ANMELDENAzelia berdiri di depan pintu kamar Chyara selama beberapa saat sebelum perlahan mendorongnya hingga terbuka.
Pintu itu terbuka tanpa suara, memperlihatkan ruangan yang tenang dan rapi di baliknya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menerangi setiap sudut kamar. Tidak ada seorang pun di dalam ruangan selain seekor rubah merah yang tengah berbaring santai di atas ranjang milik Chyara.Tatapan Azelia langsung tertuju pada hewan itu. Ia melangkah masuk perlahan sambil"Seperti yang kuduga."Chyara bergumam pelan sambil membaca surat yang baru saja dikirim Joseph. Jemarinya bergerak perlahan menyusuri setiap baris tulisan yang memenuhi kertas itu.Semakin jauh ia membaca, semakin jelas senyum tipis yang terbentuk di sudut bibirnya.Chyara membaca surat itu dengan saksama tanpa melewatkan satu bagian pun. Sesekali matanya bergerak cepat, seolah mencari informasi tertentu yang memang sudah ia nantikan sejak lama.Reynard yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan gadis itu dengan penuh rasa ingin tahu."Kabar baik?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis. "Ekspresimu terlihat jauh lebih baik dibanding beberapa saat yang lalu."Chyara menganggukkan kepala pelan. "Ini memang kabar baik," jawabnya. Ia mengangkat surat itu sedikit. "Joseph menulis bahwa seluruh toko berjalan dengan lancar."Tatapan Chyara kemudian kembali jatuh pada tulisan-tulisan di atas kertas. "Bahkan hasilnya lebih baik daripada yang kuperkirakan."Chyara kembali membaca beberapa p
"Aku penasaran."Reynard menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Chyara tanpa berkedip. Sorot mata emasnya tampak tajam dan penuh rasa ingin tahu.Sejak tadi, ia memperhatikan gadis itu dengan saksama, seolah tidak berniat melepaskan topik yang terus mengganggu pikirannya."Bagaimana kau bisa tahu bahwa Marquess Valerio akan bangkrut?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan biasa.Ia benar-benar menunggu jawaban yang masuk akal. Baginya, semua yang terjadi sejauh ini terlalu tepat untuk disebut kebetulan.Chyara yang berdiri di dekat jendela perlahan menoleh ke arahnya. Cahaya matahari sore yang masuk melalui kaca jendela menyinari wajahnya dari samping. Namun alih-alih langsung menjawab, ia hanya tersenyum tipis seolah sedang memikirkan sesuatu.Reynard menghela napas pendek. "Jangan berpura-pura tidak mendengar."Ia melangkah beberapa langkah mendekat sebelum berhenti tepat di hadapan Chyara. Tatapannya tidak bergeser sedikit p
"Jaga dirimu, Ara."Callister mengangkat tangannya lalu mengelus rambut Chyara dengan lembut. Tatapannya terlihat hangat, tetapi juga dipenuhi kekhawatiran. Setelah melihat luka di jemari adiknya tadi, ia merasa semakin tidak tenang meninggalkan Chyara sendirian di kediaman."Dan jangan sampai terluka lagi."Nada suara Callister terdengar lebih serius, bahkan kedua alisnya sedikit berkerut seolah sedang memperingatkan seorang anak kecil yang sering membuat masalah. Sikap itu membuat Chyara menahan senyum kecil."Aku mengerti, Kak."Chyara menganggukkan kepala pelan. Tatapan birunya bertemu dengan mata Callister, meskipun hatinya terasa hangat, ia berusaha tetap terlihat tenang seperti biasa."Kakak juga harus menjaga diri dengan baik."Callister terdiam sesaat, kemudian senyum kecil muncul di wajahnya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia senang mendengar ucapan itu keluar langsung dari mulut Chyara."Baiklah." Ia mengangguk ringan. "Aku ak
"Apa?" seru Celvan.Mata pria itu langsung melebar saat mendengar ucapan Callister. Ia yang semula tersenyum kini buru-buru melangkah mendekat tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya. Ekspresinya berubah menjadi khawatir hanya dalam hitungan detik."Kau terluka, Ara?" tanya Celvin dengan dahi berkerut.Celvin juga segera menghampiri mereka dan berdiri di sisi Callister. Tatapannya langsung tertuju pada jemari Chyara yang masih berada dalam genggaman sang kakak tertua. Sorot matanya tampak serius, seolah berusaha memastikan seberapa parah luka tersebut.Kini perhatian semua orang terpusat pada Chyara. Bahkan Cassio yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan ikut mengangkat pandangannya ke arah mereka. Suasana yang sebelumnya hangat dan dipenuhi candaan perlahan berubah menjadi hening.Di tengah tatapan semua orang, Chyara justru mulai merasa sedikit panik. Ia tidak menyangka Callister akan menyadari luka itu. Padahal luka di ujung jemarinya sangat kecil dan sebagian
"Aku memiliki sesuatu untuk kakak bawa."Chyara mengangkat sebuah kotak kecil yang sejak tadi dibawa oleh Anna. Setelah kotak itu dibuka, terlihat tiga botol kaca berisi cairan berwarna merah pekat yang tersusun rapi di dalamnya.Warna cairan itu begitu mencolok hingga langsung menarik perhatian semua orang yang berada di halaman kediaman."Apa itu?" tanya Celvan penasaran.Ia langsung melangkah mendekat dan menjulurkan lehernya untuk melihat lebih jelas. Bahkan Celvin yang biasanya lebih tenang ikut memperhatikan botol-botol tersebut dengan rasa ingin tahu yang tidak kalah besar.Chyara mengambil ketiga botol itu satu per satu."Ini adalah ramuan obat yang baru saja kukembangkan," jelasnya tenang. "Aku membuatnya khusus untuk kakak bawa ke Valtoria."Mata Celvin dan Celvan langsung membulat. Sementara itu, Callister terlihat sedikit terkejut sebelum akhirnya menerima ketiga botol tersebut dari tangan Chyara.Tatapannya turun ke cairan merah pekat di dalam botol yang tampak hampir men
"Baiklah, kami akan berangkat sekarang."Callister mengucapkan kalimat itu sambil merapikan sarung tangan kulit yang menutupi kedua tangannya. Setelah memastikan seluruh persiapan telah selesai, ia melangkah turun dari tangga utama kediaman dengan sikap tegap seorang komandan.Di belakangnya, Celvin dan Celvan segera mengikuti sambil membawa perlengkapan perjalanan yang telah disiapkan sejak kemarin.Halaman depan kediaman Everardo tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa kereta dan kuda telah menunggu di dekat gerbang, sementara para pelayan berdiri berjajar rapi untuk mengantar kepergian mereka.Cassio berdiri di barisan paling depan dengan tangan terlipat di belakang punggungnya. Di sampingnya, Clara tersenyum anggun seperti nyonya rumah yang sempurna. Sementara Azelia berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi sedih yang sengaja ia tampilkan.Azelia melangkah maju lebih dulu dan menatap ketiga pria itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca."Kalian harus berhati-hati di per







