Tabib Desa, Pemikat Para Pria

Tabib Desa, Pemikat Para Pria

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Oleh:  Wysta LuminarraiBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
25Bab
3Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Shaenalla, atau Shalla, seorang wanita desa terkenal karena kemahirannya meramu obat yang mampu menyembuhkan penyakit langka. Suatu hari, Shalla diundang ke Istana Velmoria untuk merawat putra mahkota, yang terletak di wilayah timur Kerajaan Aethervald, tersembunyi di antara pegunungan dan lembah, jalannya masih bisa ditempuh dari desanya. Siapa yang tahu apa yang menanti hidupnya selanjutnya? Shalla terperangkap dalam intrik Istana Velmoria yang megah dan penuh rahasia. Setelah berhasil menyembuhkan putra mahkota dengan ramuan ampuh yang menyembuhkan dalam sekejap mata, Raja dan Ratu, tanpa basa-basi, segera mengangkatnya menjadi Tabib Istana. Shalla pun menerima tawaran emas itu. Namun, hidupnya tak berhenti sampai di situ. Beberapa pria di Istana, termasuk Putra Mahkota dan para pangeran lainnya—diam-diam menaruh perhatian padanya, tatapan mereka penuh rahasia dan pesona yang sulit diabaikan, seakan mengundang hatinya untuk takluk. Hal itu membuat Shalla bingung terhadap perilaku mereka yang berbeda-beda menimbulkan rasa takut. Meski demikian, Shalla sadar bahwa dirinya hanyalah seorang wanita desa biasa, tak seharusnya berhubungan dengan mereka. Di balik itu, apa sebenarnya yang diinginkan para pria istana darinya? Apakah sekadar perhatian, permainan hati, atau rahasia lain yang belum terungkap?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 || Panggilan Sang Tabib Desa

Di dalam kamar pribadi Putra Mahkota Zevarian Valthor, ada seorang tabib dari luar berjubah ungu tua dengan wajah berlekuk waktu sedang memeriksa kondisi Putra Mahkota Zevarian Valthor yang kini tengah terbaring di atas ranjang sutra berlapis emas.

Terlihat rautnya lelah, matanya redup seperti cahaya rembulan yang pudar, melihat tabib istana yang entah ke sekian kalinya telah masuk ke dalam kamarnya.

Sungguh meresahkan.

Setelah lama terdiam, pria tua itu akhirnya bersuara dengan suara serak penuh hormat, "Yang Mulia Putra Mahkota Zevarian, mohon ampun sebesarnya, bilamana hasil pemeriksaan hamba tak mampu mengungkap hakikat penyakit yang menimpa Yang Mulia…"

"Telah ku prediksi…" Zevarian batin, suara hatinya laksana angin dingin yang menyusup ke relung jiwa.

"Ah, tak apa. Terima kasih atas usaha Anda," ucapnya dengan suara lembut, menahan gelora di hatinya.

Dengan bahu merunduk lesu, tabib itu menekuk tubuhnya penuh takzim, seakan memikul beban kegagalan.

"Izinkan hamba pamit, Yang Mulia Putra Mahkota."

Jubahnya berayun lirih saat ia beranjak pergi, menelan dirinya ke balik pintu megah.

Baru saja tabib itu menghilang di balik pintu megah, seorang wanita bangsawan menerobos masuk dengan gaun yang berayun gelisah.

"Anakku, katakan padaku… apakah ada harapan?" Ibunda Seraphina mendekat cepat, nada suaranya dipenuhi cemas yang tak lagi mampu disembunyikan.

"Tak ada…" lirih Putra Mahkota Zevarian, senyum tipis terukir di wajahnya yang pucat.

"Tampaknya, tak lagi tersisa harapan bagi tubuh yang kian melemah ini. Takdirku barangkali memang bukan untuk kembali pulih…"

Ia menghela napas panjang, tatapannya meredup namun tenang. "Bukankah lebih bijak apabila takhta diwariskan kepada yang lebih pantas… daripada kerajaan kelak dipimpin oleh pewaris yang rapuh seperti diriku, Ibunda?"

