Share

Bab 4

Author: Weni
Entah sejak kapan tungku arang di aula leluhur itu padam.

Angin dingin menerobos masuk melalui celah jendela, membuat nyala lilin bergoyang-goyang.

Aku berlutut di atas alas sembahyang, lututku perlahan mati rasa.

Dalam keadaan setengah sadar, aku kembali melihat Sagara saat berusia enam belas tahun.

Saat itu, dia masih belum menjadi Putra Mahkota yang namanya tersohor karena jasa perangnya.

Dia pernah membawaku memanjat tembok istana untuk keluar dan menonton pertunjukan. Setelah ketahuan oleh mendiang Kaisar, dia bersikeras menanggung semua kesalahan itu seorang diri.

Dua batang penggaris hukuman sampai patah saat dipukulkan kepadanya. Bahkan ketika tengkurap di dipan, dia masih sempat tersenyum kepadaku.

“Kanaya, jangan menangis.”

“Ada aku di sini. Tidak akan ada yang bisa menghukummu.”

Setelah itu, aku memang tidak pernah lagi menerima hukuman.

Sebab semua hal yang lebih menyakitkan daripada cambuk justru dia berikan sendiri kepadaku.

Aku mengeluarkan dua lembar kertas dari balik lengan bajuku.

Satu adalah salinan titah Kaisar yang dulu menetapkan pernikahan kami.

Yang satunya adalah surat pelepasan selir yang sudah kutulis.

Sagara tidak akan membiarkanku pergi.

Karena itu, aku menuliskan namanya untuknya.

Api menjilat sudut kertas itu, lalu tak lama kemudian membakar nama “Sagara” hingga menjadi abu.

Satu jam sudah lama berlalu.

Dia tidak datang.

Aku tidak terkejut.

Ratna berlari masuk ke aula leluhur sambil diterpa salju, lalu menyelimutkan jubah ke tubuhku.

“Nyonya, Tuan Muda Sulung tiba-tiba demam. Yang Mulia dan Putri Mahkota sedang menjaganya.”

“Yang Mulia menyuruh Nyonya tetap berlutut. Katanya, tunggu sampai demam Tuan Muda Sulung turun, baru dibicarakan lagi.”

Aku mengangguk.

Kalingga tidak akan kenapa-kenapa.

Ada tabib istana, obat-obatan, dan ayahnya yang menjaganya. Semuanya sudah ada di sisinya.

Dia lebih beruntung dariku.

Aku berpegangan pada meja persembahan untuk berdiri.

Ratna segera menopangku.

“Nyonya, Yang Mulia tidak mengizinkan Anda pergi.”

“Aku tidak akan keluar dari kediaman.”

“Aku cuma mau lihat Seta.”

Seta adalah kuda yang kubawa saat menikah.

Dia telah menemaniku selama lebih dari sepuluh tahun. Kini dia sudah terlalu tua untuk berlari, sehingga hanya bisa dipelihara di kandang kuda halaman belakang.

Ratna hendak memanggil orang, tetapi aku segera menghentikannya.

“Tolong antarkan kotak kayu itu kembali ke Keluarga Dipta.”

“Dan satu lagi, setelah hari terang, kau juga pulanglah.”

Air mata Ratna seketika menggenang.

“Hamba tidak mau pergi.”

“Yang Mulia masih menyimpan perasaan untuk Nyonya.”

“Setelah amarahnya reda, semuanya pasti akan membaik.”

Aku tersenyum.

Dulu, aku juga berpikir begitu.

Kupikir dia memihak kakakku hari ini karena kakakku lebih anggun dan tahu bagaimana bersikap.

Kupikir dia tidak mengizinkanku memiliki anak karena takut aku akan kesakitan.

Kupikir dia datang ke kamarku setiap dua malam sekali. Setidaknya, itu berarti aku masih berbeda dari perempuan lain.

