MasukDia tatap wajah istrinya, wanita yang begitu dicintainya.“I love you,” bisik Bagas sebelum akhirnya mulai menggerakan bokong maju mundur, menghentak Ratu yang pasrah menerima kenikmatan di bawahnya.Malam itu, ketika suara desah menggema memenuhi seantero suite dan peluh menjadi saksi betapa Bagas menginginkan Ratu juga sebaliknya—mereka menikmati keintiman pertama sebagai suami istri dengan kelembutan, kesabaran, dan cinta yang selama ini mereka bangun bersama.Tidak ada yang perlu dikejar.Tidak ada yang perlu dibuktikan.Malam itu adalah milik mereka berdua.Ketika mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan dunia, desahan Ratu berubah menjadi jeritan panjang.Dan geraman seksi suara berat Bagas membuat tubuh Ratu merinding dua kali lipat.Seakan Bagas tidak ingin sedetikpun kehilangan kenikmatannya, dia terus menghentak hingga tetes terakhir benih cintanya.Bagas menarik salah satu bathrobe yang bisa dia gapai kemudian menutupinya ke tubuh mereka berdua.Ratu berbaring d
Bagas pergi ke kamar mandi lebih dulu, memastikan suhu air terasa nyaman.Ratu masih terlihat malu-malu.Beberapa kali ia merapikan kain yang membalut tubuhnya.Bagas memperhatikannya tanpa komentar yang membuatnya semakin canggung."Airnya nyaman?" tanyanya.Ratu mencelupkan ujung jari."Hangat.""Kalau terlalu panas bilang ya.""Iya."Bagas mengulurkan tangan.Ratu menyambutnya.Perlahan ia masuk ke dalam jacuzzi setelah membuka bathrobe.Air hangat menyentuh kulitnya.Ratu mengembuskan napas panjang."Ah… enak banget."Bagas tersenyum."Kan."Ratu menyandarkan punggung.Bahu dan lehernya yang sejak pagi terasa tegang perlahan mulai lebih rileks.Beberapa saat kemudian Bagas ikut masuk dan duduk di dekatnya.Tubuh Ratu seketika menegang.Bagas mengangkat alis."Loh… kenapa?""Enggak apa-apa." Ratu tampak pucat."Yakiiiin?" Nada suara menggoda itu lagi.Ratu mengangguk kaku, kepalanya menunduk.Dan kini wajahnya semakin merah ketika laki-laki itu duduk cukup
Lift hotel bergerak perlahan menuju lantai tempat bridal suite mereka berada.Hanya ada Ratu dan Bagas di dalamnya.Untuk pertama kalinya sejak pagi, mereka benar-benar berdua.Tidak ada fotografer.Tidak ada wedding organizer.Tidak ada keluarga atau tamu yang silih berganti mengajak berfoto.Hanya suara lembut mesin lift.Dan pantulan dua orang pengantin pada dinding cermin.Ratu menyandarkan sedikit bobot tubuhnya sambil memegang buket kecil yang dibawanya dari ballroom.Bagas memperhatikannya melalui cermin."Sayang.""Hm?""Kok diam?"Ratu menggeleng. “Enggak apa-apa."Bagas tersenyum."Capek ya?""Iya.""Atau gugup?" Nada suaranya mulai menggoda.Ratu menoleh dramatis."Apa sih, Gas!"Bagas tertawa. "Aku cuma nanya."Ratu memalingkan wajah.Namun Bagas bisa melihat pipinya memerah melalui cermin.Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya.Kemudian mengangkatnya dan mengecup punggung tangan tersebut.Ratu meliriknya. "Kenapa?"Bagas tersenyum. "Enggak ap
Malam semakin larut ketika rangkaian resepsi pernikahan Ratu dan Bagas akhirnya mendekati penghujung acara.Alunan musik yang sejak sore memenuhi ballroom Hotel Indigo Dago Pakar perlahan berganti menjadi instrumental lembut.Sebagian besar tamu undangan telah meninggalkan ruangan.Petugas hotel mulai merapikan beberapa meja, sementara tim wedding organizer memastikan seluruh barang pribadi keluarga pengantin telah dikumpulkan.Di atas pelaminan, Ratu akhirnya mengembuskan napas panjang.Kedua kakinya mulai terasa pegal.Siger yang sejak sore menghiasi kepalanya pun terasa semakin berat.Namun senyum tidak pernah benar-benar meninggalkan wajahnya.Bagas yang berdiri di sebelahnya memperhatikan perubahan ekspresi sang istri."Capek ya, Sayang?"Ratu menoleh."Banget."Bagas tertawa kecil."Masih kuat berdiri?"Ratu mengangguk."Masih.""Yakin?" Mata Bagas menyipit."Kalau enggak kuat, kamu mau gendong aku?"Bagas tersenyum. “Boleh."Ratu membulatkan mata. “Dari sini?
Setelah berfoto bersama pengantin, Zyandru menggandeng Vimala turun dari pelaminan.Namun baru beberapa langkah, Vimala berhenti."Zyan.""Ya sayang?""Aku mau bilang sesuatu."Zyandru menoleh."Bilang apa sayang?"Vimala menatap pelaminan.Ratu sedang tertawa mendengarkan sesuatu yang dibisikkan salah satu tamu.Kedua pengantin itu terlihat begitu bahagia.Vimala tersenyum."Aku bahagia lihat mereka."Zyandru mengikuti arah pandang istrinya.Kemudian mengangguk."Aku juga."Vimala menoleh."Kamu benar-benar sudah enggak punya perasaan apa-apa sama Ratu?"Zyandru terdiam sebentar.Memang sudah tidak ada perasaan yang masih disembunyikan.Tapi ia memahami pertanyaan istrinya.Ia tidak ingin memberikan jawaban yang terdengar manis tetapi menghapus kenyataan bahwa Ratu pernah menjadi bagian penting hidupnya.Zyandru menggenggam tangan Vimala."Ratu pernah jadi orang yang pentin
Sore menjelang malam.Resepsi pernikahan dimulai.Ballroom Hotel Indigo telah mengalami perubahan tata ruang.Area akad yang sebelumnya dibuat khidmat kini disulap menjadi ruang pesta megah.Pencahayaan hangat membingkai pelaminan.Lampu gantung kristal berkilau di antara rangkaian bunga yang menjuntai.Sebuah panggung musik ditempatkan di sisi ballroom, tempat para musisi membawakan lagu-lagu romantis dengan aransemen elegan.Para tamu mulai berdatangan.Sejumlah keluarga besar.Sahabat.Rekan kerja Ratu.Rekan kerja Bagas.Serta tamu undangan dari kalangan bisnis keluarga Gunadhya.Ayah Kama dan bunda Arshavina hadir bersama keluarga.Davanka datang bersama Zevanya dan ketiga anak mereka.Kanaya hadir bersama Ryley dan ketiga anak mereka.Sementara Satria dan Kaluna sejak pagi sudah sibuk menerima dan menyambut para tamu sebagai keluarga pengantin perempuan.Ratu dan Bagas kini mengenakan busana r







