Chyara menghela napas panjang. Dadanya terasa semakin sesak berada di ruangan itu. Makanan yang tadi sempat terasa enak di lidahnya kini berubah hambar. Ia meletakkan sendoknya, lalu bangkit dari tempat duduk.“Aku sudah kenyang,” ucapnya singkat, kemudian melangkah pergi.“Apa maksudmu pergi begitu saja?” suara Cassio meninggi. “Chyara, kembali!”Namun, Chyara tetap melangkah menjauh. Ia tak menoleh, seolah teriakan ayahnya tak pernah sampai ke telinganya.“Chyara!” Cassio kembali berteriak, kali ini lebih keras.Langkah Chyara membawanya menjauh keluar dari rumah, menyusuri taman hingga berhenti di tepi danau.Entah sejak kapan kakinya mengarah ke sana. Ia duduk bersandar pada batang pohon, memeluk lututnya, lalu menatap permukaan air yang tampak tenang dan bersahabat.“Tenang sekali ...,” gumamnya pelan.Namun Chyara tahu, ketenangan itu menipu. Air yang terlihat diam itu bisa menenggelamkan siapa saja yang terjatuh ke dalam sana. Pandangannya tak beralih dari danau, seolah sedang
Read more