Home / Romansa / Takdir Tidak Pernah Keliru / Menghadiri Undangan dari MG Group

Share

Menghadiri Undangan dari MG Group

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-08-25 20:51:09

Cahaya tipis menyusup dari sela-sela tirai presidential suite, jatuh samar ke lantai marmer dan sisi ranjang besar yang masih berantakan setelah malam panjang mereka.

Zyandru berdiri di depan cermin.

Kemeja putih.

Setelan jas gelap.

Jam tangan terpasang rapi.

Rambutnya sudah tertata.

Tidak ada sedikit pun tanda bahwa beberapa jam sebelumnya pria itu baru tidur menjelang dini hari setelah kembali menghabiskan malam sebagai pengantin baru bersama istrinya.

Di belakangnya, seseorang masih t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
yakin Zyandru bisa melibas musuh tak terlihat,,, thanks k Othor 🫰🫰🫰
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Kecewa

    Pesawat dari New York mendarat beberapa jam sebelumnya.Dia langsung menggunakan transportasi paling cepat untuk sampai ke Bandung.Sampai di rumah kedua orang tuanya, ibu menyambut hangat dengan pelukan.Sang putri akhirnya pulang dan tidak perlu pergi jauh lagi.Ratu bergegas meletakkan koper.Mengganti pakaian.Kemudian pergi lagi.Tidak ada yang bisa menghentikannya.Bahkan ibunya sempat bertanya—“Mau ke mana?”Ratu hanya menjawab singkat.“Ke rumah A Satria.”Rumah Satria berada tidak terlalu jauh dari kediaman orang tua mereka.Masih di kawasan Lembang.Udara sore terasa dingin.Namun langkah Ratu justru semakin cepat.Ia tidak menelepon.Tidak mengabari lebih dulu.Tidak memberi kesempatan siapa pun menyiapkan alasan.Ketika sampai—rumah itu terlihat tenang.Lampu halaman belakang menyala.Pintu samping sedikit terbuka.Ratu masuk.Dan dari jauh—ia melihat dua o

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Harus Memilih

    Sore hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaannya di AG Group, Zyandru pergi ke kediaman orang tuanya.Saat itu Kama sedang berada di ruang kerja.Padahal menurut sekuriti yang berjaga di depan rumah, ayah baru sampai dari kantor tapi sekarang beliau masih saja bekerja.Seperti biasa, ruangan itu dipenuhi dokumen, layar, serta beberapa laporan bisnis yang baru saja dibuka.Begitu Zyandru masuk, ayah langsung menutup tablet.“Hey… tumben, ada apa?” tanya beliau.Zyandru duduk. “Mau laporan tentang rapat kemarin di MG Group.” “Oke.” Ayah menegangkan punggung, fokusnya tertuju pada si bungsu. Zyandru menceritakan seluruh isi rapat.Ayah Kama mendengarkan tanpa menyela.Tentang dua kubu.Tentang konflik kepentingan.Tentang ide merger.Tentang usulan agar Zyandru pindah penuh ke MG Group.Sampai akhirnya Zyandru berkata—“Vimala masih enggak mau merger.”Ayah Kama tersenyum kecil. “Wajar, Ayah sudah bisa menebak

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Salah Satu Bukti Cinta

    Pagi berikutnya, meja makan terasa jauh lebih tenang.Vimala sudah duduk dengan piyama satin dan rambut diikat asal.Zyandru datang beberapa menit kemudian sambil membawa tablet.Vimala bisa bangun pagi hari ini karena Zyandru tidak ‘mengganggunya’.“Pagi sayang.” Zyandru menyapa, ketika langkahnya sampai di dekat Vimala—dia menunduk mengecup puncak kepala istrinya.“Pagi.” Vimala mengunyah roti.“Kamu mau ngantor sekarang?” tanya Vimala basa-basi.“Sebentar lagi… sarapan dulu terus mau ngobrol sama kamu.”Gerakan Vimala berhenti. “Ngobrolin apa.”Zyandru duduk di seberangnya.Bi Tina menuangkan kopi lalu meninggalkan mereka berdua.Vimala menatap suaminya. “Ada apa?” tanyanya penasaran.Zyandru tidak langsung menjawab.Ia mengambil satu potong buah.Kemudian berkata, “Rapat kemarin bukan rapat perkenalan.”Vimala mengangkat kedua alisnya. “Terus?”Zyandru menjelaskan semuanya.Tentang keresahan direksi.Tentang pertanyaan soal dua perusahaan.Tentang konflik kepent

