INICIAR SESIÓNMalam itu adalah malam perayaan besar bagi keluarga Sterling, hari pesta resepsi pernikahan Victor dan Adriana dilaksanakan..Saat pintu masuk terbuka lebar, hampir seketika, sorot mata para tamu seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata menuju dua sosok yang baru saja melangkah masuk. Davian dan Evelyn berjalan bersisian dengan jemari yang bertaut erat.Evelyn menghela napas pelan, pikirannya melayang sejenak pada kejadian beberapa hari yang lalu. Pemandangan di depannya saat ini terasa seperti sebuah kemenangan kecil. Ia masih ingat dengan jelas momen ketika Davian, dengan suara yang begitu mantap dan tanpa keraguan sedikit pun, mengumumkan kepada Victor keputusannya untuk meneruskan pernikahan mereka. Saat itu, raut wajah ayah Evelyn itu tidak bisa menyembunyikan kelegaan dan rasa bahagia yang luar biasa. Saking senangnya, Victor bahkan tidak segan bertindak impulsif. Hari itu juga, sang ayah mertua langsung menawarkan posisi eksekutif kepada Davian, memintanya untuk kembali ke
Sebelum jam makan siang berakhir, tumpukan undangan pernikahan berdesain sangat elegan dengan ukiran tinta emas mulai didistribusikan ke seluruh penjuru departemen. Bersamaan dengan undangan fisik tersebut, sebuah email dari sekretaris Victor masuk ke kotak masuk setiap karyawan. Email itu berisi pengumuman resmi mengenai resepsi pernikahan sang Presdir, diiringi penjelasan bahwa Victor Sterling dan Adriana sebenarnya telah mencatatkan pernikahan mereka secara hukum sejak beberapa waktu yang lalu.Langkah ini diambil untuk membungkam total rumor yang sempat disebarkan oleh 'Claudia'.Meski kebenaran tentang status Adriana telah terang benderang, gosip di kalangan karyawan justru semakin liar dan bercabang, membelah opini mereka menjadi dua kubu. Sebagian besar staf merasa muak dan langsung membenci Clara. Mereka mengutuk wanita itu sebagai mata-mata perusahaan dan ular berbisa yang manipulatif.Namun, di sudut-sudut pantry dan koridor sepi, bisik-bisik simpati untuk Clara mulai ter
"Dan kau..."Suara Adriana yang sangat sedingin es tiba-tiba memecah keheningan. "Kau mengatakan pada semua staf di sini bahwa kau ingin menjadi Nyonya Sterling yang baru?"Dalam satu gerakan yang sama sekali tidak terduga, tangan Adriana melesat dan langsung mencengkram kerah kemeja Clara dengan kuat. Tarikan itu begitu bertenaga hingga tubuh Clara sedikit terhuyung ke depan, membuat wajah kedua wanita itu hanya berjarak beberapa sentimeter."Adriana!"Victor berseru kaget melihat tindakan agresif istrinya. Pria itu segera melangkah lebar menghampiri Adriana. Dengan cepat, kedua tangan besar Victor langsung memegang bahu dan lengan istrinya dari belakang, berusaha menenangkan wanita yang tengah hamil itu. Victor sangat khawatir lonjakan adrenalin dan emosi yang meledak-ledak akan membahayakan kondisi kandungan Adriana.Namun Adriana sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya dari kerah Clara. Ia mengabaikan usapan menenangkan dari suaminya dan terus menatap Clara dengan mata yang
Pertengkaran brutal di tengah departemen analisis itu tidak berlangsung lama. Baru beberapa detik mereka saling menjambak dan membanting, sebuah tarikan bertenaga luar biasa menyentak tubuh Evelyn dari arah belakang.Memaksa wanita itu mundur dan melepaskan cengkeramannya dari kerah Clara."Evelyn, kau ini apa-apaan?!"Suara bariton yang tiba-tiba terdengar itu menghentikan seluruh kekacauan di ruangan tersebut.Evelyn terhuyung ke belakang, namun dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya. Ia menoleh dengan napas terengah-engah dan rambut yang berantakan, mendapati ayahnya berdiri menjulang di belakangnya dengan raut wajah murka. Victor Sterling baru saja tiba setelah Adriana mengarahkan mereka untuk ke lantai ini, dan ia justru melihat putrinya berkelahi secara fisik dengan karyawannya di tengah jam kerja.Namun, Evelyn sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan dada yang masih naik-turun menahan emosi, ia mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah Clara yang kini terduduk di lantai
