ログインPerjalanan berakhir ketika mobil berbelok memasuki jalan pribadi yang diapit pohon-pohon pinus.
Di ujung jalan berdiri sebuah gerbang batu dengan nama resort terukir di atasnya.Begitu gerbang terbuka, mata Vimala kembali membulat.Resort itu tidak menyerupai hotel.Bangunan utamanya berbentuk chalet besar dengan dominasi kayu gelap dan batu alam.Atapnya lebar.Jendela-jendelanya tinggi.Lampu-lampu berwarna hangat menyala di sepanjang teras.Di belakaSetelah sesi dansa, acara dilanjutkan dengan menerima ucapan selamat.Zyandru dan Vimala duduk berdampingan di area pelaminan yang dibuat sederhana di bawah pohon besar.Di sisi Vimala, Bi Tina mendampingi.Burhan juga berada di sana sebagai pihak yang dianggap mewakili keluarga Natamanggala.Yudha sesekali berdiri tidak jauh dari area tersebut.Dan ketiga teman Vimala sedang sibuk menggoda para sepupu Zyandru yang tampan-tampan.Sedangkan di sisi Zyandru, Kama dan Arshavina menemani dengan senyum hangat.Robi tidak terlihat.Dan tidak ada yang benar-benar mempertanyakan.Burhan mengatakan putranya sedang kurang sehat.Tentu hanya dirinya sendiri yang tahu kalau alasan sebenarnya adalah wajah Robi masih dihiasi lebam akibat pukulan Zyandru semalam.Burhan beberapa kali menatap Zyandru dari kejauhan.Namun tidak sekali pun membahas kejadian tersebut.Entah belum tahu.Atau sudah tahu dan memilih menunggu waktu.
Menjelang siang, garden party yang selama ini hanya ada dalam bayangan Vimala akhirnya terlihat nyata.Hamparan rumput luas di salah satu sisi resort Gunadhya disulap menjadi ruang pesta terbuka yang seolah keluar dari ilustrasi buku dongeng.Tidak ada panggung besar dengan dekorasi berlebihan.Pelaminan dibuat menyatu dengan alam.Sebuah struktur kayu tua berdiri di bawah pohon besar, dihiasi untaian bunga putih, blush pink, peach lembut, dan dedaunan hijau yang dibuat seolah tumbuh liar.Jalur menuju pelaminan dilapisi kelopak-kelopak bunga.Kursi tamu berwarna kayu alami tersusun rapi di dua sisi.Di atasnya tergantung lampu-lampu kecil yang akan menyala ketika sore mulai turun.Beberapa meja bundar tersebar di area taman dengan centerpiece bunga liar.Bahkan bagian sajian makanan dibuat menyerupai sudut-sudut kecil di tengah hutan.Air mancur kecil.Lilin.Tanaman merambat.Bunga-bunga gantung.Segala sesuatu terlihat elegan tanpa kehilangan kesan natural.Saat Vima
Pagi datang terlalu cepat bagi Vimala.Entah karena semalam ia tidak benar-benar tidur nyenyak atau karena suasana hatinya masih dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan, perempuan itu sudah terbangun bahkan sebelum tim makeup datang mengetuk pintu suite.Hal pertama yang dilakukan Vimala setelah membuka mata adalah menoleh ke sisi kanan ranjang.Kosong.Zyandru sudah tidak ada.Seprai di bagian tempat pria itu tidur bahkan telah kembali dingin.Vimala menarik napas panjang kemudian membalik tubuh, menatap langit-langit kamar.Semalam mereka tidur di ranjang yang sama.Namun rasanya seperti dipisahkan dinding yang sangat tinggi.Tidak ada pelukan.Tidak ada kecupan di kening.Tidak ada tangan yang biasanya otomatis menarik pinggangnya mendekat bahkan ketika Zyandru sudah tertidur.Dan anehnya, justru setelah semua itu tidak ada, Vimala baru memahami seberapa besar dirinya telah terbiasa.Terbiasa dengan dada Zyandru sebagai bantal.Terbiasa dengan lengan pria itu di pingga
Langkah Zyandru santai ketika mendekati suite.Satu tangan berada di saku celana.Sementara tangan lainnya memegang ponsel.Ia sempat tersenyum saat melihat pesan terakhir Vimala satu menit setelah di keluar dari suite.Mala: masih lama?Zyandru belum sempat membalas.“Baru juga keluar, Mala… Mala.” Ia terkekeh sendiri.Kartu akses ditempelkan.Klik.Pintu terbuka.“Mala?”Tidak ada jawaban.Zyandru masuk.Langkahnya baru dua meter….Lalu berhenti.Seluruh senyum lenyap.Di hadapannya, Robi berdiri sangat dekat dengan Vimala.Terlalu dekat.Punggung Vimala menempel pada dinding.Satu tangan Robi berada di samping kepalanya.Tubuh pria itu mengurung.Dan ekspresi Vimala tampak ketakutan.Dalam sepersekian detik, sesuatu di dalam kepala Zyandru seperti meledak.“ROBI!”Robi bahkan belum sempat berbalik sempurna ketika Zyandru sudah menghampiri.Tangannya menceng
Di bangunan utama resort….Suasana bar keluarga jauh lebih ramai dibanding ruang makan beberapa saat lalu.Musik diputar pelan.Sebagian sepupu Zyandru duduk mengelilingi meja panjang.Beberapa bermain kartu.Yang lain bercanda sambil memegang minuman.Zyandru baru saja masuk ketika salah seorang sepupunya berseru.“WOOOOI! AKHIRNYA DATANG JUGA DIA!”Zyandru mengangkat satu tangan. “Berisik.”“Cepat amat nidurinnya?”Siulan langsung terdengar.Zyandru tertawa sambil menunjukkan jari tengah.“Pikiran kalian enggak pernah bersih ya?”“Bersih kok kalau bukan sama pengantin baru.”“Gue ke sini mau ketemu om Arkana dulu.”“Ooooo…. urusan serius.”Zyandru tidak menanggapi.Tatapannya sudah menangkap sang paman yang duduk sendiri di ujung bar.Arkana tampak sangat santai.Kemeja hitamnya digulung sampai siku.Satu tangan memegang gelas kristal berisi whiskey.Tatapannya mengarah ke dere
Pintu suite baru saja tertutup beberapa menit.Vimala masih duduk di sofa dengan bantal dipeluk di depan dada.Matanya sesekali melirik pintu.Entah kenapa setelah Zyandru benar-benar pergi, ruangan itu terasa terlalu sunyi.Padahal beberapa menit sebelumnya, ia sendiri yang mengizinkan pria itu menyusul para sepupunya ke bar.Bahkan sempat berkata tidak akan menunggu.Namun sekarang, Vimala melihat jam di ponselnya.Baru tujuh menit.“Yaa baru tujuh menit ….” Ia mendengus kesal kepada dirinya sendiri. “Ngapain juga gue ngitungin?”Vimala bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar.Baru beberapa langkah…TingTong.Suara bel terdengar dari pintu utama.Langkah Vimala langsung terhenti.Matanya membulat.Kemudian tanpa sadar senyum lebar merekah di wajahnya.“Dia balik lagi!”Ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa senangnya.Dalam pikirannya, Zyandru mungkin berubah pikiran.Mun







