LOGINHal pertama yang dilakukan sang Putra Mahkota, teman masa kecilku, setelah kembali dengan kemenangan besar adalah menggunakan seluruh jasa perangnya untuk mendapatkan titah Kaisar agar bisa menikahi kakakku. Namun, ketika titah itu diumumkan, Kaisar juga menganugerahkanku kepadanya demi menyeimbangkan kekuasaan Keluarga Dipta atas pasukan. Sagara Mahawira menatap namaku yang tercantum dalam titah itu cukup lama. Pada akhirnya, dia tetap tidak membantah dan hanya membungkuk memberi hormat. “Putramu mematuhi titah.” Setelah menikah, aku tetap menjadi diriku yang dulu, bebas dan sesuka hati. Hari ini aku memanjat tembok untuk menonton pertunjukan, besok menunggang kuda keluar kota. Setiap kali aku membuat masalah, selalu ada dia yang membereskannya untukku. Berbeda denganku, kakakku adalah sosok yang anggun dan berbudi luhur. Setiap hari, dia mengurus rumah tangga, berbakti kepada mertua, dan menata kediaman yang begitu besar itu dengan begitu baik. Dia menghormati kakakku, tetapi juga selalu memanjakanku. Bahkan saat bermalam, dia selalu menghabiskan satu malam di kediamanku dan satu malam di kediaman kakakku, tanpa pernah memihak. Aku pun mengira, perlakuannya kepadaku memang berbeda. Karena itu, aku mulai menahan sifat liarku. Aku meletakkan cambuk kudaku dan membantu kakakku mengurus rumah tangga. Tanpa kusadari, aku bahkan mulai berharap suatu hari nanti kami akan memiliki anak. Namun, tujuh tahun berlalu begitu saja. Selama itu, kakakku telah melahirkan tiga putra untuknya, sedangkan kediamanku tetap sunyi tanpa seorang anak pun. Hingga suatu hari, aku tanpa sengaja menjatuhkan obat untuk memulihkan kesehatan yang sudah kuminum selama tujuh tahun. Tabib istana yang datang untuk memeriksa denyut nadiku kemudian memberitahuku bahwa obat itu adalah resep pemutus keturunan. Aku terdiam lama. Setelah selesai memeriksa nadiku, tabib itu melanjutkan, “Nyonya Selir sudah terlalu lama meminum obat ini. Organ dalam Anda sudah mengalami kerusakan parah.” “Sekalipun Anda berhenti meminumnya hari ini, saya khawatir Anda hanya punya waktu kurang dari tiga bulan lagi.” Aku menatap kuda yang sudah menua di luar jendela. Baru saat itu aku teringat bagaimana dulu aku dipaksa masuk ke dalam pernikahan ini. Demi menjadi istri yang baik baginya, aku telah mengorbankan jati diriku dan menghabiskan seluruh ketulusan yang kumiliki. Sagara memanjakanku, tetapi tidak mencintaiku. Orang yang selalu ingin dia ajak memiliki anak hanyalah kakakku. Sudahlah. Aku perlahan memejamkan mata dan pasrah menerimanya ....
