Home / Romansa / Takdir Tidak Pernah Keliru / Pagi yang Penuh Gairah

Share

Pagi yang Penuh Gairah

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-10-26 22:18:02

Menjelang pukul sembilan.

Sebuah troli room service masuk ke bridal suite.

Aroma kopi, roti panggang, serta hidangan sarapan hangat memenuhi ruangan.

Ratu mengambil duduk di dekat jendela dengan rambut yang masih sedikit lembap.

Ia telah mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih.

Sementara Bagas datang membawa dua gelas minuman.

"Untuk istri aku."

Ratu menerima salah satunya.

"Makasih, suami aku."

Bagas tertawa.

"Senang banget manggil suami?"

"Banget… banget… banget."

"Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pagi yang Penuh Gairah

    Menjelang pukul sembilan.Sebuah troli room service masuk ke bridal suite.Aroma kopi, roti panggang, serta hidangan sarapan hangat memenuhi ruangan.Ratu mengambil duduk di dekat jendela dengan rambut yang masih sedikit lembap.Ia telah mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih.Sementara Bagas datang membawa dua gelas minuman."Untuk istri aku."Ratu menerima salah satunya."Makasih, suami aku."Bagas tertawa."Senang banget manggil suami?""Banget… banget… banget.""Kalau begitu ulangi."Ratu mendelik."Suami aku.""Lagi.""Bagas!"Laki-laki itu tertawa.Kemudian duduk di hadapannya.Di atas meja tersaji telur, roti, buah-buahan, bubur ayam, dan beberapa hidangan kecil.Ratu memperhatikan semuanya."Kita cuma berdua, Gas.""Iya.""Kenapa makanannya kayak buat satu RT?"Bagas terkekeh."Karena aku enggak tahu kamu mau makan apa.""Kan bisa tanya.""Tadi kamu lagi mandi."Ratu menggeleng."Dasar."Namun ia segera mengambil sedikit bubur ayam.

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pengantin Baru

    Bandung.Hotel Indigo Dago Pakar.Pukul tujuh pagi.Cahaya matahari menerobos celah tirai yang semalam lupa ditutup dengan sempurna.Udara dingin khas kawasan Dago Pakar masih menyelimuti ruangan, berpadu dengan kehangatan selimut tebal yang menutupi sepasang pengantin baru.Ratu menggeliat pelan.Namun baru saja mencoba mengubah posisi, sebuah rasa pegal menjalar dari pinggang hingga kedua pahanya."Aduh…"Perempuan itu mengerutkan wajah.Matanya terbuka perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah dada bidang seorang laki-laki.Laki-laki yang salah satu lengannya masih melingkari pinggangnya, sementara wajah tampannya terlihat begitu damai dalam tidur.Siapa lagi kalau bukan Bagas.Suaminya.Ratu terdiam.Kemudian perlahan mengangkat selimut.Dan seketika matanya membulat.Ya Tuhan!Ia langsung menarik selimut sampai ke leher.Gerakan mendadak itu membuat Bagas terusik."Hm…"Laki-laki itu mengeratkan pelukannya."Jangan gerak dulu, Sayang."Ratu membeku."Ga

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Saling Mencintai

    Dia tatap wajah istrinya, wanita yang begitu dicintainya.“I love you,” bisik Bagas sebelum akhirnya mulai menggerakan bokong maju mundur, menghentak Ratu yang pasrah menerima kenikmatan di bawahnya.Malam itu, ketika suara desah menggema memenuhi seantero suite dan peluh menjadi saksi betapa Bagas menginginkan Ratu juga sebaliknya—mereka menikmati keintiman pertama sebagai suami istri dengan kelembutan, kesabaran, dan cinta yang selama ini mereka bangun bersama.Tidak ada yang perlu dikejar.Tidak ada yang perlu dibuktikan.Malam itu adalah milik mereka berdua.Ketika mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan dunia, desahan Ratu berubah menjadi jeritan panjang.Dan geraman seksi suara berat Bagas membuat tubuh Ratu merinding dua kali lipat.Seakan Bagas tidak ingin sedetikpun kehilangan kenikmatannya, dia terus menghentak hingga tetes terakhir benih cintanya.Bagas menarik salah satu bathrobe yang bisa dia gapai kemudian menutupinya ke tubuh mereka berdua.Ratu berbaring d

