Share

Bab 3

Aвтор: Ehsan
Selama bertahun-tahun berpacaran, setiap kali aku ingin pergi ke bioskop bersama Amanda seperti pasangan kekasih pada umumnya, dia selalu menggandeng lenganku sambil membujukku dengan suara lembut.

"Aku sekarang seorang artis. Kalau sampai terpotret kamera, bukan cuma karierku yang bermasalah, kamu juga bisa saja jadi korban bully di internet."

"Aku cuma takut kamu akan terluka."

Namun, setelah menjadi artis, dia justru melakukan kebalikannya. Kalau tidak membuat sensasi hubungan dengan aktor ini, pasti berlibur bersama dengan penyanyi pria itu ke pulau untuk berlibur.

Kata-kata masa lalu yang digunakan untuk membujukku itu, seolah-olah terngiang jelas di telinga, seakan sedang menertawakan ketulusan cintaku.

Di tengah-tengah film berlangsung, Bobby mendekatkan wajahnya ke telinga Amanda dengan mesra.

"Kak Amanda, di luar bioskop penuh dengan wartawan. Bagaimana kalau kita keluar duluan?"

"Kami pergi duluan, kamu keluar sebentar lagi," kata Amanda tanpa meminta pendapatku, lalu pergi bersama Bobby terlebih dahulu.

Sementara aku tetap duduk di kursiku tanpa bergerak sedikit pun, menonton film itu dengan tenang sampai selesai.

Aku tidak akan lagi merasa menderita dan tidak tenang demi wanita yang tidak mencintaiku.

Sisa waktu dan cinta yang kumiliki, akan kupersembahkan untuk diriku sendiri.

Setelah selesai menonton film dengan perasaan senang, aku pergi ke rumah sakit.

Rasa sakit akibat kanker lambung, membuatku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku harus pergi ke rumah sakit untuk menerima infus pereda nyeri, barulah rasa sakitnya bisa sedikit mereda.

Di tengah tajamnya aroma cairan disinfektan rumah sakit yang menusuk hidung, aku melihat berita gosip di TV.

[Aktris papan atas berkencan di bioskop dengan aktor pendatang baru, keduanya berciuman mesra di tepi jalan ....]

Melihat tayangan itu, lama-kelamaan aku tertidur tanpa sadar. Samar-samar aku merasakan ponsel di pelukanku terus bergetar tanpa henti.

Aku baru pulang ke rumah saat hari sudah menjelang dini hari.

Dari kejauhan, aku melihat sesosok tubuh mungil sedang berdiri di depan pintu rumahku.

Itu adalah Amanda.

Selama bertahun-tahun bersama, biasanya dialah yang mabuk parah di luar atau syuting sampai larut malam. Lalu aku akan berdiri seperti dirinya sekarang, menunggu di depan bar atau di depan lokasi syuting hingga larut malam, sambil membawa teh pereda mabuk atau bubur sehat yang sudah kusiapkan.

Namun, dia tidak suka aku melakukan semua itu.

Dia menganggapku menggunakan alasan tersebut untuk memata-matai dan mencampuri kehidupannya.

Tidak disangka, akan tiba hari di mana dia juga menungguku pulang ke rumah.

Begitu melihatku, dia langsung berlari kecil mendekat lalu memelukku erat.

"Filmnya sudah lama selesai, kamu pergi ke mana saja? Kenapa nggak pulang-pulang? Apa kamu nggak tahu kalau aku khawatir?"

"Jangan lihat berita hari ini, mereka semua cuma ambil sudut foto yang salah untuk menyebarkan gosip, itu nggak benar."

Aku berpikir sejenak, baru teringat berita apa yang dia maksud.

"Nggak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan berita seperti itu."

Melihat sikapku yang datar, dia teringat akan segala hal yang pernah dilakukannya padaku dulu. Kilasan rasa bersalah yang langka, tampak di wajahnya.

Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak dan menyerahkannya kepadaku.

Di dalamnya berisi sebuah cincin berlian yang sangat besar.

Aku sedikit tersentak.

Adegan seperti ini entah sudah berapa kali kuharapkan di dalam mimpi.

Berharap dia akan memakaikan sendiri cincin berlian yang kusiapkan, lalu mengikrarkan janji setia atas hubungan kami yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Namun sekarang, saat melihat cincin berlian ini, hatiku tidak merasakan gejolak sedikit pun.