Ratu Seraphina tersentak, wajahnya seketika memucat.

"Tidak… itu takkan pernah terjadi."

Suaranya bergetar, namun tegas, dipenuhi ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan.

"Jangan sekali-kali berpikir demikian, Anakku. Selama Ibunda masih bernapas, Ibunda takkan berhenti mencari jalan untukmu."

Ia menggenggam jemari Zevarian erat, seolah takut kehilangan. "Dunia ini terlampau luas untuk menyerah secepat itu… pasti masih ada harapan yang belum kita temukan."

Zevarian hanya mengembuskan napas panjang.

Tatapannya meredup, menyiratkan kelelahan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

Kata-kata itu… penghiburan yang sama, harapan yang sama, telah terucap entah berapa kali sebelumnya.

Terlampau sering hingga tak lagi mampu menenangkan hatinya.

Belum sempat suasana kembali utuh, kekacauan tiba-tiba merambat seperti badai.

Langkah berat berlari tergesa, lalu─

BRAKK!

Pintu didorong terbuka.

Seorang prajurit berdiri dengan dada naik turun, suaranya pecah oleh napas yang tersengal.

"PADUKAA!!"

"Katakan. Apa yang membuatmu tergesa seperti itu?" Raja Eldric beranjak dari singgasananya, jubahnya berdesir pelan.

"Paduka… hamba… hamba menemukan seseorang!" seru prajurit itu dengan napas tersengal.

"Seseorang yang mengetahui penyakit Yang Mulia Putra Mahkota… dan diyakini mampu menyembuhkan sakit ganjil tersebut!"

Raja Eldric memalingkan wajahnya dengan sorot tak berkenan. "Lagi… kabar kosong semacam itu lagi."

Suaranya berat, mengandung lelah yang tertahan.

"Sudah tak terhitung berapa kali janji serupa diucapkan. Namun hasilnya tetap nihil. Tiada seorang pun yang mampu memulihkan putraku."

"Tuanku… hamba bersumpah, kali ini berbeda." Prajurit itu menunduk dalam-dalam, napasnya masih terengah.

"Mohon percayalah pada hamba. Hamba takkan berani menghadap Paduka tanpa kepastian."

"Anakku telah jemu menghadapi tabib-tabib itu, Thava." Nada Ratu Seraphina terdengar dingin namun tegas. "Tak satu pun dari mereka membawa arti. Semuanya sia-sia."

Tatapannya menajam, setajam elang yang mengincar mangsanya.

"Paduka… ampunilah hamba."

Prajurit itu menunduk dalam, napasnya masih tersengal. "Jika sebelumnya hamba keliru, maka kali ini hamba berani bersumpah… tabib yang hamba temui sungguh berbeda."

Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, "Ia mampu mengenali penyakit Yang Mulia Putra Mahkota."

"Tabib siapa lagi yang kau maksud?" suara Ibunda Seraphina menajam bagai bilah es.

"Atas dasar apa engkau begitu yakin ia mampu menyelamatkan putra sulungku?"

"Tabib desa, Paduka!"

Thava menegakkan tubuhnya meski dada masih berguncang. "Seorang tabib desa yang hamba temui di luar gerbang timur!"

Raja Eldric menghentakkan tongkat kebesarannya ke lantai marmer. Denting nyaringnya menggema, seakan membungkam udara di sekeliling singgasana.

"Tabib desa?!"

Sorot matanya mengeras tajam.

"Jangan mempermainkan Paduka, Thava. Tabib desa macam apa yang kau yakini mampu menyembuhkan putra kami?"

"Tabib kerajaan kami, bahkan seluruh tabib istana, telah gagal menyingkap penyakit putraku…" Suara Ibunda Seraphina bergetar, namun sarat ketegasan.

"Bagaimana mungkin seorang tabib desa mampu melakukan apa yang tak sanggup mereka lakukan? Itu sungguh tak masuk nalar."

