MasukAroma khas dari kertas tebal berkualitas tinggi dan tinta emas yang baru saja dicetak menguar tipis di udara. Adriana duduk di kursi penumpang Maybach hitam yang melaju mulus membelah jalanan kota, jemarinya yang lentik membelai ukiran kaligrafi indah di atas kertas undangan tersebut.Victor Sterling & Adriana Sterling. Namanya bersanding sempurna dengan nama pria yang dulu ia dekati untuk menghukum musuhnya itu. Semua persiapan yang menguras tenaga dan waktu selama beberapa minggu terakhir akhirnya selesai. Gaun, dekorasi, katering, hingga daftar tamu semuanya telah dipastikan sempurna tanpa cela. Pesta perayaan pernikahan mereka yang selama ini ditunda karena satu dan lain hal, akhirnya akan digelar bulan depan secara megah.Sesaat, rasa puas mengalir hangat di dada Adriana. Ia menutup sampel undangan fisik bernuansa hitam dan emas itu, menyimpannya di atas pangkuan.Di sebelahnya, Victor yang baru saja selesai memeriksa beberapa email di tabletnya, menoleh. Pria itu menatap istr
Evelyn mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kebingungan seketika menguasai wajahnya yang pucat. Tuduhan itu terdengar begitu absurd di telinganya."Apa?" ulang Evelyn, suaranya nyaris berbisik kalah oleh deru angin malam."Jangan pura-pura bodoh!" raung Tristan. Kesabarannya yang sudah setipis benang akhirnya putus.Pria itu menerjang maju. Tangannya yang besar melesat di udara, berniat mencengkeram lengan Evelyn untuk memaksanya bicara. Namun, sebelum jari-jari Tristan sempat menyentuh kulit wanita itu, sebuah tangan lain yang tak kalah kekar lebih dulu menangkisnya dengan gerakan cepat.Davian menepis tangan bosnya itu dengan tenaga yang cukup kuat hingga Tristan terhuyung mundur setengah langkah. Postur Davian tegak, bahunya melebar, sepenuhnya menutupi Evelyn dari pandangan mematikan CEO Sinclair Holdings tersebut.Mata Tristan membelalak. Keterkejutan di wajahnya dengan cepat tergantikan oleh amarah yang mendidih. Ia menatap asisten barunya itu dengan kilat permusuhan yang menyala
Malam semakin larut, jarum jam di dasbor mobil telah melewati angka sembilan, namun Evelyn masih duduk mematung di balik kemudi. Kendaraan mewahnya itu terparkir di sudut yang agak gelap, tepat di seberang gedung pencakar langit Sinclair Holdings.Pandangannya tak lepas dari pintu kaca lobi utama gedung tersebut. Udara malam terasa dingin menembus pendingin mobil, tapi tekad di dada Evelyn jauh lebih kuat. Ia sudah lelah berlari. Ia lelah dengan segala keheningan, pesan yang diabaikan, dan jarak tak kasatmata yang semakin melebar di antara mereka. Malam ini, Evelyn harus melihat wajah pria itu. Ia harus menyelesaikan semuanya dengan Davian.Hampir berjam-jam lamanya, penantian Evelyn akhirnya membuahkan hasil. Siluet pria jangkung yang sangat ia kenali akhirnya muncul melewati pintu putar lobi. Davian melangkah keluar dengan bahu yang sedikit merosot, tampak begitu lelah. Kemejanya terlihat kusut dan dasinya sudah ditarik longgar.Melihat sosok itu, hati Evelyn mencelos. Rasa rind
Untuk sesaat, udara di sekitar mereka mendadak membeku. Lily hanya bisa mematung, sepasang matanya membulat sempurna menatap wajah Davian seolah pria itu baru saja menjatuhkan bom tepat di atas meja kerjanya.Keheningan yang canggung itu membentang selama beberapa detik, sebelum akhirnya Lily memecahkannya dengan sebuah tawa paksa yang terdengar sumbang. Wanita itu menelan ludah, mengepalkan tangannya ringan, lalu melayangkan sebuah tinju bercanda ke bahu tegap Davian."Ya ampun, Davian. Jangan bercanda." kilah Lily dengan senyum kaku. Matanya bergerak liar, menelisik raut wajah Davian untuk mencari celah kebohongan. "Kau tidak pernah memakai cincin, kau tidak pernah membahas soal pernikahan, dan kau…""Aku tidak bercanda, Lily." potong Davian cepat, sama sekali tidak menyiratkan sedikit pun ruang untuk humor. "Aku sudah menikah."Senyum di bibir Lily seketika luntur tak bersisa. Tangannya yang tadi memukul bahu Davian kini menggantung canggung di udara sebelum akhirnya turun dengan
