuk mengurus jasad almarhum Yemmia… beserta dua perempuan lainnya." "Aku juga ikut!" sahut Shalla cepat, turut berdiri, wajahnya masih menyimpan keguncangan. Raja Eldric mengangguk pelan, meski sorot matanya masih berat. "Silakan. Lakukan yang terbaik bagi mereka." Ketiganya menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu bersama sisa-sisa ketegangan yang belum mereda. Pintu tertutup, keheningan pun jatuh. Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sunyi, lebih sempit, dan lebih mencekam seolah udara di dalamnya dipenuhi oleh beban yang tak kasatmata. Raja Eldric perlahan mendekat ke arah Caelvion. Ia duduk lebih dekat, namun jarak di antara mereka teras

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 || Benih yang Tak Pernah Lahir

    Malam masih terus berlangsung. Mata-mata mereka tetap terbuka, menatap ke sekeliling. Draven dan Lioren, berdampingan dengan kedua penguasa beserta anak-anak mereka, menunggu seorang sosok untuk berbicara. Shalla. "Satu cinta kepada sang pangeran yang menolakku… Tak gentar aku menggapaimu, meski kau menyakiti jiwaku bertahun-tahun, sementara tak seorang pun menyadari penderitaanku. Takhtaku terus tertunda oleh waktu, namun satu… keteguhan mereka terlalu sulit kutembus. Diriku mempesona, indah bagaikan bunga yang mekar di siang hari, namun kau menolak menatapnya. Wanita mana yang kau pilih? Menunggu perjodohan, ataukah menerima yang lebih hina daripada aku? Bukan dia yang sesungguhnya kutuju… Melainkan darah yang lemah akan menjadi wadah bagi kebencian dan perbuatan cantikku. Mereka akan menyebutnya takdir… namun akulah yang menulis jalan itu. Aku mengikat rasa sakit dan dendam dalam setiap napas yang kau hembuskan. Dan ketika mereka mengira ini hanyalah kebetulan… aku tersenyum

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 || Ritual 900 : Kutukan Bayangan Virelia

    Diskusi berlangsung panjang, membahas setiap detail yang diperlukan, baik perlengkapan maupun kesiapan diri masing-masing. Hingga pada akhirnya, sebuah keputusan pun diambil. Ritual akan dilangsungkan saat malam benar-benar turun, ketika cahaya matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. Sebelum ritual dimulai, terdapat satu hal yang tak boleh dilewatkan. Setiap orang yang terlibat diwajibkan meminum satu gelas rebusan daun hitam langka. Cairan itu berwarna pekat, hampir menyerupai bayangan itu sendiri, dengan aroma pahit yang menusuk. Bukan sekadar tradisi, melainkan perlindungan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan menyentuh tubuh maupun jiwa mereka selama ritual berlangsung. Zevarian tidak ikut masuk ke dalam lingkaran. Ia hanya mengawasi dari luar, duduk di atas kursi rodanya dengan balutan pakaian hitam yang menambah pucat wajahnya. Tak ada pelayan di sisinya, tak ada satu pun yang menemaninya. Ia memilih berada di sana seorang diri, dalam diam yang berat, seolah

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Dua Tahun Sang Putra Mahkota Terbelenggu

    "Keseluruhan perlengkapan ini… sangat menyerupai ritual yang pernah digunakan pada tahun 900," ujar Raja Eldric seraya mengangguk pelan. Tatapannya tertuju pada Zevarian dengan sorot bangga yang samar. "Terima kasih, putra sulungku. Usiamu mungkin telah banyak tergerus waktu… namun ingatanmu tetap tajam. Tidak sepertiku." "Selalu saja begitu…" dengkus Zevarian pelan, menatap ayahnya dengan raut malas yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Beberapa orang di ruangan itu tersenyum, bahkan terdengar tawa kecil yang tertahan, mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara. "Jangan memasang wajah seolah dunia runtuh seperti itu, Nak," ucap Ratu Seraphina lembut. "Lagipula… tak lama lagi kau akan menikah." Wajah Zevarian seketika menegang. "Bunda… apa maksudmu?" Ratu Seraphina segera mengalihkan pandangannya, seakan menyadari bahwa ucapannya meluncur terlalu jauh. Raja Eldric pun menyela dengan cepat, suaranya kembali tegas. "Sudahlah. Ibumu hanya bergurau." Ia menco

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 7 || Permohonan Seorang Pangeran

    Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Shalla, Lioren, dan Draven telah berdiri di hadapann singgasana Raja dan Ratu. Fajar bahkan belum sepenuhnya terbit, namun suasana istana telah dipenuhi ketegangan yang sunyi. Raja Eldric dan Ratu Seraphina saling berpandangan sejenak, seolah menimbang kep

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 5 || Takdir Sang Tabib Istana

    Sementara itu, pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, tak memberi ruang bagi keheningan untuk bernafas. Shalla tetap berdiri tenang, meski sorot mata bangsawan di hadapannya terasa menekan. "Hamba hanya mempelajari warisan ramuan desa, Paduka," ujarnya lembut, namun mantap. "Leluhur

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 4 || Kutukan Bayangan Virelia

    "Apa katamu…?" desis Raja Eldric, suaranya rendah namun sarat tekanan. Tatapannya beralih cepat kepada putranya. "Caelvion! Jelaskan!!" "Kenapa justru aku yang dituduh, Ayah?" balas Pangeran Caelvion, nadanya tertahan, antara terkejut dan tersinggung. Namun sebelum bara emosi membesar, Shalla

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 3 || Kutukan yang Terungkap

    Tangannya meraih botol kaca, menyingkap sumbatnya dengan hati-hati. Cairan di dalamnya berkilau lembut, berpadu warna emas dan kehijau-hijauan, seakan menari-nari dalam cahaya ruangan. Pilihan ini tak sembarangan—Shalla tahu, cairan ini dipilih berdasarkan respon energi gaib yang sempat menyelimu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status