Aku hanya melemparnya begitu saja ke atas meja.

Raut wajah Amanda langsung berubah. Sambil mengernyitkan dahi, dia mengikutiku masuk ke dalam rumah kontrakan. "Yoga, kamu benar-benar sudah berubah. Kenapa kamu sama sekali nggak ...."

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Dalam bayangannya, aku seharusnya melihat cincin berlian ini dengan penuh kegembiraan, lalu memeluknya erat-erat dengan antusias dan melupakan semua kekesalan sebelumnya.

Memikirkan hal itu, sudut mulutku tertarik dan aku tersenyum formal. "Cincin yang sangat indah."

"Kamu suka?" Dia menatapku dengan penuh harap.

Senyumanku belum pudar dan menjawab, "Suka kok."

Dulu, jangankan berlian, bahkan cincin pasangan murah seharga puluhan ribu yang dia beli asal pun, akan kuanggap sebagai barang berharga dan kupakai setiap hari di tanganku.

Bagaimana mungkin aku tidak menyukai cincin berlian sebesar ini?

Amanda seketika mengembuskan napas lega, lalu tersenyum.

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 9

    "Bagaimana bisa? Mana mungkin!"Sorot mata pria yang mabuk itu mendadak berubah menjadi jernih. Dia tidak henti-hentinya bergumam pada diri sendiri, seolah-olah sedang berusaha meyakinkan dirinya. "Kalau dia nggak mau mengurusku, ya sudah ... kenapa harus pakai alasan yang bawa sial begini?"Melihat ekspresinya dan mengingat kembali segala kejadian di masa lalu, Jefri akhirnya menanyakan pertanyaan yang paling ingin dia tanyakan."Paman, jelas-jelas Yoga adalah anak kandungmu. Kenapa? Kenapa Paman memperlakukannya seperti ini?""Paman sangat baik pada anak tiri Paman. Kenapa nggak bisa membagikan sedikit saja rasa sayang Paman untuk anak kandung Paman sendiri?"Ayahku seketika dibuat mati kutu oleh pertanyaan itu. Seluruh tubuhnya gemetar sambil mulutnya terus meracau, "Dia anak kandungku, aku susah payah membesarkannya. Sekarang dia sudah punya adik, keluarga harus saling membantu. Orang lain juga akan mengingat kebaikannya. Sekarang aku sudah tua dan nggak berguna lagi, kalau nanti t

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 8

    "Amanda, bukannya kamu aktris papan atas? Kamu masih ingat nggak, dengan pria yang rela pergi ke jamuan makan demi membantumu minum alkohol dan menegosiasikan bisnis, sampai dia muntah-muntah hebat? Coba kamu pikirkan baik-baik, di usianya yang masih semuda ini, karena siapa dia sampai mengidap penyakit seperti itu?""Amanda, kamu benar-benar keterlaluan! Dulu saat kamu bukan siapa-siapa, dia mendukungmu dan memilih untuk berjuang bersamamu. Tapi selama hampir 10 tahun ini, sudah berapa kali kamu membual dan membohonginya!""Kamu membuat seorang pria dewasa menanggung malu di depan begitu banyak orang, berbuat mesra dengan pria lain di hadapannya dengan alasan gimmick. Apa kamu punya hati nurani?"Amanda mendengarkan dengan pandangan kosong, seluruh jiwanya seolah-olah telah tercabut dari tubuhnya. Selama ini, Amanda mengira Yoga hanya marah sementara kepadanya, dan tidak lama lagi pasti akan memaafkannya seperti dulu, lalu menantikan pernikahan bersamanya. Amanda benar-benar mengira

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 7

    Amanda bahkan mengumumkan hubungan asmara kami secara resmi di Instagram. Dia juga mengakui segala perbuatan buruk yang pernah dilakukannya padaku dulu, berharap aku bisa melihatnya dan memaafkannya.Saat Jefri memberi tahu hal itu, aku tidak menunjukkan reaksi apa pun. Aku bahkan tidak berminat sedikit pun.Aku hanya berkata dengan datar, "Untuk seterusnya, aku nggak mau dengar apa pun tentang Amanda lagi. Dia nggak ada hubungannya denganku, aku juga nggak mau melihatnya lagi ...."Jefri menuruti kemauanku dengan ekspresi seolah berkata 'akhirnya kamu sadar juga'. "Bagus, aku pasti akan menghalanginya dan nggak akan membiarkannya mengganggumu lagi!"Penyakitku semakin parah, aku sering terjaga semalaman karena menahan sakit.Suatu malam, ponselku menerima panggilan dari nomor asing. Begitu mendengar suaranya, aku tahu itu adalah Amanda."Yoga, aku tahu kamu sedang mendengarkanku. Apa kamu belum puas buat keributan?""Semua ini salahku, dulu aku terlalu egois .... Aku selalu mencintai