Jika seseorang terlalu lama membohongi diri sendiri, bahkan obat pahit pun bisa terasa manis.

Namun, sesuatu yang palsu tetaplah palsu.

Aku berjalan menembus angin dan salju.

Dari aula leluhur ke kandang kuda sebenarnya hanya perlu waktu seperempat jam, tetapi entah kenapa aku berjalan begitu lama.

Mendengar langkah kakiku, Seta dengan susah payah mengangkat kepalanya, lalu menggosok bahuku dengan ujung hidungnya.

Aku bersandar di sisinya sambil mengelus surainya yang sudah kehilangan kilaunya.

“Sahabat lamaku.”

“Kamu juga mau kembali ke perbatasan, ya?”

Di sana tidak ada tembok tinggi, tidak ada banyak aturan.

Aku bisa menunggang kuda seharian penuh.

Sagara akan mengejarku dari belakang. Sambil memarahiku karena tidak menyayangi nyawaku, dia juga akan menyingkirkan dahan-dahan pohon yang melintang agar tidak mengenai tubuhku.

Saat itu, matanya hanya tertuju kepadaku.

Mungkin, dalam hidup ini, pernah sekali benar-benar diistimewakan sudah lebih dari cukup.

Tiba-tiba, rasa sakit yang hebat menghantam dadaku.

Aku terbatuk dan darah yang keluar jatuh ke atas salju, lalu segera tertutup oleh salju yang baru turun.

Tubuhku terasa semakin ringan.

Aku memeluk leher Seta, lalu perlahan memejamkan mata.

Di aula depan, demam Kalingga sudah turun.

Sagara duduk di sisi dipan. Raut muram di antara alisnya akhirnya sedikit mereda.

Kakakku menuangkan secangkir arak untuknya.

“Hari ini ulang tahunku. Yang Mulia, jangan memikirkan Adik lagi.”

“Adik selalu cepat mengalah. Sebentar lagi, dia pasti akan kembali sendiri.”

Sagara menerima cangkir arak itu, tetapi tidak meminumnya.

Tangannya tanpa sadar meraba pinggangnya.

Di sana seharusnya tergantung sebuah taring harimau.

Saat berusia enam belas tahun, setelah memberikan taring harimau itu kepadaku, dia membuat satu lagi yang persis sama untuk dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun, taring itu tidak pernah lepas dari tubuhnya.

Tanpa sebab yang jelas, taring harimau itu tiba-tiba retak menjadi dua.

Sagara menatap bagian yang patah itu. Dadanya mendadak terasa sesak.

“Sudah berapa lama dia berlutut?”

“Hampir dua jam,” jawab pengasuh Ratih.

Sagara seketika mengangkat pandangan.

“Aku menyuruhnya berlutut satu jam.”

“Kenapa tidak ada yang membawanya kembali?”

Pengasuh Ratih segera berlutut.

“Yang Mulia sibuk menjaga Tuan Muda Sulung, hamba kira ....”

“Jangan mengambil keputusan sendiri.”

Sagara meletakkan cangkir araknya, lalu bangkit dan mengambil jubahnya.

Sesampainya di pintu, dia kembali berhenti.

“Suruh orang dapur membuat semangkuk wedang jahe.”

“Dia tidak tahan pahit. Tambahkan lebih banyak gula.”

Senyum di wajah kakakku seketika memudar.

Namun, Sagara sudah memandang ke luar, ke arah angin dan salju.

“Sudahlah. Aku sendiri yang akan menjemputnya.”

Begitu kata-kata itu terucap, seorang pengawal terhuyung-huyung masuk ke aula depan.

Tubuhnya penuh salju, wajahnya pucat pasi.

Sagara mengernyitkan dahi.

“Kenapa panik begitu?”

Pengawal itu langsung berlutut.

“Yang Mulia ....”

“Nyonya Selir ditemukan di kandang kuda.”