Pintu ganda ruang kerja CEO di lantai eksekutif itu terbuka dengan kasar, disusul oleh suara bantingan yang cukup keras saat pintu itu kembali tertutup rapat.Victor yang sedang membaca draf kontrak di meja kerjanya langsung mendongak. Matanya membelalak mendapati istrinya berdiri di sana. Dada Adriana naik turun dengan napas memburu, wajah cantiknya memerah padam oleh amarah yang sudah tak terbendung lagi.Tanpa memedulikan etiket atau statusnya sebagai bawahan, Adriana melangkah cepat menghampiri meja kerja Victor dan memukul permukaan meja itu dengan kedua telapak tangannya."Kau tahu apa yang baru saja kudengar, Victor?!" desis Adriana tajam, matanya berkilat penuh murka. "Staf manismu itu... wanita bernama Claudia itu, dia baru saja mendeklarasikan rencananya di depan rekan kerjanya!"Kening Victor berkerut dalam. Ia meletakkan penanya dan langsung berdiri. "Adriana, tenanglah…""Tenang?!" potong Adriana dengan suara meninggi. "Dia bilang dia sengaja berdandan dan memanfaatkan p
Pintu lift karyawan di lantai dua belas berdenting pelan, menunjukkan sosok Clara dengan raut wajah yang kesal.Rasa muak dan amarah karena ditolak mentah-mentah di depan pintu ruang kerja Victor Sterling masih membakar rongga dadanya.Clarissa, yang saat itu baru saja beranjak dari kubikelnya dan berjalan menuju arah koridor, memiringkan kepalanya saat melihat rekan barunya itu berjalan dengan aura membunuh."Claudia? Kau sudah kembali?" tegur Clarissa, matanya memindai map yang ternyata sudah tidak ada lagi di tangan wanita itu. "Kenapa wajahmu masam begitu? Ada apa di lantai atas? Kau dimarahi?"Clara menghentikan langkahnya sejenak, melirik Clarissa dengan tatapan tajam yang nyaris membuat nyali Clarissa ciut. Namun, dengan cepat Clara menarik napas dalam, memaksa raut wajahnya kembali netral meski matanya masih memancarkan kekesalan."Bukan apa-apa." jawab Clara singkat. Tanpa basa-basi lagi, ia memutar tubuhnya dan mendorong pintu ruangannya.Clarissa mendengus pelan, menggeleng
Malam itu, Julian duduk bersandar di kursi kulitnya yang mahal, kakinya terangkat santai ke atas meja. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar gelas kristal berisi wine engan seringai kemenangan.Akhirnya. Selesai sudah.Rencananya berjalan lebih mulus dari dugaan. Evelyn Sterling ternyata memang sebo
Evelyn duduk kaku di sofa kulit berwarna hitam di ruang tamu Julian yang mewah. Di atas meja, secangkir teh yang disuguhkan pelayan tidak disentuh sama sekali.Julian berjalan santai mengelilingi sofa, sen
Adriana menatap tangan Evelyn yang mencoba menggapai ujung gaun tidurnya. Rasa kasihan yang sempat muncul di benaknya beberapa detik lalu kini menguap, digantikan oleh rasa ketidakpercayaan.Wanita di hadapannya ini buk
Evelyn berdiri menggigil di teras sempit sebuah rumah kosong yang gelap, hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah Ibu Davian.Ia menatap layar ponselnya dengan putus asa. "Sial..." umpatnya lirih, giginya gemerutuk menahan dingin.Tidak ada sinyal. Hujan badai ini sepertinya mengacaukan jarin