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 6

    Pesawat segera mendarat di Kota Muera. Aku memulihkan kondisi tubuhku di sebuah rumah kecil peninggalan Ibu. Rasa sakit yang hebat membuatku tidak bisa tidur. Tengah malam, setelah menyuntikkan obat pereda nyeri ke tubuhku sendiri, aku menerima telepon dari Ayah.Tanpa basa-basi, dia langsung memarahiku. "Kamu ganti nomor baru nggak bilang-bilang ke Ayah, ya? Sia-sia Ayah membesarkanmu!""Kamu sudah gila? Bertahun-tahun kamu mengalah demi bersamanya, sekarang sudah mau menikah, kamu malah kabur?""Kamu tahu nggak seberapa kaya Amanda? Sekarang, setengah dari apa yang dia punya, bisa jadi milikmu. Asalkan kamu menikah dengannya, kamu bisa membelikan rumah untuk adikmu ...."Aku menyahut datar, "Ayah sebenarnya sayang padaku, atau sebenarnya mengkhawatirkan uang muka rumah Hendri?"Ayah menggertakkan gigi di ujung telepon. "Ayah sayang uangnya! Ayah nggak rela melihatmu begini!"Aku tersenyum getir. "Ya sudah, kalau nggak ada apa-apa lagi aku tutup.""Kamu benar-benar anak bodoh, nggak

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 5

    Bobby yang mengenakan setelan jas putih bersih sambil memegang cincin berlian lamaran, langsung membeku seketika. Senyum di wajahnya runtuh dalam sekejap. Dengan ekspresi kaku, dia bertanya dengan canggung, "Kak Amanda, ini aku. Apa kamu nggak senang?"Amanda bahkan tidak memedulikan Bobby. Pandangan matanya mengitari sekeliling ruangan, berusaha mencari keberadaanku. Namun, dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.Bobby merendahkan suaranya, memohon dengan lirih, "Kak Amanda, sekarang sedang siaran langsung di internet. Tolong jangan buat aku malu, ya?"Amanda tidak salah menyandang gelar aktris terbaik, dia bisa langsung menyesuaikan kembali kondisinya dengan cepat.Melihat wanita di hadapannya kembali menunjukkan raut wajah yang selembut air, Bobby pun berkata dengan wajah berseri-seri, "Yoga akhirnya sadar kalau orang yang nggak dicintailah yang jadi orang ketiga. Dia menyuruhku untuk memperjuangkan kebahagiaanku sendiri.""Kalau dipikir-pikir, kadang-kadang dia tahu diri juga .

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 4

    "Baguslah kalau kamu suka. Yoga, tenang saja, aku akan menepati janjiku. Pada lamaranmu yang ke-101 nanti, aku pasti akan datang dengan gaun terbaik. Biar aku sendiri yang menyiapkan tempat dan dekorasinya, kamu cuma perlu berdandan menjadi pengantin pria yang paling ganteng!" "Semuanya akan kuatur dengan baik, jadi seterusnya, kamu nggak boleh ngambek lagi padaku."Aku menatap wajahnya yang bersungguh-sungguh. "Aku nggak akan ikut campur urusanmu lagi."Ucapannya sempat terhenti sejenak, Amanda akhirnya menyadari sikap acuh tak acuh yang sangat jelas dari caraku meresponsnya. Dia berniat menggenggam tanganku, tetapi dering ponsel yang mendesak langsung memotong gerakannya. Baru mengangkat telepon selama beberapa detik, dia menatapku dengan penuh rasa bersalah."Sutradara bilang ada beberapa adegan yang harus diambil ulang, aku harus pergi sekarang."Aku tidak membongkar kebohongannya, karena aku bisa mendengar dengan jelas suara Bobby di seberang telepon."Aku mengerti, kamu kerja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status