Short
Penyesalan Seorang Komandan

Penyesalan Seorang Komandan

에:  Lukman참여
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21챕터
82조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Setelah terlahir kembali, Sheila Santoso seolah-olah berubah menjadi orang yang berbeda. Dia tidak lagi bangun sebelum fajar, dan menghitung waktu dengan cermat untuk menyiapkan sarapan hangat bagi Jevan Ferdinan, memasukkannya ke dalam termos makanan, lalu mengantarkannya sampai ke markas resimen hanya agar suaminya bisa menikmati masakan rumah. Dia juga tidak lagi menjemput anaknya di tempat penitipan setiap sore, menggandeng tangan putranya sambil mendengarkan celotehan si kecil tentang lagu baru yang dipelajarinya hari itu. Bahkan ketika putranya mengalami kecelakaan lalu lintas dan dirawat di rumah sakit, dia tetap tidak menghiraukan puluhan panggilan telepon dari Jevan. Baru pada panggilan ke tiga puluh delapan, akhirnya dia menerima telepon itu dengan santai. Suara Jevan yang semula penuh kecemasan kini seperti menahan amarah, "Jodi kecelakaan. Apa kamu tau?" Sheila menggenggam gagang telepon, pandangannya tetap tertuju pada dokumen di hadapannya. Suaranya tenang tanpa emosi, "Tau. Bukannya kamu udah nelepon puluhan kali?"

더 보기

1화

Bab 1

Jevan tersedak oleh nada dingin Sheila, dan amarahnya langsung meledak. "Kalau sudah tahu, kenapa nggak datang? Kaki Jodi patah dan dia sangat ketakutan. Saat ini, dia sangat butuh ada mamanya di sisinya! Apa kamu tahu dia nangis sampai suaranya serak? Dia terus manggilin mamanya!"

Sheila terdiam sesaat. Jarinya perlahan membalik satu halaman dokumen. "Kalau sudah cukup nangisnya, dia akan berenti sendiri. Anak-anak harus belajar ngadepin semuanya sendiri. Aku sedang baca materi kerjaan. Aku tutup dulu, ya."

"Sheila!" teriak Jevan dari seberang telepon.

Sheila langsung menutup telepon dan mencabut kabelnya.

Malam itu, Jevan pulang dengan aura dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sheila tenggelam di antara tumpukan dokumen tebal dan lembaran naskah, begitu fokus hingga tidak menyadari kedatangannya.

Amarah yang tak jelas sumbernya bercampur dengan kekesalan karena terus diabaikan selama beberapa hari terakhir, seketika menghancurkan sisa kesabaran Jevan.

Dia melangkah cepat, meraih buku referensi paling tebal di atas meja, lalu membantingnya ke lantai dengan keras!

"Sheila!" Suaranya sedingin es. "Jodi masih terbaring di rumah sakit! Bisa-bisanya kamu masih sempat baca semua ini?!"

Sheila tersentak oleh keributan mendadak itu dan mengangkat kepala menatapnya.

Wajah Jevan sangat tampan. Seragam militernya yang rapi menonjolkan bahu lebar dan pinggangnya yang tegap. Dia berdiri tegak dengan postur sempurna, memancarkan ketenangan yang dingin, wibawa alami, dan ketegasan khas seorang prajurit.

Jika Sheila yang dulu menghadapi tatapan itu, dia pasti sudah panik, kebingungan, dan buru-buru menjelaskan serta menenangkan suaminya.

Namun sekarang, hatinya sama sekali tidak terusik.

Dengan tenang, dia membungkuk untuk mengambil buku yang terjatuh.

"Jangan diambil!" bentak Jevan. Dia mengangkat kaki dan menendang buku itu hingga meluncur ke arah tungku batu bara yang menyala di sudut ruangan!

"Dokumen, dokumen, yang ada di kepalamu cuma dokumen! Aku tahu akhir-akhir ini kamu sedang mempersiapkan diri buat masuk Lembaga Penelitian Fisika. Itu memang impian kamu, dan aku nggak pernah bilang nggak mendukungmu! Tapi apa kamu tahu sekarang lembaga itu sudah direformasi? Begitu diterima, kamu harus ikut proyek rahasia tingkat tinggi. Paling singkat tiga tahun, paling lama ... sepuluh tahun! Bahkan bisa lebih lama!"

"Coba katakan, bagaimana nasib keluarga ini nanti? Bagaimana dengan Jodi? Dia baru empat tahun! Hari ini dia sampai lari keluar dan kecelakaan. Kalau kamu sebagai ibunya bisa menjaga dengan baik, apa itu akan terjadi? Kamu malah setiap hari hanya sibuk berkutat dengan semua ini!"

Perlahan Sheila berdiri tegak dan menatap mata suaminya yang dipenuhi amarah. Tatapannya jernih dan dingin seperti permukaan danau yang membeku.

"Terus?" tanya Sheila pelan.

"Terus?" Urat di pelipis Jevan sampai berdenyut karena kesal melihat sikapnya yang bersikeras. "Aku kasih kamu dua pilihan. Pertama, lupain Lembaga Penelitian itu dan tetap di rumah untuk merawat Jodi, jalankan peranmu sebagai istri dan ibu. Yang kedua …. "

Dia berhenti sejenak, menatap mata Sheila, lalu mengucapkan kata-kata ini dengan jelas dan dingin,

"Kita cerai."

Cerai.

Sheila memandangnya dalam diam, memandang pria yang telah dicintainya seumur hidup pada kehidupan sebelumnya, sekaligus pria yang menghancurkan hidupnya.