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Kembali Ke Rumah

    Senja menguning di ufuk barat ketika mobil yang membawa Zyandru berhenti di depan hotel.Ia baru saja turun dan bersamaan dengan itu ponselnya bergetar.Satu pesan dari Vimala.Mala : Lama banget. Aku hampir pulang sendiri.Sudut bibir Zyandru langsung terangkat.Ia mengetik cepat.Zyan : Aku sudah di lobby.Belum sempat menyimpan ponsel, balasan datang.Mala : Tunggu. Jangan pergi.Aku turun.Zyandru terkekeh kecil.Seolah dirinya akan datang sejauh ini hanya untuk pergi lagi tanpa membawa istrinya pulang.Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka.Vimala keluar bersama Anindya, Keisha, dan Marvelle.Ketiganya membawa beberapa paper bag, sementara Vimala berjalan paling depan menggunakan dress santai dengan rambut disanggul asal.Begitu melihat Zyandru, langkahnya otomatis sedikit lebih cepat.“Kamu lama banget.” Bibirnya mengerucut.“Kamu nungguin?” Satu sudut bibir Zyandru terangkat.“Enggak.” “Terus kenapa protes?”“Ya karena aku pengin pulang.”Zyandru meng

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Harus Memutuskan

    “Kalau ada perubahan struktur kepemimpinan sebesar itu, saya akan diskusikan dulu dengan istri saya.”Robi mendengus pelan. “Dia akan nurut sama lo.”Seluruh ruangan mendadak sunyi.Tatapan Zyandru perlahan berpindah.“Maaf?”Robi menegakkan tubuh. “Maksud saya, bu Vimala tentu akan mempertimbangkan pendapat Bapak sebagai suaminya.”Zyandru menatapnya cukup lama.Lalu tersenyum.Sangat tipis.“Bagus kalau Anda masih ingat saya suaminya.”Rahang Robi langsung mengeras.Beberapa orang tidak memahami makna kalimat tersebut.Burhan jelas memahami namun memilih diam.Belum selesai.Salah seorang komisaris yang sejak awal tidak banyak bicara tiba-tiba mengangkat tangan.“Saya justru punya pandangan berbeda.”Zyandru menoleh.“Silakan.”“Kenapa tidak digabung saja?”Beberapa orang langsung bereaksi.“Pak—”“Tunggu.” Komisaris tersebut mengangkat tangan. “Dengar dulu.” Ia kemudian menatap seluruh meja.“Selama puluhan tahun kita bersaing dengan AG Group.”“Betul.”“Dan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menentukan Siapa Pimpinan MG Group

    Kedatangan Zyandru langsung menarik perhatian.Bukan karena dirinya baru pertama kali memasuki gedung tersebut melainkan sekarang statusnya berbeda.Suami dari pewaris tunggal MG Group.Pemegang kewenangan sementara untuk menjalankan perusahaan.Dan laki-laki dari keluarga yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rival utama mereka.Begitu Zyandru memasuki lobby, beberapa kepala otomatis menoleh.“Selamat pagi, Pak.”“Pagi, Pak.”Zyandru membalas dengan anggukan singkat.Langkahnya tidak melambat.Bella mengikuti setengah langkah di belakang.Beberapa karyawan perempuan yang berada dekat area resepsionis saling melirik setelah pria itu lewat.“Gila, ganteng banget.”“Sayang udah nikah.”“Lo berani sama suaminya pewaris MG Group?”“Enggak berani. Cuma bilang sayang aja.”“Pestanya kemarin mewah banget.”“Gue lihat foto internalnya. Bu Vimala cantik banget.”Bisikan itu tidak sampai ke telinga Zyandru.Atau mungkin sampai tapi tentu saja tidak penting.Pintu lift ek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status