Short
Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur

Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur

By:  WeniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hal pertama yang dilakukan sang Putra Mahkota, teman masa kecilku, setelah kembali dengan kemenangan besar adalah menggunakan seluruh jasa perangnya untuk mendapatkan titah Kaisar agar bisa menikahi kakakku. Namun, ketika titah itu diumumkan, Kaisar juga menganugerahkanku kepadanya demi menyeimbangkan kekuasaan Keluarga Dipta atas pasukan. Sagara Mahawira menatap namaku yang tercantum dalam titah itu cukup lama. Pada akhirnya, dia tetap tidak membantah dan hanya membungkuk memberi hormat. “Putramu mematuhi titah.” Setelah menikah, aku tetap menjadi diriku yang dulu, bebas dan sesuka hati. Hari ini aku memanjat tembok untuk menonton pertunjukan, besok menunggang kuda keluar kota. Setiap kali aku membuat masalah, selalu ada dia yang membereskannya untukku. Berbeda denganku, kakakku adalah sosok yang anggun dan berbudi luhur. Setiap hari, dia mengurus rumah tangga, berbakti kepada mertua, dan menata kediaman yang begitu besar itu dengan begitu baik. Dia menghormati kakakku, tetapi juga selalu memanjakanku. Bahkan saat bermalam, dia selalu menghabiskan satu malam di kediamanku dan satu malam di kediaman kakakku, tanpa pernah memihak. Aku pun mengira, perlakuannya kepadaku memang berbeda. Karena itu, aku mulai menahan sifat liarku. Aku meletakkan cambuk kudaku dan membantu kakakku mengurus rumah tangga. Tanpa kusadari, aku bahkan mulai berharap suatu hari nanti kami akan memiliki anak. Namun, tujuh tahun berlalu begitu saja. Selama itu, kakakku telah melahirkan tiga putra untuknya, sedangkan kediamanku tetap sunyi tanpa seorang anak pun. Hingga suatu hari, aku tanpa sengaja menjatuhkan obat untuk memulihkan kesehatan yang sudah kuminum selama tujuh tahun. Tabib istana yang datang untuk memeriksa denyut nadiku kemudian memberitahuku bahwa obat itu adalah resep pemutus keturunan. Aku terdiam lama. Setelah selesai memeriksa nadiku, tabib itu melanjutkan, “Nyonya Selir sudah terlalu lama meminum obat ini. Organ dalam Anda sudah mengalami kerusakan parah.” “Sekalipun Anda berhenti meminumnya hari ini, saya khawatir Anda hanya punya waktu kurang dari tiga bulan lagi.” Aku menatap kuda yang sudah menua di luar jendela. Baru saat itu aku teringat bagaimana dulu aku dipaksa masuk ke dalam pernikahan ini. Demi menjadi istri yang baik baginya, aku telah mengorbankan jati diriku dan menghabiskan seluruh ketulusan yang kumiliki. Sagara memanjakanku, tetapi tidak mencintaiku. Orang yang selalu ingin dia ajak memiliki anak hanyalah kakakku. Sudahlah. Aku perlahan memejamkan mata dan pasrah menerimanya ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah tabib istana pergi, aku meminta Ratna membuang semangkuk obat itu.

Ratna menahanku dengan mata memerah.

“Nyonya, bagaimana kalau diagnosis tabib istana ternyata salah?”

“Kalau begitu, biarlah ini jadi terakhir kalinya aku bertindak sesuka hati.”

Selama tujuh tahun terakhir, aku memang tidak pernah berhenti bertindak sesuka hati.

Lucunya, sekarang ketika semuanya benar-benar akan berakhir, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membalik mangkuk obat itu sendiri.

Aku membuka kotak rias dan mengeluarkan satu per satu barang yang pernah diberikan Sagara kepadaku.

Ada mutiara dari Laut Selatan, batu delima dari Kawasan Barat, juga taring harimau yang dibawanya pulang dari medan perang saat aku berusia enam belas tahun.

Saat itu, dia memasangkan taring itu di leherku sambil tersenyum dan berkata, “Kanaya Dipta, pakai ini. Selama kamu memakainya, tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu di ibu kota.”

Baru belakangan aku menyadari satu hal.

Orang yang paling menyakitiku justru adalah dia.

Aku meminta Ratna mencatat semua barang itu, lalu mengembalikannya ke kediaman depan.

Hanya taring harimau itu yang kusimpan.

Ratna menyeka air matanya dan bertanya, “Nyonya, masih berat melepaskannya?”

Aku mengusap retakan pada taring itu.

“Bukan.”

“Hanya saja benda ini tidak berharga. Kalau dikembalikan, toh cuma akan penuhi tempat.”

Sore itu, aku pergi ke kediaman kakakku.

Ketiga anaknya sedang berlatih memanah di bawah selasar.

Kalingga Mahawira, putra pertama Sagara dan kakakku, sudah berusia enam tahun. Alis dan matanya sangat mirip dengan Sagara.

