LOGINPukul enam sore.Sebagian besar lampu di area kerja mulai dimatikan.Satu demi satu karyawan berpamitan.“Duluan, Bu.”“Hati-hati.”“Besok ketemu lagi ya, Bu.”“See you.”Namun Ratu justru kembali memasuki ruang rapat.Hari pertamanya belum selesai.Di dalam sudah ada Ryan, Direktur Engineering, Finance representative, Legal, Procurement, serta beberapa senior manager.Proyek MG Group dibahas lebih mendalam.Ratu mendapat akses seluruh dokumen.Kontrak.Scope of work.Timeline.Struktur komunikasi.Pembagian tanggung jawab.Risk register awal.Milestone.Sampai daftar orang dari MG Group yang terlibat.Namun daftar lengkap steering committee pihak partner belum tersedia.“MG sedang restrukturisasi,” jelas salah seorang eksekutif.Ratu mengangguk.“Minggu depan final?”“Seharusnya.”“Siapa counterpart saya?”“Project Director mereka belum dikonfirmasi.”
Pukul sembilan tiga puluh, Ratu sudah berada di ruang meeting.Bukan sekadar perkenalan.Atasan langsungnya, seorang Division Head bernama Ryan Pranoto, sejak beberapa hari lalu sudah mengirimkan satu studi kasus proyek yang sedang dievaluasi perusahaan.Ratu diminta membaca dan memberikan pandangan awal pada hari pertamanya.Tidak ada instruksi untuk membuat presentasi.Namun tentu saja Ratu membuatnya.Bukan lima slide.Bukan pula sekadar catatan.Dua puluh tiga slide.Lengkap.Dan sekarang slide ketujuh belas terpampang di layar.“…kalau kita tetap menggunakan staging plan awal, pekerjaan struktur baru bisa masuk setelah seluruh pekerjaan subgrade selesai.”Ratu berdiri di depan layar.Laser pointer berada di tangannya.“Tapi menurut saya itu justru membuat critical path terlalu panjang.”Ryan yang duduk di ujung meja memperhatikan.Beberapa senior manager lainnya ikut berada di sana.Ratu mengganti slide.Sebuah diagram muncul.“Saya coba pecah zona pekerjaan me
Alarm berbunyi tepat pukul lima tiga puluh pagi.Namun bahkan sebelum suara itu terdengar untuk kedua kalinya, tangan Ratu sudah lebih dulu meraih ponsel di atas nakas dan mematikannya.Tidak ada drama menarik selimut.Tidak ada menekan snooze.Tidak ada pula keinginan tidur lima menit lagi yang biasanya berakhir menjadi setengah jam.Hari ini berbeda.Hari pertama bekerja.Dan untuk pertama kalinya sejak pulang ke Indonesia, Ratu bangun dengan sesuatu yang benar-benar ingin ia tunggu.Ia duduk di sisi tempat tidur selama beberapa detik.Memandangi kamar apartemennya yang masih terasa asing.Beberapa kardus belum seluruhnya dibongkar.Dua koper masih terbuka di dekat lemari.Bahkan salah satu pigura yang dibawanya dari Lembang masih bersandar di dinding karena semalam terlalu malas mencari tempat yang tepat untuk menggantungnya.Namun pagi ini semuanya tidak mengganggu.Ratu bangkit dari tempat tidur.Membuka tirai.Jakarta menyambutnya dengan langit yang perlahan beru
Nah.Ini bagian yang sebenarnya.“Kenali semua orang.”Davin diam.“Dari direksi sampai OB.”“Easy.”“Cari tahu dinamika internal.”“Oke.”“Siapa dekat dengan siapa.”“Hm.”“Siapa yang suka nyebar gosip.”“Siap.”“Siapa gampang diajak makan.”“Gue suka ini.”“Siapa yang punya masalah.”Davin terkekeh. “Lo minta gue jadi mata-mata?”“Gue cuma minta lo pasang mata dan telinga.”“Beda tipis.”“Yang penting jangan kelihatan lo lagi cari informasi.”Davin mengangguk.Itulah alasan sebenarnya Zyandru memilihnya.Davin memiliki sesuatu yang tidak Zyandru miliki.Kalau Zyandru masuk ke sebuah ruangan, orang-orang otomatis berhati-hati.Namanya.Keluarganya.Jabatannya.Bahkan ekspresinya membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara sembarangan.Davin sebaliknya.Dalam waktu kurang dari lima belas menit, ia bisa membuat orang baru merasa seperti sud
Sebuah sedan hitam panjang dengan emblem MG Group sudah menunggu di depan kediaman Wisnutama.Bukan lagi mobil AG Group.Bukan juga kendaraan pribadinya.Untuk pertama kali sejak secara resmi memutuskan pindah penuh ke MG Group, perusahaan tersebut menyiapkan kendaraan operasional khusus Direktur Utama.Sopir sudah berada di belakang kemudi.Namun ada satu orang lagi yang berdiri di dekat pintu belakang.Seorang laki-laki seusia Zyandru.Tinggi.Tubuhnya tidak sebesar Zyandru namun terlihat atletis.Setelan abu-abu gelap membungkus tubuhnya dengan rapi. Rambut hitamnya disisir profesional, kacamata berbingkai tipis bertengger di wajah yang terlihat ramah.Tangannya memegang tablet.Ekspresinya…terlalu serius.Begitu Zyandru mendekat, pria itu langsung membukakan pintu.“Selamat pagi, Pak.”Zyandru melirik sekilas.Wajahnya seketika kembali datar.“Pagi.”Tidak ada senyum.Tidak ada keramahan.Bahkan nada suaranya persis seperti seorang atasan yang baru pertama kal
Vimala benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Mau marah.Mau protes.Tapi di saat bersamaan, ia juga ingin tertawa.Kini dia sedang berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan sangat luas dengan kedua tangan bertolak pinggang dan mulut sedikit terbuka.Dulu tempat itu adalah garasi utama kediaman Wisnutama.Garasi besar yang mampu menampung dua belas mobil sekaligus.Koleksi mobil sang papa pernah memenuhi hampir seluruh bagiannya.Beberapa sudah dipindahkan ke bangunan garasi lain yang berada di sisi belakang rumah, sementara kendaraan yang masih sering digunakan ditempatkan di area berbeda.Dan sekarang?Garasi itu nyaris tidak terlihat seperti garasi.Lantai yang sebelumnya terbuat dari epoxy abu-abu gelap telah berubah menjadi perpaduan flooring kayu dan rubber gym premium.Salah satu dindingnya dipenuhi cermin besar dari lantai hingga langit-langit.Di sisi kanan terdapat treadmill.Elliptical.Stationary bike.Free weights.Cable machine.Bench.Bahkan s







