LOGIN"You killed your own sister" his deep voice bellowed in the room. Lisa could literally feel she legs shaking like a jellyfish. Tears welled in her eyes. She definitely didn't expect him to find out the truth so soon but he did. There was no love in his eyes anymore. Just pure hatred.... hatred for her He walked towards her slowly. She wanted to move away from him but she couldn't bring her legs to move. She could feel life leaving her each time he took a step forward to her. His eyes getting redder by the minutes. So many emotions swarm in them. Hatred...anger... darkness... anything and everything bad . Finally he got to her. Before she could say anything, he grabbed her neck in a firm grip. The tears in her eyes finally fell as she struggled to breath. Her legs were no longer on the ground. She was choking to death "I'll make you pay dearly for her death" he vowed. A vow...that she was sure he will keep. ******* Lisa and Lia were twin sisters. They were literally identical. No one could differentiate one from the other not even their family. They were so close and loved each other until Lia was raped on their birthday. She blamed it on her twin sister. She hated her to her guts because she believed her twin sister planned her rape.. Lia died from poison. Who poisoned her? Still unknown Yet Lisa was blamed by everyone for her sister death. She had to serve in prison for it. Lia lover and betrothed comes to marry her as planned. Now she will have to take Lia place and marry him. How will things go for her when her sister lover realizes that she isn't Lia but just her twin sister?
View MoreSingapura, 28 Oktober 2031
Di salah satu sudut tersembunyi di Singapura, kawasan yang terkenal dengan perkampungan kumuh di tengah daerah industri megah dan gedung pencakar langit. Di tempat itu terlaksana pertemuan rahasia antar pemimpin organisasi dunia gelap se-Asia Tenggara.
Aku datang bersama dengan ajudanku, Reno Zagreb dan beberapa pengawal yang sengaja kubawa karena tingkat kerawanan daerah tersebut. Kupijakan kaki di tanah kotor, berlumpur dan tergenang tersebut dengan pasrah.
“Seharusnya mereka sudah berada di sini, kan?” tanyaku.
Reno yang berada di sampingku hanya bisa mengangguk tanpa mengucap sepatah kata pun. Kulihat waktu mulai bergulir dengan cepat dan belum ada satu kepala yang datang untuk menyambutku. Sungguh penghinaan yang besar!
Aku melanjutkan langkahku menyusuri setiap gang sempit dan gelap di daerah tersebut. Sesekali pandanganku tidak bisa lepas dari bayang-bayang kehidupan suram warga yang menetap di lingkungan seperti ini.
“Bagaimana bisa mereka hidup di keadaan seperti ini?”
“Entahlah, Tuan Revan, tapi setelah aku menelusuri daerah ini sebelumnya, mereka adalah pekerja buangan yang tidak mendapatkan kewarganegaraan,” ungkap Reno.
“Mereka imigran gelap?” tanyaku dengan penasaran.
“Sepertinya begitu, mereka datang dari berbagai negara dan bercampur di daerah ini.”
Pantas saja, aku menduga hal itulah yang terjadi. Mereka harus bertahan hidup di sini mau tidak mau, karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk pulang.
Tiba-tiba seorang pria berambut gondrong dan hanya mengenakan celana pendek memberikan surat kepadaku. Kuambil dan langsung kubuka dengan segera karena terpampang jelas cap dari salah satu organisasi mafia dari Malaysia.
Tiga puluh langkah ke depan dan belok kanan di pertigaan kedua, kau akan melihat sebuah gedung dengan nama La Vidre, batinku.
“Ada apa?” tanya Reno.
“Kita sudah dekat, mereka memberitahuku melalui surat ini,” ungkapku.
Reno hendak mengambil surat yang kupegang tetapi langsung kutangkis dan kusimpan rapat di dalam saku jas hitam. Mereka berjalan tepat di belakang tubuhku dengan penuh kewaspadaan, tampaknya mereka khawatir dengan pesan ancaman yang ada di surat tersebut.
Seperti dulu ketika aku bermain bajak laut untuk mencari harta karun. Kini aku disuruh untuk masuk untuk menghadiri pertemuan dengan perintah yang konyol. Namun, ini lebih baik daripada harus berputar-putar dan terus mengotori sepatuku.
Persis seperti apa yang dikatakan dalam pesan, sebuah gedung layaknya gedung pertemuan menjulang di depanku. Furniture-nya cukup kusam dan kuno, beberapa bagian rumah yang terbuat dari kayu mulai terkoyak dimakan rayap.
“Apa ini tempatnya?” tanya Reno.
“Sepertinya begitu.”
Kulirik beberapa orang di belakang punggungku, mereka semua tampak ketakutan ketika menghadapi sesuatu seperti ini. Suasana, keadaan, ketegangan, hampir semuanya mempengaruhi pikiran anak buahku.
“Apa mereka baik-baik saja? Para bocah-bocah itu?” tanyaku kepada Reno.
“Itu resikomu sendiri. Kalau dari awal kita ambil para anggota senior, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.”
“Oh tampaknya kau mulai meragukanku, Reno. Apa aku benar?!” ancamku kepada Reno yang begitu tegang.
