MasukVimala sudah tertidur ketika Zyandru tiba.
Ruangan rawat itu terasa terlalu sunyi.Terlalu putih.Terlalu dingin.Zyandru berhenti di ambang pintu.Di ranjang—istrinya berbaring dengan infus terpasang.Wajah pucat.Bibir kering.Tubuh yang biasanya tidak pernah bisa diam sekarang nyaris tidak bergerak.Zyandru berjalan mendekat.“Mala…”Tidak ada jawaban.Bi Tina yang duduk di sofa langsung berdiri.“Pak…”Zyandru menoleh.Vimala mengangguk perlahan. “Bukan begitu.” “Jawab!” Zyandru menelan ludah. “Aku akan melakukan hal yang sama kalau siapa pun dihina secara tidak pantas di rapat yang aku pimpin.” Vimala tertawa getir. “Termasuk kalau yang dihina aku?” “Mala, tentu.” “Lucu.” Air mata mengalir semakin deras. “Waktu malam kejadian aku berdebat dengan Ratu dan Ratu jelas-jelas meledek aku, kamu malah bilang jangan libatkan Ratu.” Zyandru menghela nafas panjang. “Waktu aku nangis di depan semua orang, kamu sibuk menjaga perasaan dia.” “Mala…” “Waktu aku bilang dia pelakor, kamu bentak aku.” Zyandru menunduk. “Tapi waktu dia disindir orang .…” Vimala menunjuk dadanya sendiri. “…kamu hampir mukul laki-laki itu.” Tidak ada respon. Dan bagi Vimala—itulah jawaban yang paling menyakitkan. “Kamu masih cin
Vimala sudah tertidur ketika Zyandru tiba.Ruangan rawat itu terasa terlalu sunyi.Terlalu putih.Terlalu dingin.Zyandru berhenti di ambang pintu.Di ranjang—istrinya berbaring dengan infus terpasang.Wajah pucat.Bibir kering.Tubuh yang biasanya tidak pernah bisa diam sekarang nyaris tidak bergerak.Zyandru berjalan mendekat.“Mala…”Tidak ada jawaban.Bi Tina yang duduk di sofa langsung berdiri.“Pak…”Zyandru menoleh.“Kenapa Bibi enggak—”Kalimatnya berhenti.Karena ia tahu.Bi Tina sudah menelepon.Berkali-kali.Justru dirinya yang tidak menjawab.“Maaf, Bi.”Bi Tina menggeleng.“Enggak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang Bapak sudah datang.”Zyandru menatap Vimala.“Tadi dia tanya saya?”Bi Tina terdiam.Kemudian mengangguk. “Non tanya Bapak.”Zyandru memejamkan mata.Sial.Ia menarik kursi.Duduk di sisi ranjang.Men
“Dua staf itu bilang aku membayar mereka.”“Tapi memang enggak, kan?”“Enggak untuk menjebak Zyandru.”Jawaban itu keluar cepat.Robi menggenggam kedua tangannya.“Aku cuma minta agar mereka memperhatikan dia. Tapi sekarang semuanya dibalik.”Vimala terduduk lesu.“Zyandru punya uang. Punya kekuasaan. Punya orang-orang yang akan melakukan apa pun buat dia.”Robi mencondongkan tubuh.“Dan kamu tahu siapa yang selalu dia lindungi?”Vimala memejamkan mata.“Ratu.” Robi berbisik.Satu nama itu terasa seperti pisau.Robi menurunkan suara.“Aku enggak masalah kehilangan jabatan, Mala.”Vimala membuka mata.“Aku cuma enggak mau kamu terus dibohongi.”“Kak…”“Aku sayang kamu.”Vimala terdiam.“Dari dulu aku selalu berusaha menjaga kamu.”Robi meraih tangannya.“Papa kamu sudah enggak ada. Mama kamu juga. Kalau sekarang suami kamu malah menyakiti kamu…”Ia menggantung kalimat.
Robi tidak menunggu rapat benar-benar berakhir.Begitu Direktur HR meminta dirinya menyerahkan akses jabatan dan mengikuti proses administrasi, laki-laki itu langsung meninggalkan ruang rapat.Wajahnya merah.Rahangnya mengeras.Kedua tangannya mengepal.Ia bahkan tidak menoleh ketika Burhan memanggil namanya.“Robi!”Langkahnya semakin cepat.“Robi, berhenti!”Pintu lift terbuka.Robi masuk.Burhan berhasil menyusul tepat sebelum pintu menutup.“Apa-apaan kamu?!”Robi menekan tombol lantai dasar.“Ayah sudah lihat sendiri, kan?”“Lihat apa?”“Zyandru sengaja mempermalukan aku!”Burhan tertawa tidak percaya. “Mempermalukan kamu?”“Dia bawa semua itu ke depan komisaris!”“Karena kamu meninggalkan jejak!”Robi menoleh tajam. “Ayah nyalahin aku?”“Memangnya Ayah harus menyalahkan siapa?”“Zyandru!”Burhan mengusap wajah.“Robi, Ayah sudah bilang jangan bertindak semba
“Gue mau nama.” Davin yang baru saja masuk ke ruang Direktur Utama berhenti. “Selamat siang juga.” Davin sedang berkelakar. “Vin.” “Oke.” Davin meletakkan laptop. “Tim IT masih tracing.” “Sudah berapa hari?” “Dan lo pikir digital forensic kayak bikin mi instan?” Zyandru menatap tajam. Davin mengangkat tangan. “Gue ngerti lo buru-buru.” “Bukan buru-buru.” “Terus apa?” “Mala mau cerai.” Davin seketika kehilangan senyum. “Dia bilang langsung ke lo?” “Pak Yudha datang.” Zyandru menyandarkan punggung. “Begitu proses warisan selesai, Mala mau mulai urus perceraian.” Davin mengumpat pelan. “Makanya gue butuh bukti sekarang.” “Zyan.” “Gue enggak punya waktu
Zyandru baru memasuki project office ketika sebuah percakapan terdengar dari pantry kecil di ujung koridor.“Berani juga dia masih masuk.”“Kalau gue jadi dia sih malu.”“Ya kalau punya malu enggak mungkin dari awal berani main api sama suami orang.”Langkah Zyandru berhenti.Davin yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.“Pak,” katanya pelan.Zyandru menoleh.“Jangan.” Davin mengingatkan.“Gue belum ngapa-ngapain.”“Muka lo udah pengen mecahin sesuatu.”Zyandru mengeratkan rahang.Davin mendorong pelan bahunya. “Meeting lima menit lagi.”Zyandru melanjutkan langkah.Namun suasana tidak membaik ketika rapat dimulai.Vendor utama hadir.Construction manager.Engineering.Planning.Project control.Ratu duduk di sisi meja dengan laptop terbuka.Raut wajah dan gesture tubuhnya tampak tenang.Profesional.Seolah tidak pernah terjadi apa pun.Rapat berjalan hampir em







