共有

Menikmati Sunset

作者: Erna Azura
last update 公開日: 2026-08-10 13:17:00

Setelah staf meninggalkan chalet, Zyandru membawa Vimala naik ke lantai dua.

Kamar utama berada di ujung lorong.

Pintunya terbuka langsung menuju ruangan luas dengan ranjang besar menghadap dinding kaca.

Dari tempat tidur, mereka dapat melihat danau dan gunung tanpa perlu bangun.

Di sebelahnya terdapat kamar mandi marmer dengan bathtub yang menghadap pemandangan serupa.

Sementara pintu lain mengarah ke balkon pribadi.

Vimala langsung berjalan keluar.

Udara d
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
semoga klian terus bhagia walau takdir tdk ada yg tau..gimna nantinya..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menikmati Sunset

    Setelah staf meninggalkan chalet, Zyandru membawa Vimala naik ke lantai dua.Kamar utama berada di ujung lorong.Pintunya terbuka langsung menuju ruangan luas dengan ranjang besar menghadap dinding kaca.Dari tempat tidur, mereka dapat melihat danau dan gunung tanpa perlu bangun.Di sebelahnya terdapat kamar mandi marmer dengan bathtub yang menghadap pemandangan serupa.Sementara pintu lain mengarah ke balkon pribadi.Vimala langsung berjalan keluar.Udara dingin menerpa wajahnya.Namun matahari yang masih tersisa membuat suhu terasa cukup nyaman.Di balkon terdapat sofa panjang dengan selimut bulu, meja kecil, dan perapian gas.Vimala duduk.Kemudian menyandarkan tubuhnya.“Kayaknya aku enggak mau pulang.”Zyandru yang berdiri di ambang pintu tertawa kecil.“Baru juga datang.”“Tempatnya enak.”“Ya udah, enggak usah pulang.”Vimala menoleh.“Serius?”“Kita pindah ke sini aja.”“Terus

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tindakan Kecil Yang Jujur

    Perjalanan berakhir ketika mobil berbelok memasuki jalan pribadi yang diapit pohon-pohon pinus.Di ujung jalan berdiri sebuah gerbang batu dengan nama resort terukir di atasnya.Begitu gerbang terbuka, mata Vimala kembali membulat.Resort itu tidak menyerupai hotel.Bangunan utamanya berbentuk chalet besar dengan dominasi kayu gelap dan batu alam.Atapnya lebar.Jendela-jendelanya tinggi.Lampu-lampu berwarna hangat menyala di sepanjang teras.Di belakang bangunan tampak pegunungan menjulang, sementara di sisi lain terbentang danau yang airnya berkilau diterpa cahaya sore.Beberapa staf telah berdiri menunggu di depan pintu.Begitu mobil berhenti, mereka segera mendekat.“Welcome, Mr. and Mrs. Gunadhya.”Seorang manajer resort menyambut mereka dalam bahasa Inggris.Zyandru mengangguk sopan.“Thank you.”Vimala turun perlahan.Udara dingin langsung menyentuh wajahnya.Namun kali ini ia tidak mengeluh

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Karena Zyandru Ingin

    Mobil mewah yang membawa mereka meninggalkan rumah sakit melaju tenang membelah jalanan Zurich.Vimala masih tertidur.Kepalanya bersandar di bahu Zyandru, sementara jemarinya tetap menggenggam tangan pria itu seolah takut kehilangan pegangan meski sedang berada di alam bawah sadar.Sejak keluar dari rumah sakit, Zyandru nyaris tidak bergerak.Ia khawatir pergerakan kecilnya akan membangunkan Vimala.Sesekali tatapannya turun ke wajah pucat sang istri.Kemudian berpindah ke selang bekas infus yang meninggalkan titik kemerahan pada punggung tangannya.Ada rasa nyeri yang aneh setiap kali melihatnya.Bukan nyeri fisik.Namun sesuatu yang menekan jauh di dalam dada.Sopir yang berada di depan sempat melirik mereka melalui kaca spion.“Tuan, apakah kita langsung kembali ke hotel?”Zyandru tidak langsung menjawab.Pandangan pria itu tetap tertuju pada Vimala.“Enggak.”Sopir itu mengangguk pelan, menunggu arahan b