Sejak kecil, karena perundungan yang selalu kudapatkan sehingga membuatku mudah tersulut emosi ketika sedikit saja ada yang menyinggung atau tidak sependapat denganku. Mereka yang dulu berjuang bersama tentu paham betul sikap seorang Revan itu seperti apa.
“Tentu saja tidak, Tuan Revan. Maafkan aku,” pinta Reno, pria bertubuh besar dengan kepala plontos itu segera menundukan kepalanya di hadapanku.
“Kalau begitu lakukan sesuatu pada mereka, atau kau yang akan menanggung akibatnya sendiri!”
“Haha, jangan terlalu kasar pada mereka. Bisa-bisa anggotamu jadi berkurang.”
Terdengar suara pria yang begitu berat dari dalam rumah tersebut, lampu yang redup dan suasana yang cukup remang membuatku tak bisa memerhatikan dengan jelas wajah orang yang berjalan kearahku.
Aku akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Pria berubuh besar dan gendut dengan cerutu yang menempel di mulutnya.
Sesekali pria itu menghembuskan asap cerutu tinggi-tinggi ke udara dengan senyum menyeringai yang tampak seperti mengejekku.
“Tak kusangka. Bapak besar obat-obatan hadir di sini, aku kira kamu akan menetap di dalam dan bermain dengan banyak wanitamu,” ujarku mengejeknya.
Orang-orang di sampingnya tampak tak terima dengan hinaanku, mereka langsung mengeluarkan senapan dari sarungnya dan mengarahkan benda itu ke kepalaku dengan cepat, ada sekitar 4 orang yang mengacungkan senapan.
“Sudahlah, aku juga tidak merasa tersinggung dengan apa yang ia katakan.”
Pria itu menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senapan tersebut, pria yang kukenal dengan nama Hlong Liem itu dengan hangat menyambutku dan mengajak masuk ke dalam.
“Maafkan aku, mereka anak baru,” ucap Hlong seraya berjalan berdampingan denganku.
“Aku mengerti. Pertemuan ini tidak harus saling menumpahkan darah, kan? Lagi pula kita ini rekan bisnis, tidak elok saling bertikai,” ucapku.
Ia tersenyum seraya tertawa keras mendengar ucapan bijak dariku. Tentu saja ia akan bersikap baik mengingat bisnisnya tergantung dari bahan baku yang kujual padanya.
Hlong membuka pintu besar berukuran tiga meter di depanku, pintu yang begitu besar nan megah, dihiasi permata dan emas di setiap ornament-nya.
“Mereka sudah menunggu di dalam,” ucap Hlong.
Sungguh mempesona tampilan dari ruang besar yang berada di balik pintu megah tersebut, ruangan yang berlantaikan marmer dan pilar-pilar kokoh nan besar.
Aku bisa melihat beberapa orang yang sudah duduk kini terfokus kepadaku yang baru saja datang. Di antara mereka, aku bisa mengenali beberapa orang termasuk Nyonya Missa, dulu aku pernah bermitra dengan wanita itu untuk pengadaan senapan ilegal.
“Wah, tampaknya kekasihku baru sampai di sini. Yaampun, karena sudah lama tak bertemu, wajahmu selalu saja memesona diriku,” puji Missa
Wanita itu memang terkenal genit kepada lelaki tampan sepertiku, bahkan aku pernah mendengar kalau dia akan menyetujui kesepakatan apa pun jika dia berhasil memuaskannya selama 12 jam nonstop. Sunggu wanita gila!
“Aku punya banyak varian senapan baru untukmu, aku bisa mengirimkannya padamu percuma jika aku bisa mencicipi sejengkal milikmu yang kuinginkan itu,” goda Missa, membuat seluruh orang yang mendengar ucapan tersebut tersipu malu dan bukan tidak mungkin terangsang.
“Aku tidak tertarik. Aku lebih senang membayarnya dengan uang daripada tubuhku. Apa kamu pikir aku gigolo?!” bentakku dengan keras.
Bukannya merenung karena salah, Missa justru tertawa kencang seolah-olah mengejekku. Beberapa anggota yang pergi bersamanya juga tampak tengah menahan tawa, apa mereka sama genitnya dengan Missa?
“Yaampun … aku sudah lama tidak mendengar gigolo dari seorang anak muda,” ucap Missa.
Tak lama, datang seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi fedora yang sama hitamnya. Selendang berwarna putih terpasang di kedua bahunya menandakan kalau dia adalah orang penting di dunia mafia.
Ketika pria itu turun tangga, seluruh ketua mafia se-Asia Tenggara segera bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tegap seolah-olah menghormati pria tersebut.
“Siapa dia itu?” tanya Reno seraya berbisik kepadaku.
“Dia Ketua dari Perhimpunan Mafia Asia, Dong Yon Ji.”
Pria itu duduk di kursi yang disediakan sebelumnya. Seluruh pemimpin organisasi mafia juga ikut duduk bersamaan dengan Dong di kursi mereka masing-masing. Pandangan pria itu langsung tertuju kepadaku yang beberapa bulan lalu pernah bertegur sapa beberapa kali ketika perjalanan ke Hong Kong.
