LOGINEntah sudah berapa lama pesawat itu mengudara.
Suara mesin yang konstan berpadu dengan pencahayaan temaram di dalam kabin membuat suasana terasa begitu tenang.Vimala menggeliat pelan.Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka perlahan.Ia mengucek kedua matanya.Pandangannya menyapu langit-langit kamar yang sempat membuatnya lupa kalau saat ini dirinya sedang berada di dalam sebuah private jet.“Jam berapa ya…?”Ia meraih ponselnya di atas nakas kecHelikopter telah dipersiapkan untuk membawa mereka menuju bandara.Dari sana, private jet milik AG Group akan menerbangkan Vimala ke Swiss dengan pendampingan medis.Sementara tim rumah sakit menyiapkan proses transfer, Zyandru keluar sebentar dan menelepon Davin.“Vin.”“Gimana Mala?”“Dia hamil.”Sunyi.Kemudian—“HAH?”Zyandru menjauhkan ponsel dari telinga.“Enggak usah teriak.”“LO SERIUS?”“Iya.”“Anjir…”“Davin.”“Sorry. Sorry. Terus kondisinya?”Wajah Zyandru kembali serius. “Masih enggak bagus. Gue harus bawa dia ke Swiss malam ini.”Davin pun berhenti bercanda.“Oke.”“Gue butuh bantuan.”“Apa?”“Siapkan video call terbatas.”“Siapa aja?”“Direksi utama, corporate secretary, Pak Huda kalau masih available, dan Burhan.”“Sekarang?” Mata Davin membulat terkejut.“Iya sekarang.”“Lo mau umumkan remote arrangement?”“Iya.”“Oke. Kasih gue sepulu
Vimala terlihat sangat kecil di atas ranjang rumah sakit.Bobot tubuhnya menurun drastis.Ketika Zyandru masuk, Vimala sudah bangun namun begitu lemah.“Mala.”Perempuan itu menoleh pelan.Zyandru mendekat.Tangannya langsung meraih jemari istrinya.“Kamu bikin aku hampir mati ketakutan.”Vimala hanya menatap dingin.Zyandru menunduk untuk mengecup tangannya lama. “Kamu sudah tahu?” Pria itu bertanya pelan.Vimala menatap Zyandru lekat, tatapannya seolah bertanya, “Tahu apa?”Zyandru mengamati wajah pucat sang istri, dia usap lembut pipinya yang cekung. Sepertinya tante Zara belum memberitahu Vimala tentang kehamilannya.Ia duduk lebih dekat.“Ada sesuatu.”Vimala menatap Zyandru penuh rasa penasaran.Zyandru tampak hampir tertawa tapi juga menangis.Ia sendiri tidak tahu.Tangannya bergerak perlahan menyentuh perut Vimala di atas selimut.Perempuan itu mengerutkan kening.“Kam
Zyandru tiba di proyek menjelang tengah hari.Tidak ada waktu makan siang.Ia hanya minum kopi yang bahkan tidak habis setengah.Rapat steering coordination berlangsung bersama Ratu, Pak Arief, tim project control, engineering, commercial, serta beberapa perwakilan kontraktor.Agenda mereka kali ini penting.Final sequencing untuk pekerjaan utilitas harus dikunci agar tidak mengganggu pekerjaan struktur berikutnya.Ratu berdiri di depan layar.“Kalau pekerjaan zona C dimulai sebelum temporary diversion di zona B verified, kita punya potensi conflict di access corridor.”Pak Arief menunjuk gambar.“Tim lapangan bilang dua hari cukup.”“Dua hari untuk installation,” jawab Ratu. “Bukan testing dan sign-off.”Zyandru membaca jadwal.“Berapa waktu yang realistis?”“Tiga setengah sampai empat hari.”Commercial manager ikut menyela. “Kalau empat hari, milestone berikutnya geser.”“Lebih murah geser satu hari daripad
Ruang rapat utama lantai empat puluh dua MG Group sudah penuh ketika Zyandru datang.Davin mengikuti beberapa langkah di belakangnya.Pak Huda telah berada di sana bersama dua direktur lain, CFO, Head of Corporate Finance, Legal, Strategic Development, serta Burhan yang berada di sisi kanan meja panjang.Presentasi pagi itu berkaitan dengan pendanaan tahap berikutnya untuk ekspansi MG Logistics & Industrial Hub, proyek pengembangan kawasan pergudangan dan distribusi yang telah direncanakan sejak era Wisnutama.Nilainya besar.Dan membutuhkan keputusan cepat.Begitu Zyandru duduk, CFO mulai memaparkan dua opsi utama.Opsi pertama—yang didorong Burhan—adalah bridge financing dari konsorsium bank dengan struktur konvensional, sambil menunggu refinancing jangka panjang.Opsi kedua adalah proposal baru yang dibawa Zyandru: MG Group menunda penarikan penuh fasilitas bridge loan dan menggunakan kombinasi kas internal, committed credit line yang lebih kecil, serta penjualan sebagian a
Pagi itu rasanya Zyandru ingin membatalkan seluruh agendanya.Bukan menunda atau mendelegasikan sebagian melainkan membatalkan semua.Pasalnya sejak membuka mata pagi ini, tubuh Vimala terasa lebih hangat dari biasa. Wajahnya semakin pucat, bibirnya kering, dan rasa mual yang sejak kemarin tidak kunjung hilang kembali membuatnya muntah meski nyaris tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnya.Cairan infus masih menggantung di sisi ranjang.Perawat yang sejak kemarin mendampinginya baru saja selesai memeriksa tekanan darah ketika Zyandru keluar dari kamar mandi.“Bagaimana keadaannya?” tanya Zyandru cemas.Perawat itu menoleh. “Tekanan darahnya cenderung rendah, Pak. Bu Vimala juga masih lemas.”Zyandru melangkah mengikis jarak ke area ranjang. Vimala sedang berbaring dengan mata terpejam.“Mala.”Tidak ada respon dari sang istri.Zyandru akhirnya duduk di tepi ranjang untuk bisa menyentuh kening istrinya.“Sayang.”Kelopak mata Vimala bergerak perlahan.“Hm?”“K
Menjelang sore, keadaan tidak membaik.Makanan yang dicoba masuk kembali keluar.Air pun hanya bisa diminum sedikit demi sedikit.Mual datang berulang.Tubuh Vimala semakin lemah.Tekanan psikologis yang berat bukan penyebab penyakit Crohn’s-nya, tetapi pada kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih, stres, kurang makan, dan muntah berulang membuat keadaannya jauh lebih sulit.Perawat beberapa kali berkomunikasi dengan tante Zara.Setelah penilaian kondisi, instruksi medis, dan memastikan tanda-tanda yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, cairan intravena akhirnya diberikan karena Vimala kesulitan mempertahankan asupan oral.Jarum masuk ke pembuluh darah tangannya.Vimala memalingkan wajah.Bi Tina duduk di samping ranjang.“Non…”“Aku capek, Bi.”“Tidur saja.”Vimala menutup mata.Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya.Ucapan Ratu.Penjelasan