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Telah Berjanji Menjaga Vimala

    Sekitar satu jam kemudian perawat datang membawa makan siang ringan.Sup hangat.Kentang tumbuk.Ikan kukus.Buah.Profesor Adrian memang telah meminta bagian dapur rumah sakit menyiapkan menu khusus.“Try to eat.”Vimala mengangguk.Namun baru mengangkat sendok sekali, tangannya kembali turun. Demi apa, Vimala seperti tidak memiliki tenaga bahkan bernafas pun dia pendek-pendek.“Aku saja yang suapin kamu,” kata Zyandru.Zyandru mengambil mangkuk sup.Meniupnya pelan agar tidak terlalu panas.“Buku mulutnya,” pinta Zyandru.”Vimala menurut.Satu sendok.Lalu sendok kedua.Ketiga.Setelah beberapa suapan, wajahnya mulai sedikit lebih segar.“Sudah ah, aku kenyang. Makanannya enggak berasa.”“Makanan sehat memang gini… sedikit lagi ya.”“Enggak mau.” Vimala merengek.“Setengah mangkuk lagi.”“Zyaaan…”“Cuma setengah.”Vimala mengembuskan napas panjang.“Ya

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menghibur Dengan Menggombal

    Dua puluh menit pertama berjalan cukup tenang.Mereka mengobrol ringan tentang Zurich.“Di sini ada tempat wisata yang keren apa?” tanya Vimala.“Di sini kota bisnis dan perekonomian … nanti kita akan pindah kota ke tempat yang lebih tenang dan damai … yang pasti romantis, biar bulan madu lebih mantep.” Lagi-lagi Zyandru menggoda Vimala membuat istrinya itu merotasi bola matanya.“Kemarin kita udah loh bulan madu ….”Vimala mengesah.“Ya masa cuma sekali?” “Ya terus kamu mau berapa kali?” “Se … tiap … hari.” Zyandru menjawab mantap. Mata Vimala seketika membulat.“Dan sehari ti … ga … kali.” Zyandru melanjutkan. Bola mata Vimala nyaris keluar dari rongganya ditambah mulutnya menganga.“Kamu mau bercinta apa minum obat?” sindir Vimala dengan ekspresi sebal.Zyandru tertawa, dia mengecup punggung tangan Vimala.“Soalnya kamu bikin nagih,” katanya sembari menatap Vimala.Otomatis wajah Vimala memerah, dia memalingkan wajahnya.“Memangnya kamu enggak ketagihan?” tanya Zyandr

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Selalu Menemani

    Mobil yang membawa Zyandru dan Vimala melaju membelah jalanan Zurich yang mulai dipadati kendaraan.Berbeda dengan dua hari sebelumnya, kali ini tidak ada percakapan jahil di antara mereka.Vimala lebih banyak memandangi pemandangan di luar jendela.Sedangkan tangan kirinya masih berada dalam genggaman Zyandru.Tidak erat.Namun juga tidak longgar.Seolah tanpa mereka sadari, genggaman itu sudah menjadi kebiasaan baru.“Kamu takut?” tanya Zyandru pelan.Vimala menggeleng.“Enggak.”“Yakiiin?” Zyandru mulai menggodanya.“Iya.”Beberapa detik kemudian Vimala menoleh. “Cuma aku .…”“Cuma apa?”“Kalau ternyata sakitku parah gimana?”Kalimat sederhana itu membuat dada Zyandru seperti diremas, sebisa mungkin ekspresinya tetap tenang.Zyandru mengusap punggung tangan Vimala menggunakan ibu jarinya.“Enggak lah, kamu sehat.”“Kok kamu yakin?”“Karena aku maunya begitu.” Zyandru tersenyum dibalas dengusan pelan Vimala. “Jawaban apaan itu.”“Tapi aku serius, Mala. Aku mau is

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status