ログインPintu suite baru saja tertutup beberapa menit.
Vimala masih duduk di sofa dengan bantal dipeluk di depan dada.Matanya sesekali melirik pintu.Entah kenapa setelah Zyandru benar-benar pergi, ruangan itu terasa terlalu sunyi.Padahal beberapa menit sebelumnya, ia sendiri yang mengizinkan pria itu menyusul para sepupunya ke bar.Bahkan sempat berkata tidak akan menunggu.Namun sekarang, Vimala melihat jam di ponselnya.Baru tujuh menit.“Yaa baru tujuh meLangkah Zyandru santai ketika mendekati suite.Satu tangan berada di saku celana.Sementara tangan lainnya memegang ponsel.Ia sempat tersenyum saat melihat pesan terakhir Vimala satu menit setelah di keluar dari suite.Mala: masih lama?Zyandru belum sempat membalas.“Baru juga keluar, Mala… Mala.” Ia terkekeh sendiri.Kartu akses ditempelkan.Klik.Pintu terbuka.“Mala?”Tidak ada jawaban.Zyandru masuk.Langkahnya baru dua meter….Lalu berhenti.Seluruh senyum lenyap.Di hadapannya, Robi berdiri sangat dekat dengan Vimala.Terlalu dekat.Punggung Vimala menempel pada dinding.Satu tangan Robi berada di samping kepalanya.Tubuh pria itu mengurung.Dan ekspresi Vimala tampak ketakutan.Dalam sepersekian detik, sesuatu di dalam kepala Zyandru seperti meledak.“ROBI!”Robi bahkan belum sempat berbalik sempurna ketika Zyandru sudah menghampiri.Tangannya menceng
Di bangunan utama resort….Suasana bar keluarga jauh lebih ramai dibanding ruang makan beberapa saat lalu.Musik diputar pelan.Sebagian sepupu Zyandru duduk mengelilingi meja panjang.Beberapa bermain kartu.Yang lain bercanda sambil memegang minuman.Zyandru baru saja masuk ketika salah seorang sepupunya berseru.“WOOOOI! AKHIRNYA DATANG JUGA DIA!”Zyandru mengangkat satu tangan. “Berisik.”“Cepat amat nidurinnya?”Siulan langsung terdengar.Zyandru tertawa sambil menunjukkan jari tengah.“Pikiran kalian enggak pernah bersih ya?”“Bersih kok kalau bukan sama pengantin baru.”“Gue ke sini mau ketemu om Arkana dulu.”“Ooooo…. urusan serius.”Zyandru tidak menanggapi.Tatapannya sudah menangkap sang paman yang duduk sendiri di ujung bar.Arkana tampak sangat santai.Kemeja hitamnya digulung sampai siku.Satu tangan memegang gelas kristal berisi whiskey.Tatapannya mengarah ke dere
Pintu suite baru saja tertutup beberapa menit.Vimala masih duduk di sofa dengan bantal dipeluk di depan dada.Matanya sesekali melirik pintu.Entah kenapa setelah Zyandru benar-benar pergi, ruangan itu terasa terlalu sunyi.Padahal beberapa menit sebelumnya, ia sendiri yang mengizinkan pria itu menyusul para sepupunya ke bar.Bahkan sempat berkata tidak akan menunggu.Namun sekarang, Vimala melihat jam di ponselnya.Baru tujuh menit.“Yaa baru tujuh menit ….” Ia mendengus kesal kepada dirinya sendiri. “Ngapain juga gue ngitungin?”Vimala bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar.Baru beberapa langkah…TingTong.Suara bel terdengar dari pintu utama.Langkah Vimala langsung terhenti.Matanya membulat.Kemudian tanpa sadar senyum lebar merekah di wajahnya.“Dia balik lagi!”Ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa senangnya.Dalam pikirannya, Zyandru mungkin berubah pikiran.Mun
Waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit.Zyandru menoleh kepada Vimala.Perempuan itu masih mengobrol bersama salah seorang sepupu perempuan, tetapi beberapa kali menguap kecil.Zyandru langsung berdiri dari kursinya. “Oke.”Beberapa orang menoleh.“Gue pamit dulu.”“Lho, baru jam delapan!” seru salah seorang sepupunya.“Vimala harus istirahat.”Sekejap ruangan mendadak riuh.“YA AMPUN!”“Suami overprotektif!”“Baru jam delapan, Bro!”“Pengantin baru memang beda!”Zyandru bukannya malu malah menggenggam tangan Vimala. “Namanya juga suami yang bertanggung jawab.”“Cieeee!”Vimala menutup wajah setengah menggunakan telapak tangan.“Zyan, duduk lagi deh.”“Enggak. Kamu udah ngantuk.”“Aku belum.”Detik berikutnya…“Hoaam….”Seluruh meja langsung pecah oleh tawa.Zyandru menaikkan alis. “Tuh.”Vimala mengerucutkan bibirnya. “Itu refleks.”“Ayo.”
Satu demi satu anggota keluarga besar menyambut mereka.Vimala beberapa kali sampai kebingungan mengingat nama mereka.Zyandru membisikkan keterangan seperlunya.“Itu adiknya Ayah.”“Yang itu kakaknya Bunda.”“Yang pakai kacamata sepupu aku dari Jerman.”“Yang sebelahnya dari Melbourne.”Vimala lama-lama menyerah.“Udah. Aku enggak akan hafal.”“Tenang. Aku aja suka salah manggil.” Zyandru berkelakar.“Kamu ih … itu keluarga sendiri.” Vimala tertawa kecil.Beberapa anak kecil bahkan langsung meminta foto bersama karena menganggap Vimala sangat cantik seperti tuan putri.Dan seperti dugaan Zyandru, Vimala langsung menyukai mereka.Dalam waktu tidak sampai setengah jam, ia sudah duduk di tengah beberapa sepupu perempuan Zyandru, bercakap ringan mengenai Swiss, belanja, pakaian, bahkan mengenai persiapan resepsi besok.Zyandru sendiri akhirnya bergabung bersama para sepupunya yang sudah lama tidak bertemu.Tawa pria itu terdengar beberapa kali dari seberang ruangan.Sesek
Roda pesawat pribadi keluarga Gunadhya menyentuh landasan dengan mulus.Getaran halus terasa sampai ke dalam kabin, membuat Vimala yang sejak beberapa menit lalu sudah duduk tegak di kursinya spontan menoleh ke jendela.Lampu-lampu landasan terlihat berjajar panjang di tengah gelapnya malam Bandung.“Udah sampai?” tanyanya meski jawabannya jelas.Zyandru yang duduk di sampingnya menoleh.“Belum. Kita mau muter balik ke Swiss.”Vimala mendelik.“Aku nanya baik-baik.”“Aku jawab baik-baik juga.”“Mana baiknya?”Zyandru terkekeh sambil melepas sabuk pengaman setelah tanda dari kokpit padam.“Sudah sampai, Sayang.”Vimala yang tadinya hendak membalas malah terdiam sesaat mendengar panggilan itu.Dia mulai … menyukainya.Vimala buru-buru mengalihkan tatapan ke jendela.Tak lama kemudian pintu kabin dibuka.Seorang kru lebih dulu turun untuk memastikan kendaraan sudah menunggu di dekat hanggar. Zyandru berdiri, mengambil mantel Vimala yang tergantung di sandaran kursi lalu m







