Share

Bab 4

Author: Moore
Aku menatapnya dengan tak percaya. Meskipun aku tahu ibu London tidak menyukaiku, aku tidak pernah menyangka dia akan berbohong dan memfitnahku.

Ibu London memalingkan wajah dengan rasa bersalah, tetapi tetap bersikeras. "Dia nggak bisa punya anak. Pasti karena iri pada Sharon, makanya dia melakukan hal seperti ini."

London memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, matanya dipenuhi hawa dingin.

"Lillian, kamu benar-benar membuatku kecewa. Introspeksi dirimu baik-baik! Kurung dia di kamar. Tanpa perintahku, jangan izinkan dia keluar!"

Aku seperti disiram seember air dingin. Tubuhku membeku dari kepala sampai kaki.

"London, kamu nggak percaya padaku?"

Namun, aku tak mendapat jawabannya. Yang kulihat hanyalah punggungnya yang tegas saat dia menggendong Sharon dan pergi.

Dua pengawal berwajah asing maju dan menyeretku ke pintu ruang bawah tanah. Di dalam ruang bawah tanah yang gelap, hawanya terasa dingin. Di sudut-sudutnya bahkan merayap segerombolan larva. Kulit kepalaku langsung kesemutan. Aku ketakutan sampai seluruh tubuhku gemetar.

"London nggak mungkin mengurungku di sini! Dia tahu aku takut gelap dan lebih takut lagi pada serangga kecil! Cepat lepaskan aku!"

Namun, kedua pengawal itu tak merespons. Mereka melemparku masuk dengan kejam.

"Nyonya Sharon ingin memberimu pelajaran, supaya kamu tahu posisimu!"

Jadi memang Sharon, seharusnya aku sudah menebaknya!

"Nggak! Katakan padanya, aku bersedia pergi. Aku akan pergi sekarang juga, tolong segera lepaskan aku!" Aku memukul-mukul pintu dengan panik. Suaraku berubah karena ketakutan.

Namun, tak seorang pun menghiraukanku. Setelah mengunci pintu, kedua pengawal itu pergi tanpa suara.

Melihat kegelapan pekat di sekelilingku, aku tak lagi mampu menahan rasa takut dan sedih. Air mata pun jatuh.

Dalam gelap, suara serangga merayap terdengar semakin jelas. Banyak yang merasakan hawa panas tubuhku dan merangkak ke arahku.

Aku menjerit sambil menepuk-nepuk tubuhku, berteriak meminta tolong. Akhirnya, aku mendengar suara langkah kaki di luar pintu.

"Tolong lepaskan aku .... Aku sudah nggak sanggup lagi!"

Setelah hening sejenak, suara ibu London terdengar dari balik pintu.

"Lillian, jangan salahkan Ibu. Sharon masih hamil. Kamu tinggal semalam saja di ruang bawah tanah. Setelah amarahnya reda, kamu akan dilepaskan."

Aku perlahan terkulai di lantai, memeluk erat perutku, menggigit bibir tanpa berkata apa-apa.

Sejak menikah dengan London, aku memperlakukan ibu London seperti ibu kandungku. Saat pinggangnya sakit, aku memijatnya semalaman hanya agar dia bisa tidur nyenyak.

Keinginan yang diucapkannya secara sembarangan pun, tak peduli seberapa besar usahanya, akan kubantu wujudkan.

Walaupun dia tetap lebih memihak keluarga putra sulungnya, sikapnya padaku sedikit demi sedikit melunak. Kukira pengorbananku selama bertahun-tahun akan menghangatkan hatinya.

Tak kusangka, tak peduli sebaik apa aku padanya, demi menantu putra sulungnya, dia tetap tanpa ragu berdiri di pihak yang berseberangan denganku.

Dia berbicara lama di balik pintu. Sampai langkahnya yang pelan menjauh, aku tak lagi mengucapkan sepatah kata pun untuk memohon.

Entah sudah berapa lama berlalu. Saat bulan di luar jendela naik tinggi, aku yang hampir tak sadarkan diri tiba-tiba mendengar suara langkah kaki kacau di luar.

