ログインSekitar satu jam kemudian perawat datang membawa makan siang ringan.Sup hangat.Kentang tumbuk.Ikan kukus.Buah.Profesor Adrian memang telah meminta bagian dapur rumah sakit menyiapkan menu khusus.“Try to eat.”Vimala mengangguk.Namun baru mengangkat sendok sekali, tangannya kembali turun. Demi apa, Vimala seperti tidak memiliki tenaga bahkan bernafas pun dia pendek-pendek.“Aku saja yang suapin kamu,” kata Zyandru.Zyandru mengambil mangkuk sup.Meniupnya pelan agar tidak terlalu panas.“Buku mulutnya,” pinta Zyandru.”Vimala menurut.Satu sendok.Lalu sendok kedua.Ketiga.Setelah beberapa suapan, wajahnya mulai sedikit lebih segar.“Sudah ah, aku kenyang. Makanannya enggak berasa.”“Makanan sehat memang gini… sedikit lagi ya.”“Enggak mau.” Vimala merengek.“Setengah mangkuk lagi.”“Zyaaan…”“Cuma setengah.”Vimala mengembuskan napas panjang.“Ya
Dua puluh menit pertama berjalan cukup tenang.Mereka mengobrol ringan tentang Zurich.“Di sini ada tempat wisata yang keren apa?” tanya Vimala.“Di sini kota bisnis dan perekonomian … nanti kita akan pindah kota ke tempat yang lebih tenang dan damai … yang pasti romantis, biar bulan madu lebih mantep.” Lagi-lagi Zyandru menggoda Vimala membuat istrinya itu merotasi bola matanya.“Kemarin kita udah loh bulan madu ….”Vimala mengesah.“Ya masa cuma sekali?” “Ya terus kamu mau berapa kali?” “Se … tiap … hari.” Zyandru menjawab mantap. Mata Vimala seketika membulat.“Dan sehari ti … ga … kali.” Zyandru melanjutkan. Bola mata Vimala nyaris keluar dari rongganya ditambah mulutnya menganga.“Kamu mau bercinta apa minum obat?” sindir Vimala dengan ekspresi sebal.Zyandru tertawa, dia mengecup punggung tangan Vimala.“Soalnya kamu bikin nagih,” katanya sembari menatap Vimala.Otomatis wajah Vimala memerah, dia memalingkan wajahnya.“Memangnya kamu enggak ketagihan?” tanya Zyandr
Mobil yang membawa Zyandru dan Vimala melaju membelah jalanan Zurich yang mulai dipadati kendaraan.Berbeda dengan dua hari sebelumnya, kali ini tidak ada percakapan jahil di antara mereka.Vimala lebih banyak memandangi pemandangan di luar jendela.Sedangkan tangan kirinya masih berada dalam genggaman Zyandru.Tidak erat.Namun juga tidak longgar.Seolah tanpa mereka sadari, genggaman itu sudah menjadi kebiasaan baru.“Kamu takut?” tanya Zyandru pelan.Vimala menggeleng.“Enggak.”“Yakiiin?” Zyandru mulai menggodanya.“Iya.”Beberapa detik kemudian Vimala menoleh. “Cuma aku .…”“Cuma apa?”“Kalau ternyata sakitku parah gimana?”Kalimat sederhana itu membuat dada Zyandru seperti diremas, sebisa mungkin ekspresinya tetap tenang.Zyandru mengusap punggung tangan Vimala menggunakan ibu jarinya.“Enggak lah, kamu sehat.”“Kok kamu yakin?”“Karena aku maunya begitu.” Zyandru tersenyum dibalas dengusan pelan Vimala. “Jawaban apaan itu.”“Tapi aku serius, Mala. Aku mau is
Keesokan paginya, Zurich menyambut mereka dengan langit biru yang bersih tanpa sehelai awan.Sinar matahari musim gugur menembus tirai suite, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Vimala yang baru selesai mengenakan mantel krem hasil belanjanya dua hari lalu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut.Sesekali ia melirik bayangan Zyandru yang sedang memasang manset kemeja di belakangnya.Pria itu kembali berubah.Begitu mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna abu tua, sosok usil yang semalam membuatnya kesal seolah menghilang. Yang berdiri di sana kini adalah CEO AG Group—tegas, tenang, dan berwibawa.Vimala tanpa sadar terus memperhatikannya melalui pantulan cermin.“Kenapa?” tanya Zyandru tanpa menoleh.“Hah?”“Dari tadi ngelihatin.”“Aku lagi lihat pemandangan.”“Pemandangannya cowok ganteng pake jas?”Vimala langsung berdeham dan mengalihkan perhatian. “Ge-er.”Zyandru terkekeh pelan. “Kalau s
Setelah makan malam selesai, keduanya kembali ke suite.Dan Zyandru baru menyadari kalau cara jalan Vimala terlihat aneh.“Kamu kenapa?” tanya Zyandru sambil menunduk memperhatikan kaki Vimala.“Sakit!” Vimala berseru pelan.“Kakinya pegel? Kebanyakan jalan tadi siang kali ….”Vimala mendelik. “Enggak peka banget sih.” Dia membatin lalu tanpa sadar mengusap bagian intinya yang memang terasa sakit dan tanpa sengaja Zyandru melihatnya.“Oh ….” Zyandru pun tertawa, dia mengerti sekarang, tanpa pikir panjang pria itu menggendong Vimala ala bridal.“Zyan!! Turunin! Malu sama yang lain.” Vimala protes.Beberapa pengunjung yang lewat di depan lift menjadikan mereka tontonan.“Kami pengantin baru,” kata Zyandru tengil dan mereka malah membalas dengan ucapan selamat.Vimala jadi malu.Dan pria itu tidak menurunkan Vimala sedetikpun, seolah Vimala tidak memiliki bobot.Terus menggendongnya hingga ke suite.“Mala …,” panggil Zyan
Sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya turun menuju restoran hotel.Malam telah sepenuhnya menyelimuti Zurich.Lampu-lampu kota memantul indah di permukaan Sungai Limmat yang terlihat dari balik dinding kaca restoran.Kali ini suasana jauh lebih tenang dibanding pagi tadi karena tidak ada Bella yang mengganggu mereka.Seorang pelayan segera mengantar keduanya menuju meja yang telah dipesan.Vimala membuka buku menu. Matanya langsung berbinar.“Waaah… makanannya aku suka semua.”“Pesan yang banyak.”Vimala membaca satu per satu. “Eh ada menu baru kayanya, ini enak enggak?”“Aku belum pernah coba.” Zyandru menggeleng pelan.“Kalau ini?”“Aku juga belum.”“Ya terus ngapain aku nanya kamu?”Zyandru terkekeh. “Aku lebih sering kerja daripada jalan-jalan kalau ke sini.”“Hm…”Pelayan datang. “Good evening.”Zyandru langsung memesan lebih dulu menggunakan bahasa Inggris yang fasih.Vimala hanya memperhatikan.Tak lama kemudian pelayan selesai mencatat.“Sebentar.” Zya