“You … I remember you when we met in Hong Kong last month, Glad to see you here,” puji Dong Yon Ji kepadaku.
Seluruh pemimpin organisasi Mafia sontak memandangku dengan tatapan penuh ketidakpercayaan, beberapa ada yang menatapku dengan wajah iri dan juga bangga, aku tidak bisa menjelaskan raut wajah mereka satu persatu.
“Thank you, I appreciate that.” Aku menundukan kepalaku, sunggu suatu kehormatan bagi seorang pemimpin organisasi bisa dikenal oleh Pemimpin Perhimpunan Mafia se-Asia, Dong Yon Ji.
“Alright, let's start the meeting!”
A triumphant smile danced across Lisa's face as she turned to leave the room. However, she couldn't resist turning back to deliver one final warning, relishing in her momentary power over Savanna. The formerly proud and confident expression on Lisa's face took on an added layer of menace."Do not underestimate me, Savanna," Lisa said, her voice dripping with a threatening undertone. "If I find any trace of your belongings left in my husband's room, I will not hesitate to burn them to ashes. You do not want to witness the extent of my wrath. I suggest you remove your things immediately."Savanna's eyes widened with a mixture of shock and apprehension. Lisa's threat struck a chord deep within her, reminding her of the lengths she was willing to go to protect what she believed to be rightfully hers. She quickly realized that challenging Lisa further would lead to severe consequences she couldn't afford to face.As Lisa made her exit, a lingering sense of fear settled over Savanna's thoug
The intense glaring contest between Savanna and Lisa seemed to freeze time for a moment, as their eyes locked in a battle of wills. Each woman's gaze conveyed a distinct and powerful message, reflecting their conflicting emotions and desires.Savanna's eyes burned with a fiery menace, radiating determination and a fierce will to stake her claim in Alex's life. There was an unwavering resolve in her gaze as if she was willing to go to any lengths to be with him. Her eyes seemed to pierce through the air, reflecting her defiance and refusal to back down.On the other side, Lisa's eyes held a mocking glint, almost as if she found amusement in the audacity of Savanna's presence. The confident tilt of her head matched the superiority that emanated from her gaze. Lisa's eyes seemed to pass a clear message to Savanna - a mix of disdain and a subtle warning that she wouldn't go down without a fight.In a swift and determined move, Savanna rolled her suitcase towards Alex's wardrobe, her inten
"We should get this over and done with, or else I might as well kill Alex once and for all," Chris responded with a sneer in his voice, his anger still simmering beneath the surface. The intensity of his emotions lingered, tainting his words with a dangerous edge. He relished the thought of revenge, envisioning a scenario where he could bring Alex to his knees for the pain he had inflicted upon Chris and his loved ones.But just as the words left his lips, a sudden voice startled him, piercing through the charged atmosphere of the call. Chris turned abruptly, his eyes widening with surprise, only to find Tiana standing there, her gaze fixed upon him. In that moment, a realization washed over him like a cold shower—she had been eavesdropping, surreptitiously listening in on his conversation.A myriad of thoughts raced through his mind, attempting to piece together an explanation for Tiana's intrusion. Had she overheard enough to comprehend the magnitude of their predicament? Was her pr
After the intense fight with his stepmother and stepbrother, Alex desired nothing more than to distance himself from the situation. He didn't want to bear the burden of their wrongdoing, even though deep down, he knew he was merely seeking retribution for the contamination of his precious wine. The thought of the incident alone ignited a surge of anger within him, reminding him that there was another accomplice involved, someone unknown whom he had yet to uncover.As his anger reached its boiling point, Alex's fist clenched tightly, his knuckles turning pale with the sheer force. The tension in the room was palpable, as if every object around him could sense his overwhelming rage. However, despite the intensity of his emotions, a strange sensation compelled him to divert his attention towards the photo frame that sat on the nearby table.As if against his own will, his face slowly turned towards the picture, his gaze fixating on the framed image. Within it, he saw a captured moment fr
He became more methodical, revisiting every detail, turning it over in his mind, seeking patterns and connections that might reveal the truth. It was a grueling process, a constant battle against impatience and disappointment. However, each small breakthrough revitalized his determination, propellin
Well, that vow broke the very minute I discovered that she killed my Lia and forced her way into my life. She doesn't deserve to be my wife. In fact, whatever punishment she's receiving is best suited for her." Alex's voice was impaled with a dark sonorous emotion. Anger mixed with sorrow and sadnes
"I am dead serious, I absolutely cannot do it!" Lisa's voice reverberated with undeniable determination, her tone stern and unwavering. It was at that very moment that Lillian's initially harsh and piercing gaze softened, replaced by a glimmer of understanding."Why?" Lillian managed to ask, her curi
Slowly she regained her consciousness. She tried opening her eyelids but they felt so heavy for her. After much struggle, she managed to have a little sight of her surrounding which was blurry in her vision. As the seconds turned into minutes and the minutes into hours, Lisa found herself locked in






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews