مشاركة

Kebohongan Kecil

مؤلف: Erna Azura
last update تاريخ النشر: 2026-09-25 12:15:00

Pekerjaan pagi itu dimulai dengan review revised lifting plan.

Persoalannya sederhana di atas kertas.

Di lapangan—tidak.

Crane yang akan digunakan untuk pemasangan struktur awal membutuhkan outrigger zone lebih luas dibanding asumsi sebelumnya.

Di sisi lain, jalur temporary access baru saja digeser untuk menghindari utility corridor.

Artinya ruang operasi mereka semakin sempit.

Ratu berdiri di samping Site Engineer sambil memperhatikan layout.

“Kalau crane t
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (40)
goodnovel comment avatar
Vhana Zen laser
izin kakanya.. Gkpp kak dukung sesuai keyakinan, klo menurut kakanya Mala korban ya gkpp, bkn berarti yg bela Ratu salah dan Ratu pelakunya.. Gk mudah loh menghilangkan rasa cinta yg udh ada bertahun2, tpi setidaknya Ratu tdk merayu tdk mencoba merebut, yg dukung Ratu pun gk suka dgn keadaan ini..
goodnovel comment avatar
Fa Za
greget banget sama yg dukung si ratu, udah nyata² si ratu juga salah,,, malah ngotot aja kebela,,, kalau memang dulu cinta sama zyan ya ngomong dari dulu, jangan sekarang udah punya istri udah punya kehidupan sendiri ngomong masih cinta,,,
goodnovel comment avatar
Siar Lala
lanjut thoor
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Yang Masih Tersisa

    Zyandru baru memasuki project office ketika sebuah percakapan terdengar dari pantry kecil di ujung koridor.“Berani juga dia masih masuk.”“Kalau gue jadi dia sih malu.”“Ya kalau punya malu enggak mungkin dari awal berani main api sama suami orang.”Langkah Zyandru berhenti.Davin yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.“Pak,” katanya pelan.Zyandru menoleh.“Jangan.” Davin mengingatkan.“Gue belum ngapa-ngapain.”“Muka lo udah pengen mecahin sesuatu.”Zyandru mengeratkan rahang.Davin mendorong pelan bahunya. “Meeting lima menit lagi.”Zyandru melanjutkan langkah.Namun suasana tidak membaik ketika rapat dimulai.Vendor utama hadir.Construction manager.Engineering.Planning.Project control.Ratu duduk di sisi meja dengan laptop terbuka.Raut wajah dan gesture tubuhnya tampak tenang.Profesional.Seolah tidak pernah terjadi apa pun.Rapat berjalan hampir em

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tak Lagi Sama

    Suara Vimala yang sedang berusaha memuntahkan sesuatu terdengar nyaring dari kamar mandi dan berhasil membangunkan Zyandru.Mat pria itu terbuka seketika.Beberapa detik ia hanya menatap sisi ranjang di sebelahnya yang kosong sebelum kesadarannya benar-benar kembali.“Mala?”Tidak ada jawaban.Lalu suara itu terdengar lagi.Zyandru seketika bangkit dengan satu gerakan cepat.Tanpa sempat memakai sandal rumah, ia berlari menuju kamar mandi dan menemukan Vimala berlutut di depan toilet.Rambut panjang perempuan itu jatuh berantakan menutupi sebagian wajahnya.Satu tangan mencengkeram pinggiran toilet.Tangan lainnya menekan perut.“Mala!”Zyandru berjongkok.Refleks tangannya mengumpulkan rambut Vimala ke belakang agar tidak mengenai wajahnya.Vimala kembali muntah.Tidak banyak.Sepertinya isi perut Vimala sudah hampir kosong.Zyandru mengusap punggungnya perlahan.“Pelan-pelan.”Vimala tid

