Share

25

last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 17:00:33

kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata.

Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya.

"Tuan…" gumam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 23 || Pelarian Sang Pengutuk

    Draven merasa dirinya hanyalah orang luar dalam perkara ini, seseorang yang seharusnya tidak mengetahui rahasia sebesar itu. Ia perlahan bangkit dari duduknya, diikuti oleh Lioren di sampingnya. "Paduka… mohon maaf telah memotong pembicaraan," ucapnya hati-hati, menundukkan kepala. "Izinkan hamba pergi untuk mengurus jasad almarhum Yemmia… beserta dua perempuan lainnya." "Aku juga ikut!" sahut Shalla cepat, turut berdiri, wajahnya masih menyimpan keguncangan. Raja Eldric mengangguk pelan, meski sorot matanya masih berat. "Silakan. Lakukan yang terbaik bagi mereka." Ketiganya menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu bersama sisa-sisa ketegangan yang belum mereda. Pintu tertutup, keheningan pun jatuh. Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sunyi, lebih sempit, dan lebih mencekam seolah udara di dalamnya dipenuhi oleh beban yang tak kasatmata. Raja Eldric perlahan mendekat ke arah Caelvion. Ia duduk lebih dekat, namun jarak di antara mereka teras

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 || Benih yang Tak Pernah Lahir

    Malam masih terus berlangsung. Mata-mata mereka tetap terbuka, menatap ke sekeliling. Draven dan Lioren, berdampingan dengan kedua penguasa beserta anak-anak mereka, menunggu seorang sosok untuk berbicara. Shalla. "Satu cinta kepada sang pangeran yang menolakku… Tak gentar aku menggapaimu, meski kau menyakiti jiwaku bertahun-tahun, sementara tak seorang pun menyadari penderitaanku. Takhtaku terus tertunda oleh waktu, namun satu… keteguhan mereka terlalu sulit kutembus. Diriku mempesona, indah bagaikan bunga yang mekar di siang hari, namun kau menolak menatapnya. Wanita mana yang kau pilih? Menunggu perjodohan, ataukah menerima yang lebih hina daripada aku? Bukan dia yang sesungguhnya kutuju… Melainkan darah yang lemah akan menjadi wadah bagi kebencian dan perbuatan cantikku. Mereka akan menyebutnya takdir… namun akulah yang menulis jalan itu. Aku mengikat rasa sakit dan dendam dalam setiap napas yang kau hembuskan. Dan ketika mereka mengira ini hanyalah kebetulan… aku tersenyum

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 || Ritual 900 : Kutukan Bayangan Virelia

    Diskusi berlangsung panjang, membahas setiap detail yang diperlukan, baik perlengkapan maupun kesiapan diri masing-masing. Hingga pada akhirnya, sebuah keputusan pun diambil. Ritual akan dilangsungkan saat malam benar-benar turun, ketika cahaya matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. Sebelum ritual dimulai, terdapat satu hal yang tak boleh dilewatkan. Setiap orang yang terlibat diwajibkan meminum satu gelas rebusan daun hitam langka. Cairan itu berwarna pekat, hampir menyerupai bayangan itu sendiri, dengan aroma pahit yang menusuk. Bukan sekadar tradisi, melainkan perlindungan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan menyentuh tubuh maupun jiwa mereka selama ritual berlangsung. Zevarian tidak ikut masuk ke dalam lingkaran. Ia hanya mengawasi dari luar, duduk di atas kursi rodanya dengan balutan pakaian hitam yang menambah pucat wajahnya. Tak ada pelayan di sisinya, tak ada satu pun yang menemaninya. Ia memilih berada di sana seorang diri, dalam diam yang berat, seolah

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Dua Tahun Sang Putra Mahkota Terbelenggu

    "Keseluruhan perlengkapan ini… sangat menyerupai ritual yang pernah digunakan pada tahun 900," ujar Raja Eldric seraya mengangguk pelan. Tatapannya tertuju pada Zevarian dengan sorot bangga yang samar. "Terima kasih, putra sulungku. Usiamu mungkin telah banyak tergerus waktu… namun ingatanmu tetap tajam. Tidak sepertiku." "Selalu saja begitu…" dengkus Zevarian pelan, menatap ayahnya dengan raut malas yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Beberapa orang di ruangan itu tersenyum, bahkan terdengar tawa kecil yang tertahan, mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara. "Jangan memasang wajah seolah dunia runtuh seperti itu, Nak," ucap Ratu Seraphina lembut. "Lagipula… tak lama lagi kau akan menikah." Wajah Zevarian seketika menegang. "Bunda… apa maksudmu?" Ratu Seraphina segera mengalihkan pandangannya, seakan menyadari bahwa ucapannya meluncur terlalu jauh. Raja Eldric pun menyela dengan cepat, suaranya kembali tegas. "Sudahlah. Ibumu hanya bergurau." Ia menco

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status