MasukNaya berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya nampak lelah.Dia tak tahu kejadian apa yang menimpa ibu mertuanya sampai wanita itu tak sadarkan diri di teras belakang. Padahal Naya baru saja berbicara dengan Sophia beberapa saat sebelum kejadian.Kepala Naya terasa berat sekarang. Maka, dia memutuskan untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit.Setelah memastikan keadaan Haryasena baik-baik saja, Naya duduk di salah satu bangku yang kosong yang ada di kafetaria itu. Dia menyisip kopi hitam yang masih mengepul dan pandanganya mengarah keluar jendela.Dirinya termenung, sampai-sampai dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mendekat ke arahnya.Saat Naya menoleh, ulu hatinya seperti dihantam sesuatu.“Nay,” Suara berat dan lembut itu mengalun. “Aku boleh duduk di sini?”Naya tak bisa berkata-kata. Dia tidak sedang bermimpi kan? Ardi, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.“Se-sedang apa kamu di sini?” Tanya Naya sambil tergagap.“Aku membuntutimu dari mansion,” balas Ard
Ekspresi Naya sontak melongo. Matanya membulat kaget dengan mulut yang setengah menganga.“A-Arman?!” Desis Naya.Dengusan sinis keluar dari mulut pria itu. “Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Naya…”Kini giliran Naya yang menatapnya nyalang. “Kamu tak akan bisa menahanku selamanya. Walau kamu tak mau menandatangani berkas perceraian itu, aku bisa memakai pengacara untuk menggugatmu ke pengadilan.”Pandangan Arman menyipit. Pria itu nampak jengkel dengan pemberontakan istrinya.“Mudah bagiku untuk bercerai denganmu, Arman. Bukti-bukti perselingkuhanmu begitu jelas dan tentu saja hak asuh Haryasena jatuh ke tanganku,” tandas Naya dengan nada tajam.“Oh.. Jadi sekarang kamu berperan sebagai istri yang durhaka, hah?” Dagu Arman menukik ke atas, coba mengintimidasi Naya.“Terserah kamu mau mengasumsikanku sebagai apa. Aku tak peduli. Tapi satu hal yang pasti, kita akan bercerai,” tegas perempuan itu sambil bangkit dari kursinya. “Dan tenang saja, kita sudah membuat perjanjian p
“Pak Arman, Anda kedatangan tamu,” kepala penjaga itu muncul dari balik jeruji.Arman yang sedang berbaring di atas ranjang yang keras langsung menggerakkan tubuhnya. Dia menyeret gontai langkahnya di sepanjang lorong. Raut wajahnya nampak begitu kusut karena dia masih harus menghadapi persidangan demi persidangan ke depannya.Setelah menghela napas panjang, Arman mendongakkan kepalanya, masuk ke dalam ruangan di mana dia pikir dia akan bertemu dengan pengacaranya lagi. Tetapi kerutan di dahinya itu langsung muncul saat di hadapannya kini duduk seorang pria yang tak pernah Arman harapkan kehadirannya.Haryanto melempar senyum samar.“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Arman dengan nada sinis. “Duduklah,” dagu Haryanto bergerak, mengisyaratkan Arman untuk duduk di hadapannya.Bunyi kaki-kaki bangku yang menyeret terdengar, begitu Arman menariknya dengan kasar. Dia lantas mendengus dan menatap sinis ayah kandungnya ini.“Kamu mau mengejekku, hah? Mau menertawakan segala kesialanku?” Desis
Naya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
Dari balik kacamata hitamnya, Naya tahu, ibu mertuanya itu seperti menyimpan banyak keresahan.“Kenapa dua hari belakangan ini bukan Mama yang datang? Apa ada masalah?” Tanya Naya sambil terus menyelidiki raut wajah Sophia.“Aku sibuk,” tandasnya cepat setelah mengambil ponselnya dari tangan Naya. Naya sedikit tenang karena di tengah kekacauan yang terjadi di mansion, putranya sehat-sehat saja. Amah dan babysitter itu menjaga Haryasena dengan baik.“Aku tak sabar keluar dari sini, Ma. Dokter bilang emosiku mulai stabil. Jadi… mungkin Mama bisa membujuk dokter agar aku bisa cepat pulang,” pinta Naya.“Itu bukan urusanku,” Sophia memasukkan ponsel ke tasnya.“Aku tahu apa yang terjadi,” sahut Naya cepat. “Skandal-skandal itu, juga Papa yang dirawat di rumah sakit.”Naya bisa melihat rahang Sophia yang mengeras. “Aku hanya mencemaskan putraku, Ma…” lanjut Naya.“Kamu tak perlu mencemaskan apa-apa. Tadi kamu lihat sendiri kan saat video call? Dia baik-baik saja. Semua masalah ini akan be
Pendingin di kamar tidurnya bekerja secara maksimal, mengembuskan udara dingin ke seluruh ruangan. Namun tetap saja, pelipis Sophia sedikit berkeringat. Telapak tangannya pun basah.Tadi pagi, dia tak sengaja mencuri dengar di ruang kerja putranya bahwa Rahmat sudah sadarkan diri. Kondisinya mendadak stabil bahkan bisa pulang hari ini juga.“Pulang hari ini?” Sophia menggigit bibirnya di pinggir ranjang. Sedari tadi dia memainkan jemarinya dengan gelisah. “Gawat… Dia pasti akan membuka semua kebenarannya di depan Arman…”Kepala wanita itu tertunduk dalam sembari menghela napas panjang keputusasaan.Sebentar lagi, dia akan diusir dari mansion ini, membawa surat cerai lalu menghadapi kenyataan pahit. Di usianya yang kepala enam ini dia jadi gelandangan, miskin dan terlunta-lunta.“Tidak… tidak…” Sophia menggelengkan kepalanya. “Itu tak boleh terjadi!”Tepat saat dia hendak memikirkan bagaimana caranya dia membujuk Rahmat agar tak menceraikan dirinya, pintu kamarnya membuka.Napas wanita
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Naya mendesah berat. Rambutnya berantakan karena kepalanya terus bergerak ke sana kemari. Dadanya berdebar, naik turun dengan napas yang tak beraturan.Tubuhnya sedari tadi menggeliat di atas ranjang hotel yang empuk, m
Kaki-kaki Naya seakan tertanam di lantai marmer, tak mampu bergerak. Dia membiarkan Ardi mendekatinya.Berada begitu dekat seperti ini selalu membuat dada Naya sesak, bukan karena beban tapi lebih karena dia tak bisa mengatur debaran jantungnya yang menjadi.“Maaf kalau saya lancang….” lanjut Ardi