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Mencari Pelaku Penjebakan

    “Pak Yudha?”Zyandru langsung mendongak dari layar komputer ketika Yudha memasuki ruangannya.Davin sedang duduk di sofa membaca berkas lalu bangkit.“Saya di luar, Pak.”“Ya.”Davin lantas keluar dari ruangan sang Direktur Utama.Zyandru bangkit dari kursi. “Silahkan duduk, Pak Yudha.” Laki-laki yang lebih tua itu mengangguk kecil.“Ada yang ingin saya bicarakan.”“Ada apa, Pak?” Suara Zyandru terdengar cemas.“Barusan saya ketemu Mala.”Entah mengapa satu kalimat itu langsung membuat Zyandru meletakkan pulpennya.“Ada apa?”Yudha tidak berputar-putar.“Mala meminta saya mengurus perceraiannya.”Tubuh Zyandru seketika membeku.Beberapa detik—benar-benar tidak bergerak.“Apa?”“Dia ingin prosesnya mulai disiapkan setelah urusan alih nama aset selesai.”“Dia serius?”“Kelihatannya begitu.”Zyandru berdiri.Berjalan beberapa langkah menjauh dari meja.Tangannya men

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Permohonan Bercerai

    Kabar buruk selalu menyebar lebih cepat daripada kebenaran.Pagi berikutnya, cerita tentang kejadian di proyek sudah tidak lagi berbentuk seperti kejadian aslinya.Versi pertama mengatakan istri Direktur Utama MG Group datang dan memergoki suaminya berduaan dengan Project Lead perusahaan partner.Versi kedua mengatakan mereka ditemukan di ruangan terkunci.Versi ketiga menambahkan bahwa posisi mereka sedang berpelukan.Menjelang siang—entah dari mana muncul versi bahwa mereka nyaris berciuman.Dan tentu saja, orang-orang yang sejak awal kurang menyukai Ratu jadi menemukan hiburan baru.“Pantes cepat banget dipercaya pegang proyek sebesar itu.”“Cantik sih.”“Cantik doang mah banyak.”“Katanya kenal pak Zyandru dari dulu.”“Wah, makin jelas ‘kan sekarang.”Suara-suara itu berhenti ketika pintu pantry terbuka.Ratu masuk.Tiga perempuan yang tadi berbicara langsung sibuk dengan kopi masing-masing.Ratu tahu.

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Mengadu pada Sang Kekasih

    “Aku dituduh pelakor, Gas.”Bagas yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan tubuh.“Apa?”Ratu berdiri di dekat jendela apartemennya.Sudah hampir pukul sebelas malam ketika ia pulang.Bagas yang sebelumnya berniat menjemput akhirnya langsung datang ke apartemen setelah Ratu mengirim pesan bahwa terjadi masalah di proyek dan meminta waktu untuk bicara.Sejak datang, Bagas tahu sesuatu yang buruk terjadi.Tetapi ia tidak menyangka seburuk ini.Ratu berbalik.Matanya merah.“Vimala datang ke proyek.”“Terus?” Ekspresi wajah Bagas tampak panik.Tentu dia tidak bisa bayangkan apa yang akan dilakukan anak Konglomerat manja itu kepada perempuan yang masih dicintai suaminya.“Dia nemuin aku sama Zyandru berdua di coordination room.”Rahang bagas mengeras.“Berdua?” tanyanya ingin memastikan.“Iya.” Ratu segera menggeleng. “Tapi bukan seperti yang kamu pikir.”“Aku enggak mikir apa-apa.”“Aku sama dia enggak selingkuh.” Ratu menekankan.Bagas tidak menyela.“Aku be

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Jarak yang Tercipta

    Vimala baru menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya ketika mobil Robi memasuki halaman kediaman Wisnutama.Rasa nyeri yang semula hanya seperti mulas perlahan berubah menjadi kram yang menusuk di bagian perut.Perempuan itu menekan telapak tangan ke sana.Matanya terpejam.“Mala?” Suara Robi membuatnya membuka mata.“Kenapa?”“Enggak apa-apa.”“Kamu sakit?”“Enggak.” Jawabannya terlalu cepat.Robi mematikan mesin mobil lalu menatapnya.“Wajah kamu pucat.”“Aku cuma capek saja kayanya.”Vimala segera membuka pintu.Ia tidak ingin Robi bertanya lebih jauh.Apalagi kalau pertanyaan berikutnya berhubungan dengan Zyandru.Malam ini kepalanya sudah terlalu penuh.“Makasih ya Kak.”Vimala turun kemudian berjalan cepat menuju pintu rumah.“Mala.”Langkahnya berhenti.Robi ikut turun. “Besok kabarin aku kalau butuh apa-apa.”Vimala hanya mengangguk.“Dan soal yang kamu lihat tadi…” Robi sengaja menggantung kalimat.Vimala menoleh lagi.“Jangan dipikirin terus.”

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status