Suara Raja Eldric mengeras bagai baja.

"Kami tidak berniat membuang waktu untuk omong kosong… terlebih pada tabib desa semacam itu."

Sorot matanya menyipit dingin.

"Tak ada guna berharap pada sesuatu yang jelas tak sepadan."

Thava menyeka peluh yang membasahi pelipisnya, jemarinya bergetar di tepi jubah. "Hamba tidak berani bersenda gurau di hadapan Paduka."

Suaranya tertahan, namun sarat keyakinan.

"Beliau masyhur di desanya karena kepiawaian yang tak lazim. Meski namanya belum menggema luas, kesanggupannya telah nyata menyelamatkan nyawa."

Thava menunduk dalam-dalam.

"Kiranya Paduka berkenan menjadikan ini sebagai ikhtiar terakhir. Jika harapan itu hampa…"

Ia menelan napas.

"Hamba rela menerima titah hukuman."

Raja Eldric mendengus pelan.

"Huh… baiklah, Thava. Paduka akan mempertimbangkan perkataanmu."

Senyum tipis terukir di wajahnya, namun tak membawa kehangatan.

"Bila segala yang kau ucapkan terbukti nyata, ganjaran agung menantimu."

Sorot matanya mendadak mengeras. "Namun apabila harapan itu semu…" Suaranya merendah, berat dan menggetarkan. "Bersiaplah menerima titah hukuman."

"Siap, Yang Mulia! Hamba bersumpah!"

"Baiklah. Panggil segera orang yang kau maksud itu. Bawalah ia ke hadapan kami, dan perlihatkan kemahirannya di sini," titah Ratu Seraphina.

"Titah diterima, Paduka Yang Mulia." Prajurit itu menundukkan tubuhnya penuh takzim. "Hamba mohon izin untuk menjemput tabib desa tersebut."

Prajurit Thava menunggang kudanya menembus jalan setapak yang berliku di desa. Angin sore berbisik di antara pepohonan, seakan memberi petunjuk. Misinya jelas, menemukan tabib desa yang konon mampu membebaskan Putra Mahkota dari kutukan yang mengancam nyawanya.

Sementara itu…

Di tepian hutan desa, seorang gadis tampak larut dalam kegiatannya. Jemarinya bergerak cekatan memetik daun-daun herbal, menatanya perlahan ke dalam keranjang anyaman yang menggantung di lengannya.

Cahaya mentari sore menembus sela pepohonan, memancarkan bias keemasan yang lembut. Angin berembus pelan, memainkan rambut cokelat pekatnya, sementara udara senja membawa kehangatan yang menenangkan.

Segalanya terasa damai—terlalu damai, seakan takdir sengaja menyamarkan perubahan besar yang tengah mendekat.

Senyuman tipis tak lepas dari wajahnya. Gadis itu menengadah perlahan, menatap langit senja yang mulai meredup.

Semburat jingga terhampar lembut di antara awan, seolah cakrawala sedang melukis perpisahan hari dengan warna keemasan yang syahdu.

Bibirnya kian mengembang, dadanya dipenuhi kehangatan aneh yang sulit dijelaskan, rasa tenteram yang hanya hadir saat menyaksikan keajaiban alam.

"Indah sekali…" bisiknya lirih.

Tiba-tiba, gadis itu tersentak.

Sebuah sentuhan hangat mendarat di pundaknya dari belakang, begitu halus namun cukup untuk membuat jantungnya berdegup.

Dengan refleks, ia berbalik cepat. Rambut cokelat pekatnya berayun lembut mengikuti gerakan, tersibak anggun oleh hembusan senja.

Tatapannya seketika bertemu dengan sosok asing di hadapannya.

Seorang pria berdiri tegap, berbalut zirah perak yang berkilau redup diterpa cahaya langit senja. Tongkat tinggi tergenggam mantap di tangannya, sabuk kulit melingkar kokoh di pinggang, sementara jubah merah tua menjuntai gagah dari bahunya.

