Short
Pernikahan 10 Tahun Hancur Di Tangan Pelakor

Pernikahan 10 Tahun Hancur Di Tangan Pelakor

By:  MarshelaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah menikah tujuh tahun, Manuel merasa hidupnya terlalu datar, jadi dia memelihara seorang mahasiswi di luar. Burung kenari yang lemah dan menyedihkan itu memanfaatkan tubuhnya untuk membujuk Manuel sampai dia tidak pulang sebulan. Tidak peduli bagaimana aku memanggilnya, tetap tidak ada gunanya. Di hari ulang tahun anakku yang ketiga, aku menggendong anakku yang demam tinggi, berlutut di luar vila, demi memohon Manuel pulang. Namun, Manuel justru berulang kali menginginkan tubuh simpanannya itu di depan jendela kaca besar. Di tengah suara kenikmatan mereka, anakku akhirnya mengembuskan napas terakhir di pelukanku. Di pemakaman, Manuel memelukku sambil menangis tersedu-sedu, bersumpah akan kembali ke keluarga dan mencintaiku dengan sepenuh hati lagi. Aku menyetujuinya. Namun, hanya karena sebelum meninggal, anakku berharap aku dan dia bisa kembali seperti dulu. Empat tahun kemudian, taman kanak-kanak tempat anakku dulu belajar merilis sebuah video penghargaan keluarga terbaik. Di dalam video, Manuel merangkul Nelly yang tampak berseri-seri. Di pelukannya juga ada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Anak kecil itu tersenyum ke arah kamera sambil mengangkat piala. "Papa, Mama, kita adalah keluarga paling bahagia!"

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah menikah tujuh tahun, Manuel merasa hidupnya terlalu datar, jadi dia memelihara seorang mahasiswi di luar.

Burung kenari yang lemah dan menyedihkan itu memanfaatkan tubuhnya untuk membujuk Manuel sampai dia tidak pulang sebulan. Tidak peduli bagaimana aku memanggilnya, tetap tidak ada gunanya.

Di hari ulang tahun anakku yang ketiga, aku menggendong anakku yang demam tinggi, berlutut di luar vila, demi memohon Manuel pulang.

Namun, Manuel justru berulang kali menginginkan tubuh simpanannya itu di depan jendela kaca besar.

Di tengah suara kenikmatan mereka, anakku akhirnya mengembuskan napas terakhir di pelukanku.

Di pemakaman, Manuel memelukku sambil menangis tersedu-sedu, bersumpah akan kembali ke keluarga dan mencintaiku dengan sepenuh hati lagi.

Aku menyetujuinya. Namun, aku menerimanya hanya karena anakku pernah berkata sebelum meninggal, dia berharap aku dan ayahnya bisa kembali seperti dulu.

Empat tahun kemudian, taman kanak-kanak tempat anakku dulu belajar merilis sebuah video penghargaan keluarga terbaik.

Di dalam video, Manuel merangkul Nelly yang tampak berseri-seri. Di pelukannya juga ada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.

Anak kecil itu tersenyum ke arah kamera sambil mengangkat piala. "Papa, Mama, kita adalah keluarga paling bahagia!"

....

Sampai larut malam, Manuel baru pulang. Saat lampu menyala, aku menutup mata yang bengkak karena menangis.

Manuel tertegun sejenak, lalu berjalan mendekat. "Kenapa kamu belum tidur?"

Aroma samar susu formula menyeruak ke hidungku. Tubuhku menegang. Aroma ini adalah ... susu impor kesukaan anakku.

Satu kaleng harganya puluhan juta, bahkan harus lewat teman Manuel baru bisa membelinya.

Jadi, mereka semua tahu dia punya seorang anak dan masih membantunya menyembunyikannya dariku.

Aku menahan emosi ini, membuka video dari taman kanak-kanak itu, lalu memutarnya untuk Manuel. Ekspresi Manuel membeku, kilatan panik melintas di matanya.

"Itu anak Nelly dengan pria lain. Pria itu meninggalkan mereka, jadi dia minta bantuanku." Manuel merangkulku ke dalam pelukannya, pipinya menempel akrab di lekuk leherku.

"Kamu tahu, setelah anak kita meninggal, aku sudah putus dengannya sejak lama."

"Terus, gimana kamu mau jelasin soal ini?" Aku mendorongnya, lalu melempar kartu keluarga ke hadapannya.

Kalau bukan karena tadi siang aku pergi ke kantor polisi untuk mengurus sesuatu, aku tidak akan tahu bahwa di kartu keluarga itu bertambah satu orang.

Pada halaman yang terbuka, di kolom hubungan tertulis jelas hubungan ayah dan anak. Namanya Evano, yang berarti kesayangan keluarga.

Lantas, anakku dianggap apa? El, nama yang sederhana, seolah-olah dipilih asal-asalan.

Manuel terdiam. Sesaat kemudian, dia menarik napas dalam-dalam, menopang kepalanya dengan lesu dan duduk di sofa.

"Empat tahun lalu, setelah anak kita meninggal, aku ingin kembali ke keluarga, tapi Nelly bilang dia hamil ...." Dia mendongak menatapku sekilas. Melihat ekspresiku tetap seperti biasa, dia baru melanjutkan.

"Aku pikir kamu suka anak kecil. Karena anak kita sudah meninggal, kita bisa kasih kamu besarin Evano supaya kamu bisa keluar dari kesedihan kehilangan anak. Aku berhubungan dengan Nelly juga hanya karena anak itu."

Aku mengepalkan tangan. Kebencian yang terkubur bertahun-tahun bangkit kembali.

Manuel berdiri, menggenggam kedua tanganku, dan menatapku dengan tulus. "Aku benar-benar sudah berubah. Aku nggak selingkuh!"

Aku menepis tangannya, lalu merobek kartu keluarga itu. "Aku nggak akan pernah membesarkan anak dari pembunuh anakku, apalagi anak haram!"

Manuel membeku di tempat, seolah-olah tidak menyangka aku akan seemosional ini.

Aku menahan air mata, tenggorokanku tercekat. "Kamu membiarkan anak haram itu minum susu yang disukai anakku, masuk ke sekolah anakku, memberikan semua yang pernah dimiliki anakku kepadanya! Kamu pantas jadi seorang ayah?"

Manuel menggigit bibir, alisnya berkerut. Dia terlihat kesal. "Kamu boleh bilang apa saja tentangku, tapi anak itu nggak bersalah."

Aku menatapnya dengan lemah, menggigit bibir kuat-kuat agar tidak menangis. "Kita cerai."

"Nggak boleh!" Manuel menarik ujung pakaianku dengan emosi. "Kalau kamu nggak suka mereka, aku kirim mereka pergi sejauh mungkin ya? Kita sudah janji pada El untuk tetap bersama."

Sebelum aku menjawab, bel pintu berbunyi.

Manuel berjalan untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, dia ragu sejenak. "Kenapa kamu datang?"

Nelly yang setengah tubuhnya basah karena hujan, memeluk Evano sambil menatapku dengan hati-hati. "Evan terus merengek ingin cari papanya. Aku benar-benar nggak tahu harus apa."

Dengan wajah sedih, Evano mengulurkan tangan ke arah Manuel. "Papa, hari ini Evan mau tidur sama Papa dan Mama."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status