Share

Part 131

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 21:28:42

"Gila ya kamu?!" kecam Vanka yang langsung menjawab. Ia tidak perlu waktu untuk berpikir karena jawabannya bahkan tidak perlu dipikir. “Kamu pikir aku perempuan macam apa sampai mau menukar kebebasan dengan pernikahan? Kamu kira penjara bikin aku lupa siapa aku dan siapa kamu?”

Reza tidak tersinggung. Ia justru tersenyum, seolah sudah menduga reaksi Vanka. “Kamu emosi. Wajar. Tapi coba pikir pakai kepala, bukan perasaan.”

“Justru karena aku masih punya perasaan, aku nolak,” timpal Vanka tajam. “Kalau aku keluar dengan cara kamu, aku bukan bebas. Aku cuma pindah kandang.”

Ekspresi Reza mengeras sesaat, lalu kembali tenang. “Shankara nggak bisa melindungi kamu dari sini, Van. Dia nggak punya apa-apa. Sedangkan aku? Aku punya semua. Mulai dari kekayaan sampai kekuasaan," ucapnya pongah.

“Dan kamu pikir kekuasaan yang kamu miliki bisa membuat kamu berhak atas hidup orang lain?” Vanka terkekeh pahit. “Kamu yang melaporkan aku, kamu menghancurkan hidupku, lalu sekarang datang sebagai penye
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (19)
goodnovel comment avatar
Lilian Sawori
abang sudah melupakanmu van ,. sudah ada yang lebih muda di rumah
goodnovel comment avatar
jamie
Thor, klu shankara kurang mengunjungi Vanka kerana sibuk urusan kerja , aku ok sj. tp klu sudah "termakan" raline, aku stop membacanya.
goodnovel comment avatar
anna Sri Buana
jng bikin shsnkara merid sama ralin dong ... mulai dr awal lg nih cerita .. jd sad ending
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 167

    Pukul lima pagi Shankara terbangun karena perutnya yang lapar. Kemarin malam ia tidak makan. Bermaksud langsung tidur tapi tertunda karena Thalia sakit.Melihat ke sebelah, Shankara tidak menemukan istrinya. Mungkin Vanka masih di kamar Thalia.Turun dari tempat tidur, lelaki itu keluar kamar. Ia bermaksud mengambil air minum dulu, setelahnya baru ke kamar Thalia. Lampu ruang belakang terang-benderang. Ada Raline di sana. Sejak kedatangan Thalia, Raline pindah ke paviliun karena seluruh kamar terisi. Kamarnya dulu kini ditempati Lengkara.Raline sedikit terkejut sekaligus senang melihat Shankara pagi-pagi buta begini. Ia tidak sanggup berkedip melihat presensi pria gagah di hadapannya. Apalagi Shankara hanya mengenakan celana pendek berwarna putih jauh di atas paha. Ia sampai kesulitan menelan saliva karena terlalu mengagumi keindahan tubuh lelaki itu."Pagi, Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan senyum tipis di bibir.Entah bagaimana, tapi Shankara mendengar suara Raline s

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 166

    "Gimana hasil pertemuan tadi? Guru Thalia bilang apa?" Shankara menanyakannya setelah pulang kerja malam itu."Oh, cuma soal disiplin aja kok, Bang. Sekolah Thalia ngelarang siswa pake aksesoris. Kemarin Thalia pake kalung ke sekolah," jelas Vanka menerangkan. Ia merasa bersalah karena harus berbohong tapi sudah terlanjur berjanji pada Thalia dan juga tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.Shankara terlihat lega. "Abang pikir ada pelanggaran berat.""Nggak kok." Vanka tersenyum meyakinkan. "Syukurlah. Abang kayaknya mau langsung tidur aja, Van. Badan Abang agak nggak enak."Vanka mengangguk. Shankara membaringkan tubuhnya di kasur. Vanka juga bermaksud yang sama."Mama! Mama! Kak Thalia badannya panas!" Lengkara datang memberitahu.Vanka langsung bangkit. Rasa pusing yang sejak tadi mengganggu seolah tak ada artinya dibanding kabar itu. Ia bergegas menuju kamar Thalia. Shankara mengikutinya.Begitu pintu dibuka, Vanka langsung melihat Thalia meringkuk di ranjang. Vanka mendeka

