FAZER LOGINSesampainya di suite, Vimala melepas cardigannya dan melempar sembarang.Kakinya dia tendang-tendang membuat sepatunya terlepas dari kaki dan terlempar ke segala arah.Zyandru menggelengkan kepala sambil memunguti barang-barang Vimala lau ia simpan ke tempatnya.Vimala lalu duduk di sofa menghadap televisi besar.Dia peluk kedua kakinya, dan jangan tanya bagaimana raut wajahnya saat ini.“Apa yang Om Burhan bilang?” tanya Zyandru sambil melepas dasi lalu membuka dua kancing kemejanya.Vimala menjelaskan semuanya dari A sampai Z tanpa dilebih-lebihkan apalagi dikurangi.Zyandru menarik napas panjang, dia duduk di samping Vimala setelah menggulung kedua lengan kemejanya hingga sikut.“Apa yang pak Burhan katakan … tidak semuanya benar juga tidak semuanya salah.” Air mata Vimala langsung jatuh.Zyandru menjelaskan semuanya.Bahwa klien menginginkan kepastian hukum.Bahwa selama MG Group belum benar-benar dipimpin secara legal
Hari itu Zurich memperlihatkan wajah terbaiknya.Nadine mengajak Vimala berjalan menyusuri kota tua, menikmati jalan berbatu yang dipenuhi bangunan klasik, mampir ke toko cokelat, memberi makan burung di tepi sungai Limmat, hingga menaiki kapal wisata yang membelah danau.Sesekali Vimala mengambil foto.Sesekali mengirimkannya kepada Zyandru.Namun balasan pria itu hanya singkat.Zyan : Cantik.Zyan : Hati-hati.Zyan : Sudah makan?Walau singkat, cukup membuat Vimala tersenyum.Sore harinya, ketika mereka sedang duduk menikmati es krim di tepi jalan, ponsel Vimala berdering.Nama Burhan memenuhi layar.“Hallo, Om.”“Mala, kamu di mana?” Suara Burhan terdengar marah.“Di Swiss, Om.”“Swiss?”“Iya, ada apa Om?” tanya Vimala santai sambil makan ice cream.“Ngapain kamu ke sana?”“Bulan madu.” Vimala terkekeh kecil. “Eh… bukan.” Tapi dia meralat.“Terus ngapain?”“Ikut Zyandru ketemu klien… te
Restoran hotel yang berada di lantai paling atas itu mulai dipenuhi tamu.Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum roti hangat memenuhi udara. Di balik dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, Kota Zurich perlahan mulai terbangun.Vimala dan Zyandru duduk saling berhadapan.Hari itu ia mengenakan sweater rajut berwarna biru muda dipadukan rok panjang putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, membuat wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin.Namun suasana hatinya justru tidak secerah penampilannya karena sang suami terus saja diganggu oleh sang sekretaris.“Maaf Pak.” Bella datang membawa tablet.“Kontrak revisi dari pihak tuan Robert sudah masuk.”Zyandru yang sedang mengoleskan selai ke roti milik Vimala langsung menerima tablet itu.“Bagian mana yang berubah?”“Pasal pembagian proyek.” Bella menjelaskan dengan tenang.Keduanya langsung membahas isi dokumen.Vimala menggigit roti panggangn
Hari mulai bergerak menuju sore ketika mereka kembali ke hotel.Bagasi kendaraan penuh oleh berbagai tas belanja, sampai-sampai Nadine harus meminta kendaraan tambahan untuk mengantar sebagian barang lebih dulu.Begitu masuk ke dalam suite, Vimala menjatuhkan tubuhnya ke sofa.“Capek.”Nadine tertawa kecil.“Wajar, Nyonya. Kita hampir seharian berjalan.”“Tapi seru banget ya.”“Kelihatan sekali Nyonya sangat bahagia hari ini.”Vimala melihat tumpukan kantong belanja yang baru saja diletakkan petugas hotel.“Zyandru belum pulang ya?”“Sepertinya belum.”Vimala mengambil ponsel, lalu memeriksa layar.Tidak ada pesan baru.“Meeting apa sih lama banget.”Nadine yang sedang merapikan beberapa tas belanja ke lemari hanya tersenyum.“Tuan Zyandru kemungkinan sedang menyelesaikan negosiasi.”Vimala bersandar malas.“Terus sekarang aku ngapain?”“Di hotel ini ada layanan spa yang sangat bagus.”Vim
Pusat perbelanjaan yang mereka datangi bukan tempat biasa.Bangunannya berada di kawasan Bahnhofstrasse, salah satu lokasi paling prestisius yang dipenuhi butik-butik merek dunia.Begitu turun dari mobil, mata Vimala langsung bergerak ke segala arah.Etalase kaca berkilauan.Deretan tas edisi terbatas.Sepatu yang ditata seperti karya seni.Gaun-gaun berpotongan elegan.Jam tangan mewah.Perhiasan.Semuanya seolah memanggil-manggil namanya.Nadine berjalan di samping Vimala.“Kita akan mulai dari kebutuhan pakaian musim dingin dulu, Nyonya.”Vimala mengangguk.“Boleh.”Namun lima belas menit kemudian, rencana membeli kebutuhan berubah menjadi pengalaman belanja tanpa batas.Vimala mencoba mantel pertama.Lalu kedua.Kemudian ketiga.“Yang mana bagus?” tanyanya kepada Nadine.“Yang warna krem cocok sekali untuk Nyonya.”“Yang hitam?”“Juga bagus.”“Yang putih?”“Cantik.”
Cup.Singkat.Namun cukup membuat tubuh Zyandru membeku.Vimala sendiri baru menyadari apa yang dilakukannya setelah bibirnya menjauh.Mata mereka bertemu.Seketika pipi Vimala memerah.“Aku….”Zyandru berusaha sekuat tenaga menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat terlalu lebar.Di dalam dadanya, sesuatu seperti ledakan kecil baru saja terjadi.Ia ingin tersenyum.Ingin tertawa.Bahkan ingin memeluk Vimala dan meminta satu kecupan lagi.Namun harga dirinya menolak terlihat terlalu girang hanya karena mendapat satu ciuman di pipi.Zyandru berdeham pelan.“Cuma segitu?”Vimala langsung memasang wajah kesal untuk menutupi rasa malunya. “Memangnya mau apa?”Zyandru mengangkat kedua bahu, berusaha terlihat santai.“Lumayan lah buat ucapan terima kasih.”“Itu tadi aku refleks ya.”“Iya, aku ngerti.” “Jangan gede rasa.”“Enggak donk.” Meski mulutnya menjawab datar, senyum tipis mulai mengkhianatinya.Vimala menunjuk wajahnya.“Tuh ‘kan senyum.”“Aku enggak senyum