Gadis itu terdiam.

Matanya menelusuri setiap detail penampilan pria itu, penuh waspada sekaligus bingung. Tak sulit menebak, sosok ini jelas bukan penduduk desa.

Ada wibawa asing yang menyelimutinya. Terlalu mencolok untuk diabaikan.

"Mohon maaf… apakah Nona bernama Shaenalla Arvenia?" tanyanya akhirnya, suaranya memecah keheningan senja.

Shalla menatap pria itu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Be-benar… Tuan ini siapa…?" suara Shalla bergetar, nyaris berupa bisikan.

Pria berzirah perak itu menundukkan kepala sekadarnya. "Ampun, Nona. Hamba Thava, penjaga Istana Velmoria."

Sorot matanya tetap tegap.

"Hamba datang atas titah Paduka. Nona dimohon berkenan ikut ke istana. Putra Mahkota kami tengah dilanda sakit ganjil yang tak mampu dipecahkan para tabib."

"Bila hamba tidak keliru, Nona Shaenalla adalah tabib desa yang termasyhur di wilayah ini," ujar Thava.

"Paduka berkehendak agar Nona segera menghadap. Kehadiranmu dibutuhkan bagi keselamatan Putra Mahkota."

"Ha–hah?! A-aku…?" Shalla tergagap, jemarinya refleks menunjuk dirinya sendiri.

Thava mengangguk mantap.

"Benar. Kita harus berangkat sekarang."

"Tu–tunggu…!" Shalla tersentak panik. "Ramuan milikku… masih tertinggal di kediamanku."

"Kalau begitu, lekas ambil," balas Thava tanpa ragu. "Setelah itu, kita berangkat. Waktu tidak berpihak pada kita."

Shalla mengangguk cepat, kegugupan jelas terlukis di wajahnya.

Tanpa membuang waktu, keduanya bergegas menyusuri jalan desa menuju kediaman Shalla. Derap langkah mereka memecah kesunyian sore yang mulai meredup.

Tak lama kemudian, Shalla berlari kembali ke luar rumah dengan barang bawaannya. Namun langkahnya mendadak terhenti.

Di hadapannya, seekor kuda cokelat berdiri tegap, surainya berayun lembut diterpa angin. Tubuhnya tampak gagah, seakan memancarkan wibawa yang tak biasa bagi halaman rumah desa sederhana itu.

Shalla terpaku, matanya membesar.

"Kita… menunggang kuda?" tanyanya lirih, nada suaranya bercampur heran dan gugup.

"Benar. Kita akan menunggang kuda," jawab Thava mantap.

Shalla menoleh ke kiri dan ke kanan, tatapannya gelisah, seolah ada sesuatu yang janggal.

"Ta–tapi… di mana kuda lainnya, Tuan?" tanyanya ragu, nada suaranya bercampur gugup dan heran.

Thava menghela napas pelan.

"Kita akan menungganginya bersama. Hamba tak membawa tunggangan tambahan."

"Hah… berdua?" Mata Shalla membulat, keterkejutannya tak lagi dapat disembunyikan.

Tanpa banyak kata, Thava melangkah mendekat. Zirah peraknya berpendar samar diterpa cahaya senja.

"Tiada waktu untuk bimbang, Nona," ujarnya tegas namun tetap tertata.

"Paduka menantikan kehadiran Anda."

______

Terima kasih telah menemani cerita ini sampai akhir. ❣️❣️❣️

Apakah ada yang merasa bosan? Tidak apa-apa, kalian boleh melewati bagian ini. 😉

Atau justru penasaran dengan bab selanjutnya?

Aku senang sekali jika kalian menantikan kelanjutannya. ✨

Pendapat kalian sangat berarti bagiku, jadi jangan ragu untuk meninggalkan komentar atau dukungan.

Setiap masukan akan aku hargai sepenuh hati. 💌

#TabibDesaPemikatParaPria 💖

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
25 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status