Share

Cemburu

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-08-06 10:03:00

Restoran hotel yang berada di lantai paling atas itu mulai dipenuhi tamu.

Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum roti hangat memenuhi udara. Di balik dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, Kota Zurich perlahan mulai terbangun.

Vimala dan Zyandru duduk saling berhadapan.

Hari itu ia mengenakan sweater rajut berwarna biru muda dipadukan rok panjang putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, membuat wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
eling
wowow loveee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Theraphy Pertama

    Keesokan paginya, Zurich menyambut mereka dengan langit biru yang bersih tanpa sehelai awan.Sinar matahari musim gugur menembus tirai suite, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Vimala yang baru selesai mengenakan mantel krem hasil belanjanya dua hari lalu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut.Sesekali ia melirik bayangan Zyandru yang sedang memasang manset kemeja di belakangnya.Pria itu kembali berubah.Begitu mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna abu tua, sosok usil yang semalam membuatnya kesal seolah menghilang. Yang berdiri di sana kini adalah CEO AG Group—tegas, tenang, dan berwibawa.Vimala tanpa sadar terus memperhatikannya melalui pantulan cermin.“Kenapa?” tanya Zyandru tanpa menoleh.“Hah?”“Dari tadi ngelihatin.”“Aku lagi lihat pemandangan.”“Pemandangannya cowok ganteng pake jas?”Vimala langsung berdeham dan mengalihkan perhatian. “Ge-er.”Zyandru terkekeh pelan. “Kalau s

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Cemburu Yang Keterlaluan

    Setelah makan malam selesai, keduanya kembali ke suite.Dan Zyandru baru menyadari kalau cara jalan Vimala terlihat aneh.“Kamu kenapa?” tanya Zyandru sambil menunduk memperhatikan kaki Vimala.“Sakit!” Vimala berseru pelan.“Kakinya pegel? Kebanyakan jalan tadi siang kali ….”Vimala mendelik. “Enggak peka banget sih.” Dia membatin lalu tanpa sadar mengusap bagian intinya yang memang terasa sakit dan tanpa sengaja Zyandru melihatnya.“Oh ….” Zyandru pun tertawa, dia mengerti sekarang, tanpa pikir panjang pria itu menggendong Vimala ala bridal.“Zyan!! Turunin! Malu sama yang lain.” Vimala protes.Beberapa pengunjung yang lewat di depan lift menjadikan mereka tontonan.“Kami pengantin baru,” kata Zyandru tengil dan mereka malah membalas dengan ucapan selamat.Vimala jadi malu.Dan pria itu tidak menurunkan Vimala sedetikpun, seolah Vimala tidak memiliki bobot.Terus menggendongnya hingga ke suite.“Mala …,” panggil Zyan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Masih Denial

    Sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya turun menuju restoran hotel.Malam telah sepenuhnya menyelimuti Zurich.Lampu-lampu kota memantul indah di permukaan Sungai Limmat yang terlihat dari balik dinding kaca restoran.Kali ini suasana jauh lebih tenang dibanding pagi tadi karena tidak ada Bella yang mengganggu mereka.Seorang pelayan segera mengantar keduanya menuju meja yang telah dipesan.Vimala membuka buku menu. Matanya langsung berbinar.“Waaah… makanannya aku suka semua.”“Pesan yang banyak.”Vimala membaca satu per satu. “Eh ada menu baru kayanya, ini enak enggak?”“Aku belum pernah coba.” Zyandru menggeleng pelan.“Kalau ini?”“Aku juga belum.”“Ya terus ngapain aku nanya kamu?”Zyandru terkekeh. “Aku lebih sering kerja daripada jalan-jalan kalau ke sini.”“Hm…”Pelayan datang. “Good evening.”Zyandru langsung memesan lebih dulu menggunakan bahasa Inggris yang fasih.Vimala hanya memperhatikan.Tak lama kemudian pelayan selesai mencatat.“Sebentar.” Zya

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Setelah Bercinta

    Udara di Suite terasa hangat, bahkan tubuh mereka masih lembab oleh peluh setelah pergulatan panas tadi.Vimala berbaring miring setengah menindih Zyandru sementara pria itu terlentang menatap langit-langit kamar dengan nafas masih memburu.Vimala tidak tidur, tatapannya kosong ke depan.Dan tubuh mereka masih polos, hanya dibalut selimut tipis yang tersampir di sandaran sofa.Tidak ada yang bicara setelah pelepasan yang luar biasa tadi.Mereka bersama-sama sampai di puncak kenikmatan bahkan Vimala masih ingat ketika Zyandru mengecup keningnya lama usai semua itu.Meski sesungguhnya kini yang Zyandru rasakan, terbesit sedikit penyesalan di hati. Katakan saja dia brengsek karena merasa telah mengkhianati Ratu padahal istrinya adalah Vimala.Zyandru mengusap wajahnya gusar.Dia ingat terakhir kali bertemu Ratu di Lembang ketika ulang tahun keponakannya dan Ratu mengatakan kalau akan seminggu di Bandung sebelum kembali bertolak ke New York.Zyandru tahu kalau itu adalah ajakan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Cinta Yang Mulai Tumbuh

    Sesampainya di suite, Vimala melepas cardigannya dan melempar sembarang.Kakinya dia tendang-tendang membuat sepatunya terlepas dari kaki dan terlempar ke segala arah.Zyandru menggelengkan kepala sambil memunguti barang-barang Vimala lau ia simpan ke tempatnya.Vimala lalu duduk di sofa menghadap televisi besar.Dia peluk kedua kakinya, dan jangan tanya bagaimana raut wajahnya saat ini.“Apa yang Om Burhan bilang?” tanya Zyandru sambil melepas dasi lalu membuka dua kancing kemejanya.Vimala menjelaskan semuanya dari A sampai Z tanpa dilebih-lebihkan apalagi dikurangi.Zyandru menarik napas panjang, dia duduk di samping Vimala setelah menggulung kedua lengan kemejanya hingga sikut.“Apa yang pak Burhan katakan … tidak semuanya benar juga tidak semuanya salah.” Air mata Vimala langsung jatuh.Zyandru menjelaskan semuanya.Bahwa klien menginginkan kepastian hukum.Bahwa selama MG Group belum benar-benar dipimpin secara legal

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Hasutan Burhan

    Hari itu Zurich memperlihatkan wajah terbaiknya.Nadine mengajak Vimala berjalan menyusuri kota tua, menikmati jalan berbatu yang dipenuhi bangunan klasik, mampir ke toko cokelat, memberi makan burung di tepi sungai Limmat, hingga menaiki kapal wisata yang membelah danau.Sesekali Vimala mengambil foto.Sesekali mengirimkannya kepada Zyandru.Namun balasan pria itu hanya singkat.Zyan : Cantik.Zyan : Hati-hati.Zyan : Sudah makan?Walau singkat, cukup membuat Vimala tersenyum.Sore harinya, ketika mereka sedang duduk menikmati es krim di tepi jalan, ponsel Vimala berdering.Nama Burhan memenuhi layar.“Hallo, Om.”“Mala, kamu di mana?” Suara Burhan terdengar marah.“Di Swiss, Om.”“Swiss?”“Iya, ada apa Om?” tanya Vimala santai sambil makan ice cream.“Ngapain kamu ke sana?”“Bulan madu.” Vimala terkekeh kecil. “Eh… bukan.” Tapi dia meralat.“Terus ngapain?”“Ikut Zyandru ketemu klien… te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status