View MoreSetelah dibawa ke Pengadilan Kerajaan, Indira baru menyadari bahwa kehamilannya tidak membuatnya mendapatkan pengampunan.Anak yang dikandungnya pada akhirnya tidak dapat diselamatkan.Tabib istana mengatakan bahwa rasa cemas dan takut yang berlebihan telah membuat kandungannya terguncang parah.Mengingat jasa Keluarga Dipta, Kaisar tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Gelarnya dicabut, lalu dia dikurung di kediaman terpencil dan dilarang meninggalkan tempat itu seumur hidup.Pengasuh Ratih, pengelola ruang obat, serta orang-orang yang terlibat dalam rencana pelarian itu semuanya dihukum sesuai kejahatan masing-masing.Tabib istana yang menyembunyikan kondisi penyakitnya dipecat dari jabatannya dan diasingkan.Setelah itu, Kalingga dan kedua adiknya tinggal bersama Keluarga Dipta untuk mendapatkan pengasuhan.Pada hari mereka pergi, Kalingga memeluk erat busur kecil yang telah diperbaiki itu. Setiap beberapa langkah, dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada lagi yang tersenyum da
Sebelum Kanaya dimakamkan, Ratna kembali ke Istana Timur.Dia meletakkan sebuah busur kecil yang masih berlumuran lumpur di hadapan Sagara.“Ini diambil dari dalam kolam.”Busur itu sudah mengembang karena terlalu lama terendam air. Di permukaannya, terukir nama Kalingga dengan tulisan yang miring dan berantakan.Sagara mengenalinya. Itu ukiran tangan Kanaya.Sejak kecil, Kanaya memang suka mengukir sesuatu pada anak panah milik Sagara. Kadang-kadang namanya sendiri, kadang pula gambar kelinci yang bentuknya jauh dari bagus.Namun setelah menikah dan tinggal di Istana Timur, dia tidak pernah lagi menyentuh busur maupun anak panah.Bukan karena dia sudah tidak bisa menggunakannya.Dia hanya mengalihkan sedikit harapan itu kepada anak-anak Sagara.Sagara kemudian pergi ke kediaman Kanaya.Ruang itu benar-benar kosong.Cambuk kudanya terselip di dasar peti, busur dan anak panah sudah lama berdebu. Sementara di dalam lemari, hanya tersisa pakaian-pakaian yang anggun tetapi terkesan suram.
Saat fajar tiba, Keluarga Dipta datang.Jenderal Besar Bathara tidak mengenakan pakaian resmi, melainkan hanya zirah lamanya.Itu adalah zirah yang dikenakannya saat berperang di perbatasan.Dia masuk ke kamar tidur. Begitu melihat putri bungsunya terbaring di atas dipan, langkahnya tiba-tiba terhenti.Pada hari Kanaya menikah, dia juga pernah berdiri di tempat ini.Saat itu, Kanaya menangis sambil memeluk lengannya dan berkata bahwa dia tidak ingin berbagi suami dengan kakaknya.Namun, titah Kaisar sudah ditetapkan.Keluarga Dipta bahkan telah menyerahkan setengah kekuasaan atas pasukan mereka, tetapi tetap tidak bisa menukar kembali kebebasan yang diinginkan putrinya.Jenderal Besar Bathara berjalan ke sisi dipan dan menyibak helaian rambut yang berantakan dari wajah putrinya.Dia terdiam cukup lama, hingga akhirnya berkata dengan suara serak, “Ayah datang terlambat.”Sagara berlutut di luar ruangan.Saat Jenderal Besar Bathara keluar, Sagara segera mengulurkan tangan hendak membantu
Wajah Indira seketika pucat.“Apa maksud Yang Mulia?”Dia memaksakan seulas senyum.“Kanaya itu adik kandungku. Mana mungkin aku mencelakainya?”“Pengurus ruang obat dan tabib istana sudah mengaku.”Sagara berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah.“Haruskah aku membawa Pengasuh Ratih kemari juga?”Kepanikan sempat melintas di mata Indira, tetapi dia segera menenangkan diri.“Mungkin Pengasuh Ratih bertindak atas kemauannya sendiri.”“Dia selalu khawatir Kanaya akan melahirkan seorang putra dan mengancam kedudukan Kalingga. Aku tidak pernah menyuruhnya mencelakai siapa pun.”Dari luar pintu terdengar suara rantai besi yang diseret di lantai.Pengasuh Ratih dibawa masuk oleh para pengawal.Baru sepuluh pukulan dijatuhkan, dia sudah mengakui semuanya.Obat pemutus keturunan itu diberikan atas perintah Indira.Tabib istana itu diancam olehnya.Bahkan kereta yang masuk ke gang sepi itu juga sudah dia siapkan sebelumnya.Setelah mendengar semuanya, wajah Sagara tetap tanpa ekspresi.“






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.