Sekelompok pengawal berpakaian jas hitam tiba-tiba menerobos masuk dan mendobrak pintu ruang bawah tanah, lalu mengelilingiku.

Seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan perlahan berjalan ke hadapanku.

Willen, mantan sekretaris pribadi ayahku sekaligus sahabat masa kecilku, berdiri di depanku. Dengan ekspresi serius, dia memerintahkan orang di sampingnya, "Cepat periksa Nona. Dia hamil, nggak boleh terluka sedikit pun!"

Baru setelah dokter mengatakan kondisiku tidak bermasalah, dia menghela napas lega, lalu berkata dengan penuh rasa iba, "Nona, maaf aku datang terlambat. Aku akan membawamu pulang sekarang juga."

Air mataku langsung mengalir deras. Aku tahu, orang yang paling bisa kuandalkan di sisiku hanyalah Willen.

Aku ditopang Willen keluar dari ruang bawah tanah. Surat perjanjian cerai di tanganku juga kulempar begitu saja ke sudut.

Sebelum pergi, aku menyalakan api di ruang bawah tanah itu. Di tengah kobaran api yang berkobar hebat, aku mengikuti Willen pergi tanpa menoleh lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 10

    Willen memelototi London dengan marah dan memakinya, "Dua tahun ini, Lillian sama sekali nggak mau mengingat masa lalu, bahkan berharap nggak pernah mengenalmu!""Kamu berhubungan dengan dua wanita sekaligus, bahkan mengurungnya di ruang bawah tanah yang gelap dan lembap, hampir membunuhnya dan anaknya! Berani sekali kamu datang mencarinya sekarang!"Wajah London sangat suram. Setiap kalimat Willen menusuk hatinya dengan kejam. Rasa malu dan tertekannya tak punya tempat untuk dilampiaskan. Dia meraung dan mengayunkan tinju ke arah Willen.Namun, dia meremehkan Willen. Tumbuh di antara kilatan pisau dan bayangan pedang, dalam beberapa gerakan saja Willen sudah memukulinya hingga setengah mati, membuatnya meringkuk kesakitan di lantai.Willen sudah lama ingin menghajar London. Kali ini, London sendiri yang datang mencari masalah. Willen begitu bersemangat hingga tak mau berhenti. Akhirnya, aku yang menghentikannya, "Willen, cukup."London mengangkat kepala. Matanya berbinar. "Lillian, ka

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 9

    Kabar bahwa Keluarga Joman diambil alih oleh seorang wanita menyebar ke seluruh Itari.Berbagai kekuatan mulai bergerak, ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyelidiki kekuatan kami yang sebenarnya. Hanya Black Ende yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.Seluruh mafia Itari tahu bahwa pemimpin Black Ende telah menjadi gila. Sejak istrinya tewas dalam kebakaran, dia memenjarakan istri kakaknya dan menyiksanya, bahkan membuatnya kehilangan seorang anak.Peristiwa itu mengguncang keras Black Ende. Bawahan mantan ketua bertarung dengan para pendukung London. Kini, Black Ende terjerumus dalam perang saudara.Ibu London pun terkena strok karena terlalu sedih dan sekarang harus tinggal lama di sanatorium.Saat Willen membawa kabar itu kembali, dia terus mengamatiku dengan hati-hati. Namun, aku hanya bersandar dengan tenang di kursi, membicarakan urusan pekerjaan dengannya.Setelah urusan selesai dibahas, Willen tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nona ... eh, Lillian, apa di hatimu masih

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 8

    Setelah diselamatkan oleh Willen dan dibawa kembali ke Caserto, karena gejolak emosiku terlalu besar, malam itu juga aku mengalami demam tinggi.Aku tak sadarkan diri selama sehari semalam, bahkan hampir kehilangan anakku.Willen terus menemaniku. Matanya memerah karena kurang tidur, wajahnya tampak letih.Setelah aku terbangun, dia bercanda padaku, "Nona, kalau kamu masih nggak sadarkan diri, aku akan membawa orang untuk meratakan wilayah London!"Dia membenci London karena telah mengecewakanku dan mencelakaiku hingga seperti ini.Aku menggeleng pelan, berkata dengan lemah, "Nggak perlu. Mulai sekarang aku dan dia nggak akan punya hubungan apa pun lagi. Anggap saja sebagai orang asing."Willen terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Semuanya sesuai keinginan Nona saja.""Panggil aku Lillian." Aku menatapnya, dengan keras kepala menunggunya mengubah panggilan.Willen segera mengalah. Dengan suara yang hampir tak terdengar, dia memanggil namaku.Aku memperlihatkan senyuman tulus. "