Seorang komandan resimen muda dan berprestasi, berwajah tampan serta berwibawa, dengan segudang jasa militer yang mengesankan. Dia adalah sosok yang diam-diam dikagumi oleh banyak anggota perempuan kelompok kesenian militer maupun gadis-gadis di kompleks keluarga tentara. Sheila juga salah satunya, pada kehidupan sebelumnya. Sejak itu, seluruh perhatian dan perasaannya hanya tertuju pada pria itu, sampai-sampai dia rela menempatkan dirinya serendah mungkin.

Namun kini, saat menatap Jevan, hatinya bagai telaga mati yang sunyi, tak lagi mampu terusik oleh riak apa pun.

"Aku mengerti." Dia mulai berbicara pelan. "Tenang aja, aku akan buat ... pilihan yang benar."

Jantung Jevan tiba-tiba menegang!

Nada bicara dan tatapan Sheila yang terlalu tenang membuat perasaan takut di hati Jevan muncul.

Untuk sesaat, dia hampir mengira Sheila akan mengucapkan kata "cerai".

Tapi bagaimana mungkin?

Tak ada yang lebih tahu daripada dirinya betapa besar cinta Sheila kepadanya, kepada Jodi, dan kepada keluarga ini.

Dulu, ketika pihak instansi memperkenalkan mereka dalam perjodohan, mata Sheila bersinar terang seperti bintang saat melihat Jevan.

Setelah menikah, dia merawat pria itu dengan sepenuh hati dan menyayangi Jodi bagai harta paling berharga.

Demi keluarga ini, dia bahkan meninggalkan pekerjaan yang paling disukainya dan memilih tinggal di rumah untuk mengurus suami dan anak.

Siapa pun mungkin bercerai, tetapi Sheila tidak akan pernah melakukannya.

Dia mencintai Jevan sampai kehilangan dirinya sendiri.

Tampaknya sikap tegasnya tadi berhasil. Sheila pasti berniat melepaskan kesempatan masuk lembaga itu dan kembali fokus pada keluarga.

Memikirkan hal itu, ketegangan dalam hati Jevan perlahan mengendur. Nada bicaranya juga menjadi lebih lembut. "Kalau sudah ngerti, jangan baca lagi semua hal yang nggak berguna itu. Gajiku cukup untuk menghidupi keluarga ini dan bikin hidupmu berkecukupan. Tempat seperti lembaga penelitian itu bukan tempat yang cocok buat kamu."

Dia memijat pelipisnya yang tampak lelah. "Aku mau mandi dulu. Besok pagi kita pergi jenguk Jodi bersama."

Setelah itu, dia melepas jaket seragam militernya dan meletakkannya begitu saja di sandaran kursi sebelum berbalik menuju kamar mandi.

Jaket itu merosot ke lantai, dan dari saku bagian dalamnya melayang keluar sebuah foto hitam putih kecil.

Sheila membungkuk dan mengambilnya.

Gadis dalam foto itu masih muda dan cantik, dengan dua kepang hitam panjang. Senyumnya lembut dan menawan. Dia adalah Susan Johandi.

Tepi foto itu sudah sedikit aus, jelas sering disentuh dan dibelai oleh pemiliknya.

Wajah Jevan langsung berubah. Dia melangkah cepat dan merebut foto itu. Gerakannya terlalu tergesa-gesa hingga terlihat panik.

"Ini ... beberapa waktu lalu Susan minta aku bantuin dia nyetak foto. Aku lupa kembaliin, jadi aku simpan gitu aja di saku."

Kebohongan itu begitu buruk hingga terasa menggelikan.

Foto biasanya dicetak dalam satu set sekaligus. Siapa yang akan mencetak foto hanya satu lembar, lalu menyimpannya begitu hati-hati di dekat tubuhnya?

Setelah berkata demikian, Jevan sendiri menyadari ada yang tidak beres. Sekilas penyesalan melintas di wajahnya.

Dia membuka mulut, ingin menjelaskan sesuatu lagi.

Namun, Sheila sudah berbalik dengan tenang.

"Aku tahu. Aku nggak bilang apa-apa. Sana mandi."

Jevan tertegun. Dia memandang sisi wajah Sheila yang tenang tanpa emosi, dan rasa gelisah yang sudah susah payah dia pendam, kembali muncul.

Bagaimana mungkin ... dia sama sekali tidak peduli?

Ini tidak seperti dirinya.

"Sheila." Dia tak tahan untuk menambahkan, suaranya sedikit kaku, "Aku dan Susan ... semuanya sudah lama berakhir. Jangan salah paham."

"Aku nggak salah paham." Sheila membelakanginya sambil mulai merapikan lembaran naskah yang berserakan di atas meja.

Jevan memandangi punggung Sheila yang sama sekali tidak menunjukkan emosi. Kegelisahan di hatinya menyebar seperti riak air, tetapi dia tak mampu menemukan apa yang sebenarnya salah. Pada akhirnya, dia hanya kembali ke kamar mandi dengan hati penuh keraguan.

Tiba-tiba, telepon di ruang tamu berdering.

Sheila berjalan menghampiri dan mengangkatnya.

"Halo, apa ini Sheila Santoso? Kami dari Lembaga Penelitian Fisika Nasional."

Dari seberang terdengar suara dengan nada serius dan agak bersemangat. "Setelah melalui berbagai tahap seleksi dan penilaian akhir, dengan senang hati kami beritahukan bahwa Anda telah resmi diterima sebagai anggota Proyek Rahasia Bunga Api. Selamat!"

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
21 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status