Tangan Sagara yang menggenggam jubah seketika mengencang.

“Kalau sudah ditemukan, bawa dia kembali.”

Pengawal itu membenturkan kepalanya ke lantai dengan keras. Suaranya gemetar, nyaris tak sanggup berkata-kata.

“Nyonya tidak bisa dibawa kembali.”

“Nyonya Selir ... sudah meninggal.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 10

    Setelah dibawa ke Pengadilan Kerajaan, Indira baru menyadari bahwa kehamilannya tidak membuatnya mendapatkan pengampunan.Anak yang dikandungnya pada akhirnya tidak dapat diselamatkan.Tabib istana mengatakan bahwa rasa cemas dan takut yang berlebihan telah membuat kandungannya terguncang parah.Mengingat jasa Keluarga Dipta, Kaisar tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Gelarnya dicabut, lalu dia dikurung di kediaman terpencil dan dilarang meninggalkan tempat itu seumur hidup.Pengasuh Ratih, pengelola ruang obat, serta orang-orang yang terlibat dalam rencana pelarian itu semuanya dihukum sesuai kejahatan masing-masing.Tabib istana yang menyembunyikan kondisi penyakitnya dipecat dari jabatannya dan diasingkan.Setelah itu, Kalingga dan kedua adiknya tinggal bersama Keluarga Dipta untuk mendapatkan pengasuhan.Pada hari mereka pergi, Kalingga memeluk erat busur kecil yang telah diperbaiki itu. Setiap beberapa langkah, dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada lagi yang tersenyum da

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 9

    Sebelum Kanaya dimakamkan, Ratna kembali ke Istana Timur.Dia meletakkan sebuah busur kecil yang masih berlumuran lumpur di hadapan Sagara.“Ini diambil dari dalam kolam.”Busur itu sudah mengembang karena terlalu lama terendam air. Di permukaannya, terukir nama Kalingga dengan tulisan yang miring dan berantakan.Sagara mengenalinya. Itu ukiran tangan Kanaya.Sejak kecil, Kanaya memang suka mengukir sesuatu pada anak panah milik Sagara. Kadang-kadang namanya sendiri, kadang pula gambar kelinci yang bentuknya jauh dari bagus.Namun setelah menikah dan tinggal di Istana Timur, dia tidak pernah lagi menyentuh busur maupun anak panah.Bukan karena dia sudah tidak bisa menggunakannya.Dia hanya mengalihkan sedikit harapan itu kepada anak-anak Sagara.Sagara kemudian pergi ke kediaman Kanaya.Ruang itu benar-benar kosong.Cambuk kudanya terselip di dasar peti, busur dan anak panah sudah lama berdebu. Sementara di dalam lemari, hanya tersisa pakaian-pakaian yang anggun tetapi terkesan suram.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 8

    Saat fajar tiba, Keluarga Dipta datang.Jenderal Besar Bathara tidak mengenakan pakaian resmi, melainkan hanya zirah lamanya.Itu adalah zirah yang dikenakannya saat berperang di perbatasan.Dia masuk ke kamar tidur. Begitu melihat putri bungsunya terbaring di atas dipan, langkahnya tiba-tiba terhenti.Pada hari Kanaya menikah, dia juga pernah berdiri di tempat ini.Saat itu, Kanaya menangis sambil memeluk lengannya dan berkata bahwa dia tidak ingin berbagi suami dengan kakaknya.Namun, titah Kaisar sudah ditetapkan.Keluarga Dipta bahkan telah menyerahkan setengah kekuasaan atas pasukan mereka, tetapi tetap tidak bisa menukar kembali kebebasan yang diinginkan putrinya.Jenderal Besar Bathara berjalan ke sisi dipan dan menyibak helaian rambut yang berantakan dari wajah putrinya.Dia terdiam cukup lama, hingga akhirnya berkata dengan suara serak, “Ayah datang terlambat.”Sagara berlutut di luar ruangan.Saat Jenderal Besar Bathara keluar, Sagara segera mengulurkan tangan hendak membantu

