Se connecterPukul dua siang.Zyandru berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika Yudha datang bersama Ratih.Davin mempersilakan keduanya masuk.“Bagaimana, Pak?”Yudha dan Ratih duduk berdampingan.“Tim audit sudah menyelesaikan pencocokan tambahan.”Ratih menyerahkan sebuah laporan.“Dari dokumen yang diperiksa, ada beberapa berita acara pekerjaan yang menggunakan dokumentasi tidak sesuai dengan proyek sebenarnya.”Zyandru membuka laporan tersebut.“Sudah dikonfirmasi ke tim proyek?”“Sudah. Kami juga mendapatkan salinan dokumen asli dari proyek yang fotonya digunakan kembali.”“Bagaimana dengan staf yang namanya tercantum?”“Mereka sudah memberikan keterangan kepada tim audit dan bersedia menjelaskan kepada penyidik.”Zyandru mengangguk.Yudha kemudian menyampaikan perkembangan pemeriksaan Burhan dan Robi yang diperolehnya melalui koordinasi resmi dengan penyidik.“Untuk saat ini, kami belum menerima seluruh isi berita acara pemeriksaan. Tetapi penyidik mengonfirmasi bahwa pe
Ruang pemeriksaan terasa dingin.Robi duduk di hadapan penyidik dengan kedua tangan saling bertaut.Di sebelahnya, Hendra membuka catatan.Seorang penyidik meletakkan salinan dokumen di atas meja.“Saudara Robi, kami ingin meminta penjelasan mengenai pembayaran kepada PT Arunika Teknik Konsultan.”Robi mengangguk.“Silakan.”“Saudara pernah menyatakan bahwa seluruh pekerjaan vendor tersebut telah selesai dan pembayaran dilakukan sesuai prosedur.”“Betul.”Penyidik menunjukkan sebuah berita acara.“Ini salah satu dokumen yang Saudara tanda tangani.”Robi memperhatikannya.“Iya.”“Dalam dokumen ini dinyatakan bahwa pekerjaan pengawasan lapangan telah dilaksanakan.”“Betul.”“Saudara memeriksa hasil pekerjaannya secara langsung?”Robi terdiam sebentar.“Saya menerima laporan dari tim.”“Tim siapa?”“Staf proyek.”“Siapa namanya?”Robi mengerutkan kening.“Sudah lama. Saya harus memeriksa lagi.”Penyidik mengangguk.“Kami sudah meminta keterangan beberapa staf yang
Burhan melemparkan map ke atas meja.“Ini tidak masuk akal!”Robi yang duduk di hadapannya mengangkat pandangan. Sejak beberapa menit lalu, keduanya berada di sebuah ruangan tertutup bersama pengacara yang menangani perkara mereka.“Kenapa lagi, Yah?” Robi bertanya.“Penyidik meminta pemeriksaan tambahan.”“Bukannya semua sudah kita jelaskan?”Burhan menatap putranya tajam.“Menurutmu mereka akan memanggil kita lagi kalau tidak menemukan sesuatu?”Robi terdiam.Pengacara mereka, Hendra, meletakkan dokumen yang baru saja dibacanya.“Ada perkembangan dalam penyidikan. Pihak MG Group menyerahkan beberapa dokumen tambahan yang sebelumnya belum masuk dalam berkas perkara.”“Dokumen apa?”“Catatan pemeriksaan khusus yang dibuat sebelum pak Wisnutama meninggal.”Wajah Burhan seketika berubah.Hendra memperhatikan reaksinya.“Pak Burhan?”Pria tua itu tidak menjawab.“Dokumen tersebut berkaitan dengan sejumlah pembayaran vendor, termasuk transaksi empat koma enam miliar rupia
Zyandru tiba bersama Davin beberapa menit kemudian.Vimala yang sedang beristirahat di ruang kerja suaminya ikut datang setelah mengetahui ada perkembangan baru.Yudha mempersilakan mereka duduk.“Pak Zyandru, Bu Ratih menemukan satu transaksi yang perlu kita perhatikan.”Ratih langsung menampilkan dokumen tersebut.“Ini pembayaran sebesar empat koma enam miliar rupiah yang dilakukan dua hari setelah pak Wisnutama meninggal.”Vimala mengernyit.“Setelah papa meninggal?”“Iya, Bu.”Zyandru membaca nama vendor dan nomor transaksi.“Bukankah ini termasuk pembayaran yang sedang diperiksa?”“Betul.”Ratih menyerahkan salinan catatan Wisnutama.“Dan ini instruksi beliau sebelum meninggal.”Zyandru membaca tulisan tersebut.TAHAN PEMBAYARAN. DOKUMEN BELUM LENGKAP.Kemudian ia kembali menatap layar.“Siapa yang menyetujui pencairannya?”Ratih menunjukkan riwayat otorisasi.Robi.Burhan.Zyandru mengeraskan rahangnya.Vimala menatap kedua nama itu cukup lama.“Jadi papa
Pertemuan berlanjut setelah mereka beristirahat sejenak.Ratih memperlihatkan hasil pencocokan berkas A-17 dengan data transaksi yang telah diperiksa tim audit internal.“Dari dua belas pembayaran tadi, ada beberapa yang sejak awal sudah masuk dalam laporan dugaan penyimpangan. Tetapi nomor referensi pada catatan pak Wisnutama membantu kami menemukan keterkaitan antardokumen yang sebelumnya belum terlihat jelas.”“Seperti apa?” tanya Zyandru.“Beberapa tagihan menggunakan uraian pekerjaan berbeda, tetapi melampirkan laporan kegiatan dengan isi yang hampir sama. Bahkan ada foto dokumentasi yang digunakan lebih dari satu kali.”Davin menggeleng. “Ceroboh banget.”Ratih menoleh.“Justru itu yang menarik, Pak Davin. Dokumen-dokumen tersebut tidak diajukan bersamaan. Ada jarak waktu beberapa bulan.”“Jadi kalau enggak diperiksa satu per satu, mungkin enggak kelihatan?”“Betul.”Zyandru mengusap rahangnya.“Berapa nilai transaksi yang sekarang bisa kita dukung dengan temuan dokum
Menjelang tengah hari, Zyandru dan Vimala tiba di MG Group.Davin yang sedang berbicara dengan seorang staf langsung menghampiri ketika melihat mereka keluar dari lift.“Selamat siang, Pak. Selamat siang, Bu Mala.”“Siang, Davin.”Davin melirik perut Vimala.“Wah, calon bos kecil ikut inspeksi?”Vimala tertawa.“Iya. Mau lihat papanya kerja.”“Bagus, Bu. Biar nanti tahu kalau papanya suka nyuruh-nyuruh orang.”Zyandru menatap sebal.“Davin!”Davin mengangkat kedua tangan.“Saya cuma menyampaikan fakta, Pak.”Vimala tertawa semakin keras.Zyandru menggeleng sambil menggandeng istrinya menuju ruang rapat.“Pak Yudha sudah datang?” tanyanya.“Sudah. Sama Bu Ratih dari Audit Internal.”“Baik.”Davin membukakan pintu.Di dalam, Yudha telah duduk bersama seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan yang mengenakan blazer hitam.Ratih merupakan kepala tim audit internal yang menangani penelusuran transaksi mencurigakan sejak Burhan dan Robi tidak lagi bekerja di MG Gro