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 7

    Setelah keluar dari rumah sakit, London kembali ke vila yang telah hangus.Belum genap tujuh hari, dia seolah-olah menua sepuluh tahun. Pakaian yang dikenakannya pun tampak longgar di tubuhnya.Vila itu tetap dibiarkan seperti semula. Semua orang dilarang masuk. Dia ingin menangani sendiri jasadku.Pintu ruang bawah tanah yang runtuh segera dibersihkan, hanya menyisakan sebuah lubang hitam pekat.London menahan kesedihan, berjalan masuk ke ruang bawah tanah itu selangkah demi selangkah.Tiba-tiba, dia berhenti. Di dekat pintu yang tidak terbakar habis, dia memungut sepotong kertas yang tersisa. Itu adalah surat perjanjian cerai yang hanya tersisa satu sudut karena terbakar.Pupil London menyempit. Seluruh tubuhnya terpaku di tempat. Dia teringat pada hari itu, Lillian pernah mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkannya ke tangannya. Mungkinkah sejak lama Lillian sudah berniat bercerai darinya?"Nggak mungkin! Lillian sangat mencintaiku, mana mungkin dia ingin bercerai denganku!" Lond

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 6

    Ambulans membawa beberapa orang yang terluka ke rumah sakit. Ibu London bergegas datang. Saat melihat London yang terluka parah, dia tak kuasa menahan tangis."Anakku, terimalah kenyataan. Lillian sudah meninggal! Di dalam ruang bawah tanah itu, mustahil ada orang hidup. Berhentilah mencarinya!"Setengah lengan London mengalami luka bakar parah, dibalut perban tebal. Dia seperti kehilangan jiwanya, duduk terpaku di ranjang rumah sakit.Ternyata rasa terbakar oleh api begitu menyakitkan!Lillian yang biasanya tergores pisau buah saja akan berteriak kesakitan, bagaimana mungkin bisa menahan penderitaan seperti itu?Jika bukan karena dia mengurung Lillian di dalam, Lillian tak akan mengalami rasa sakit seperti itu.Penyesalan terus-menerus menggerogoti hati London, membuatnya tersiksa setiap saat.Sharon membawa sekeranjang buah ke rumah sakit untuk menjenguk London. Dia mengenakan gaun putih bersih, tepat menutupi perutnya yang sedikit membulat, tampak polos dan cantik.Saat mengetahui L

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 5

    Saat api mulai tak terkendali dan menyebar, London sedang menemani Sharon di kamar melakukan pendidikan janin.Ketika kepala pelayan datang melapor, London masih memasang wajah tidak puas dan menegur, "Hanya masalah kecil seperti ini saja nggak bisa ditangani sendiri? Tim pengawal yang kubayar mahal setiap tahun itu cuma bisa makan gaji buta?""Tapi ...." Kepala pelayan berkeringat deras, terus-menerus menyeka dahinya dengan saputangan."Tapi Nyonya masih di ruang bawah tanah. Api terlalu besar. Orang-orang kita sama sekali nggak bisa masuk untuk menyelamatkan ....""Apa katamu?" Ekspresi London berubah drastis. Di tengah panggilan Sharon, dia berlari ke arah ruang bawah tanah dengan terhuyung-huyung."Bos, jangan lakukan hal bodoh! Api di dalam terlalu besar, mustahil masih ada orang hidup!"Namun, London sama sekali tidak mendengar, bersikeras hendak menerobos masuk ke kobaran api.Untung kepala pelayan sigap, mati-matian menarik London yang hendak menerjang lautan api."Lepaskan aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status