LOGINMobil yang membawa Zyandru meninggalkan kediaman Wisnutama beberapa menit kemudian.
Pria itu duduk di kursi belakang seperti biasa.Kepalanya bersandar pada headrest sementara tatapannya kosong ke luar jendela.Di kursi penumpang depan, Davin sejak tadi beberapa kali melihat ke belakang melalui kaca spion.Awalnya ia memilih diam.Namun lima menit berlalu.Sepuluh.Dan sahabatnya masih memiliki wajah seperti orang yang baru kehilangan setengah aset keluarga.“Gue mau nama.” Davin yang baru saja masuk ke ruang Direktur Utama berhenti. “Selamat siang juga.” Davin sedang berkelakar. “Vin.” “Oke.” Davin meletakkan laptop. “Tim IT masih tracing.” “Sudah berapa hari?” “Dan lo pikir digital forensic kayak bikin mi instan?” Zyandru menatap tajam. Davin mengangkat tangan. “Gue ngerti lo buru-buru.” “Bukan buru-buru.” “Terus apa?” “Mala mau cerai.” Davin seketika kehilangan senyum. “Dia bilang langsung ke lo?” “Pak Yudha datang.” Zyandru menyandarkan punggung. “Begitu proses warisan selesai, Mala mau mulai urus perceraian.” Davin mengumpat pelan. “Makanya gue butuh bukti sekarang.” “Zyan.” “Gue enggak punya waktu
Zyandru baru memasuki project office ketika sebuah percakapan terdengar dari pantry kecil di ujung koridor.“Berani juga dia masih masuk.”“Kalau gue jadi dia sih malu.”“Ya kalau punya malu enggak mungkin dari awal berani main api sama suami orang.”Langkah Zyandru berhenti.Davin yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.“Pak,” katanya pelan.Zyandru menoleh.“Jangan.” Davin mengingatkan.“Gue belum ngapa-ngapain.”“Muka lo udah pengen mecahin sesuatu.”Zyandru mengeratkan rahang.Davin mendorong pelan bahunya. “Meeting lima menit lagi.”Zyandru melanjutkan langkah.Namun suasana tidak membaik ketika rapat dimulai.Vendor utama hadir.Construction manager.Engineering.Planning.Project control.Ratu duduk di sisi meja dengan laptop terbuka.Raut wajah dan gesture tubuhnya tampak tenang.Profesional.Seolah tidak pernah terjadi apa pun.Rapat berjalan hampir em
Suara Vimala yang sedang berusaha memuntahkan sesuatu terdengar nyaring dari kamar mandi dan berhasil membangunkan Zyandru.Mat pria itu terbuka seketika.Beberapa detik ia hanya menatap sisi ranjang di sebelahnya yang kosong sebelum kesadarannya benar-benar kembali.“Mala?”Tidak ada jawaban.Lalu suara itu terdengar lagi.Zyandru seketika bangkit dengan satu gerakan cepat.Tanpa sempat memakai sandal rumah, ia berlari menuju kamar mandi dan menemukan Vimala berlutut di depan toilet.Rambut panjang perempuan itu jatuh berantakan menutupi sebagian wajahnya.Satu tangan mencengkeram pinggiran toilet.Tangan lainnya menekan perut.“Mala!”Zyandru berjongkok.Refleks tangannya mengumpulkan rambut Vimala ke belakang agar tidak mengenai wajahnya.Vimala kembali muntah.Tidak banyak.Sepertinya isi perut Vimala sudah hampir kosong.Zyandru mengusap punggungnya perlahan.“Pelan-pelan.”Vimala tid
“Pak Yudha?”Zyandru langsung mendongak dari layar komputer ketika Yudha memasuki ruangannya.Davin sedang duduk di sofa membaca berkas lalu bangkit.“Saya di luar, Pak.”“Ya.”Davin lantas keluar dari ruangan sang Direktur Utama.Zyandru bangkit dari kursi. “Silahkan duduk, Pak Yudha.” Laki-laki yang lebih tua itu mengangguk kecil.“Ada yang ingin saya bicarakan.”“Ada apa, Pak?” Suara Zyandru terdengar cemas.“Barusan saya ketemu Mala.”Entah mengapa satu kalimat itu langsung membuat Zyandru meletakkan pulpennya.“Ada apa?”Yudha tidak berputar-putar.“Mala meminta saya mengurus perceraiannya.”Tubuh Zyandru seketika membeku.Beberapa detik—benar-benar tidak bergerak.“Apa?”“Dia ingin prosesnya mulai disiapkan setelah urusan alih nama aset selesai.”“Dia serius?”“Kelihatannya begitu.”Zyandru berdiri.Berjalan beberapa langkah menjauh dari meja.Tangannya men
Kabar buruk selalu menyebar lebih cepat daripada kebenaran.Pagi berikutnya, cerita tentang kejadian di proyek sudah tidak lagi berbentuk seperti kejadian aslinya.Versi pertama mengatakan istri Direktur Utama MG Group datang dan memergoki suaminya berduaan dengan Project Lead perusahaan partner.Versi kedua mengatakan mereka ditemukan di ruangan terkunci.Versi ketiga menambahkan bahwa posisi mereka sedang berpelukan.Menjelang siang—entah dari mana muncul versi bahwa mereka nyaris berciuman.Dan tentu saja, orang-orang yang sejak awal kurang menyukai Ratu jadi menemukan hiburan baru.“Pantes cepat banget dipercaya pegang proyek sebesar itu.”“Cantik sih.”“Cantik doang mah banyak.”“Katanya kenal pak Zyandru dari dulu.”“Wah, makin jelas ‘kan sekarang.”Suara-suara itu berhenti ketika pintu pantry terbuka.Ratu masuk.Tiga perempuan yang tadi berbicara langsung sibuk dengan kopi masing-masing.Ratu tahu.
“Aku dituduh pelakor, Gas.”Bagas yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan tubuh.“Apa?”Ratu berdiri di dekat jendela apartemennya.Sudah hampir pukul sebelas malam ketika ia pulang.Bagas yang sebelumnya berniat menjemput akhirnya langsung datang ke apartemen setelah Ratu mengirim pesan bahwa terjadi masalah di proyek dan meminta waktu untuk bicara.Sejak datang, Bagas tahu sesuatu yang buruk terjadi.Tetapi ia tidak menyangka seburuk ini.Ratu berbalik.Matanya merah.“Vimala datang ke proyek.”“Terus?” Ekspresi wajah Bagas tampak panik.Tentu dia tidak bisa bayangkan apa yang akan dilakukan anak Konglomerat manja itu kepada perempuan yang masih dicintai suaminya.“Dia nemuin aku sama Zyandru berdua di coordination room.”Rahang bagas mengeras.“Berdua?” tanyanya ingin memastikan.“Iya.” Ratu segera menggeleng. “Tapi bukan seperti yang kamu pikir.”“Aku enggak mikir apa-apa.”“Aku sama dia enggak selingkuh.” Ratu menekankan.Bagas tidak menyela.“Aku be







