تسجيل الدخولPercakapan diawali dengan menanyakan kabar serta perkembangan kehamilan Vimala.Namun setelah Bi Tina meninggalkan ruangan, Yudha membuka tas dokumennya.“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa kajian mengenai kemungkinan penggabungan MG Group dan AG Group masih berada pada tahap awal.”Vimala mengangguk.“Iya, Om.”“Kami belum bisa memberikan rekomendasi sebelum mempelajari seluruh dokumen yang diperlukan.”Zyandru ikut mengangguk.“Saya mengerti.”Yudha kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua.“Namun dalam proses pemeriksaan arsip tersebut, ada sesuatu yang menurut saya perlu diketahui Vimala.”Vimala memperhatikan map itu.“Ini yang Om maksud tadi?”“Iya, Mala.”Yudha meletakkannya di atas meja.“Map ini ditemukan di antara beberapa dokumen pribadi almarhum pak Wisnutama yang masih tersimpan di ruang arsip lama.”Zyandru mengernyit.“Kenapa baru ditemukan sekarang?”“Karena selama ini berkas tersebut tidak termasuk dalam dokumen yang diperlukan unt
MG Group.Zyandru baru saja menandatangani dokumen ketika ponselnya bergetar.Melihat nama istrinya, senyum di bibir pria itu seketika muncul.Ia menjawab panggilan.“Halo, Cinta.”“Sayang…”Zyandru langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari suara Vimala.“Iya?”“Kamu lagi sibuk?”“Enggak. Kenapa?”Vimala terdiam sebentar.“Zyan, nanti sore kamu bisa pulang lebih cepat?”Zyandru melirik jam mahal di pergelangan tangan.“Jam berapa?”“Jam empat.”“Bisa.”Vimala mengembuskan napas lega.“Makasih, Sayang.”Zyandru meletakkan pena.“Mala … Ada apa?”Vimala menggigit bibir.“Om Yudha mau datang ke rumah.”Zyandru mengernyit.“Pak Yudha pengacara?”“Iya.”“Urusan apa?”Vimala menarik napas perlahan.“Awalnya tentang rencana penggabungan perusahaan.”Zyandru terdiam.Kemudian tersenyum kecil.“Oh, yang pernah kita obrolin itu?”“Iya.”“Memangnya kamu benar-benar mau menggabungkan MG Group dengan AG Group bagian aku?”Vimala menunduk.“Sebetulnya aku su
Di kediaman Zyandru.Menjelang pukul sebelas siang.Vimala baru selesai menikmati buah potong ketika Tina datang membawa sebuah kotak berwarna putih.“Non Mala.”Vimala menoleh dari sofa.“Iya, Bi?”“Ini ada kiriman dari butik.”Vimala mengernyit.“Butik?”“Iya, Non. Katanya pesanan pak Zyandru.”Vimala tampak bahagia.“Ya ampun, apalagi ini?”Bi Tina ikut tersenyum.Sejak beberapa minggu terakhir, hampir setiap hari ada saja barang yang dikirim ke rumah.Mulai dari perlengkapan bayi.Pakaian.Selimut.Hingga berbagai benda yang bahkan belum diketahui kegunaannya oleh Vimala.Perempuan itu membuka kotak tersebut.Dan seketika senyumnya kian melebar.Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bayi berwarna putih dengan detail biru muda.Ukurannya begitu kecil.Vimala mengambil salah satunya.“Ya ampun …”Ia tertawa pelan.“Lucu banget!”Bi Tina mendekat.“Kecil sekali ya Non.”Vimala mengangguk.“Iya, Bi.”Ia meletakkan sepatu mungil itu di atas telapak tanganny
Suatu pagi di hari Rabu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamar utama kediaman Zyandru Gunadhya.Udara sejuk dari pendingin ruangan membuat suasana kamar terasa nyaman. Di atas ranjang berukuran king size, Vimala masih terlelap dengan posisi menyamping, sementara sebuah bantal khusus kehamilan menopang perutnya yang semakin membulat.Namun laki-laki yang berbaring di belakangnya sudah terjaga sejak beberapa menit lalu.Zyandru tidak sedang memeriksa ponsel.Tidak pula memikirkan pekerjaan yang menunggunya di MG Group.Perhatiannya justru tertuju pada perut istrinya.Telapak tangannya bergerak perlahan di atas kain piyama Vimala.Senyum kecil menghiasi bibirnya.Sudah empat hari berlalu sejak pesta gender reveal di resort keluarga Gunadhya, Lembang.Namun sampai sekarang, Zyandru masih sulit menyembunyikan kegembiraannya setiap kali mengingat tulisan raksasa berwarna biru yang memenuhi langit malam itu.IT’S A BOY!Seorang putra.Dia akan memiliki anak laki-lak
Namun beberapa detik kemudian Bagas berbisik di telinganya."Tapi sebelum mikirin baby shower…"Ratu mendongak."Kenapa?"Bagas tersenyum jahil."Babynya harus ada dulu, Sayang."Wajah Ratu seketika memerah."Ih Bagas!"Laki-laki itu tertawa keras.Ratu mencubit pelan lengannya.Namun kali ini ia ikut tertawa.Kemudian menyandarkan kepala pada bahu suaminya.Di hadapan mereka, keluarga besar Gunadhya masih merayakan kabar bahagia.Dan Ratu merasa sungguh bersyukur dapat menjadi bagian dari momen tersebut.Bukan sebagai perempuan dari masa lalu Zyandru.Melainkan sebagai Ratu.Istri Bagas.Perempuan yang akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri.Pukul delapan malam.Acara memasuki sesi makan malam keluarga.Sebuah meja panjang khusus telah disiapkan di area paviliun privat.Seluruh keluarga inti Gunadhya duduk bersama.Kama.Arshavina.Davanka dan Zevanya.Kanaya dan Ryley.Satria dan Kaluna.Zyandru dan Vimala.Serta Ratu dan Bagas yang secara khusus dimin
Di tengah taman, instalasi pohon kehidupan mulai berubah.Cahaya putih mengalir dari bagian akar menuju batang.Kemudian bergerak ke ranting-ranting."TUJUH!""ENAM!""LIMA!"Zyandru menggenggam tangan Vimala semakin erat.Perempuan itu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca."Zyan…"Laki-laki itu tersenyum."Sebentar lagi, Sayang.""EMPAT!""TIGA!""DUA!""SATU!"DAN SEKETIKA—Seluruh pohon kehidupan berubah menjadi warna biru safir.Cahaya biru menjalar di setiap ranting.Kemudian ratusan kelopak bunga biru dan putih melayang turun dari instalasi dekoratif di atas panggung.Bersamaan dengan itu, puluhan air mancur di area taman menyala dalam warna biru keperakan.Semburan air bergerak membentuk lengkungan yang saling bertaut.Alunan orkestra berubah menjadi musik kemenangan yang megah.Namun belum berhenti sampai di sana.Di atas langit Lembang—Ribuan drone yang sebelumnya membentuk siluet bayi tiba-tiba bergerak dalam koreografi yang luar biasa.Titik-tit