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 165

    Dulu saat mengandung Lengkara, Vanka menjalani hari-hari yang tidak mudah. Begitu juga dengan kehamilan keduanya ini. Setiap hari Vanka merasa lelah dan khawatir. Mual dan muntah adalah rutinitas baru. Energinya jauh lebih cepat habis dibanding biasanya.Bangun pagi saja sudah butuh perjuangan ekstra. Bahkan sarapan sederhana kadang terasa berat, padahal nutrisi penting untuk bayi di dalam kandungan. Ia pun harus lebih hati-hati dalam bergerak.Di sisi lain, pikiran Vanka tidak pernah benar-benar tenang. Ia sering memikirkan reaksi Thalia, khawatir anak sambungnya akan semakin menolak. Sementara itu, Shankara selalu berusaha menenangkan. Namun Vanka tetap merasa beban itu ada di pundaknya.Meski begitu, ada momen-momen manis yang membuatnya tersenyum sendiri. Saat Lengkara memeluk perutnya dan bertanya apakah adik dalam perutnya itu sudah bisa mendengar suara Mama, atau saat Shankara mengelus dan mengecup lembut perutnya.Semua itu memberi kekuatan tersendiri bagi Vanka. Walau lelah,

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 164

    "Kita harus kasih tahu anak-anak soal kehamilan kamu," kata Shankara setelah mereka berada di kamar.Vanka menggeleng tidak setuju. "Jangan sekarang, Bang. Thalia lagi sensitif.""Ya nggak sekarang, Van. Besok pagi maksud Abang," lanjut Shankara agar lebih jelas. "Dan soal Thalia, itu anak emang sensitif sepanjang waktu. Jadi tujuan Abang ngasih tahu ke dia lebih awal agar dia hati-hati dan jaga sikap ke kamu karena kamu lagi hamil."Vanka terdiam. Jarinya saling mengait gelisah di atas paha. “Bang, aku takut,” ucapnya lirih. “Takut dia malah makin benci.”Shankara menatap istrinya lekat-lekat. "Van, kamu istri Abang." Lalu Shankara menempelkan telapak tangannya di perut Vanka yang masih rata. "Dan ini anak kita. Kamu nggak salah apa-apa. Dan Thalia harus belajar menerima kenyataan itu."Vanka menghela napas. “Aku cuma nggak mau bikin dia makin sakit.”“Abang yang tanggung jawab,” balas Shankara. “Biar Abang yang ngomong. Biar Abang yang hadapi dia.”***Pagi ini seperti biasa keluar

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 163

    Vanka tahu betul menggunakan tes kehamilan lebih efektif jika dilakukan pada pagi hari. Tapi ia tidak sabar menunggu besok. Jadi ia melakukannya saat itu juga. Setelah menampung urinnya dengan wadah yang diberikan Andara, Vanka menyelupkan benda pipih itu ke dalamnya. Ia menunggu beberapa saat dengan degup jantung di atas normal. Lalu ... Vanka mengangkatnya. 'Ya Tuhan ...' Sepasang matanya berkaca-kaca menanggung perasaan haru ketika melihat dua garis biru sejajar di sana. Doanya siang dan malam akhirnya menjadi kenyataan. Hamil. Ia benar-benar hamil. "Van, gimana?" panggil Andara dari balik pintu kamar mandi. Vanka tersentak. Ia cepat-cepat menyeka pipinya. Test pack itu ia genggam erat-erat. “Masuk aja, Ra.” Pintu dibuka perlahan. Andara melangkah masuk, matanya langsung menangkap wajah Vanka. “Gimana, Van?” Andara mendekat cepat. Vanka mengangkat tangan, memperlihatkan test pack itu. "Positif! Selamat ya, Van." Andara langsung memeluk Vanka. Ia ikut bahagia. "Ma

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 162

    Hari ini Kaivan, anak pertama Ananta dan Andara berulang tahun. Jadi Shankara membawa istri dan anak-anaknya ke sana. Memang bukan perayaan besar-besaran. Hanya kumpul-kumpul keluarga dan makan malam bersama."Thalia mana, Van?" Shankara menanyakannya lantaran sang putri sulung masih belum terlihat."Kayaknya masih di kamarnya deh, Bang," jawab Vanka."Coba kamu panggil dia."Patuh, Vanka mendatangi kamar Thalia.Vanka mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Ia mendorongnya sedikit, mendapati pintu tidak terkunci.“Thal?” panggilnya.Thalia berdiri di depan cermin, punggungnya menghadap pintu. Rambutnya dibiarkan tergerai, eyeshadow gelap membingkai mata, lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya. Ia mengenakan crop tee yang membuat perut dan pusarnya terekspos dengan jelas serta rok mini hitam. Sepasang high heels sudah siap di lantai.Vanka tertegun. “Thalia, kamu mau ke mana?”Anak tirinya itu menoleh, menilai pantulan dirinya sendiri, lalu mengangkat dagu. “Ke rumah Tante Andar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status