"Claudia!" seru Clarissa dengan nada ceria memecah kesibukan di area kubikel tersebut.Di balik salah satu monitor komputer, Clara yang sedang sibuk mengetik perlahan mengangkat wajahnya. Awalnya, ia hanya menoleh dengan raut sedikit terganggu karena panggilan yang terlalu keras itu. Namun, beberapa detik kemudian, ia merasakan sebuah tatapan yang begitu intens, tajam, dan membakar menancap lurus ke arahnya.Clara mengalihkan pandangannya ke sumber tatapan tersebut, dan detik itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak.Di ujung lorong kubikel, berdiri Evelyn Sterling.Mata Evelyn membulat sempurna. Seluruh darah di tubuh putri sang Presdir itu seolah mendidih hingga ke ubun-ubun saat matanya benar-benar menangkap sosok yang selama ini menghancurkan hidupnya. Adriana benar. Firasatnya benar. Wanita brengsek ini berani menyusup ke dalam perusahaan keluarganya!Di sisi lain, wajah Clara seketika pucat pasi.. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan seluruh kata-kata. Insting bertahanny
Mesin mobil sedan mewah itu berbunyi pelan di pelataran parkir gedung Sterling Industries. Tangan Evelyn baru saja terulur meraih tuas pintu untuk turun, ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.Evelyn menoleh. Di kursi kemudi, Davian menatapnya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketegangan. Rahang pria itu mengeras kaku."Apa kau yakin akan masuk sendirian?" tanya Davian, suaranya terdengar berat dan protektif. Mengingat sejarah kelam antara istrinya dan Clara Harrington, melepaskan Evelyn sendirian ke dalam gedung itu rasanya sangat bertentangan dengan keinginannya."Ya." jawab Evelyn dengan nada meyakinkan, meski jemarinya sedikit meremas tali tasnya."Aku akan menemanimu ke atas." putus Davian. Pria itu sudah bersiap melepas sabuk pengamannya, namun Evelyn dengan cepat menahan lengannya."Tidak." tolak Evelyn cepat. Ia menatap mata suaminya lekat-lekat, memberikan pengertian. "Keadaan saat kau meninggalkan Sterling Industr
Adriana membaca pesan itu dengan mata membelalak lebar. Napasnya tercekat di tenggorokan.Selama bertahun-tahun, di tengah kejaran penagih hutang ayahnya dan hidup yang sulit, Adriana tidak pernah sekalipun mengganti nomor ponselnya. Ia bertahan dengan nomor lamanya karena satu alasan bodoh, ia be
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, keheningan yang mencekam memenuhi kabin mobil. Davian memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menunjukkan betapa kacaunya emosi pria itu saat ini. Urat-urat di punggung tangannya yang mencengkeram kemudi tampak menonjol.Davian baru membuka mulutnya tepa
Suasana di dalam restoran itu begitu tenang. Jauh dari hiruk-pikuk skandal keluarga Sterling yang biasa menguras emosi dan tenaga Davian.Gadis yang duduk di hadapannya malam ini bernama Cindy. Wanita itu sangat manis,
"Tidak!" Evelyn berteriak. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana amukan ayahnya jika mengetahui soal ini ketika satu masalah mereka saja belum selesai."Aku tidak bisa melakukannya!" Evelyn menggelengkan kepalanya dengan kuat.. "Ayahku akan membunuhku, Davian! Dia benar-benar akan membunuhku jika di







