Setelah tabib istana pergi, aku meminta Ratna membuang semangkuk obat itu.Ratna menahanku dengan mata memerah.“Nyonya, bagaimana kalau diagnosis tabib istana ternyata salah?”“Kalau begitu, biarlah ini jadi terakhir kalinya aku bertindak sesuka hati.”Selama tujuh tahun terakhir, aku memang tidak pernah berhenti bertindak sesuka hati.Lucunya, sekarang ketika semuanya benar-benar akan berakhir, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membalik mangkuk obat itu sendiri.Aku membuka kotak rias dan mengeluarkan satu per satu barang yang pernah diberikan Sagara kepadaku.Ada mutiara dari Laut Selatan, batu delima dari Kawasan Barat, juga taring harimau yang dibawanya pulang dari medan perang saat aku berusia enam belas tahun.Saat itu, dia memasangkan taring itu di leherku sambil tersenyum dan berkata, “Kanaya Dipta, pakai ini. Selama kamu memakainya, tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu di ibu kota.”Baru belakangan aku menyadari satu hal.Orang yang paling menyakitiku justr
続きを読む