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Untuk yang Pertama Kali

    Bagas pergi ke kamar mandi lebih dulu, memastikan suhu air terasa nyaman.Ratu masih terlihat malu-malu.Beberapa kali ia merapikan kain yang membalut tubuhnya.Bagas memperhatikannya tanpa komentar yang membuatnya semakin canggung."Airnya nyaman?" tanyanya.Ratu mencelupkan ujung jari."Hangat.""Kalau terlalu panas bilang ya.""Iya."Bagas mengulurkan tangan.Ratu menyambutnya.Perlahan ia masuk ke dalam jacuzzi setelah membuka bathrobe.Air hangat menyentuh kulitnya.Ratu mengembuskan napas panjang."Ah… enak banget."Bagas tersenyum."Kan."Ratu menyandarkan punggung.Bahu dan lehernya yang sejak pagi terasa tegang perlahan mulai lebih rileks.Beberapa saat kemudian Bagas ikut masuk dan duduk di dekatnya.Tubuh Ratu seketika menegang.Bagas mengangkat alis."Loh… kenapa?""Enggak apa-apa." Ratu tampak pucat."Yakiiiin?" Nada suara menggoda itu lagi.Ratu mengangguk kaku, kepalanya menunduk.Dan kini wajahnya semakin merah ketika laki-laki itu duduk cukup

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Malam Pengantin

    Lift hotel bergerak perlahan menuju lantai tempat bridal suite mereka berada.Hanya ada Ratu dan Bagas di dalamnya.Untuk pertama kalinya sejak pagi, mereka benar-benar berdua.Tidak ada fotografer.Tidak ada wedding organizer.Tidak ada keluarga atau tamu yang silih berganti mengajak berfoto.Hanya suara lembut mesin lift.Dan pantulan dua orang pengantin pada dinding cermin.Ratu menyandarkan sedikit bobot tubuhnya sambil memegang buket kecil yang dibawanya dari ballroom.Bagas memperhatikannya melalui cermin."Sayang.""Hm?""Kok diam?"Ratu menggeleng. “Enggak apa-apa."Bagas tersenyum."Capek ya?""Iya.""Atau gugup?" Nada suaranya mulai menggoda.Ratu menoleh dramatis."Apa sih, Gas!"Bagas tertawa. "Aku cuma nanya."Ratu memalingkan wajah.Namun Bagas bisa melihat pipinya memerah melalui cermin.Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya.Kemudian mengangkatnya dan mengecup punggung tangan tersebut.Ratu meliriknya. "Kenapa?"Bagas tersenyum. "Enggak ap

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Akhirnya Syah

    Malam semakin larut ketika rangkaian resepsi pernikahan Ratu dan Bagas akhirnya mendekati penghujung acara.Alunan musik yang sejak sore memenuhi ballroom Hotel Indigo Dago Pakar perlahan berganti menjadi instrumental lembut.Sebagian besar tamu undangan telah meninggalkan ruangan.Petugas hotel mulai merapikan beberapa meja, sementara tim wedding organizer memastikan seluruh barang pribadi keluarga pengantin telah dikumpulkan.Di atas pelaminan, Ratu akhirnya mengembuskan napas panjang.Kedua kakinya mulai terasa pegal.Siger yang sejak sore menghiasi kepalanya pun terasa semakin berat.Namun senyum tidak pernah benar-benar meninggalkan wajahnya.Bagas yang berdiri di sebelahnya memperhatikan perubahan ekspresi sang istri."Capek ya, Sayang?"Ratu menoleh."Banget."Bagas tertawa kecil."Masih kuat berdiri?"Ratu mengangguk."Masih.""Yakin?" Mata Bagas menyipit."Kalau enggak kuat, kamu mau gendong aku?"Bagas tersenyum. “Boleh."Ratu membulatkan mata. “Dari sini?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status