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 7

    Wajah Indira seketika pucat.“Apa maksud Yang Mulia?”Dia memaksakan seulas senyum.“Kanaya itu adik kandungku. Mana mungkin aku mencelakainya?”“Pengurus ruang obat dan tabib istana sudah mengaku.”Sagara berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah.“Haruskah aku membawa Pengasuh Ratih kemari juga?”Kepanikan sempat melintas di mata Indira, tetapi dia segera menenangkan diri.“Mungkin Pengasuh Ratih bertindak atas kemauannya sendiri.”“Dia selalu khawatir Kanaya akan melahirkan seorang putra dan mengancam kedudukan Kalingga. Aku tidak pernah menyuruhnya mencelakai siapa pun.”Dari luar pintu terdengar suara rantai besi yang diseret di lantai.Pengasuh Ratih dibawa masuk oleh para pengawal.Baru sepuluh pukulan dijatuhkan, dia sudah mengakui semuanya.Obat pemutus keturunan itu diberikan atas perintah Indira.Tabib istana itu diancam olehnya.Bahkan kereta yang masuk ke gang sepi itu juga sudah dia siapkan sebelumnya.Setelah mendengar semuanya, wajah Sagara tetap tanpa ekspresi.“

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 6

    Saat Ratna dibawa masuk ke kamar tidur, dia mendekap sebuah kotak kayu di dadanya.Begitu melihat Kanaya di atas dipan, kedua kakinya langsung lemas dan berlutut di lantai.“Nyonya ....”Sagara mengangkat matanya yang memerah.“Apa ini?”Ratna memeluk erat kotak kayu itu.“Ini barang-barang yang Nyonya minta hamba kembalikan ke Keluarga Dipta.”Ketika tutup kotak dibuka, di dalamnya terdapat perhiasan yang selama bertahun-tahun diberikan Sagara kepada Kanaya.Setiap perhiasan telah dibersihkan hingga mengilap. Di sampingnya juga terdapat sebuah buku catatan.Tahun dan waktu pemberiannya, beserta harganya, semuanya tercatat dengan sangat jelas.Seolah-olah dia ingin memperhitungkan dengan jelas segala keterikatan yang telah terjalin di antara mereka selama tujuh tahun.Sagara membalik hingga ke halaman terakhir, tetapi tidak menemukan taring harimau itu.“Di mana taring harimaunya?”Ratna menatapnya sambil menangis.“Nyonya membakarnya.”Sagara menundukkan kepala dan meraba pinggangnya.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 5

    Saat Sagara tiba di kandang kuda, Kanaya sedang bersandar pada tubuh Seta.Tubuhnya tertutup selapis salju tipis. Wajahnya tampak tenang, seperti hanya kelelahan setelah berlari, lalu bersandar pada sahabat lamanya untuk tidur sejenak.“Kanaya.”Sagara berjalan mendekat dan menyentuh wajahnya.Ujung jarinya seketika terasa dingin membeku.Dia segera menarik tangannya. Namun, beberapa saat kemudian, dia membungkuk dan mengangkat Kanaya ke dalam pelukannya.“Panggil tabib istana.”Pengawal itu berlutut di atas salju dan tidak berani mengangkat kepala.“Yang Mulia, tabib istana sudah memeriksanya, Nyonya Selir ....”“Aku menyuruhmu panggil tabib istana!”Sagara memotong ucapannya dengan suara menggelegar.Tubuh yang ada dalam pelukannya terasa begitu ringan.Saat membawanya melewati selasar, Sagara baru menyadari betapa ringan tubuhnya, hampir tidak berbobot.Tujuh tahun lalu, ketika dia menggendong Kanaya memasuki kediaman Putra Mahkota, Kanaya masih akan merangkul lehernya sambil meront

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status