تسجيل الدخولRatu menarik napas.“Masih ada satu hal.”Davin nyaris ingin tertawa.Sepertinya hari-hari belakangan selalu dipenuhi kalimat masih ada satu hal yang kemudian membuka masalah baru.Zyandru menatap Ratu. “Apa?”Ratu tampak ragu sejenak. “Beasiswa aku.”Ekspresi Zyandru seketika berubah.Davin mengerutkan kening.Ratu tersenyum tipis. “Vimala cerita.”Zyandru mengerjap dengan sering.“Katanya dia pernah dengar pembicaraan kamu sama Ryley di Lembang.”Zyandru menunduk.“Jadi benar?”“Iya.”Ratu mengembuskan napas perlahan.“Kenapa?”“Karena kamu pantas mendapatkan itu.”“Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana.Namun membawa bertahun-tahun perjalanan di belakangnya.Zyandru tidak segera menjawab.“Tapi .…” Ratu belum selesai.Zyandru hampir tersenyum. “Tentu ada tapinya.”Ratu mengangkat dagu.“Aku tetap mau kamu tahu kalau aku bukan lulus karena kamu.”“Iya…
Ratu memang sudah berada di proyek ketika Zyandru tiba.Helm keselamatan putih menutupi sebagian rambutnya yang diikat rendah.Kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana bahan gelap dan safety vest.Di tangannya terdapat tablet berisi beberapa catatan teknis.Tidak ada kecanggungan berlebihan ketika pandangan mereka bertemu.“Pagi, Pak Zyandru.”“Pagi, Bu Ratu.”Davin yang berjalan di samping Zyandru menahan senyum kecil.Mereka memang selalu proesional,Seolah-olah tidak pernah ada urusan hati yang belum selesai. Pertemuan pagi berlangsung di ruang koordinasi proyek.Pak Arief hadir bersama tim construction management, project control, perwakilan MEP, serta dua orang dari perusahaan Ratu.Tidak ada pembahasan personal maupun tatapan yang terlalu lama.Mereka membicarakan progres pekerjaan, penyelesaian discrepancy utility relocation, revisi sequencing, dan beberapa pekerjaan yang harus dikunci sebelum fase berikutnya berjalan.Zyandru bahkan beberapa kali menyer
Pagi itu terasa hampa bagi Zyandru.Tidak ada percakapan yang menyelesaikan pertengkaran semalam.Tidak ada pelukan hangat.Tidak ada pula jawaban atas pertanyaan terakhir Vimala.Ketika cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, Zyandru sudah terjaga sejak beberapa menit lalu.Ia berbaring telentang dengan satu tangan di bawah kepala, menatap langit-langit kamar.Di sampingnya, Vimala berbaring membelakangi.Napasnya teratur.Terlalu teratur.Zyandru tahu istrinya sudah bangun.Sama seperti Vimala yang tahu kalau Zyandru belum benar-benar bisa tidur lelap semalaman.Namun mereka sama-sama tidak mengatakan apa-apa.Semangkuk bubur di atas nakas hanya berkurang beberapa sendok. Obat yang semalam diletakkannya di sana memang sudah diminum, tetapi makanan yang masuk ke tubuh Vimala tetap jauh dari cukup.Zyandru memiringkan tubuh.Menatap punggung perempuan itu.“Mala.”Tidak ada jawaban.“Sayang?”Sang istri masih tidak sudi menyahut. Zyandru mengembuskan napas pe
“Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”
Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara
“Mala, hubungan aku sama Ratu sekarang cuma pekerjaan. Harus berapa kali aku jelasin ke kamu?” Zyandru terdengar frustrasi. “Tapi kamu bohong … Kamu enggak pernah bilang kalau adiknya bang Satria adalah perempuan yang pernah kamu cintai, kamu enggak bilang kalau kamu sedang bekerja sama dengan perempuan yang merupakan cinta masa lalu kamu.” Vimala menoleh menatap map. “Ini juga!” Air matanya menetes ke dagu. “Selalu ada sesuatu yang baru aku tahu setelah aku cari sendiri!” Zyandru menunduk. Ia ingin membantah. Ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuat istrinya merasa bodoh. Namun semua penjelasan yang selama ini ia siapkan mendadak terdengar seperti pembenaran. Vimala menarik napas panjang. “Waktu aku nemu nama Ratuku di ponsel kamu, aku tanya apa kamu masih cinta sama dia.” Zyandru mengangguk pelan. “Aku ingat.” “Aku tanya apa kamu cinta sama aku.” “Aku jawab.” “Kamu bilang cinta.” “Dan sampai sekarang jawabannya sama.”