Aku menyerahkan busur kecil yang kubuat semalaman kepadanya.

“Cobalah. Ini ringan, cocok untukmu.”

Kalingga tidak mengambilnya.

Dia menatapku, lalu tiba-tiba bertanya, “Bibi juga mau punya anak laki-laki, ‘kan?”

Suasana di halaman seketika hening.

Pengasuh yang berdiri di sisi kakakku menundukkan kepala, tetapi sudut bibirnya justru tampak menahan senyum.

Aku berjongkok.

“Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”

Kalingga mengerucutkan bibirnya.

“Pengasuh bilang Bibi tidak bisa punya anak sendiri, makanya Bibi selalu datang ganggu kami.”

“Katanya Bibi juga mau merebut Ayah dari kami sampai Ibu sakit karena marah.”

Dia meraih busur kecil itu, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke dalam kolam.

“Aku tidak mau barangmu!”

Busur kecil itu menghantam lapisan es tipis hingga pecah, lalu tenggelam.

Aku memandanginya cukup lama, tetapi anehnya, aku tidak merasa terlalu sedih.

Mungkin, bagian hatiku yang bisa merasa sakit sudah lama tidak lagi merasakan apa-apa.

Saat aku baru hendak pergi, suara Sagara terdengar dari belakang.

“Kanaya.”

Dia baru saja kembali dari istana. Jubahnya yang hitam pekat masih diselimuti salju di bahu.

Kalingga segera berlari menghampirinya dan memeluk kakinya.

“Ayah, Bibi memarahiku!”

Sagara lebih dulu mengusap kepala Kalingga, lalu menatapku.

“Kenapa kamu harus mempermasalahkan hal seperti itu dengan anak kecil?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Lalu, ada apa dengan busur itu?”

“Aku mau berikan padanya, tapi dia tidak suka.”

Alis Sagara sedikit berkerut. Ekspresinya mengingatkanku pada saat-saat dulu ketika dia membereskan masalah yang kubuat, selalu dengan wajah tak berdaya.

“Kalau kamu suka anak-anak, aku bisa minta Kalingga dan yang lainnya sering datang ke kediamanmu untuk menemanimu.”

“Untuk apa menggunakan barang-barang kecil seperti ini demi mengambil hati mereka?”

“Kalau Indira sampai tahu, dia juga akan merasa tidak enak.”

Selama tujuh tahun, dia selalu seperti ini.

Dia membereskan masalah yang kubuat, lalu memberitahuku bahwa kakakku telah diperlakukan tidak adil.

Seolah apa pun yang kulakukan, aku selalu dianggap sedang bersaing dengan kakakku.

Aku mengangguk.

“Mulai sekarang tidak akan lagi.”

Dia sempat terdiam, raut wajahnya terlihat seperti tidak menyangka aku akan menurut begitu saja.

Saat itu, Ratna datang membawa kotak kayu yang penuh dengan perhiasan.

Sagara meliriknya sekilas, lalu wajahnya menggelap.

“Ini mau diapakan lagi?”

Aku menjawab dengan datar.

“Barangnya terlalu banyak dan tidak terpakai. Mau dikembalikan ke gudang.”

“Kanaya.”

Suaranya terdengar lebih dingin.

“Indira cuma hamil lagi. Kamu tidak perlu sampai bersikap seperti ini.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa sangat lelah.

“Yang Mulia tidak perlu khawatir. Aku tidak berniat bersaing dengan Kakak.”

“Mulai sekarang, aku tidak akan bersaing lagi.”

Sagara menatapku beberapa saat, lalu mengulurkan tangan untuk merapatkan jubahku.

Gerakannya masih sama seperti biasanya.

Namun, nadanya terdengar seperti sedang membujuk seorang anak yang sedang mengamuk.

“Kembalilah ke kediamanmu. Jangan berkeliaran lagi.”

“Kalau nanti kamu sudah memikirkannya baik-baik, aku akan datang menemuimu.”

Aku menghindari tangannya.

“Yang Mulia tidak perlu datang lagi.”

Wajahnya seketika menjadi muram.

Saat dia hendak berbicara, kakakku keluar dari dalam dengan dibantu seorang pelayan.

“Yang Mulia, jangan marah. Mungkin Kanaya sedang rindu rumah,” bujuknya dengan suara lembut.

Kakakku menghampiriku dan menggenggam tanganku dengan penuh kasih.

“Kalau Adik memang mau kembali ke Keluarga Dipta dan tinggal beberapa hari, aku bisa mengaturnya.”

“Hanya saja, Yang Mulia sedang marah sekarang. Untuk sementara, jangan beri tahu dia dulu.”

Aku mendongak menatapnya.

Kakakku tersenyum lembut seperti biasanya.

“Kita adalah saudari kandung.”

“Kakak tidak mungkin mencelakaimu.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status