MasukShaenalla, atau Shalla, seorang wanita desa terkenal karena kemahirannya meramu obat yang mampu menyembuhkan penyakit langka. Suatu hari, Shalla diundang ke Istana Velmoria untuk merawat putra mahkota, yang terletak di wilayah timur Kerajaan Aethervald, tersembunyi di antara pegunungan dan lembah, jalannya masih bisa ditempuh dari desanya. Siapa yang tahu apa yang menanti hidupnya selanjutnya? Shalla terperangkap dalam intrik Istana Velmoria yang megah dan penuh rahasia. Setelah berhasil menyembuhkan putra mahkota dengan ramuan ampuh yang menyembuhkan dalam sekejap mata, Raja dan Ratu, tanpa basa-basi, segera mengangkatnya menjadi Tabib Istana. Shalla pun menerima tawaran emas itu. Namun, hidupnya tak berhenti sampai di situ. Beberapa pria di Istana, termasuk Putra Mahkota dan para pangeran lainnya—diam-diam menaruh perhatian padanya, tatapan mereka penuh rahasia dan pesona yang sulit diabaikan, seakan mengundang hatinya untuk takluk. Hal itu membuat Shalla bingung terhadap perilaku mereka yang berbeda-beda menimbulkan rasa takut. Meski demikian, Shalla sadar bahwa dirinya hanyalah seorang wanita desa biasa, tak seharusnya berhubungan dengan mereka. Di balik itu, apa sebenarnya yang diinginkan para pria istana darinya? Apakah sekadar perhatian, permainan hati, atau rahasia lain yang belum terungkap?
Lihat lebih banyakkepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan
kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan
Draven merasa dirinya hanyalah orang luar dalam perkara ini, seseorang yang seharusnya tidak mengetahui rahasia sebesar itu. Ia perlahan bangkit dari duduknya, diikuti oleh Lioren di sampingnya. "Paduka… mohon maaf telah memotong pembicaraan," ucapnya hati-hati, menundukkan kepala. "Izinkan hamba pergi untuk mengurus jasad almarhum Yemmia… beserta dua perempuan lainnya." "Aku juga ikut!" sahut Shalla cepat, turut berdiri, wajahnya masih menyimpan keguncangan. Raja Eldric mengangguk pelan, meski sorot matanya masih berat. "Silakan. Lakukan yang terbaik bagi mereka." Ketiganya menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu bersama sisa-sisa ketegangan yang belum mereda. Pintu tertutup, keheningan pun jatuh. Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sunyi, lebih sempit, dan lebih mencekam seolah udara di dalamnya dipenuhi oleh beban yang tak kasatmata. Raja Eldric perlahan mendekat ke arah Caelvion. Ia duduk lebih dekat, namun jarak di antara mereka teras
Malam masih terus berlangsung. Mata-mata mereka tetap terbuka, menatap ke sekeliling. Draven dan Lioren, berdampingan dengan kedua penguasa beserta anak-anak mereka, menunggu seorang sosok untuk berbicara. Shalla. "Satu cinta kepada sang pangeran yang menolakku… Tak gentar aku menggapaimu, meski kau menyakiti jiwaku bertahun-tahun, sementara tak seorang pun menyadari penderitaanku. Takhtaku terus tertunda oleh waktu, namun satu… keteguhan mereka terlalu sulit kutembus. Diriku mempesona, indah bagaikan bunga yang mekar di siang hari, namun kau menolak menatapnya. Wanita mana yang kau pilih? Menunggu perjodohan, ataukah menerima yang lebih hina daripada aku? Bukan dia yang sesungguhnya kutuju… Melainkan darah yang lemah akan menjadi wadah bagi kebencian dan perbuatan cantikku. Mereka akan menyebutnya takdir… namun akulah yang menulis jalan itu. Aku mengikat rasa sakit dan dendam dalam setiap napas yang kau hembuskan. Dan ketika mereka mengira ini hanyalah kebetulan… aku tersenyum












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.